Abu-Abu

Abu-Abu
Cerita paralel dua kehidupan


__ADS_3

Laras baru saja menaruh sebagian bukunya pada loker kelasnya. Dia berencana untuk mengikuti kelas olahraga setelah mengganti pakaiannya. Berjalan untuk kembali menuju ke bangku miliknya, langkah Laras terhenti oleh bayangan sosok lain Eren yang tiba-tiba menampakan diri dengan samar-samar dihadapan Laras.


Laras mengabaikannya. Dia kembali fokus pada hal yang akan dilakukannya. Tidak banyak yang disadarinya, Laras berusaha menjauhi dan bahkan enggan untuk bersentuhan dengan sosok lain bayangan Eren.


"Aku masih belum bisa kembali..." suara parau sosok lain Eren menggema ditelinga Laras. Jubah merah maroon itu nampak compang camping bagian bawahnya. Aura gelap yang memancar dari sosok lain Eren terasa semakin pekat dan menyesakkan. Hal itu membuat Laras merasa kesal dan marah.


"Aku tidak peduli kau kembali atau tidak!" geram Laras. Sebuah rasa bersalah kembali menghujam Laras setelah mengatakan hal itu. Membuat sosok lain Eren menghilang dalam senyuman dibalik topeng tengkoraknya yang menutupi sebagian wajah itu. Laras terperosok dan terduduk di bangkunya. Rintihan air mata perlahan mengalir dan membanjiri pipi itu dengan linangan air mata. Kondisi kelas yang tengah sepi membuat Laras leluasa meluapkan kesedihannya dengan air mata.


Semua itu tidak berlangsung lama. Bunyi gemerincing lonceng perak pada ikat rambut laras kembali berbunyi nyaring. Ada jiwa lain yang akan memenuhi kembali perjalanan terakhirnya. Dia sudah sampai pada titik dimana jiwa tersebut telah melepaskan dirinya dalam keterikatan dan menerima hal apapun yang mungkin akan terjadi pada jiwanya.


Laras bangkit dari duduknya. Begitu fokus pada tatapan dihadapannya, Laras mendapati Aksara menunggu dengan santai di bawah salah satu pohon terbesar dijalanan setapak batu bata merah itu.


"Kemunculan mu lebih terasa manusiawi belakangan ini." sambut pertama Aksara dalam penantiannya.


Laras hanya mengangkat bahu. Langkah demi langkah dia lewati untuk mendekati sosok Aksara. Namun kali ini ada yang berbeda. Setiap satu langkahnya membawa angin yang berhembus hangat dan mengitari tubuh Laras lalu berlalu. Beberapa langkah seperti itu sampai Laras terdiam berdiri disamping Aksara.


Laras memperhatikan dua jiwa lain yang berdiri jauh dihadapannya. Dua jiwa yang sangat dirindukan Laras selama beberapa bulan terakhir. Dua jiwa yang pergi tanpa membiarkan Laras mengucapkan kalimat perpisahan apapun.


Laras berlari kencang. Lalu berhenti mendadak tepat didepan kedua jiwa itu.


"Kami akan segera pergi." ucap jiwa sang nenek.


"Kami lebih senang melihat senyummu daripada air matamu.." tambahnya.


"Apa kau makan dengan baik?"


Laras mengangguk ragu. Dia tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya kini. Ada banyak hal yang ingin Laras tanyakan juga ada banyak hal yang mau ia sampaikan. Sampai akhirnya Laras tersenyum dan memeluk kakek dan neneknya dengan hangat.


"Aku merindukan kalian berdua."


"Kami juga..." pelukan itu di sambut hangat oleh kakek dan nenek Laras.


"Kami hanya mempunyai sedikit waktu sebelum pergi. Baik-baiklah dalam memilih jalan hidupmu." pesan kakek untuk Laras.


Laras kembali hanya mengangguk kecil. Dia tersenyum dengan riangnya kepada dua jiwa yang kini berjalan mengikuti dua sosok penjaga pintu reinkarnasi yang pernah dia temui di puncak bukit halaman belakang sekolah.


Angin semilir mengalir lembut ditelinga Laras. Suara gemerincing bunga lonceng lily lembah membawa suasana menjadi sendu. Ini kali kedua gemerincing bunga lonceng lily lembah terdengar harmoni. Dan satu jiwa keluar tubuh Laras setelah tertutupnya pintu reinkarnasi dihadapan Laras.


Tubuh Laras terperosok namun dengan sigap Aksara menangkap tubuh itu. Membantunya untuk tetap bisa menjaga keseimbangan dirinya.

__ADS_1


"Apa kondisimu seburuk itu?" Aksara melepas pegangannya pada tubuh Laras. Ada hanya dingin yang menusuk menjalar dari belakang tubuh Aksara. Aura menusuk yang membuat dirinya harus cepat-cepat melepaskan Laras dari segala perhatiannya.


"Aku hanya terlalu senang dan tidak bisa mengontrol emosiku." jawab Laras.


Dihadapan mereka kini berdiri seorang remaja tanggung dengan topi pet-nya. Dia melihat ke kanan dan ke kirinya.


"Oh! Aku sudah tidak didalam bus lagi?" gumam pertama sosok remaja tanggung itu. "Apa aku sudah benar-benar meninggal?" dia bertanya dengan kepolosan yang tidak bisa tersembunyi dari ekspresi wajahnya.


Laras membuka halaman buku tua bersampul hitam miliknya. Melihat daftar nama anak laki-laki yang masih menunggu jawaban dari dirinya.


"Hmm..." jawab Laras pada sosok remaja tanggung itu.


