Abu-Abu

Abu-Abu
Kutukan Cincin Batu Senja : Ingatan terlarang.


__ADS_3

Laras baru akan keluar dari dalam kamarnya saat semuanya terasa mulai menangkan untuknya. Menjalani kehidupan sebagai manusia bagi Laras sangatlah melelahkan. Tidak ada waktu untuk bersantai dan hanya harus mengikuti setiap aturan yang ada. Tekanan demi tekanan hidup biasanya akan membawa manusia pada beberapa pilihan hidup yang salah. Dan kini, dia terjebak kembali ke dalam kehidupan manusia dengan semua ketentuan yang harus ia jalani. Entah ini sudah kehidupannya yang ke berapa, sampai Laras sudah sangat paham jika dirinya harus menjauhi interaksi yang intens terhadap manusia disekitarnya.


Pintu kamar itu baru saja terbuka, dan Laras sudah dibuat menghela nafas begitu Arashi menghentikan langkahnya tepat saat Laras melangkah keluar. Apa tidak ada sosok lain yang bisa ku temui! Kenapa hari ku langsung disambut olehnya.


Tidak ada percakapan atau apapun, Laras dan Arashi hanya saling melirik sejenak lalu melanjutkan langkah ke arah tujuan masing-masing.


"Aku harus mendapatkan jawabannya!"


Mendengar suara parau itu, Laras langsung membalik badannya. Melihat bagaimana sosok Arashi menatapnya dengan cara tidak biasa.


Laras tertegun dengan hal itu. Bukan karena sosok Arashi yang menatap dengan mendominasi, tetapi berdirinya sosok lain di sudut bangunan dengan tatapan benci yang terarah kepadanya.


"Berani sekali!"


"Apa yang kau gumam kan!" sapa sosok lain yang menepuk pundak Laras dengan santainya. Kacamata tipis itu lalu di benarkan posisinya.


"Bukan urusanmu!" jawab Laras berbalik lagi menuju arah tujuannya. Tapi baru beberapa langkah, Laras terpaku pada bayangan yang ditampilkan oleh 3 sosok di belakangnya. Tiga sosok yang berada pada jarak yang cukup jauh, tetapi bayangan ketiganya membuat Laras berhenti untuk menyamakan betapa tidak bersahabatnya bayangan ketiga sosok itu sebenarnya.


Berjalan menuruni anak tangga, sesuatu yang janggal terjadi. Laras mengalami ingatan yang membuatnya cukup yakin, kalau dia telah mengalami sesuatu bersama ketiga sosok bayang itu sebelumnya.


"Kisah yang seperti apa yang telah aku lupakan sebenarnya?!" gumam Laras diantara kegamangan yang ada. Laras mengabaikan perasaannya dengan melanjutkan langkahnya. Namun tangan itu menarik tubuh Laras dan membalik kasar tubuh itu sehingga keduanya saling berhadapan.


"Sebanyak apa kau telah melupakan sesuatu?! Akan ku bantu kau untuk mengingatnya!"


Belum sempat menelaah sikap impulsif yang diterimanya, Laras bahkan tidak mengerti kenapa dengan beraninya pemuda di hadapannya ini mencium bibirnya dengan begitu sengaja. Bahkan saking tidak mengerti dan shock nya dengan apa yang terjadi dalam hitungan detik itu, Laras tidak menyadari kalau dia bahkan tidak melakukan perlawanan apapun terhadap apa yang terjadi.


"Apa kau masih berani untuk melupakan hal ini!" kata-kata tegas dan tatapan serius itu keluar dari mulut Arashi setelah berhasil membuat tubuh Laras mengkeret karena ciumannya. Jantung Laras berdetak kencang, namun hal apa yang terjadi bukanlah karena tindakan Arashi itu tapi lebih kepada bayangan ingatan yang muncul bersamaan dengan bagaimana Arashi menatapnya kini. Wajah yang sama, tatapan yang sama, model rambut yang sama, hanya saja dalam bayangan sesaat diingatan Laras, sosok itu menggunakan kaos putih polos dengan wajah yang begitu cerah.

__ADS_1


Begitu Laras mencoba mengingat bayangan itu lagi, Laras merasa tubuhnya semakin mengkeret. Semakin dirasakan, tubuhnya terasa semakin sakit dan mulai kepanasan. Dengan cepat Laras menepis kedua tangan Arashi yang masih mengcengkram bahunya. Laras menatap bengis sembari menahan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Membuat Laras sempat berjalan terhuyung dan hampir di bantu oleh Aksara yang sudah berada disekitar mereka.


"Kamu baik-baik saja?"


Tidak memberikan jawaban apapun, Laras hanya melirik kemudian melanjutkan langkahnya bersama semua rasa sakit yang terus menggerogoti seluruh bagian tubuhnya.


"Apa yang salah kali ini." ujar Laras lemas. Tubuh itu kali ini terhuyung dan Laras mulai kehilangan pandangannya. Dunia menjadi gelap untuk sesaat. Gelap yang benar-benar gelap. Entah tubuhnya membentur tanah atau apa, Laras hanya merasakan sesuatu tengah berada didekatnya. Bahkan didalam kegelapan yang ada, semuanya terasa begitu tenang dengan keberadaan sesuatu didekatnya.


