Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah : Bayangan yang sama


__ADS_3

pagi itu hujan gerimis mengguyur areal kampus dan sekitarnya. Laras dengan payung pink pemberian kakek tetangganya, memasuki halaman kampus yang luas dan dipenuhi oleh lalu lalang siswa yang harus melewati halaman itu untuk mencapai gedung fakultasnya. Sama seperti Laras yang harus melewati halaman utama untuk mencapai gedung fakultasnya, jadi Laras berjalan menyusuri jalanan setapak dengan batu paving berwarna kuning kunyit. Setiap satu langkahnya Laras melihat langkah lainnya dalam ingatan itu. Satu langkah kakinya dan satu lagi langkah hitam seperti langkah dari sebuah bayangan.


Laras menghentikan langkahnya begitu menemui anak tangga di ujung perjalanannya. Segera memasuki gedung, Laras mendapat tatapan yang penuh selidik dari mahasiswa lainnya. Beberapa bahkan ada yang mencocokkan Laras dengan sesuatu yang ada di ponsel mereka.


"Aku tidak menyangka, dia bisa berbuat seburuk itu!!" gumam seorang mahasiswi dengan gengnya.


"Iya! Benar-benar memalukan!" seorang lagi menatap Laras dengan jijik.


Namun Laras tidak menanggapinya. Laras memilih tetap melanjutkan langkahnya. Sampai dua sosok pria yang kemarin dia teropong muncul dihadapannya. Melangkah dengan santai melewati Laras, kedua pria itu langsung mengambil ponsel mahasiswi yang mencocokan Laras dengan sesuatu pada ponselnya.


Laras tidak peduli, dia tetap melangkah menaiki lorong untuk menuju ke kelasnya.


"Murahan!" gumam Eren setelah melihat foto yang ada pada ponsel mahasiswi itu.


Sementara Aksara tersenyum simpul melihat foto itu.


"Hanya sebuah foto rupanya." tanggap Aksara santai.


Kedua pria saling bertukar pandang. Setelah mengucapkan terima kasih pada mahasiswi yang tentu saja tidak keberatan dengan tindakan Eren itu, Eren memutuskan untuk mencari sosok Laras yang satunya. Laras berambut pendek yang selalu datang dengan mencari perhatian semua orang.


Belum lama menjauhi gedung fakultas, sosok Laras berambut pendek tersenyum puas ketika melihat Eren tengah berbagi payung dengan Aksara.


"Apa kau mencari ku?" ujar Laras girang ketika Eren dan Aksara berhenti dihadapannya.


"Tentu!" jawab Eren.


Seketika Laras berambut pendek menyodorkan payungnya untuk memayungi Eren, dan Aksara langsung menyingkir dari drama yang ada.


"Sampai jumpa lagi." Aksara melambai pada Eren yang di balas dengan senyum simpul.


"Kita ke kelas?" ajak Laras berambut pendek.


"Tentu!" Laras berambut pendek langsung memutar arah tujuannya, dia berbalik untuk menuju fakultas ekonomi. Eren masih mengikuti semua langkah Laras. Mengikuti kelasnya, bersama saat makan siang di kantin kampus, menikmati waktu di halaman berumput kampus sembari menunggu jadwal kuliah berikutnya, dan terakhir memasuki kelas yang sama dengan Laras berambut panjang dengan poni yang menutupi sampai bagian alisnya.


Laras berambut pendek nampak pongah ketika melewati Laras dengan menggandeng tangan Eren. Sementara, Aksara yang duduk di samping Laras hanya menyurat santai pada halaman buku dihadapannya.

__ADS_1


Laras tertegun. Dia tidak merasakan hal apapun dengan semua hal yang ditunjukan Laras berambut pendek padanya. Bahkan pada gosip yang tersebar dimana Laras berambut panjang dengan poninya menutupi alis tengah minum-minuman keras bersama beberapa pria tua berjas rapi pada sebuah bar.


Laras mengusap pipinya ketika merasakan sesuatu menyentuh pipinya dengan lembut. Itu adalah sebuah bulu baru berwarna keemasan yang diterbangkan angin dan masuk melalui celah jendela ruangan kelas tersebut.


Laras menangkap bulu itu dan menoleh ke arah sampingnya. Dia mendapati Aksara tengah menguncir rambutnya. Lalu tersenyum ramah pada Laras.


"Apa kalian bertukar peran?" tanya Laras santai.


"Kau bertanya padaku?"


"Konyol!" tanggap Laras menoleh kearah belakangnya. Dimana sosok Rein atau Laras berambut pendek pada pandangan semua orang, tengah duduk bersanding dengan Aksara berambut cepak. Dan Eren tengah duduk disampingnya dengan santai.


"Nikmati pelajaran mu!"


"Tentu."


