Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah : Aku kembali!


__ADS_3

"Sakiiit!" keluh Laras dan sosok lain Laras pada dimensi lain secara bersamaan.


Laras yang didalam lembah tanpa nama memegangi bagian dadanya. Merasakan nyeri yang teramat kuat dibagian jantungnya.


"Kenapa rasanya sesakit ini!" jantungnya berdetak kencang satu kali dan seketika pandangannya langsung kabur. Dia tidak sadarkan diri di lembah tanpa nama itu.


//


Sesekali detak jantung itu seperti sedang membunuh pemiliknya. Laras merintih sakit di ranjang rawatnya. Dia terus memegangi bagian dadanya dan menatap sosok dihadapannya dengan pandangan mata yang nampak buram.


"Laras! Lo kenapa lagi!! Jangan becanda!!" Rein langsung panik begitu melihat wajah sahabatnya kembali pucat dengan pandangan mata yang mulai turun.


Semua dokter magang yang tadinya sudah ke pasien berikutnya langsung berhamburan mendekati ranjang tempat Laras mulai tidak sadarkan diri kembali. Sementara dokter senior segera melakukan pertolongan yang diperlukan.


"Laras! Lo harus baik-baik saja!" hanya teriakan itu yang terakhir kali didengar oleh Laras sebelum akhirnya dia merasa seperti tengah tertidur dalam malam yang damai dimalam itu.


//


Kedua jiwa Laras terbangun disaat yang bersamaan. Dalam satu tubuh yang melayang jatuh ke bawahnya dengan bayangan bara api yang membakar beberapa bagian tubuhnya. Dia yang terjatuh mulai terbakar oleh bara api yang muncul dan menetes pada setiap sisi jubahnya yang entah dari arah mana datangnya.


Semakin jatuh, semakin gelap dan semakin sempit jarak pandang Laras pada semua sisi lembah itu. Ia terjatuh seakan tanpa menemui dasar dari sisi lembah tersebut.


"Kenapa lagi-lagi kembali ke titik ini..." suaranya menggema perlahan lalu menghilang dengan suara yg yang terdengar semakin mengecil.


Laras yang kini menjelma menjadi dirinya yang berambut panjang dengan poni menutupi bagian keningnya, kembali teringat masa dimana ia terlempar setelah jiwa ke 24 anak TK dan kedua jiwa orang tuanya keluar dari tubuh itu dan menyelesaikan tugas juga pilihan takdirnya.


Jiwa laras terpental begitu menemui titik cahaya yang dimana semua jiwa anak-anak tk itu telah sampai ke perjalanan terakhirnya. Dia tidak pernah tahu berapa lama waktu yang telah dia habiskan saat itu. Yang tubuh dan ingatan Laras tahu hanya tubuh itu melayang jatuh ke bawah lembah tanpa dasar. Dalam keputusasaan, tangan itu berusaha meraih setitik cahaya yang mampu ia lihat jauh di ujung sana.


"Aku ingin kesana....Ingin menemuinya..." gumam Laras dengan air mata berlinang dan jatuh di sisi bawahnya.


Tetesan air mata itu jatuh. Menimbulkan suara riak air yang terdengar sangat jelas dilembah kesengsaraan yang tanpa ujung tersebut.


...


Suara tetesan air itu menyadarkan Laras dari tidurnya diatas ranjang rawat rumah sakit. Pandangannya sedikit kabur diterpa cahaya lampu neon yang cukup besar dan panjang disepanjang ruang rawat itu.


Laras melihat disekelilingnya, tidak ada siapapun yang sedang menemaninya kini. Dia mengelus dadanya yang masih merasa tercekat dengan detak jantung yang terasa tidak normal.


"Mimpi yang aneh!" gumam Laras lalu bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Begitu selesai membenarkan posisi duduknya, Laras dibuat kaget dengan teriakan histeris sahabatnya, Rein.


"Kyaaaa! Lo akhirnya bangun, Laras!" Rein langsung memeluk sahabatnya itu.


Mengguncang tubuh gadis itu dengan kegembiraan dan rasa syukur yang tidak bisa ia ungkapkan.


Laras tersenyum kecil dengan kekhawatiran yang ditunjukan Rein pada dirinya. Dia menepuk-tepuk pundak Rein yang terus saja memeluknya dengan semua ucapan syukur karena sahabatnya akhirnya sadar dari pingsannya.


"Sadar dong, Rein. Masa gue mati sih?!" jawab gadis bernama Laras itu.


Dia membalas pelukan sahabatnya lalu meminta Rein menghentikan pelukan itu karena kepalanya masih terasa sedikit pusing dengan guncangan yang tanpa sadar Rein lakukan.


"Gue akan panggil dokter untuk memeriksa kondisi lo!"


