
Malam itu Laras hanya termenung didepan teras kamarnya. Setelah perjalanannya sore ini, dia hanya ingin merenungkan kembali apa yang di alami, dilihat dan dirasakannya. Hidup sendiri membuatnya terkadang merasa sepi dan berharap masa dimana kakek dan neneknya menghidupkan suasana rumah kembali terulang. Dimana sang nenek akan duduk didepan pintu kamarnya dengan cahaya tamaran lampu kamarnya. Sang kakek akan sibuk menyalakan obat nyamuk dan mencari tempat yang bagus untuk di tempatkan. Pemandangan itu selalu terjadi di setiap hari menjelang petang dirumah itu. Tapi kini semuanya sunyi. Lampu dikamar kakek neneknya padam untuk seterusnya. Sudah tiga bulan semenjak kematian itu, dan Laras hanya mampu mengenang setiap moments yang pernah terjadi.
Laras menguap kesekian kalinya dalam setiap ingatan yang menghantuinya. Terlebih ingatan tentang kejadian 15tahun silam dan sayap berbulu emas pada sosok malaikat perempuan yang tidak ia kenali tengah tercabik-cabik. Dia baru selesai merentangkan setengah badannya begitu ia mendapati ingatan dimana ia tengah berpiknik bersama kakek, neneknya dan juga Eren.
Angin dingin bercampur hawa gelap menyergap ke arah Laras seketika. Mengenakan sweater pink dan celana panjang berwarna biru toska nya seperti terakhir kali kebersamaan dirinya dan Eren, Laras memilih duduk kembali ditempatnya dan menghadapi apapun yang berhembus kepadanya kini. Rasa rindu terhadap sosok Eren membuat Laras benar-benar merasakan sepi ketika angin lagi-lagi menghembuskan hawa yang dingin menusuk. Dan semua itu dirasakan Laras hampir setiap malamnya.
Malam dimana Laras terus terbayang dan tertidur lemas mengingat semua rasa sakit juga rasa rindu disaat yang bersamaan.
Air mata itu tiba-tiba menetes lagi dimata Laras. Membuat Laras merasa semakin hampa dan ruang hidupnya di penuhi kekosongan yang besar.
Berkali-kali Laras terus meyakinkan diri bahwa dirinya baik-baik saja. Bahwa semua yang terjadi akan berlalu seiring berjalannya waktu.
Tapi kini, enam bulan sudah berlalu dari terkahir kali Laras dan Aksara mengantar satu jiwa ke perjalanan terakhir hidupnya. Rasa sakit itu berangsur menghilang. Atau lebih tepatnya, Laras terbiasa membawa rasa sepi itu dalam hidupnya. Walau sesekali rasa aneh menerpa hatinya, Laras tetap bisa menunjukan senyum terbaiknya pada Aksara dan Zara yang sedikit mengkhawatirkan sosoknya itu.
"Dia masih belum berkabar?!"
Laras menggeleng lalu tersenyum simpul.
Satu jiwa keluar begitu Laras membunyikan lonceng perak miliknya. Dia membuka buku tua bersampul hitam miliknya untuk mengembalikan jiwa yang kini ada dihadapannya pada jalan hidupnya.
"Saya menunggu cukup lama untuk hari ini..." ucapnya pada Laras.
__ADS_1
Sosok jiwa itu mendekati Laras lalu menepuk kepala Laras seolah dia begitu akrab dengan Laras.
"Tidak disangka kamu audah sebesar ini, Larasathi..." sosok jiwa tua itu tersenyum ramah.
"Anda siapa?" tanya Laras setelah mendapat persetujuan Aksara dan Zara sebagai teman mengantarnya.
"Saya juga salah satu korban kecelakaan bus itu.." sosok jiwa tua itu tersenyum pada Laras. "Saya orang tua terakhir dalam bus darmawisata itu. Juga satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap keamanan jiwa 24 anak-anak itu."
"Bagaimana keadaan mereka saat ini?"
"Mereka masih menjadi jiwa-jiwa kosong. Entah kapan mereka akan menyadari semuanya. Tolong selamatkan ke 24 jiwa anak-anak itu." jiwa tua itu kembali tersenyum. Seakan mengetahui apa yang menjadi bagian Laras, jiwa tua itu menepuk pundak Laras kemudian menghilang begitu saja di hadapan ketiga mahkluk yang kini tersenyum dengan damai.
