
Angin berhembus pelan. Membelai wajah Eren dalam kedamaian yang dicarinya setelah berhasil lepas dari pengaruh yang diberikan gadis yang tidak dikenalinya.
"Sekuat apa sosok itu, sampai bisa mengelabui sosok penjaga seperti ku?!"
Eren memejamkan matanya. Mengingat kembali semua hal dan semua hari yang dilewatinya bersama sosok Laras berambut pendek, sesosok gadis yang pada kenyataannya tidak dikenali oleh dirinya sama sekali.
Eren membuka tangannya, mengeluarkan satu bola api kebiruan dan membiarkan bola api itu melayang-layang dihadapannya. Menampilkan bayangan dua Laras dalam ingatan mata dan pendengarannya. Dua bayangan Laras ditempat yang sama, namun Eren hanya mengenali satu. Dia bukanlah gadis yang sedang bersamanya, namun gadis yang duduk berseberangan dengan dirinya. Lalu pada halaman utama kampus, dimana keduanya saling berhadapan untuk pertama kalinya, Eren juga merasa lebih dekat dengan Laras berambut panjang, bukan dengan gadis yang menempeli lengannya. Saat pertemuan mereka di kelas, berkali-kali pandangannya hanya melihat sosok Laras yang menutupi sebagian wajahnya dengan kerah jaketnya yang tinggi.
"Kenapa aku bisa keliru begitu lama..."
Eren menutupi wajah itu dengan satu tangannya. Wajah yang lebih menyerupai tulang tengkorak manusia yang hanya terbungkus lapisan kulit tua keriput berwarna putih pucat.
Sama pucatnya dengan wajah Laras yang kini merasa telah diteror oleh banyak pertanyaan oleh sesosok gadis dengan body bak gitar Spanyol dengan dress rajutan berwarna merah maroon yang mengikuti bentuk lekuk tubuhnya.
"Tunggu dulu!"
Laras mengangkat kedua tangannya tepat dihadapan gadis itu. Menghentikan setiap cecar pertanyaan yang di keluarkan gadis berambut kriting berwarna hitam pekat dengan wajah yang sangat khas dengan wajah orang Asia. Alisnya natural dengan bulu mata selentik orang-orang keturunan timur tengah. Bibirnya tipis berwarna merekah. Bahkan tegas hidungnya yang kecil tetapi mancung membuat wajah gadis dihadapan Laras itu tidak bisa dilupakan dengan begitu mudahnya bagi siapapun yang pernah bertemu dengannya.
Laras mengatur nafasnya perlahan sebelum akhirnya melanjutkan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Satu persatu! Ajukan pertanyaan mu satu persatu saja!" lirih Laras. "Atau setidaknya, perkenalkan dulu siapa dirimu sebelum mempertanyakan banyak hal padaku."
"Memperkenalkan diriku?!" tanyanya kebingungan.
Perasaan Laras sebenarnya sedang kacau dengan hal yang baru saja dilihatnya. Dimana dia telah mengacaukan momen ciuman antara Rein dan Eren di belakang gedung fakultas seni. Momen yang tidak pernah dipikirkan olehnya. Sebuah kejadian yang membuat Laras semakin memiliki keinginan menjauh dari pemuda yang dikenalnya dengan nama Eren. Pemuda yang kini di bahas oleh gadis berambut kriting sepanjang pinggangnya ini.
"Apa maksudmu dengan aku harus memperkenalkan diri ku padamu??!" Wajah gadis itu berubah kesal saat Laras malah hanya memberinya tatapan heran dengan respon yang didapatkannya.
"Apa aku mengenalmu?"
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Laras, gadis itu berkacak pinggang. Mengatur hela nafas dengan kekesalan yang tidak bisa ditahan oleh dirinya.
__ADS_1
"Siapa kau sebenarnya?!"
Tatapan gadis dihadapan Laras berubah menjadi fokus dan bola matanya berubah warna keemasan diiringi kepakan sayap berbulu putih bersih yang menyapu apapun yang ada dihadapannya karena angin yang tercipta dari hempasan sayapnya itu.
"Kau mempertanyakan siapa aku?!" gadis itu nampak semakin angkuh, tidak terkendali, namun penuh dengan kewibawaan yang tidak pernah dimiliki oleh siapapun orang yang ditemui Laras sebelumnya.
Laras mendesah lemah. "Kenapa aku selalu bermimpi hal yang tidak-tidak..." Laras langsung menampar pipinya beberapa kali.
Membuat gadis dihadapannya semakin merasa jengkel. Begitu sayapnya siap menghembuskan angin yang super dahsyat untuk menyerang Laras, Aksara segera menarik gadis itu menghilang dari hadapan Laras. Laras langsung mengedipkan kedua matanya. Merasakan dirinya telah sangat kelelahan sehingga mengalami halusinasi yang tidak-tidak.
