Abu-Abu

Abu-Abu
Harusnya romantis


__ADS_3

Sepanjang jalanan kecil menuju jalanan utama kearah sekolahnya, Laras terus terbayang-bayang akan apa yang dialaminya pagi ini. Sesekali ia menggelengkan kecil kepalanya. Setengah dari dirinya berharap yang terjadi adalah mimpi, setengahnya lagi Laras merasa senang menerima kenyataan yang terjadi.


Laju sepedanya sudah mendekati jalan turunan utama di perumahan itu. Dia berhenti tepat diujung dan memandang ke arah turunan dimana ia melihat bayangan pertama kalinya ia bertemu dengan si pemuda yang telah mengguncang hati dan pikirannya pagi ini.


Laras bersiap meluncur. Dia menghirup udara perlahan lalu melepaskan kedua tangan dari stang sepedanya. Tapi ditariknya lagi tangan itu untuk kembali memegang kendali stang sepeda begitu Laras melirik sebuah bayangan. Laras menghentikan laju sepedanya tepat ditengah jalan. Menoleh cepat kearah trotoar dimana ada sosok Aksara yang terduduk di pagar pembatas jalan dan menatap kearah dirinya dengan memegang buku tua bersampul hitam yang membuat Laras terfokus pada buku itu.


Aksara tidak melepaskan tatapannya sekalipun pada yang Laras tengah mengerutkan dahi. Terlebih dengan sosoknya yang menggunakan setelan serba hitam dengan sayap berupa tulang belulang dibelakang punggungnya. Aksara melompat turun dari duduknya pada pembatas trotoar. Dia sekali lagi memandang Laras, lalu menghadap ke sisi yang berlawanan dengan Laras lalu melangkah perlahan dengan mengabaikan kediaman Laras pada dirinya.


Tidak dengan Laras. Gadis itu berbalik badan melihat ke arah mana Aksara akan pergi dengan penampilannya itu. Dan bayang ingatan lainnya muncul sepintas.


Itu adalah pertemuan lirikan mata pertama Laras kepada Aksara. Ditempat yang sama dengan posisi Aksara yang sama. Apa yang dipakai dan dibawa Aksara pun sama. Hanya saja kali ini Laras merespon dengan cara yang berbeda.


Laras menutup matanya rapat. Membuka dan menutup kedua telinganya karena mendengar suara gemerincing lonceng kecil yang sesekali membawa dengungan keras di telinganya.


"Apa-apaan ini!" keluh Laras karena masih belum bisa menghilangkan suara dengungan dan suara gemerincing itu dari telinganya. Beberapa kali Laras menggelengkan pelan kepalanya.


Tiin. Tiin.Tin.Tiiiiiiiiiin.


Suara klakson mobil itu memecah kebisingan pada telinga Laras. Laras menoleh kedepannya dan mendapati sebuah mobil yang sangat familiar baik dalam ingatannya atau pun bayangan ingatan yang ia punya.


Pemuda di balik kemudi membuka kaca mobil itu. Mendongakkan kepalanya kesamping kiri kemudi dan menatap si gadis dengan tatapan yang tak biasa. Tatapan yang sempat Laras dapatkan pagi ini dari sosok pemuda itu.


"Siapa kamu sebenarnya?!" kata-kata itu keluar dari mulut Laras tanpa ia sadari.

__ADS_1


Dan pertanyaan itu membuat Eren mau tidak mau kembali menatapnya dengan dingin. Mencuri satu langkah dari Laras, kesempatan itu di ambil oleh Eren untuk mendekati dan menatap mata Laras lekat-lekat. Tatapan yang tidak disadari Laras dan telah membuat jantungnya begitu berdebar.


Hanya sedetik. Sesuatu terjadi dan membuat Laras terdiam kaku.


"Aku ini milikmu.... " sebuah ciuman didapatkan Laras atas kata-katanya yang keluar tanpa ia sadari dari sosok pemuda bernama Eren itu. "Dan kau juga hanya milikku!"


Tatapan itu benar-benar mempunyai banyak arti. Ada keseriusan yang sangat. Senyum jahil yang meragukan. Tapi Laras tidak mampu membohongi perasaannya setelah itu. Jantungnya seperti melompat keluar dari tempatnya, perutnya merasakan geli yang membuatnya sedikit kesakitan.


Laras terhenyak.


Mengingat kejadian dan kata-kata si pemuda yang kini berada dibalik kemudi mobilnya, Laras kegelapan. Jantungnya berdetak tidak karuan. Wajahnya langsung bersemu merah. Dan Laras langsung menunduk malu. Dia segera mengayuh sepedanya kembali dan menghindari si pemuda dengan menikung cepat didepan mobil si pemuda.


Dari balik kemudi mobilnya, sosok si pemuda, Eren tersenyum dengan respon malu-malu yang Laras tunjukan pada dirinya.