Sewaktu kejadian dulu. 15 Tahun yang lalu. Dia bekerja paruh waktu untuk menambah uang tabungan sekolahnya. Bersama sang sopir, dia menjadi kenek pembantu pada bus yang tujuannya adalah mengantar anak-anak untuk bertamasya. Saat kejadian berlangsung dia tengah duduk didekat pintu masuk. Ikut bersenandung ria dengan nyanyian yang dinyanyikan oleh anak-anak dalam bus tersebut.


Saat kejadian berlangsung, di ingatan remaja tanggung itu, sebelum akhirnya benar-benar meninggal, sosoknya melihat bagaimana beberapa orang dewasa didalam bus itu melindungi sosok anak-anak yang bersama mereka. Perasaannya saat itu berharap seorang juga melakukan hal yang sama pada dirinya. Tapi dia hanya sendirian saat itu. Didalam keikhlasannya, sosok remaja tanggung itu mengucap banyak terima kasih pada semua orang dewasa dalam bus yang berusaha melindungi para anak-anak didalam bus tersebut.


"Sudah ada beberapa orang dewasa yang pergi dari dalam bus." ujar remaja tanggung itu. "Aku tidak menyangka kini giliran ku yang harus meninggalkan bus itu."


"Siapa namamu?"


"Kairun." sosok jiwa itu tersenyum lalu menghilang menjadi sesuatu yang bersatu dengan hembusan angin, air dan api. Sosok pemuda yang dengan polosnya mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan dirinya dari penderitaan.


"Tolong segera selamatkan jiwa anak-anak itu..." gema suara itu menghilang bersama sosok remaja tanggung itu.


Memandang alam dari atas bukit


Sejauh pandang ku lepaskan..


Sungai tampak berliku,


Sawah hijau membentang


Bagai permadani di kaki langit


Gunung menjulang,


berpayung awan...


Oh.. indah pemandangan.

__ADS_1


Cipt.


Alm. Bpk. AT Mahmud.


Begitu lagu itu selesai dinyanyikan, decitan suara rem yang dipaksakan dan teriakan memenuhi riuh pendengaran Laras. Dia sampai harus menutupi kedua telinganya karena merasa sangat bising.


"Laras!" Aksara menepuk bahu Laras. Laras tetap tidak merespon. Dia masih berkutat melawan semua suara yang terngiang-ngiang di telinganya. Laras sempat memekik sakit. Lalu kembali menutup kuat kedua telinganya. Membenamkan diri posisinya yang berjongkok, Laras mulai merasa jiwanya terkoyak. Bayang lain muncul ingatan Laras. Dimana sesosok bayang malaikat perempuan bersayap emas telah dicabik-cabik oleh sekumpulan jiwa dengan membabi buta. Mata dari jiwa- jiwa begitu gelap dan kosong. Dan cipratan bulir-bulir darah yang keluar dari cabutan helai demi helai bulu sayap emas itu merubah tempat yang tadinya begitu indah menjadi begitu kelam. Tidak ada kehidupan apapun ditempat itu. Semua warna dicabut dan menyisakan hanya warna hitam, putih, dan abu-abu.


Laras terkesiap. Rasa sakit dari bulu emas yang tercabut itu dirasakan Laras pada punggung belakangnya. Sakit yang teramat sakit. Yang menekan Laras kedalam kesadarannya. Jiwa-jiwa bermata kosong itu kini seakan mengkerubungi sosoknya yang tidak berdaya. Sampai Laras menggunakan sisa kekuatan yang ada pada dirinya untuk setidaknya melawan jiwa-jiwa bermata kelam itu.


Dia merasa tengah mengepakkan sayap yang hanya tersisa bagian tulang belulangnya. Memberi cipratan lain pada semua sosok jiwa bermata gelap itu dan merubah mereka menjadi sosok ambigu. Sosok jiwa berwarna hitam, putih, dan abu-abu.


Laras langsung terperanjat dari bayang ingatannya itu. Dia melihat sosok Aksara menatapnya khawatir.


"Apa yang terjadi?"


Laras mendongak menatap Aksara. Memperhatikan sayap dibelakang punggung Aksara yang berupa tulang belulang.


"Kenapa sayap mu terlihat seperti itu?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya?!"


Laras mengatur dera nafasnya. Dia perlahan berdiri dengan menopang kedua tangan pada kedua lututnya.


"Hanya ingin tau saja." jawab Laras.


Aksara tersenyum lalu berusaha mengepakkan kecil sayap dibelakangnya itu.


"Sayap ini adalah tanda sampai dilevel mana kamu telah menjalani penebusan mu. Entah itu untuk dosa-dosa mu. Hutang janji. Ataupun hutang hidup."


Laras menyimak.


"Aku... demi dendam yang ku punya. Aku pernah memaksa membawa satu jiwa ke sebuah jalan yang lebih gelap dari lembah abu-abu. Itu adalah sebuah jurang kesengsaraan."


Aksara lalu mengingat hari dimana ia kehilangan sayap berbulu emas miliknya. Tergantikan dengan sayap tulang belulang yang kini menjadi kenangan akan perbuatannya yang tidak akan bisa mengulang lagi kejadian hari itu untuk menyelamatkan sayap indahnya itu.


"Itu adalah cerita lama yang lain. Cerita dimana aku mendapat satu pelajaran dan pengalaman berharga untuk pilihan takdir yang aku punya."


"Maaf!" Ucap Laras menyadari dirinya tengah membuka luka lama yang disembunyikan Aksara begitu lama.

__ADS_1


"Aku tau kenapa kau bertanya." Aksara membalikan badannya. Berjalan santai mengikuti arah datangnya cahaya matahari di siang itu.


...***...


__ADS_2