Laras kembali fokus ke arah depannya. Fokus pada penjelasan dosen pembimbing mereka dalam kelas yang Laras ikuti. Dari awal kelas di mulai sampai kelas usai dan semua mahasiswa dalam kelas bubar, Eren tetap hanya terfokus untuk menatap Laras. Eren yang duduk disampingnya, bukan Eren yang bersama Rein atau Laras berambut pendek dalam pandangan semua orang.


"Sampai kapan kau mau memandangi ku seperti ini?"


"Sampai aku bosan dan ketiduran seperti dirimu kemarin!"


"Kelas sudah selesai, mau pulang bersama?"


"Tawaran yang bagus." jawab Laras yang langsung mengambil tasnya.


Sementara begitu melewati Laras, sosok Eren bersama Rein atau Laras berambut pendek, ngedumel tidak jelas pada Eren yang duduk disamping Laras.


Eren disamping Laras melambai kecil pada Aksara yang kelihatan tidak menyukai peran yang dijalankannya.


Jadi pada saat dihalaman utama kampus dan sedang berjalan dibawah payung yang sama, Eren yang sebenarnya langsung menanamkan kutukan pada Aksara. Sehingga Aksara nampak seperti dirinya bagi seluruh penghuni kampus, dan Eren bebas melakukan kegiatannya tanpa ditempeli oleh sosok Laras berambut pendek yang dalam pandangan Laras, sosok itu adalah Rein.


"Sebelum jalan, ada hal yang ingin aku ketahui dari mu?"


Sosok lain Eren muncul dibelakang Eren. Membuat lampu dalam kelas berkedap-kedip tidak jelas. Seluruh areal kelas menjadi gelap gulita dan sosok lain Eren itu menyeruak memenuhi seisi kelas. Harusnya suasana itu menjadi begitu menakutkan dan menyeramkan, namun dalam pandangan Laras, sama sekali tidak ada hal yang terjadi. Suasana masih sama tenangnya sama seperti biasanya. Kelas yang sepi dan lampu kelas yang mati karena kelas sudah selesai digunakan.

__ADS_1


"Bodoh!" gumam Eren menarik kembali semua kekelaman yang ada pada dirinya. "Kau sama sekali tidak terpengaruh dengan hal apapun disekitar mu."


"Kenapa aku harus terpengaruh pada hal disekitar ku?!" tanggap Laras atas kata-kata yang Eren keluarkan. "Lebih baik kita segera pulang, hujan tidak berhenti sama sekali sejak pagi. Aku takut akan turun badai."


"Kau takut pada badai?"


"Aku lebih takut pada kilat yang menyertai badai."


"Ada aku bersamamu. Jadi tidak perlu khawatir dengan hal seperti itu."


Langkah keduanya menyisakan suara yang menjadikannya pusat perhatian pada gedung fakultas yang mulai sepi.


"Seberapa bisa aku mengandalkan mu?"


Laras berpaling. Menghentikan langkahnya disamping Eren yang langsung melangkah mundur begitu tahu Laras menoleh padanya dengan langsung menghentikan langkahnya.


"Untuk segala hal!" jawaban itu keluar spontan dari mulut Eren. Tatapannya tidak bisa berpaling lagi pada gadis dihadapannya ini.


"Bantu aku menemukan satu buku!" pintanya.


Tatapan itu berasal dari mata berwarna biru keemasan. Mata yang tidak pernah di lihat Eren bertengger pada gadis dihadapannya.


"Buku?!" ulangnya. "Buku seperti apa?"


"Buku tua bersampul hitam..."


Laras tertunduk lalu kembali menampilkan Laras dengan bola mata berwarna hitamnya. Dalam bayangan matanya terdapat satu sosok kecil yang melayang-layang dan memenuhi pengelihatannya. Laras mengucek matanya lalu mendapati posisi Eren terlalu dekat dengan wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan!!" Laras mendorong tubuh Eren menjauh darinya.


"Cepat sekali!" bisik Eren yang mengangkat kedua tangannya untuk menunjukan kalau dirinya tidak melakukan apapun pada Laras. "Aku tidak melakukan apapun! Tadi kau yang memintaku meniup matanya yang kelilipan. Apa masih?!"


"Begitu kah?" Laras menatap curiga. Ujung matanya memicing tajam dan hanya disambut dengan tawa oleh Eren.


Satu tepukan Laras dapatkan dari tindakannya itu. Membuat Laras merasakan panas pada bagian wajahnya. Panas yang membuat wajahnya bersemu merah padam. Hal itu luput dari pandangan Eren, tapi tidak dari sosok lain yang telah mengintai mereka sejak mereka berada di ruang kelas.

__ADS_1


Sosok itu menguap begitu Eren membuang pandangannya ke arah belakang. Ada hawa yang begitu dikenal Eren dari arah belakangnya. Hawa yang terasa begitu menyesakkan tapi juga begitu memilukan baginya.


...***...


__ADS_2