Abu-Abu

Abu-Abu
Sisi cerita yang lain


__ADS_3

Menghilangnya Laras dan dua sosok mahkluk penjaga dihadapannya membuat sosok sang penjaga berjubah merah maroon bergegas pergi ke lembah abu-abu. Mengecek setiap sudut untuk memastikan keberadaan Laras dan dua sosok penjaga lainnya yang datang dari balik pintu Batu lembah abu-abu. Pencarian yang dilakukan cukup lah lama, sampai ia menemukan sosok lain yang memasuki pintu lembah dengan wujud yang ia kenali sebagai sosok kakek dan neneknya Laras.


"Siapa yang mengantar kalian ke lembah ini?" sosok sang penjaga berjubah merah maroon menghentikan langkah kedua orang tua itu di pintu lembah.


"Kami tidak tahu kami berada dimana, dan kami hanya terus berjalan sampai kami menemukan ujung perjalanan kami disini." jawab sang kakek.


"Tempat ini terlihat baik." ujar sang nenek.


Sosok sang penjaga terdiam. Satu lagi rahasia lembah abu-abu adalah setiap jiwa baru yang datang, akan melihat tempat itu sebagaimana ia mencapai akhir ujian hidupnya. Sebatas mana pengertian setiap jiwa baru terhadap sebuah tempat yang menjadi akhir dari perjalanan hidup mereka.


"Bagaimana saya harus menjelaskan pada cucu anda tentang hal ini?" sang penjaga menunjukan sosoknya sebagai Eren kepada jiwa kakek dan nenek Laras.


"Kami akan menunggunya disini sampai dia memilih apa yang menjadi takdir hidupnya."


"Bisakah saya menyampaikan hal seperti itu?"


"Tolong jaga cucu kami selagi dia belum menemukan apa yang harus dilakukannya!"

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia tidak memilih tempat ini?"


"Kami mengenal cucu kami dan pilihannya tidak akan membawanya pada penyesalan."


Mendengar jawaban itu, sosok Eren tersedot oleh ruang waktu. Dia kembali ke tempatnya semula tepat sesaat kemunculan sosok Laras di tempat ia menghilang dari pandangannya.


"Siapa kamu sebenarnya?" Sosok lain Eren menyambut kesunyian Laras begitu kembali ke dunia tempat Laras terpaku. Dan pertanyaan yang sama juga mengalir dari Laras begitu sebuah bayangan terlintas jelas dalam ingatannya.


Dimana pada bayangan itu, dia menyaksikan bagaimana sebuah kecelakaan terjadi. Bagaimana guncangan sebuah bus yang terguling-guling memakan begitu banyak korban jiwa. Bagaimana anak-anak kecil usia TK yang baru saja bernyanyi riang terguling dari kursi mereka dan teriakan histeris terdengar dimana-mana. Begitu bisingnya. Sosok Laras yang terkunci dalam pandangan seorang bayi perempuan menggunakan bandana pink, hanya terpaku dengan pemandangan yang dilihatnya.


Sekilas sebelumnya, dalam pandangan bayi perempuan dengan bandana pink itu hanya ada tawa riang dengan nyanyian berkumandang dari semua penghuni bus. Begitu juga sosok sang bayi perempuan yang berada dalam dekapan sang ayah dibalik gendongan yang dikenakannya. Tangannya tengah dipegang untuk ikut bertepuk tangan dengan bergembira. Senyum kedua orang tua itu saat mencandai sosok bayi perempuan dengan bandana pink itu terlihat begitu dekat dan familiar bagi sang bayi perempuan. Laras pun merasakan sesuatu yang begitu hangat melindungi sosok bayi perempuan dengan bandana pink itu.Tapi sedetik kemudian, semua pandangan itu berubah kelam. Ada begitu banyak korban jiwa. Terlebih lagi anak-anak usia TK yang tanpa dosa.


Laju awan menjadi begitu cepat ditengah teriknya panas matahari seakan menyiratkan kekacauan mulai terjadi pada satu cerita kehidupan.


Dimata sesosok lain dihadapan bayi perempuan dengan bandana pink, terlihat jelas lebih banyak kematian yang tidak seharusnya telah terjadi. Lebih banyak korban jiwa yang jatuh dan lebih banyak takdir manusia yang berubah karena insiden kecelakaan itu. Dalam pandangan mata sesosok lain dihadapannya, bayang ingatan Laras yang terkunci dalam tubuh bayi perempuan dengan bandana pink-nya juga melihat banyaknya korban lain yang berada diluar bus yang ringsek itu. Beberapa sepeda motor hancur baik di badan ataupun ditepi jalan. Ada juga motor dikendarai oleh seorang bapak tua yang membonceng seorang anak kecil. Beberapa truk pengangkut barang, minibus, dan mobil-mobil pribadi juga mobil berpenumpang yang terguling dan menampakan kekacauan yang lebih besar lagi.