"Tidak usah!" Laras menahan tangan Rein.


Laras melepas infus pada tangan kanannya lalu turun dari atas ranjang rawatnya dengan santai.


"Aku sudah baik-baik saja!" jawab Laras. "Kita selesaikan urusan administrasi saja bagaimana?!" Laras meyakinkan.


"Lo yakin?"


"Kapan gue terlihat tidak meyakinkan?" Laras tersenyum simpul pada Rein.


Laras tersenyum kecil lalu menggandeng tangan Rein yang mejadi sahabat untuknya.


"Kita pulang?!" Laras dan Rein saling menempel seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


Pemandangan itu sungguh hal langka yang dialami Laras sepanjang hidupnya. Pertama kalinya dia mempunyai seorang lain yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Sudah ada yang membayarkannya?" Laras dan Rein saling bertukar pandang didepan meja Administrasi rumah sakit.


"Siapa yang membayarnya?"


"Kami hanya tau dia seorang pemuda." sang perawat tersipu malu sambil menyerahkan bukti pembayaran pada Laras dan Rein yang tetap masih kebingungan dengan kebaikan yang dilakukan pemuda misterius itu pada Laras.


"Terima kasih." Laras mengambil bukti pembayaran itu.


"Jangan-jangan itu pemuda yang membawa mu ke rumah sakit kemarin!" Rein langsung bersemu merah padam mengingat pemuda yang membuat jantungnya berdetak ketika pertama kali saling bertatapan mata.

__ADS_1


"Pemuda yang mana?"


Ingatan Laras antara pemuda berpakaian serba hitam yang dilihatnya di koridor IGD dan pemuda yang menghalangi jalannya di pintu kelas. Bayangan keduanya sedikit kabur dibagian wajah tapi postur tubuh itu melekat erat pada ingatan Laras.


"Bagaimana aku menjelaskannya! Aku lupa berkenalan dengannya!" Rein mengeluh gemas.


Hal itu mengundang cekikikan untuk Laras yang baru saja menghirup udara diluar rumah sakit.


"Segar sekali udaranya!" ucap Laras merentangkan kedua tangannya.


"Apaan sih lo, Laras!"


Rein menyikut punggung sahabatnya itu dan menutupi sedikit wajahnya karena tindakan Laras yang cukup membuatnya menjadi pusat perhatian bagi beberapa pasien yang baru saja akan memasuki rumah sakit itu.


"Kenapa?" Laras melirik Rein lalu mengusap punggung yang sempat di sikut oleh sahabatnya itu. " Sakit kan!"


"Sudah! Sudah!" Rein menarik tangan Laras. "Ayo kita pulang."


Rein menunjukan kunci mobilnya untuk diserahkan pada Laras.


"Yakin gue yang nyetir?" Laras menatap mata Rein yang berputar dan memikirkan keadaanya.


"Kenapa gue jadi tidak pengertian seperti ini sih?!" Rein tersenyum singkuh.


Dia nyengir lalu kembali menuju ke parkiran dengan menunjukan jalan kepada Laras yang berjalan pelan dibelakang Laras sambil tersenyum senang.


Dari kejauhan, di atap gedung rumah sakit sisi kiri, pergerakan kedua sosok itu menjadi pemandangan tersendiri bagi sosoknya yang terlihat mencolok dengan setelan jas serba hitam dan berhiaskan sayap berupa kepulan asap hitam pekat pada punggungnya.


"Kenapa kau tidak langsung datang padaku?" gumamnya geram. Dia menutup sebuah buku tua bersampul coklat yang sama tuanya dengan isi didalam buku itu.


Angin berhembus membawa hawa dingin. Mengundang perhatian Laras untuk menoleh ke atap gedung bagian kiri rumah sakit itu.


"Ada apa Laras?" Rein mendongakkan pandangannya kearah yang sama.


"Bukan apa-apa!" jawab Laras.


Dia masuk kedalam mobil dan membiarkan Rein menyetir mobil itu dengan santainya. Menuju pintu keluar rumah sakit, di belokan arah samping, Laras menangkap sosok bayangan yang membuatnya tidak melepaskan sedikitpun sosok itu.


Sesosok pemuda mengenakan setelan jas berwarna serba hitam. Memakai jam tangan yang menunjukan kalau waktu pada jam itu berupa bayangan digital jam pasir berwarna ungu muda. Rambut hitam klimis yang sedikit naik. Gurat alis itu tegas, namun senyum penuh makna itu membuat Laras merasakan hal yang berbeda dalam dirinya terhadap sosok itu di hidupnya.

__ADS_1


"Kenapa lagi, Laras?!" Rein menggoda kediaman Laras.


...***...


__ADS_2