Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Kisah baru


__ADS_3

"Sial sekali!" gumamnya ketika memasuki halaman rumah yang nampak tidak begitu terurus itu.


Sebagian besar halaman rumah itu tumbuh semak belukar yang menjalar dan menutupi seluruh bagian halaman. Sementara untuk setiap sisi bangunan baru masih tertinggal sedikit tanaman yang terlihat segar karena terkena guyuran hujan. Tanpa pikir panjang, gadis itu masuk ke dalam rumah itu. Memilih bangunan yang menjadi kamarnya dulu.


Pada teras depannya, ia menggantungkan jaket yang tadi diberikan oleh kakek dan nenek yang menolongnya pada jalanan tanjakan itu.


"Besok pasti bisa bertemu untuk mengembalikan uang itu." gumamnya yang segera berangsur masuk ke dalam ruangan pada bangunan itu.


Berbeda dengan sisi luarnya yang nampak tidak begitu terurus, bagian dalam bangunan itu masih sama rapinya seperti terakhir kali ia mengingatnya. Terlebih ketika ia coba menyalakan lampu kamar itu. Ternyata lampunya menyala dengan baik dan masih sama terangnya dengan cahaya lampu di kamarnya dulu.


"Apa ini salah satu keberuntunganku juga!"


Dia tersenyum lega ketika mendapati beberapa pakaian didalam almarinya masih utuh dan layak pakai. Bahkan pakaian-pakaian itu tidak berbau apek. Seperti semua pakaian itu telah dirawat dan dijaga dengan baik oleh seseorang.


Seusai mengganti pakaiannya dan mengeringkan rambutnya, gadis itu memegangi bagian perutnya yang keroncongan. Dia menengok keluar halaman rumahnya. Melihat tidak ada lampu yang menyala pada halaman luar, dia berbalik pada jaket yang tadi dipakainya. Mengingat ada uang didalam saku jaket, dia lalu meminta maaf karena akan menggunakan dulu uang tersebut untuk membeli makanan pada rumah makan yang tadi ia lewati.


"Besok akan saya ganti!" ucapnya.


Dia segera berlari keluar dari halaman rumah itu. Berbelok menuju rumah makan yang diingatnya lalu menghentikan langkahnya ketika masih mendapati mobil putih itu masih terparkir disana. Kembali ia menaikan kerah jaketnya tinggi-tinggi. Menutupi sebagian wajahnya dan hanya menyisakan bagian matanya saja. Topi menutupi bagian rambut dan keningnya.


"Selamat datang!" sambut seorang gadis seusianya. Dia menyambut gadis itu dengan ramah. "Mari silahkan masuk. Anda mau pesan apa?"


Gadis itu sedikit kikuk. Tapi kembali melangkah tenang setelah perhatian si pengemudi mobil yang sempat tertuju ke arahnya, kini sudah tidak lagi memandangnya.


"Maaf, mau pesan apa?" tanya lagi gadis dihadapannya.


Dia mengeluarkan lembaran uang dari saku jaketnya. Menyerahkan dua dari tiga lembar uang itu kepada gadis tadi lalu menunjuk satu menu yang tertulis dihadapannya.


"Nasi goreng telur, ya?" ulangnya.


Gadis itu mengangguk kecil dan masih menyembunyikan sebagian wajahnya dibalik leher jaketnya yang tinggi.


"Baik. Silahkan ditunggu dimeja sana yah!"


Kembali anggukan kecil yang didapat gadis itu. Sembari berbalik dengan wajah bingung, dia mengabaikan tingkah gadis dihadapannya lalu berlalu kebagian dapur untuk menyampaikan pesanan itu pada bagian koki dapurnya dan kembali lagi untuk menyapa gadis yang kini tertunduk menghadap kearah dalam ruangan mensejajarkan posisi duduknya dengan pemuda dimeja seberangnya.

__ADS_1


"Eren! Ayo makan!"


Gadis dihadapan Eren yang tidak lain adalah Rein, menyuapi Eren makanan dari sendoknya. Membuat gadis itu tersenyum senang sembari mengambil sendok itu untuk digunakannya menyendok makanan lain dihadapannya.


"Aku bisa sendiri..."


Eren yang terlihat sedang terganggu dengan suasana disekelilingnya, mengambil sendok itu dari tangan Rein. Ingin sekali dirinya untuk melihat baik-baik gadis lain yang kini duduk menghadap sisi dalam rumah makan itu. Meski posisi mereka sejajar, hal itu malah membuat Eren semakin merasakan ingin melihat baik-baik gadis itu. Gadis yang sama yang telah menyita pikirannya ketika akan memasuki rumah makan ini beberapa saat yang lalu.


Aku merasa mengenalinya.... Apakah dia orang yang sama? batin Eren begitu sendok itu terjatuh dari tangannya.


