
Eren membolak-balikan buku tua bersampul yang dibawa Aksara untuknya. Buku tua bersampul hitam yang menjadi buku takdir milik kedua sosok Laras.
"Buku tua bersampul hitam..."
"Apakah buku yang sama?" Aksara menyesap tehnya pada cangkir yang baru saja ia tuangkan.
"Aku akan memperlihatkannya nanti!" jawab Eren. "Bagaimana hari mu?"
"Kamu coba menanyakan hal itu?" Aksara menatap tidak suka. "Siapa sebenarnya Laras yang ini? Dia tidak ada bedanya dengan Laras saat pertemuan kedua kita pada hidupnya. "
"Hanya sifatnya yang bertolak belakang!" tambah Eren.
"Berani taruhan, foto yang tersebar itu fotonya?"
"Sejak kapan kau terpengaruh dengan kata taruhan!"
"Sejak aku menikmati waktu ku sebagai mahasiswa...Hahaha" tawa Aksara menyembur.
Tawa yang elegant. Entah kenapa dalam kondisi apapun kedua mahkluk ini tidak bisa terlihat konyol. Keduanya begitu memukau dan membuat terkesima siapapun yang melihatnya. Sekonyol-konyolnya penampilan ataupun tindakan mereka, hal itu masih terlihat sangat menarik dibandingkan orang-orang sekitarnya.
"Sepertinya aku tidak perlu terlalu peduli dengan dua mahkluk tidak jelas itu!" ujar Laras di balik teropongnya. Lensa teropong itu menyorot fokus lalu blur, ketika Laras membuang pandangannya dengan pikiran yang tidak menentu.
Hal yang sama diulangi lagi oleh Laras ketika tanpa sengaja dirinya melihat pemandangan yang sama terjadi pada rumah tua trend center perumahan ini. Menyaksikan dua pria berpakaian kelam yang sedang asyik mengobrol pada teras rumahnya.
"Apa yang sedang aku lakukan!!!?" Laras membuang teropongnya. Merebahkan tubuhnya lalu menatap langit-langit kamarnya. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku?!"
Laras merentangkan kedua tangannya ke arah samping. Lalu menaikan salah satunya seakan tangannya itu mampu meraih langit-langit kamarnya dengan hanya berbaring saja.
"Dia berhenti meneropong kesini?" Respon Aksara yang kembali menyesap teh pada cangkirnya.
"Kenapa kau selalu peduli pada tindakan tanduknya."
"Kau tidak sedang cemburu, bukan?" Aksara meletakkan cangkir tehnya. Berdiri lalu berjalan mendekati Eren yang berpangku pada tepian teras.
"Aku pantas untuk itu!"
"Belum!" jawab Aksara. "Kalian hanya sebatas suka! Belum terikat!" Aksara memastikan.
Eren mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Aku akan segera mengikatnya!"
"Lakukan saja! Apa peduli ku!"
Perdebatan keduanya membuat perhatian Eren maupun Aksara terfokus pada jendela kamar Laras. Dimana gadis itu membiarkannya terbuka lebar dan memperlihatkan sebuah tangan yang melayang-layang ke udara.
__ADS_1
"Tidak seperti dugaan ku bukan?!" Aksara memperhatikan bayangan lain yang beredar disekitar Laras. Begitu pun Eren yang tahu-tahu sudah menghilang dari posisi berdiri disamping Aksara.
"Sial!" gerutu Aksara. Tindakan yang dilakukan berikutnya adalah menyusul arah kepergian Eren.
Sementara kedua pria memperdebatkannya, gadis itu kini makin termenung dengan pemikirannya.
"Di dunia ini... aku hidup seorang diri!" gumam Laras. "Kedua orang tua ku meninggal saat aku berusia dua tahun. Kakek dan nenek meninggalkan ku sebelum aku lulus SMA. Hidupku hampir tanpa teman. Dan dari semua kemalangan itu, aku bersyukur karena masih mempunyai tempat tinggal yang baik..."
Menyadari dirinya yang hidup hanya seorang diri membuat Laras terdiam sangat lama. Tangan Laras mengepal di udara. Dia menarik melihat bayangan tangannya pada tembok lalu memainkan bayangan tangannya itu seperti dirinya tengah diserang sesuatu yang membuatnya menggeleparkan tangannya di udara.
Hal inilah yang dilihat Aksara dan Eren. Yang membuat keduanya mengira kalau Laras telah diganggu lagi oleh sosok bayang hitam bermata kelam. Eren sempat mengira kalau Laras akan menghilang seperti apa yang di alami oleh Rein setelah serangan sosok bayang gelap bermata kelam pada malam itu.
Laras baru saja membuka matanya ketika mendapati Eren terdiam kaku tepat didepan matanya. Posisi Eren yang menindih tubuh Laras membuat Laras berteriak spontan. Membangunkan para tetangga yang sedang tertidur lelap lalu menendang pria itu dengan kekuatan penuh.
Sebelum tendangan Laras benar-benar mengenai tubuh si pria, Aksara buru-buru menarik temannya itu dan menghilang dari kamar Laras dengan menggunakan kekuatannya.
"Bodoh!" gumam Aksara.
Sementara Eren masih dalam kekagetannya. Tidak menyadari bahwa posisinya tadi benar-benar akan membuat Laras berpikiran buruk tentang dirinya di esok hari.
"Sial!!" Eren mengacak-acak rambutnya. Menatap Aksara dengan bengis lalu meninggalkan Aksara pada balkon kamarnya.