"Hentikan tindakanmu itu, Zara!" Aksara menghempaskan tangan gadis yang ditariknya tanpa ijin.
"Apa-apaan tindakan Laras itu?!" keluhnya tidak terima. "Padahal ada hal penting yang perlu aku ketahui darinya."
"Itulah yang aku heran kan sebelumnya!" jawab Eren yang tiba-tiba muncul dari balik kabut berwarna hitam pekat di belakang Aksara.
"Ada apa denganmu hari ini?!" sambut Aksara mengacuhkan Zara yang masih mengeluarkan banyak kekesalannya.
"Apa maksud perkataan mu?" Zara mengerutkan keningnya.
"Zara!!" Eren menepis pelan tangan Zara. Melepaskannya dan menepuk tangan itu perlahan.
"Jelaskan semua omongan kalian sebelum aku mencari Laras kembali." Zara membuang pandangannya. Sikapnya acuh, namun menelisik. Tatapan matanya memicing begitu Aksara mulai menyikut lengan Eren.
"Kau saja yang menjelaskan!" bisik Aksara pada Eren. Enggan memulai sesuatu dengan ke keagresifan sikap yang Zara tunjukan pada saat ini. Padahal ini pertemuan mereka kembali setelah sekian lama. "Baru kali ini aku melihat Zara yang seperti sekarang!"
Mendengar perkataan Aksara itu semakin membuat Zara berwajah tidak menyenangkan.
"Cepat jelaskan!"
"Ingatan Laras terhapus."
__ADS_1
Zara menatap Eren dengan wajah tidak percaya. Terlebih lagi Aksara yang langsung fokus dengan hal yang akan dikatakan Eren selanjutnya.
"Hanya itu?" Zara memiringkan kepalanya. Dia lalu menatap Eren dengan cara yang tidak biasa.
"....."
"Aku tahu kau bukan tipe mahkluk yang bisa mempercayai mahkluk lainnya," Zara memutar lagi ingatannya. "Tapi ini bukan lagi tentang siapa yang ingin kau percayai, ini tentang jiwa Laras! Tentang jiwa yang terlarang!"
Eren hanya terpaku sesaat. Saat ini, Eren memang berpikir untuk membagi apa yang dia ketahui. Tapi Eren hanya tidak menyangka, kalau Zara menjadi bagian dari tempatnya berbagi. Berbagi tentang hal apa yang dia ketahui mengenai kemungkinan apa yang telah dilalui oleh jiwa Laras setelah mengantar jiwa 24 anak TK yang bersemayam dalam dirinya sebagai mahkluk terlarang.
"Dia sepertinya telah menukar ingatannya dengan sesuatu. Sesuatu yang ingin aku cari apa itu!" Eren sedikit menekankan kata-kata terakhirnya.
"Ingatan seorang penjaga lembah adalah ingatan abadi."Jawab Aksara. "Apapun yang dialami, dimana pun, dalam kehidupan apapun, ingatan itu harusnya masih tertinggal bukan!" tambahnya.
"Itu jika seorang penjaga lembah tidak pernah terlempar pada lembah kesengsaraan.." tambah Zara yang semakin menatap Eren dengan seksama.
"Aku dan Laras telah dua kali terlempar ke sisi lembah kesengsaraan."
Eren mengingat. Dimana saat awal takdir mempermainkan tugasnya sebagai sosok penjemput kematian. Mengubah paralel dunia kematian dengan melahirkan jiwa terlarang dari sesosok penjaga lembah yang terlempar ke dalam lembah kesengsaraan. Juga membuat dirinya terlempar pada lembah kelam bernama lembah abu-abu.
"Lalu apa perbedaannya?" Aksara memotong ingatan Eren.
"Benar. Apa perbedaanya?" Zara menimpali. "Sampai Laras harus berulang kali terlempar ke dunia manusia dan menjadi mahkluk ambigu yang tidak jelas jalan takdirnya!"
"Apa maksud ucapan mu itu?!"
Tanpa menjawab, Zara langsung mengeluarkan sebuah buku tua bersampul hitam. Pada sampulnya bergambar dua helai bulu berwarna biru keemasan dengan list buku berwarna senada dengan gambar bulu pada sampul bukunya.
"Aku harus menjemput kematiannya dalam waktu yang terus berubah-ubah!! Kematian dari sosok ambigu. Sosok terlarang dunia kematian dan dunia manusia!" Zara menegaskan. "Siapa lagi kalau bukan Laras?! Karena itu! Aku perlu tahu, semua hal yang dialami Laras selama kurang lebih sekembalinya Laras ke dunia manusia ini!"
Zara memamerkan buku itu dengan tidak berperasaan. Dan tindakannya itu, disambut kerutan kening oleh kedua pemuda dihadapannya.
__ADS_1
"Buku tua..." ujar kedua pemuda bersamaan. "..bersampul hitam!!?" keduanya saling bertukar pandang.
...***...