
Lenyapnya tubuh dan jiwa Laras di jalanan setapak batu bata merah membawa kesan tersendiri bagi Eren dan Aksara. Semenjak waktu itu, semua hal kembali ke tugasnya masing-masing. Aksara masih menikmati perjalanannya dalam mengantar banyaknya jiwa baik yang meninggal dalam damai atau yang tersesat dalam perjalanannya.
Berbeda dengan Eren. Kegelapan kembali menemani perjalanan Eren dalam menjaga keseimbangan setiap lembah kematian. Sosoknya yang berjubah abu compang camping dengan bara api pada setiap bagian tubuhnya selalu berlalu lalang ke setiap lembah yang berada dibawah penjagaannya. Sesekali dalam beberapa waktu, Eren masih suka berkunjung ke lembah kelam yang bernama lembah abu-abu.
Dari luar, lembah itu masih terlihat sangat gelap, suram, kelam, dan menyeramkan. Tidak lagi terdengar suara desisan atau pun lengkingan suara menjerit dari dalam lembah yang tertutup rapat oleh semak belukar berduri yang mengitari sisi lembah sampai ke ujung langitnya.
Dalam benak Eren, tempat itu sudah menjadi lembah tandus tanpa celah kehidupan. Setiap bagian lembah telah berubah menjadi abu dan menguap kedalam kegelapan yang paling suram.
"Masih sama suramnya seperti saat terakhir." ujar Aksara yang baru saja mendaratkan tumpuan kakinya disamping Eren.
Keduanya memandang ke seluruh bagian pintu lembah yang tertutup rapat oleh lilitan semak belukar berduri. Memperhatikan setiap detail semak belukar yang sama sekali tidak mengalami perubahan apapun.
"Sudah tidak ada lagi jiwa didalamnya."
Eren menatap dalam dan berharap ada sedikit celah yang bisa membuatnya memasuki lembah tanpa harus melukai jiwa dan menghancurkan tubuhnya.
"Ini satu-satunya lembah yang tersegel oleh musnahnya sang penjaga lembah." Zara menimpali.
Masih dengan balutan dress hitam yang mengikuti semua lekuk tubuhnya, Zara menutup kepakan sayap itu pada bagian punggungnya.
Zara melirik ke arah Eren yang masih terdiam. Kebekuan Eren sudah lama dirasakan oleh Zara. Perjalanannya seperti tidak artinya setelah sosok terlarang bernama Laras lenyap di jalanan setapak batu bata merah setelah mengeluarkan lengkap semua jiwa yang memilih bersemayam pada tubuh dan jiwa gadis itu.
"Apa yang bisa kita lakukan kalau setiap kembali kesini semuanya masih nampak sama?" Zara berceloteh lalu berbalik sambil kembali mengepakkan sayapnya lebar-lebar. Hanya dengan satu kepakan, Zara sudah menghilang dari sisi kedua pemuda yang lebih memilih berbalik santai dan menikmati perjalanan lain keluar dari sisi pintu lembah.
__ADS_1
Dari jalan gelap ke jalan yang lainnya, Eren dan Aksara melewati berbagai sisi lembah. Ada beberapa lembah lain yang mereka lewati sebelum lembah abu-abu diujung tempat yang mereka kunjungi.
Ada Lembah kehampaan. Dimana setiap jiwa dari lembah kehampaan merupakan penghuni jiwa dari lembah-lembah lain yang telah memasuki masa pengetahuan tertingginya. Mereka yang memasuki lembah kehampaan adalah mereka dengan tingkat terlepas dari keterikatan baik itu terhadap hutang budi, hutang janji, dendam, dan keterikatan lain berupa cinta dan kasih sayang.
Setelahnya lembah kesengsaraan. Lembah ini tanpa penghuni. Lembah yang dijuluki lembah hukuman. Biasanya lembah kesengsaraan akan menyedot bukan hanya setiap jiwa namun sosok penjaga pun tidak lepas dari hukum lembah kesengsaraan. Dimana jiwa setiap mahkluk bisa saja mencapai kemurnian atau semakin terjatuh kedalam kegelapan yang melemparkannya ke lembah kehampaan, lembah reinkarnasi atau pun ke lembah yang lainnya.
Berikutnya ada lembah kebahagiaan dengan danau yang mengitari setiap sudutnya. Lembah kebahagiaan adalah satu-satunya lembah dengan semua keteraturannya yang membawa keindahan pada setiap sudut tempatnya. Pada lembah itu terdapat semua jenis bunga dan buah-buahan. Air terjun yang bermuara pada danau yang jernih. Bunga teratai menghiasi tengah danau dan semua itu menjadi pemandangan indah tersendiri dari setiap jiwa penghuni lembah kebahagiaan.
Lembah bunga. Lembah yang dihuni hampir oleh setiap jiwa tanaman yang ada baik yang berada di dunia ataupun jiwa tanaman yang ada pada setiap lembah.
Lembah terapung yang bertingkat-tingkat. Jumlah Lembah terapung ada sembilan tingkatan dan setiap tingkatan mempunyai penjaga dan penghuni dengan tingkatan jiwa yang berbeda-beda. Setiap tingkatan lembah terapung pun memiliki pemandangan yang berbeda dan peraturan yang berbeda.