Ditengah kegamangan yang ada, tangisan bayi perempuan dengan bandana pink terdengar cukup jelas dalam bayang ingatan Laras. Dan seakan menjadi pertanda bagi jiwa-jiwa yang masih terikat pada kehidupannya itu, tangisan sang bayi seakan mengundang sesosok malaikat penjemput tertuju pada sosok mungilnya.

__ADS_1


Bayi perempuan dengan bandana pink yang tengah dipeluk erat oleh kedua orang tuanya yang entah jiwa kedua orang tua itu berada dimana. Terlindungi dalam pelukan sang orang tua, bayi perempuan dengan bandana pink itu sesenggukan dan berusaha meraih wajah sesosok bayang malaikat yang berlutut dan menatap lekat kearah matanya.


“Apakah kau juga jiwa yang sama seperti mereka???" itulah kalimat yang bisa didengar Laras dari dalam sosok bayi perempuan dengan bandana pink-nya.


Sosok Laras dalam tubuh bayi perempuan dengan bandana pink berusaha menyentuh pipi sesosok bayang malaikat dihadapannya. sesosok bayang malaikat kini nampak berbalik dan membelakangi bayi perempuan dengan bandana pink-nya. Sesosok bayang malaikat itu menatap jiwa-jiwa lainnya yang terikat erat dengan seluruh bagian tubuh sang bayi.


“Kematian itu selalu bergandengan erat dengan satu cerita kehidupan.”


Suara yang menggema membawa sosok Laras mengangkat kepala sang bayi dengan bandana pink-nya mendongak ke langit. Tatapannya terpaku pada jajaran awan yang bergerak perlahan dan nampak begitu hampa. Kekosongan mengisi seluruh ingatannya. Suara-suara yang terdengar nyaring perlahan menjauh dan semakin tidak terdengar jelas. Dimatanya kini hanya nampak ruang kosong yang begitu gelap. Sangat gelap.


Tidak mengerti dan mungkin tidak mengingat hal yang kini dialaminya, bayi dengan bandana pink itu tersenyum dan bersuara riang sambil menarik jubah sesosok bayang malaikat dihadapannya. Tawanya yang begitu nyaring membawa jiwa-jiwa dari para korban kecelakaan dalam bus itu menghilang satu persatu dari pandangan bayi perempuan dengan bandana pink-nya.


Ada beberapa wajah yang nampak tersenyum. Ada yang bersedih. Ada yang kebingungan. Ada yang murung. Bahkan ada yang tidak berekspresi sekalipun. Dan jiwa dari anak-anak tk itu, semuanya masih bernyanyi dengan riangnya. Gema nyanyian mereka mengalun pilu pada telinga bayang ingatan Laras yang menyaksikan awal sebuah kekacauan jalannya takdir hidup para manusia.


Sampai Laras menyadari bahwa sosok bayi perempuan kecil dengan bandana pink itu kembali tengah berusaha meraih sesosok bayang malaikat dihadapan nya. Derat kehidupan yang kelam dan tidak berujung disaksikan Laras lewat sentuhannya pada sesosok malaikat penjemput dihadapannya. Sangat gelap dan kelam. Seketika Laras merasakan sakit yang teramat pada dadanya.


Kaget dan terpental pada kehidupan yang lainnya, Laras melihat bagaimana kelamnya hukuman yang diterima dari sesosok bayang malaikat yang dilihatnya melalui ingatan seorang bayi perempuan dengan bandana pink-nya. Sesosok bayang malaikat itu nampak terjatuh ke lembah yang begitu kelamnya. Setiap sesosok malaikat itu terhempas ke jurang paling dalam, sosok itu kehilangan sayapnya yang indah. Satu demi satu bulu dari sayapnya terlepas dan beterbangan di udara. Menampilkan cahaya ke emasan yang menghilang tertelan oleh kegelapan. Perlahan memperlihatkan wajah yang sempat tertutup oleh kepulan asap hitam yang mengitarinya. Wajah yang sangat dikenali Laras. Sesosok wajah yang kini hanya untuk menatapnya saja membuat Laras merasakan nyeri yang hebat pada hati dan perutnya. Seperti ditonjok oleh tinju yang kuat berkali-kali.

__ADS_1


Laras tersengal dengan ingatan yang dilihatnya. Air matanya tiba-tiba berlinang. Dan menyisakan sedih yang tak tertahankan.


...***...


__ADS_2