"Jarang sekali bisa mengantarkan jiwa yang seperti itu." gumam Aksara dengan kekaguman yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
"Apakah ada sosok yang mungkin bisa pergi dengan cara yang sama?" ucap Laras yang entah ia tujukan pada siapa. Tetapi, menangkap kata sosok yang dimaksudkan Laras, baik Aksara maupun Zara tidak terpikirkan hal apapun sama sekali tentang kemungkinan ini.
"Mustahil!" sanggah Zara. "Seorang penjaga adalah sosok dengan keterikatan pada tugasnya. Sebelum tugas utamanya usai, mustahil seorang penjaga bisa pergi dalam damai."
"Begitu kah?" Laras menatap menerawang. Antara pikiran dan jiwanya seakan berada pada dua dunia yang berbeda.
"Mungkin ada hal yang harus dilakukannya di alam sana." Aksara coba menghibur untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Dia pergi tanpa pamit, jadi tidak mungkin dia mengabari ku..."
Laras tengadah ke langit. Dia membiarkan cahaya matahari yang hangat menyela diantara dahan pohon berdaun emas pada jalanan batu bata setapak itu. Di ulurkan tangan itu menghadap ke langit. Diraihnya setiap cahaya yang menyela dan ia lewati dalam perjalanan mereka untuk kembali ke tugas masing-masing.
"Aku berharap dia ada disini sekarang..." kalimat itu terdengar bergetar keluar dari mulut Laras. Air mata sedikit menggenang pada ujung mata Laras. Melihat hal itu, Aksara dan Zara hanya bisa tetap dalam kediamannya. Melanjutkan langkah demi langkah untuk kembali ke dunia manusia yang dipenuhi dengan banyaknya kisah dan drama kehidupan.
Setelah langkah kesekian, mereka baru menyadari kalau mereka tengah berjalan begitu jauh tetapi belum juga kembali ke dunia yang seharusnya.
"Tumben sekali kita seperti tidak kemana-mana..." ujar Laras memalingkan pandangannya pada Aksara dan Zara yang juga menyadari keanehan yang terjadi pada perjalanan mereka untuk kembali ke dunia masing-masing.
"Ini benar-benar aneh!" Zara mengalihkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berdiri. Memutar mata pada setiap sudut tempat yang tersaji dihadapan mereka.
Langit disekitar mereka nampak berputar-putar dan dedaunan disana tiba-tiba berguguran dengan cara yang tidak biasa. Suara gemerincing bunga lily lembah semakin lama mulai tenggelam dari pendengaran. Mereka bertiga langsung bersiaga.
Aksara mengambil posisi di hadapan Laras begitu gumpalan awan hitam pekat menyerang dari arah depan mereka. Awan gelap yang begitu menyesakkan langsung mengelilingi tempat itu. Memenuhi dan memperpendek jarang pandang ketiganya. Hawa dingin menyergap seketika. Membawa kegelapan yang berhembus kencang di sekeliling.
"Berhati-hatilah!" Aksara tetap berdiri membelakangi Laras yang dimana sosok gadis itu tengah tertegun pada bayangan di balik tebalnya kabut yang mengelilingi mereka.
Melihat bayang mata menyala merah pekat di hadapannya, Laras melangkah perlahan mendekati arah kilatan cahaya merah itu. Menjauh dari sosok Aksara dan Zara yang masih bersiaga dengan semua kemungkinan yang terjadi.
"Laras, jangan kemana----mana..." Zara terdiam sejenak mendapati sosok Laras telah tidak bersama mereka. "Apa kita lengah menjaga sosok terlarang itu?" ujar Zara yang mulai menyadari kumpulan hawa hitam itu lenyap seketika bersamaan dengan menghilangnya Laras dari penjagaan mereka.
__ADS_1
"Sepertinya ini adalah ulah nya.." Aksara menatap kearah belakangnya. Dan begitu membalikan badannya, baik Aksara dan Zara tengah berada ditempat yang berbeda-beda.
...***...