Lembah reinkarnasi adalah lembah terakhir yang mereka lewati sebelum sampai pada jalanan setapak batu bata merah. Langkah keduanya terhenti. Bisikan dari barisan jiwa pada lembah reinkarnasi membuat mereka mengalihkan tatapan mereka.
Kalau itu lembah reinkarnasi, mungkin mereka mengetahui kemana jiwa-jiwa itu pergi. Tapi jika itu adalah penjaga dari penghuni lembah, kemanakah jiwa itu menghilang? Tidak ada yang mampu menemukan jawabannya. Karena perputaran waktu dan perputaran kehidupan dalam lembah tidak pernah terlihat berubah ataupun terganti seperti pada lembah kelam bernama lembah abu-abu.
Satu-satunya lembah dengan satu sosok penjaga. Dimana saat sang penjaga lenyap, lembah itu tersegel dengan sendirinya. Tidak ada lagi tanda-tanda adanya penghuni lain didalam lembah itu. Lembah abu-abu memiliki jiwa yang menghuni lembah begitu banyak, itu pun merupakan pengecualian terhadap lembah abu-abu. Bisa dikatakan lembah kelam bernama lembah abu-abu menjadi lembah yang spesial karena karakter lembah nya yang kuat dan tidak dimiliki oleh lembah-lembah lainnya kecuali lembah reinkarnasi.
Eren menghentikan sekali lagi langkah kakinya pada sisi lembah Reinkarnasi. Melihat kembali sosok dua penjaga yang sempat beradu kekuatan dengannya saat dirinya salah mengira kalau mereka datang untuk melenyapkan Laras di ujung bukit belakang halaman tempatnya menyamar menjadi seorang siswa.
"Apakah mungkin serpihan jiwanya terbawa ke lembah ini!?" Eren mencoba membaca kemungkinan dari perputaran roda takdir dari setiap jiwa yang pernah terlahir ke dunia.
"Kalau sosoknya memang terlahir sebagai manusia, mungkin dia akan melewati lembah ini beberapa kali...." Aksara menjawab. "Tapi jika dia penjaga, dia hanya akan berakhir pada tiga lembah yang tadi kita lewati." Aksara mengingat.
__ADS_1
Dimana dirinya terjatuh ke dalam ke lembah kesengsaraan karena membalaskan dendam yang dia punya dengan menyeret satu jiwa kedalam lembah kesengsaraan. Itu adalah salah satu jiwa yang harusnya dia hantarkan ke perjalanan terakhirnya. Aksara yang mengabaikan tugasnya, langsung terjatuh kedalam lembah kesengsaraan dan sempat kehilangan buku-bulu dari sayapnya. Padahal jiwa itu harusnya kembali bereinkarnasi menjadi hal yang paling dibenci jika mengalami kelahiran kembali. Aksara tersenyum malu mengingat kesalahannya itu begitu memandang setiap penghuni lembah reinkarnasi.
Melihat perputaran roda reinkarnasi dari setiap jiwa yang keluar masuk ke dalam sisi lembah, Eren membayangkan jiwa dari sosok Laras berbaur dalam salah satu jiwa yang bersiap melewati pintu reinkarnasi.
Ada beberapa jiwa berwarna abu-abu yang menyela pada beberapa jiwa putih lainnya. Dan jiwa abu-abu itu menjadi pusat perhatian Eren. Seakan ada yang menyita pikiran Eren dari jiwa abu-abu yang berbaur dengan jiwa putih di lembah itu, dia terpaku pada bayang beberapa jiwa abu itu terus melintas dibenak Eren setelahnya.
"Apa yang inginkan?" Aksara mencibir bercanda. "Berharap dia berada di salah satu barisan jiwa itu?"
"Sepertinya begitu..." Eren mengalihkan tatapannya dari jiwa abu-abu itu kearah depannya. Kembali melanjutkan perjalanannya, Eren menendang bagian kaki Aksara yang terus berusaha mengejek dirinya karena terus berharap Laras bisa kembali lagi di hidupnya.
Tawa Aksara pecah, membuat Eren berdecak kesal dengan berjalan saling menyusul dan saling sikut satu sama lainnya.
Suara mereka menggema di seisi lembah reinkarnasi dan memaksa semua penghuni lembah melihat kearah mereka dari kejauhan.
Pemandangan itu menjadi ingatan tersendiri dari sepasang mata bulat besar yang berbaur bersama jiwa-jiwa putih pada lembah reinkarnasi. Bulu matanya terlihat lentik dan tegas. Warna bola matanya biru keabu-abuan. Dan dari semua hal yang mencolok dari jiwa itu adalah bayang jiwanya berwarna abu-abu. Senyumnya merekah. Dia berjalan menuju pintu reinkarnasi begitu jalan untuknya terbuka.
"Tunggu aku, Eren!"
Suara itu menggema ditelinga Eren. Membuatnya berbalik ke dimensi dibelakangnya, begitu ia menginjakan kakinya pada jalanan setapak batu bata merah bersama sosok Aksara.
...***...
__ADS_1