Abu-Abu

Abu-Abu
Buku Tua Bersampul Hitam


__ADS_3

“ Aksara?! ”


Panggilan dari arah seberang jendela bangunan itu mengalihkan Aksara yang terdiam disudut perpustakaan


dengan buku tua bersampul hitam yang dibukanya.


“ Gue kesana yah? ” Laras  menunjuk kearah Aksara yang masih menatap gadis bernama Laras itu dengan anehnya dari dalam ruang perpustakaan. Membuang pandangan dari jendela didepannya, kini Aksara perlahan menutup buku tua bersampul hitam yang dibukanya.


Dia melihat arah datangnya Laras yang membuka pintu perpustakaan dengan santainya. Tapi dari pantulan bayangan kaca jendela yang ada Aksara bisa melihat berkali-kali Laras  yang-kini-berjalan-menuju-arahnya terlihat membuka berbagai macam gerbang kematian lalu membuka banyak gerbang yang semakin lama gerbang yang terbuka semakin gelap dan terlihat suram. Laras juga terlihat melewati banyak jalanan setapak yang berbeda-beda. Bermacam-macam hawa muncul dan memenuhi setiap ruang perpustakaan begitu sosok gadis bernama Laras itu berdiri dihadapannya.


“ Ada apa? ” tanya Aksara begitu Laras kini diam membeku dihadapannya.


Laras cukup tersentak dengan hal yang dilihatnya hanya dalam sekejap mata. Sosok Aksara yang bergitu berbeda dari dirinya yang kini sedang menanti jawaban dari pertanyaan yang diajukan sosok pemuda itu pada dirinya.


“ Maaf gue nganggu lo sebentar! ” ucap Laras berbisik. Menyadari kalau dirinya kini tengah berada didalam ruang perpustakaan. Dia menarik kursi didepan Aksara dengan perlahan.

__ADS_1


“ Ada apa? ” masih menatap dengan cara yang sama, Aksara tetap mengacuhkan gadis yang kini tengah duduk disampingnya itu.Aksara masih tetap memperhatikan buku tua bersampul hitam yg dibawanya. Itu bukanlah buku miliknya.


“ Soal buku itu. ” Laras menuding. “ Gue udah bermaksud mengembalikannya beberapa hari kemaren. Tapi loe nggak ada masuk. ”


“ Buku ini? ” Aksara nampak sedikit terkejut dengan apa yang barusan Laras katakan. Dia mengangkat buku tua bersampul hitam yang dibawanya dan menunjukannya pada Laras untuk sekedar meyakinkan kalau Laras memang bisa melihat buku tua bersampul hitam tersebut.


“ Ya! ” angguk Laras yakin. “ Soal isinya... ” Laras menggantungkan kalimatnya. Dia melihat Aksara cukup berekspresi berbeda kali ini. Dahinya sedikit mengkerut.


“ Isinya? Kenapa dengan isi buku tua ini? ” Aksara kembali coba meyakinkan diri dengan ucapan Laras.


“ Maaf! ” Mencakupkan kedua tangannya, Laras menunduk sambil memejamkan matanya. “ Gue kemarin sempat membacanya beberapa halaman. ” kembali melirik, Laras bernafas lega melihat kalau Aksara sepertinya tidak marah dengan kelancangannya itu.


Giliran Laras yang menatap heran.  “ Waktu itu lo liat gue disemak-semak itu… ” Laras terdiam ketika Aksara manggut-manggut.


“ Jadi waktu itu yah??? ” ucap Aksara setelah melihat kejadian dihari itu pada tatapan mata Laras. Hari dimana dirinya melihat sosok Laras yang sebagian besar wajahnya ditutupi oleh rambut panjangnya dan sempat mengira Laras adalah sosok hantu yang tersesat dan tidak punya arah tujuan. Tersenyum simpul, Aksara akhirnya benar-benar memperhatikan sosok gadis yang kini tengah duduk manis dihadapannya.

__ADS_1


Mengangguk mengiyakan tanggapan yang diterimanya, Laras mencoba membenarkan posisi duduknya yang agak miring dengan menghadap kearah Aksara. Laras tersenyum sedikit kaku sebelum akhirnya dia kembali bersuara.


“ …sebuah kematian  bergandengan erat dengan satu cerita kehidupan.  Apa maksud dari kalimat itu? ” Laras


mengulang bagian kalimat yang diingatnya dari salah satu halaman buku tua bersampul hitam yang menurutnya milik Aksara tersebut.


“ Kenapa? ”


“ Gue ingin tahu. Itu aja. ” jawab Laras. Dibenaknya tergurat rasa ingin tahu yang sangat dalam. Laras benar benar merasa harus menemukan jawaban dari setiap rasa penasarannya terhadap isi buku tua bersampul hitam itu.


“ Artinya, ... ” tangan lain tiba-tiba melingkar manis pada bahu Laras. Tangan pemuda yang kini sudah duduk santai diatas meja- dibelakang Laras itu berusaha mencari posisi ternyamannya untuk bisa bertahan lebih lama lagi dibahu Laras. “ Kematian bisa mengintai kapanpun, dimanapun, dan dengan berbagai macam cara. ”


Semua orang juga tahu pengetahuan umum seperti itu. Laras melirik jengkel.


" Hai! " Sapa si pemuda dengan senyum yang cukup jahil baik bagi Aksara ataupun untuk Laras sendiri.

__ADS_1


Aksara menatap diam.


//


__ADS_2