Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Sosok Penjaga Pintu Batu


__ADS_3

Tudingan tangan dari Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu - membuat Eren terpaku dalam waktu yang cukup lama.


Dia memperhatikan empat pilar batu yang cukup besar dan tinggi menjulang di seberang lembah. Dimana pada bagian belakang pilar batu itu terdapat hutan lebat berkabut dengan pepohonan yang menjulang tinggi sampai ke langitnya.


Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu, menunjuk dengan lebih jelas lagi pada empat pilar yang membentuk masing-masing sebuah pintu batu berkabut keabuan yang berada di seberang perairan lembah.


"Bagaimana mungkin?"


Eren mengalihkan pandangannya pada Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu. Menatap tidak percaya dengan pengetahuan sosok yang tidak mampu ia golongkan kedalam jenis penghuni lembah yang mana.


"Apakah seorang yang aku tahu mungkin berada pada salah satu tempat dibalik pintu batu itu?"


Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu, menjawab ragu. Antara menggeleng tapi juga terlihat mengangguk. Kemudian terdiam untuk waktu yang lama sampai hembusan angin kencang menimbulkan gelombang air yang besar.


Hembusan angin itu berasal dari salah satu pintu batu berkabut keabuan yang kini mereka pandanganya dengan seksama.


"Aku sepertinya harus masuk!!"


Eren mengesampingkan Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya - yang terpaku dengan tatapan pasti dan terarah kepada salah satu pintu batu itu.


//


Petualangan seru Eren berbanding terbalik dengan keadaan yang dialami Aksara bersama Laras. Sudah beberapa hari ini Aksara terus saja berurusan dengan Laras. Entah itu karena urusan kampus, Laras yang kecelakaan. Yang ternyata hanya kecelakaan kecil. Sampai Aksara harus bolak-balik berulang kali untuk menemui Laras yang meminta banyak bantuan padanya karena kecelakaan yang dialaminya.


"Kenapa tiba-tiba kamu semanja ini?" gerutu Aksara sembari menyuguhkan jus pesanan mangga Laras.


"Memangnya kamu mengenalku seperti apa?"


"Tidak! Aku tidak mengenalmu!" jawabnya sekenannya.


Mendengar jawaban Aksara, Laras memilih menyeruput jus mangga pemberian pemuda itu. Dia sedikit memainkan kakinya yang keseleo. Atau tepatnya hanya memar biasa. Tersenyum manis, wwajahnya nampak hal tidak biasa telah dipikirkan oleh Laras saat ini.


Sementara si pemuda memilih diam dengan hal yang dilakukan Laras. Meletakkan beberapa makanan ringan dan beberapa buah diatas meja ruang tamu itu, Aksara mengingat kembali bagaimana gadis itu bisa mengalami memar pada kakinya.


Kejadian itu terjadi tiga hari yang lalu. Aksara baru sedang melakukan perjalanan yang tidak biasa bersama sosok jiwa separuh baya yang masih terlihat sangat begitu segar. Beliau sejak awal telah mengetahui kematiannya dan akan menemui sosoknya lagi.


"Saya senang bisa bertemu lagi dengan mu!" ujarnya dalam setengah perjalanan.


Sosok itu menghentikan langkahnya. Dia membungkuk hormat pada Aksara yang kebingungan dengan hal yang dilakukan jiwa dihadapannya ini.


"Wah! Wah! Sepertinya anda salah orang!"

__ADS_1


Aksara tertawa renyah. Dia benar-benar tidak mengerti dengan keanehan sikap dari jiwa dihadapannya ini. Dia akhirnya ikut membungkuk memberi hormat. Dan seketika satu bayangan dimana dia pernah melakukan hal yang sama terlintas pada benaknya.


"Ternyata itu anda!"


Aksara mengangkat tubuhnya. Berdiri dengan sama tegaknya dengan jiwa yang diantarkannya.


"Bagaimana hidup anda berjalan?"


"Seperti yang anda lihat." jawabnya memamerkan bagaimana sehat dan baiknya dirinya dihadapan Aksara saat ini.


"Ya! Bisa saya lihat dengan jelas."


Aksara tersenyum kecil. Dia kembali mempersilahkan jiwa tersebut untuk kembali melanjutkan perjalanannya diiringi langkah Aksara.


"Anda sudah mengetahui jawabannya?" Aksara mengingat.


Sosok itu menunduk sejenak, kemudian tengadah ke langit yang lebih banyak tertutupi dahan pohon yang menjulang dengan begitu tingginya.


"Sebenarnya, bagaimana cara hidup dengan baik ditengah keberagaman manusia yang tidak ada batasannya."


Aksara mengulangi kalimat yang dulu dipertanyakan oleh jiwa disebelahnya itu.


Dulunya sosok tersebut adalah seorang yang gigih dalam bekerja. Semasa hidupnya, dia terus bekerja keras dan membangun perusahaan yang sangat besar. Seiring bertambahnya umur, sosok pria itu semakin berambisi terhadap usahanya. Menjadikan usahanya sebagai satu-satunya tempat untuk seluruh hidupnya. Mengabaikan banyak waktu terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya.