Suara riak air terdengar menggema ditelinga Laras. Hanya ada suara riak air dari satu tetes air yang jatuh dipermukaan. Laras melangkah dalam kegelapan itu, membawa tubuh itu semakin jauh dari tempatnya berdiri. Semakin melalangkah, kaki itu mulai berpijak pada genangan air disekitar suara riak air tadi. Pada langkah berikutnya, tubuh itu terjerumus kedalam air. Dimana di dalam air itu banyak sekali sosok jiwa-jiwa bermata kosong yang berteriak gembira menyambut tubuh itu. Bagiakan sekumpulan ikan yang melihat makanan yang jatuh ke dalam air, para jiwa-jiwa bermata kosong itu mengerubuti tubuh Laras dengan tangannya yang terus berusaha menarik tubuh itu untuk semakin masuk ke dalam dasar air.


Laras berusaha melawan, memberontak, dan melepaskan cengkraman tangan-tangan liar itu dari sekucur tubuhnya. Sesekali Laras yang lolos berusaha meraih permukaan air dengan terburu-buru. Namun pada usahanya yang ke sekian, Laras menyadari kalau dirinya bisa bernafas biasa di dalam kedalaman air itu. Dia membalik badannya untuk memastikan pengelihatannya, dan etika menyadari saat akan menuju permukaan, Laras melihat ada sosok lain tengah terbaring di dasar air itu. Sosok yang membuat Laras begitu ingin menyelamatkannya. Sosok yang tidak bisa dia lihat jelas wajahnya, hanya sebagian bahu, tangan, dan beberapa tubuh lainnya yang begitu mencolok dari semua jiwa-jiwa bermata kosong yang kini menyerangnya dengan cukup ganas.


Laras mengerjap. Sembari terbangun dari sesuatu yang seperti mimpi tapi terasa begitu nyata baginya. Mendapati dirinya tengah berada di sebuah kamar yang tidak ia kenali, Laras menghela nafas lalu terdiam sembari merasakan hangatnya selimut yang menutupinya. Selimut dengan wangi yang membuatnya merasa begitu nyaman. Suasana kamar yang walaupun tidak begitu rapi, tapi cukup membuat Laras merasa aman berada di dalam kamar tersebut.


"Sudah merasa lebih baik?" suara parau itu terdengar dengan begitu jelas di telinganya.


"Maaf! Kamu sampai shock seperti itu karena tindakanku tadi." Suara itu kini terdengar begitu familiar. Suara dari pemuda yang beberapa saat lalu tengahdengan berani menciumnya tanpa permisi. Arashi.


"Aku kenapa?"


"Pingsan." jawab sosok Aksara yang sudah berdiri didepan pintu kamar itu.


Mendengar jawaban Aksara, Laras melihat langsung mengalihkan pandangan ke dalam kedua telapak tangannya. Berusaha membuka lalu menutup jemari tangannya, gadis itu kembali menghela nafas panjang.


"Terima kasih sudah menolong..ku." tubuh itu lagi-lagi terhuyun. Belum juga kedua kakinya menyentuh lantai kamar itu, Laras sudah terhuyun lalu terjatuh dari tempat tidur. Dan, dengan sigapnya Arashi menahan dan menopang tubuh itu agar tidak kembali jatuh seperti saat ia pingsan tadi.


"Lemah sekali!" komentarnya.

__ADS_1


Sementara sosok yang menerima komentar itu hanya bisa terdiam dengan rasa kaget yang dirasakannya.


"Aku kenapa lagi?!"


Sosok bayangan hakim tertinggi mencuat dari tubuh Arashi. Sosok itu seakan keluar dari tubuh si pemuda dan terpental dengan begitu kuat membentur Aksara yang langsung mendorong sosok bayangan itu kembali ke dalam tubuh pemiliknya.


Ketiganya sama-sama terdiam dengan pandangan, pengalaman, dan perasaan masing-masing tentang hal yang baru saja terjadi. Setiap masing-masing dari ketiganya memilki cara dan sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Memiliki pengalaman yang berbeda dengan kejadian sesaat itu dan memiliki pemikiran serta perasaan yang berbeda dengan hal yang masing-masing dialami.


"Aku harus kembali ke kamarku." ucap Laras ketika merasa keheningan begitu menguasai ruangan itu.


"Tidur disini juga tidak masalah!" jawab Arashi cuek.


"Trus kamu tidur dimana?" Aksara bereaksi serius.


"Kamar sebelah!"


"Nggak!"


"Kenapa nggak?! Ini rumahku! Rumah yang ku sewa dengan membayar per bulannya!"


"Terus, aku tidur dimana?!" Aksara nyolot dengansetiap jawaban yang di dapatkannya.


"Kamu itudisini cuma numpang!"


Tatapan sengit Arashi di balas sama sengitnya oleh Aksara. Seakan dari tatapan keduanya ada kilatan petir yang menandakan adanya pertikaian di antara keduanya dalam tatapan itu.


"Ribut!" sentak Laras. Kali ini gadis itu sudah berdiri dengan baik diantara kedua pemuda. "Aku akan kembali ke kamarku."  Laras menampik bahu Arashi, yang dibalas dengan tatapan sendu. Tatapan yang memperlihatkan, betapa merindunya sosok itu terhadap Laras. Terhadap sosok sang penjaga lembah larangan.

__ADS_1


***


__ADS_2