
Tempat itu nampak begitu sendu. Dibalik sebuah gerbang dari pepohonan yang menjulang begitu tinggi sampai ke langit nya, dengan warna hitam putih yang mendominasi, beberapa batu nisan nampak dari kejauhan dan dikelilingi kabut hitam pekat, tempat yang terasa kelam dan menyeramkan itu masih menunjukan satu sisi keindahannya. Dimana tengah-tengah cahaya yang berhasil menembus beberapa celah tempat itu terdapat satu pohon tua yang menjadi pusat dari berkumpulnya hawa yang menenangkan bagi dia yang kini tengah berdiam diri menghadap kearah pohon tersebut.
Pohon tua yang telah berusia lebih dari seribu tahun. Yang setiap kali selalu tumbuh dengan warna daun yang berbeda. Warna hitam, putih, atau abu-abu yang seakan menggambarkan perasaan dari dia yang kini tengah menatap dengan penuh sendu. Sekali waktu ia berwarna hitam pekat. Kadang terlihat putih bersih. Dan kali ini, dedaunan dari pohon itu berwarna abu-abu. Dia tidak menunjukan warna pasti. Bukan hitam, bukan juga putih. Dia berada diwarna yang nampak begitu ambigu. Sama seperti apa yang dipikirkannya kini.
“ Bukankah dia yang dimaksud dengan yang terlarang? ” gumamnya. “ Aku selalu menunggu untuk bisa membawa dia yang tidak bisa aku kenali… Dia kah orangnya? ”
Semilir angin membawa beberapa guguran dedaunan dari pohon itu mengitari dia yang tak beranjak sedikitpun dari tempatnya memandang. Hanya melihat dan membiarkan daun-daun itu beterbangan dan kemudian menghilang dari tempat yang begitu lama tengah menyita waktunya.
“ Sudahkah bertemu dia yang terlarang? ” Suara yang seakan berbisik itu tiba-tiba datang dari balik pohon tua tersebut dan membuat hawa disekitarnya menjadi sedikit ramai.
“ Dia yang terlarang?? ”
“ Apa itu benar?! ”
“ Kamu sudah menemukannya? ”
Suara-suara
bisikan parau itu langsung menggema di seluruh tempat itu. Ada begitu banyak
jiwa berwarna hitam, putih dan abu-abu bangkit dari dalam pekatnya kabut dan
melayang-layang di setiap sudut tempat yang ada. Beberapa wajah nampak begitu
sumbringah dan nampak senang dengan apa yang didengarnya. Ada juga yang tidak
menunjukan emosi sama sekali tapi mereka menikmati hari dimana mereka bisa
keluar dari pekatnya kabut ditempat itu. Beberapa yang lain memperlihatkan
wajah murung dan rasa enggan untuk berkomentar. Ada juga yang nampak takut.
Takut akan dia yang berdiam diri kini akan kembali meledak dan melukai mereka
dengan api biru yang dia muculkan secara tak terduga.
“ Bawa dia kesini…”
“ Semua ini akan segera berakhir…”
Jiwa-jiwa
hitam lalu mengitari dia yang menatap diam tanpa ekspresi. Raut senyum dari
jiwa-jiwa itu terlihat begitu dingin dan tak berperasaan untuknya. Sekali
tatapan mereka bertemu, jiwa-jiwa hitam itu menjelma menjadi sosok seperti dia
yang berdiri dalam diam. Sesosok mahkluk yang tetap terlihat melayang
di hamparan kabut hitam pekat sekitarnya. Terlihat mengenakan jubah hitam yang
sebagian besar merupakan bagian dari tubuhnya sendiri. Yang nampak dari bagian
tubuh itu hanya tangan yang menyerupai tengkorak manusia yang terbungkus kulit
tipis. Bagian wajah itu samar-samar memperlihatkan lapisan tengkorak manusia
yang begitu menyeramkan.
“ Bawa dia kesini, maka semua akan selesai!!… ”
“
Bebaskan dia yang terlarang…dan semuanya akan berakhir…”
__ADS_1
Dia yang
sejak awal tak bermaksud membangunkan semua jiwa-jiwa diseputaran pepohonan itu
masih tetap dengan kediamannya. Wajahnya masih tidak menunjukan ekspresi apapun
dari balik topeng tengkorak manusia yang menghiasi sebagian wajahnya itu.