"Beristirahatlah! Sepertinya kau masih membutuhkan itu setelah lukanya yang kemarin!" teriak Aksara nyaring yang semakin membuat Eren jengkel dengan kehadirannya.
"Pergilah! Urus apapun yang menjadi urusanmu!" Balas Eren berteriak.
"Bodoh!" gerutu Laras pada dirinya sendiri. "Kenapa aku bisa membayangkan hal memalukan seperti itu!!!"
Laras bangkit dari posisi rebahan nya. Turun dari tempat tidur dan menatap dirinya di cermin dengan perasaan iba.
Ayolah Laras!! Hanya karena kamu hidup seorang diri, bukan berarti kamu bisa berpikiran seperti itu! Terlebih terhadap seorang yang telah memiliki orang lain dalam hidupnya.
Laras menunduk lemas. Pikirannya kembali kacau dengan semua hal yang dalam benak Laras. Terlebih mengingat bayangan yang ada dalam pikirannya tentang sosok Eren.
"Kenapa harus dia?!" Laras terduduk lemas. "Dari semua orang yang ku kenali, kenapa harus pria itu..."
Kenapa harus Eren??
Laras tertegun lama. Memandang kembali kaca dihadapannya. Menampilkan bayangan dirinya juga bayangan Eren pada cermin disudut kamar itu.
Eren memandangi dirinya dalam cermin. Memegang bagian jantungnya yang berdebar dengan tidak menentu. Rasanya apa yang baru saja dialaminya membuat Eren kehilangan semua keberaniannya untuk menghadapi Laras di esok hari.
*Apa yang mungkin Laras pikirkan tentang kejadian yang tadi terjadi!!" Eren memegangi bagian jantungnya. Lalu mengacak-acak kembali rambutnya. Memikirkan semua kemungkinan yang menjadi pikiran Laras terhadap dirinya, Eren memutuskan untuk menghindari gadis itu namun tetap muncul di kampus untuk menghindari pikiran terburuknya tentang pendapat Laras akan dirinya.
"Aku harus menghindarinya besok!"
__ADS_1
Angin berhembus kencang pada malam itu. Menyisakan rasa gelisah baik untuk Laras maupun Eren dalam pemikirannya masing-masing tentang kejadian yang dialami keduanya karena respon tindakan Eren terhadap sesuatu yang di lakukan Laras.
Benar-benar kesalahpahaman yang tidak mungkin dijelaskan masing-masing dengan pemikirannya. Membuat Eren ataupun Laras mempunyai pemikiran untuk menghindari satu sama lain pada pertemuan mereka keesokan harinya.
Kegiatan pembelajaran berjalan seperti biasa. Eren yang seharusnya bisa untuk tidak datang ke kelas pun, memilih datang. Padahal berniat menghindari Laras, tapi penasaran dengan respon yang mungkin ditunjukan Laras membuat Eren berpikir untuk datang ke kampus dan memperhatikan Laras dari kejauhan.
"Dasar aneh!" gumam Zara. Sesosok mahkluk bergaun hitam dengan body bak gitar spanyol dengan sayapnya yang putih bersih. Gadis itu bertengger pada dahan pohon tertinggi dihalaman kampus itu.
"Kamu juga memperhatikannya?" Aksara mendongakkan kepalanya ke atas. Menyapa dan menyambut gadis itu dengan cara yang tidak biasa. "Turunlah, kau terlihat cukup mencolok di atas sana?!"
"Benarkah?" Zara sudah berpindah disebelah Aksara. Mengenakan pakaian resmi yang nampak membaur dengan semua mahasiswa di kampus itu.
"Bagaimana kabarmu?"
"Tentu saja baik!" jawabnya. "Kalian terlalu menghabiskan banyak waktu untuk bermain-main."
"Aku hanya tidak bisa mengabaikan apa yang ditugaskan padaku."
"Masih tentang jiwa terlarang itu?!"
"Laras adalah seorang penjaga lembah."
"Penjaga lembah?!" Zara menyangsikan pernyataan Eren itu. "Lembah yang mana?! Bukankah semua lembah sudah memiliki penjaganya masing-masing?!"
"Aku dan Eren menyebut lembah itu sebagai lembah buangan! Karena yang ada didalamnya hanyalah jiwa-jiwa bermata kelam yang menelan apapun ke dalam kegelapan!"
"Lembah buangan? Lembah dengan jiwa-jiwa bermata kelam?!" tanyanya lagi meyakinkan.
"Lembah itu berada dibalik lembah abu-abu, lembah yang menjadikan Laras sebagai jiwa terlarang di alam semesta ini."
"Lalu apa pendapatnya tentang lembah itu?!"
"Dia juga tidak mengetahuinya!"
Pandangan Aksara dan Zara tertuju pada sosok Eren yang sedang bersama seorang gadis.
"Siapa gadis berhawa gelap yang bersamanya itu?" Zara mengerutkan keningnya.
"Gadis berhawa gelap?" Aksara mengulangi ucapan Zara.
Gadis itu adalah sosok Laras berambut pendek di pandangan semua penghuni kampus. Tetapi tidak dimata Laras dan Zara, yang baru pertama kali melihat sosoknya itu.
"Gadis itu..." pandangan Zara langsung terhalang oleh sesuatu yang membuatnya harus mengalihkan tatapannya pada sosok lain yang kini berjalan kearah dimana Eren bersama gadis yang tidak dikenalinya itu sedang berbicara.
Atau lebih tepatnya, Eren dan gadis itu sedang bermesraan.
__ADS_1
...***...