"Kamu pikirannya kemana sih?! Ada hal yang mengganggu mu?" Rein menarik tangan Eren untuk memusatkan perhatian pada dirinya.


"Bukan begitu," jawabnya datar. "Sepertinya tanganku sedikit dingin dan aku melamun tentang bagaimana tempat ini 4 tahun yang lalu." jawabnya tanpa sadar.


"Memangnya bagaimana tempat ini 4 tahun lalu!"


"Apa?"


Eren tiba-tiba benar-benar menunjukan tatapannya pada sosok gadis dihadapannya. Gadis itu masih asyik dengan makanan dan ponsel yang ia mainkan pada tangan kirinya.


Laras tidak pernah terlihat tersenyum seperti itu selama ini!!


"Silahkan! Makanannya sudah siap."


Gadis pemilik rumah makan itu menyajikan nasi goreng telur pesanan gadis di meja seberang. Sejenak hal itu mengalihkan tatapan Eren ke arah sampingnya. Lalu menelisik ketika gadis itu hendak menurunkan kerah jaketnya yang ia naikan tinggi-tinggi.


"Boleh minta segelas air!" pintanya.


Gadis pemilik rumah makan memukul keningnya sejenak lalu bergegas mengambil sebotol air mineral menjadi pesanan gadis dimeja itu.


"Aduh, maaf yah! Ini minumannya!"


Menyuguhkan minuman disamping nasi goreng pesanannya, gadis pemilik resto kemudian kembali ke balik meja pesanan yang membagi bagian rumah makan menjadi dua sisi yang berbeda fungsi.


Gadis dimeja itu menurunkan sedikit kerah jaketnya. Membuat gadis pemilik rumah makan itu dan Eren melihat dirinya dengan seksama.

__ADS_1


"Kamu melihat kearah mana!" Rein menatap jengkel. Mendengus dan membuat Eren menghentikan rasa penasarannya.


Berbeda dengan gadis pemilik warung yang akhirnya manggut-manggut kecil setelah berhasil menghapus rasa penasarannya. Dia kembali kebagian belakang. Menyeduh dua teh lalu berjalan menuju meja gadis dengan jaket berkerah tinggi itu lalu duduk disampingnya. Menghalangi lirikan yang Eren sekali lagi coba lakukan untuk menghilangkan perasaannya yang merasa terganggu dengan sosok gadis itu.


"Sudah lama tidak terlihat!" sapa gadis pemilik rumah makan itu. "Apa kabarmu?"


Gadis itu mendongak melihat gadis pemilik rumah makan yang ternyata adalah teman masa SMAnya. Walau tidak terlalu akrab, tapi dia adalah anak dari pemilik tempatnya bekerja untuk mengantarkan koran dan susu pada pelanggannya dulu di masa SMA.


"Baik!" dia mengangguk kecil lalu melanjutkan makannya. "Kamu bagaimana?"


"Lanjutkan dulu makannya, nanti aku kembali lagi ya untuk mengobrol! Nikmati juga tehnya!"


Kembali hanya anggukan yang didapatkan oleh gadis pemilik rumah makan itu. Dia kembali ke balik meja pesanan. Mengecek makanan yang dipesan oleh Eren dan Rein, lalu mengambil uang bayaran dan menaruh uang itu pada laci meja kasir.


"Uangnya pass yah?"


Eren mengangguk. Lalu Rein langsung menempelkan tangannya pada lengan Eren.


"Setelah ini kita ke rumahmu?"


"Sebaiknya aku mengantarmu pulang." jawab Eren melepas pegangan tangan itu untuk membukakan pintu bagi Rein.


Semua hal yang Eren lakukan untuk Eren menjadi perhatian tersendiri bagi gadis dengan jaket berkerah tinggi yang menutupi sebagian besar wajahnya. Dari balik topi itu, dia menghela nafas perlahan. Lega rasanya setelah kedua sosok itu keluar dari rumah makan tersebut.


Dia menghadap ke depannya, lalu mengambil segelas teh yang disuguhkan oleh gadis pemilik rumah makan itu dan meminumnya habis dalam sekali teguk.


"Hangatnya!" gumam gadis itu tersenyum lugu.


Dengan hidung sedikit mancung yang memerah. Bulu mata lentik dengan bola mata bulat besar, Alis yang tertutupi bagian poni berambut panjang lurus sepinggang, sosok itu membuat gadis pemilik warung mau tidak mau harus segera menutup rumah makannya untuk bisa mengobrol dengan teman sebayanya itu.


"Laras, kemana saja kau selama 3 setengah tahun ini?!"


Gadis itu mendongak. Menatap sejenak lalu tersenyum kaku untuk menyembunyikan ke kikukannya.


"Aku pergi ke kota sebelah!" dia nyengir kuda seperti kebiasaannya dulu ketika dihadapkan pada hal yang sulit untuk ia jawab.

__ADS_1


...***...


__ADS_2