Saat itulah sosok jiwa itu menanyakan hal yang baru saja di sampaikan Aksara.


"Saya telah belajar banyak dari kesempatan yang anda berikan kepada saya 18 tahun silam."


"Begitu kah?"


"Saya yang anda berikan kesempatan untuk mengasihi sesama dan melihat setiap manusia dari banyak sudut pandang, membuat saya akhirnya terbebas dari jerat yang mengikat saya waktu dulu."


"Itu adalah kesempatan yang terbuka oleh karena satu tindakan anda dan atas nama doa kebaikan dari anggota keluarga saya terhadap diri saya." jiwa itu mengingat. "Seperti itulah anda menjawab."


"Pahamilah bahwa setiap jiwa yang menjadi manusia mempunyai keterikatan dengan manusia lainnya. Setiap manusia mempunyai sudut pandangnya masing-masing. Dan setiap sudut pandang memiliki pembenarannya sendiri."


Jiwa pria itu tersenyum mendengar apa yang Aksara katakan. Sebelum jiwa pria itu menghilang, si pria kembali mengucapkan terima kasih.


Aksara terdiam. Dia tiba-tiba mengingat keterikatan antara Eren dan Laras. Namun tidak dapat menemukan Eren dimanapun. Dan dirinya sendiri mulai berpikir untuk mencari Eren pada kampus tempat Laras berkuliah.


Dia baru saja menunjukan wujudnya sebagai manusia pada sudut tangga. Secara tidak terduga Laras datang dari arah bawah dan menabrak punggungnya. Membuat gadis itu jatuh. Dan dirinya berakhir untuk melayani kebutuhan Laras selama tiga hari terakhir.

__ADS_1


Selain banyak maunya, Laras benar-benar menunjukan hal yang berbeda dari dirinya yang biasa dikenal Aksara. Termasuk hal yang tadi dikatakan gadis itu atas sikap manja yang ditunjukannya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?!"


"Apa?"


Aksara menunjukan wajah datarnya pada Laras yang kembali memperlihatkan sikap kurang begitu sopan dengan menaikan kakinya dengan kuku yang berwarna-warni, di depan mata Aksara.


"Apa kamu dan Eren itu dekat?"


"Tidak!"


"Yaaah! Padahal aku ingin tahu nomer ponselnya."


Kali ini Laras meletakkan hpnya diatas meja. Hp berwarna pink dengan gantungan nama Rein pada ponsel itu serta gantungan bulu berwarna senada dengan warna ponsel tersebut. Wallpaper fotonya adalah foto Selfi Rein dengan filter kupu-kupu yang menjadi mahkotanya. Notif akun yang dimainkan Laras juga sebuah akun dengan foto Rein pada bagian profilnya.


Hal itu membuat Aksara sedikit memikirkan ulang tentang semua hal yang berkaitan dengan Laras selama seminggu terakhir.


"Aku tidak tahu." jawab Aksara.


Pemuda itu berdiri setelah menjawab pertanyaan aneh Laras terhadap dirinya. Dia menatap kaki yang dikatakan terkilir itu, menyembuhkannya, dan kemudian menghilang dari pandangan Laras dengan banyak kekesalan karena merasa telah tertipu oleh sosok gadis itu.


Aksara baru akan berdiam diri pada sisi lembah di ujung jalanan setapak batu bata merah, ketika dirinya menyadari telah berada pada sisi lembah yang tidak dikenalnya.


"Maaf menarik mu ke sini?!"


Eren tersenyum dengan kikuk. Dirinya baru saja terpental jatuh dibawah pohon tua berbunga pink pada bagian tengah dataran lembah yang sebagian besar dikelilingi genangan air membentuk danau.


"Kacau sekali?!" respon Aksara yang membuang pandangannya ke arah depannya. Dimana Eren baru saja terlempar dari sisi tersebut.


"Jangan bertanya!"


Eren mengusap bibirnya yang terasa perih setelah berkali-kali mendapatkan serangan dari mahkluk penjaga yang berdiri dengan kemurkaan didepan dua pintu batu pada lembah tersebut.


Besar tubuh penjaga itu melebihi batas normal besar sosok penjaga tertinggi pada lembah manapun. Dan mahkluk penjaga itu mempunyai banyak mata, banyak tangan dan dua kaki jenjang yang berwarna hitam pekat. Setiap tangan memiliki lebih dari ribuan mata dan gerakan setiap mata berbeda-beda.


Empat mata besar berfokus pada bagian kepala mahkluk besar itu. Mengarah pada 4 penjuru mata angin. Dan bergerak berirama sesuai dengan suara gemerincing yang dibunyikan oleh Sosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya itu.


"Bantu kami!"


Eren bersiap. Begitupun Aksara yang tidak bertanya apapun lagi setelah melihat sebuah serangan berupa tusukan jarum sebesar jari tangan mengarah pada mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2