“ Akhiri hukuman itu… ”
Dan semua
tatap seketika mengarah padanya. Dia yang membuka tudung jubah merah maroon
pekat yang menutupi bagian wajahnya. Lapisan tengkorak manusia yang sudah mulai
menutupi bagian dahi dan bagian kiri wajahnya. Mata dibagian kiri pun sudah
tergantikan dengan bulatan putih kecil yang menampakan sedikit cahaya. Meski
wajah itu kini berekspresi penuh kepedihan, namun sosoknya tetap mengukir
senyum yang menunjukan betapa menderitanya dia dengan semua yang telah ia
lewati.
“ Sudah hampir tertutupi…”
“ Hanya tinggal menunggu waktu…”
“ Dia mengetahui kematian… Dia melihat siapa
aku. ” ucapnya nampak menerawang. “Dan sialnya…aku lebih ingin melihat dia
tetap menjadi dia… ”
Dia yang
pada siapa. Yang pasti, dia mengabaikan mereka yang kini berusaha mencari celah
untuk melihat apa yang tengah di pikirakannya.
“ Dia hanya akan kembali mejadi abu…”
“ Menyatu dengan alam. ”
“ Dan membuka gerbang ini untuk kita semua… ”
Jiwa-jiwa putih itu berkilatan cahaya dan menjelma menjadi sosok yang sama seperti
jiwa-jiwa hitam yang telah kembali ke wujud awalnya. Hanya warna mereka saja
yang bertolak belakang. Hitam dan putih.
Seperti
itulah permainan waktu ditempat yang nampak sendu tersebut. Saat hitam
menjelma, mereka yang putih akan selalu menjadi jiwa-jiwa yang melayang. Dan
ketika cahaya menembus mereka yang berjiwa putih, kegelapan langsung melahap
jiwa-jiwa hitam dan menjadikan mereka bagian darinya. Abu-abu akan selalu
berakhir sama. Mereka hanya akan melayang dan melayang mengitari poros waktu.
__ADS_1
Mendengar dan mengabaikan apapun yang mungkin mereka dengar dan mereka lihat.
“ Biarkan dia yang terlarang menjalani takdir
hidupnya…”
“ Karena itulah pilihan yang telah dibuatnya…”
“ Dia sebenarnya tidak pernah hidup. Juga tidak
pernah mati. Dia tidak pernah terlahir ataupun tercipta. Dia yang terlarang. ”
“ Dia yang menembus batas antara hidup dan mati.
Dia hanya sebuah abu. Yang seharusnya menyatu bersama air,udara, dan api…”
Dia yang
berjubah merah maroon menghembuskan nafasnya. Sekali lagi, dia melihat kearah
tengah-tengah tempat itu. Dimana pohon tua itu seperti tengah menikmati
hembusan angin semilir yang datang ketempat itu kali ini.
“ Aku tak punya kuasa atas takdir. Aku sendiri
sedang dipermainkan takdir itu sendiri. ” ucapnya sebelum dia memilih pergi dan
melewati gerbang yang menjulang tinggi sampai ke langit. Tidak ada yang mampu
melihat setinggi apa ujung dari gerbang tersebut. Gerbang yang menjadikan
tempat itu seakan tak pernah terjamah oleh mahkluk apapun selain mereka yang
berada didalamnya. Sebuah gerbang yang menjadikan tempat itu seperti sebuah
kurungan sangkar bagi mereka yang kini hanya bisa melayang-layang mengitarinya.
Pernah ada
yang berusaha menyusuri tingginya gerbang yang mengitari tempat itu. Mencari
ujung gerbang dengan maksud untuk keluar dari poros yang sama yang selalu dijalani.
Tapi semua itu selalu berakhir sama. Dia yang mencoba mencari celah selalu
kembali ketitik awal dimana perjalannya dimulai.
“ Aku tak ingat kapan terakhir kali tempat ini
nampak begitu indah. ”
Suara-suara berbisik parau dan terdengar seperti desisan itu perlahan mulai tenggelam ditelan kabut hitam pekat yang menyelimuti tempat tersebut bersamaan dengan dia yang menghilang dibalik gerbang yang perlahan mulai tertutup.
Akar-akar
berduri mengitari seluruh sisi gerbang tersebut dengan menumbuhkan sekuntum
bunga yang menunjukan setitik warna merah pada ujungnya. Ditengah-tengah warna
hitam-putih yang nampak abu-abu di pengelihatan mata, setitik merah itu menjadi
hiasan tersendiri bagi mereka yang terkurung didalamnya.
***
__ADS_1