Eren menyetir pelan dengan membututi kayuhan sepeda si gadis. Dia menikmati setiap kegusaran yang ditunjukan gadis didepannya itu. Sesekali juga Eren nampak tersenyum karena melihat Laras sedikit salah tingkah.


Pada kayuhan yang entah ke berapa, Laras menyadari mobil Eren belum melewatinya sama sekali. Begitu menoleh kearah belakangnya, dia mendapati mobil itu berjarak dekat dengan kayuhan sepedanya dan melihat senyum si pengemudi yang terlihat menikmati apa yang sedang dilakukannya.


Kesal bercampur malu-malu, Laras membelokkan sepedanya pada jalanan kecil yang tembus dihalaman parkir belakang sekolahnya. Berharap kalau dia akan bisa menghindari si pemuda yang harus memarkirkan mobilnya dengan memutari Halaman utama sekolah untuk bisa mendahului atau setidaknya berada dihadapan Laras lebih cepat dari jalan pintas yang diambil gadis itu.


Laras baru saja keluar dari semak-semak begitu disambut oleh badan tegap Eren.


"Akh!" pekik Laras setelah menabrak dada bidang pemuda itu. Dia mendongak ke atas dan kembali bertemu tatap dengan mata Eren yang kali ini benar-benar menatapnya dengan jahil.

__ADS_1


"Kenapa menghindari ku?!" sapa Eren dengan enteng. Laras mengkerut dan merasa dirinya mengecil saat Eren berusaha semakin dekat dengan Laras.


"Bagaimana kau sampai disini secepat itu?" desis Laras dengan mencoba mencari celah untuk kabur dari sosok pemuda di hadapannya itu.


"Memangnya kenapa?" Eren mencondongkan kembali badannya. Dia seperti membungkuk dan berbicara didekat telinga Laras.


Laras terdiam. Riuh sorak sorai teman-teman sekelas terbayang dalam ingatan Laras. Sorakan itu ditujukan pas dirinya yang sedang di goda oleh tindakan si pemuda.


"Kapan semua itu terjadi?" gumam Laras ragu-ragu. Semakin dia ingin melupakan, bayangan yang samar-samar itu mulai jelas bagi Laras. Dia kini Laras menatap mata Eren dan semua bayangan itu terulang pada bayangan bola mata hitam Eren.


Bagaimana harinya yang telah ia lupakan. Itu adah ingatannya tentang kecelakaan bus 16 tahun silam. Bagaimana ia dijaga oleh Eren dalam sosok penjaga berjubah abu compang camping. Bagaimana awal perkenalan dan perjalanannya di jalanan setapak batu bata merah bersama Aksara. Bagaimana ia mengantar beberapa jiwa yang terkunci dalam tubuh dan ingatannya. Bagaimana dirinya mulai mempunyai perasaan pada Eren. Bagaimana ia melewati masa setelah kepergian kakek dan neneknya. Dan terakhir Bagaimana sesaat sebelum ia jatuh ke lembah kesengsaraan.


Semua ingatan yang menyerang Laras langsung melemaskan seluruh badannya. Membuyarkan keteguhannya dan membuatnya kehilangan keseimbangannya. Tubuh itu terhuyun ke belakangnya. Laras terhenyak sekali lagi.


"Kau sudah mengingat semuanya?" Eren sudah menopang punggung Laras dengan satu tangannya. Seolah dirinya menyadari seperti apa tubuh Laras akan merespon semua yang sedang di alaminya.


"Ya!" Laras mengangguk pelan. Dia mengatur nafasnya yang terasa sesak karena semua perasaan campur aduk dan menyerangnya disaat yang bersamaan. Dan dari semua ingatan yang datang, Laras akhirnya mampu tersenyum dengan bahagia mengetahui Eren tetap ada bersama dirinya. "Terima kasih."


Sang gadis menatap Eren dengan wajah bahagia yang membuat Eren tidak mampu menahan gejolak yang ada pada dirinya untuk Laras. Dia mendekatkan diri pada Laras yang tengah tersenyum saking senangnya dengan kenyataan yang diterimanya. Perasaannya berbalas.


Eren yang tidak mengatakan hal apapun lagi, kembali mencuri ciuman dari bibir mungil itu. Hanya sekejap dan tatapan mata Eren berubah dingin dan kejam ke arah belakang punggung Laras.


Dari semak-semak yang tiba-tiba mengeluarkan asap pekat dan dimensi waktu yang tidak menyenangkan, sesosok mahkluk berjubah hitam dengan seluruh mata berwarna hitam pekat menyemburkan senyum yang tidak bersahabat kearahnya dan Laras. Tangannya nampak tua dan keriput tapi lebih menyerupai tulang tengkorak manusia yang hanya terbungkus oleh lapisan kulit tua yang keriput. Hawa hitam pekat yang tidak mengenakan menyerang punggung si gadis. Hal itu membuat Eren bersiaga dan Laras bergidik ngeri.

__ADS_1



__ADS_2