
Malam semakin larut. Cahaya bulan tertutupi awan dan angin bergerak dengan begitu cepatnya. Menyibak gorden di kamar Laras yang seketika berubah mencekam saat sekelebat bayang hitam tanpa wujud menyelinap dan membayangi mimpi Laras dalam tidurnya.
Tubuh itu gelisah. Keringat dingin mengucur dari seluruh bagian tubuhnya. Tangan itu memegang kuat seperti ketakutan dan mata yang terpejam rapat memperkuat betapa buruknya mimpi yang menghantui Laras.
"Laras!" panggil nyaring sosok Rein dengan senyum tersemat pada wajah gadis itu.
Laras terperanjat dari tidurnya. Dia terduduk dengan tatapan tidak biasa pada sahabatnya itu.
"Sudah pulang?" dalam keadaanya setengah mengantuk, Laras menelisik perempuan dihadapannya yang kini nampak biasa saja.
"Siang tadi lo kemana?"
"Tidak kemana-mana. Aku ada mata kuliah tambahan." jawab Laras sembari membalas senyum.
"Benarkah?"
Rein tiba-tiba berwajah murung. Seperti anak kecil yang merasa tidak puas akan jawaban yang didapatkannya.
"Menurutmu?" Laras menarik nafas dalam secara perlahan. Lalu mengatur perlahan untuk menghembuskan nya.
"Ada apa?!" Rein mendekati Laras dan bersiap duduk disebelah gadis itu. Laras terdiam sejenak.
"Apa ada yang mengganggu mu?!" suara itu terdengar seperti suara penyihir tua yang berat.
Laras menoleh ke sampingnya dengan cepat dan mendapati sosok Rein yang berbeda dan menatap dengan tatapan mematikan. Bayangan hitam besar berdiri dibelakang Rein. Menampakan bayangan yang lebih mirip sosok penjaga dengan level sosok tertinggi.
Matanya berkilatan merah kehitaman. Pada bagian bayangan asap hitam pekat tangan kanannya, sosok hitam itu memegang mutiara berwarna hitam keabuan. Dari dalam mutiara hitam keabuan itu terdengar banyak suara jeritan pilu dan ketakutan. Sesekali suara mendesis terdengar dari mutiara hitam keabuan itu.
Laras langsung jatuh tersungkur disamping tempat tidurnya. Kekuatan tubuhnya seperti ditekan oleh sesuatu yang tidak bisa ia lawan. Bahkan untuk melihat Rein yang kini tengah berdiri dihadapannya pun, Laras tidak sanggup melakukannya.
__ADS_1
"Rein! Kembalikan Rein!" Laras berkata dengan tertahan.
Bagian dadanya diserang rasa sesak yang tidak menentu ketika tangan Rein menyentuh wajahnya dan mendongakkan wajah Laras secara kasar ke arahnya. Kabut hitam membayang pada tangan dan seluruh tubuh Rein. Membuat sosok gadis itu menjadi tidak jelas di pandangan Laras. Tatapan matanya mulai kabur dan ditelan kegelapan.
"Tidurlah untuk waktu yang lama... Laras!" kalimat itu menggema ditelinga Laras pada detik terakhir sebelum ia benar-benar kehilangan semua kesadaran dirinya.
Rein yang berada dibawah kendali sosok bayang hitam yang menunjukan wujud sesosok penjaga level tertinggi itu, membiarkan tubuh Laras tetap tergeletak dilantai. Menaburi tubuh gadis itu dengan percikan hitam yang meletup bercahaya berwarna merah api.
Pintu kamar itu tertutup perlahan dengan pandangan puas yang mengiringi ketidakberdayaan Laras.
//
Suara gemericik air membangunkan tubuh Laras dari tidurnya. Sepanjang pandangan mata, Laras hanya melihat kegelapan yang sangat pekat. Butuh waktu yang lama untuk Laras menyesuaikan pandangannya di tempat itu. Dia berdiri perlahan dengan meraba dan menerawang tempat dimana ia kini terbangun.
Tengah berjalan sendirian didalam gelap. Gelap yang lebih gelap dari apa yang dilaluinya bersama Eren disiang kemarin, Laras melangkah dengan berhati-hati.
Sepanjang langkah yang diambil Laras, bayang hitam tanpa wujud mengintai setiap gerakannya. Mengendap-endap dibelakangnya dan menutupi setiap cahaya kecil yang muncul.
Berjaga-jaga kalau kakinya mungkin menginjak sesuatu yang tidak seharusnya ia injak, Laras kini memfokuskan pandangannya kearah depan ketika terdengar suara decitan yang mengarah kearahnya.
Sekelebat bayang hitam mengepakkan sayap di depan Laras. Mempertegas sepasang bayang mata berwarna merah terang yang langsung menerjang dan menyerang tanpa aba-aba ke arah Laras.
Dia menghalau dengan menaikan lengan kanannya untuk menutupi bagian wajahnya dari serangan atau mungkin bayangan itu hanya melewati jalur terbangnya. Bayangan mata merah itu seketika lenyap tepat beberapa centimeter dari tangan Laras.
Namun begitu Laras melihat lagi ke arah depannya, Laras dibuat tidak percaya akan pandangannya. Bayangan sepasang mata itu berganti dengan ratusan bahkan ribuan dan jutaan pasang mata merah lainnya.
Suara decitan memenuhi tempat gelap itu. Dan dari arah suara yang ditangkap oleh pendengarannya, Laras dapat memastikan kalau tempat yang ia pijak adalah tempat yang luas dan tidak berujung.
Laras fokus melihat ke sekelilingnya. Mencari celah untuk bisa menghindari arah terbang atau serangan yang mungkin akan dilakukan oleh ribuan atau bahkan jutaan mahkluk dihadapannya itu.
__ADS_1
Untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi, Laras yang menyadari apa yang di alaminya bukan hanya sekedar mimpi, memilih untuk berdiam diri. Dengan tidak melakukan pergerakan apapun, Laras menelisik setiap sudut kegelapan itu dengan pandangan matanya.
"Tidak ada celah apapun..." desis Laras.
Kemudian gadis itu menghela nafas pelan lalu kembali fokus ke hadapannya. Melihat baik-baik setiap sepasang mata bersinar kemerahan yang berjumlah ribuan bahkan jutaan sedang menatap dan bergerak cepat kearahnya.
Laras mengulurkan tangannya ke depan secara perlahan. Menimbulkan bunyi gemerincing dari lonceng perak kecil yang menjadi hiasan gelang pada tangan kanannya.
Suara gemerincing itu menghalau semua mata kemerahan yang menatap dan bergerak cepat ke arah Laras. Jutaan pasang mata itu kini mulai tertutup satu persatu dan menghilang dengan cara meletup-letup. Menimbulkan seberkas cahaya api kebiruan yang perlahan menyala dengan melayang-layang pada tempat yang tadinya di penuhi oleh kegelapan.
Laras melihat ke sekelilingnya. Cahaya api biru itu menghiasi pandangannya. Menampakan sebuah bayangan tempat yang terpecah-pecah bagaikan puzzle. Tubuhnya berputar untuk melihat setiap cahaya yang menampakan puzzle bayangan sebuah tempat.
Sebuah lembah yang dijembatani oleh jalanan setapak yang melayang dari satu titik ke titik lainnya. Satu bayangan menunjukan betapa asrinya lembah itu. Bayangan lainnya menunjukan lembah itu dikelilingi oleh hutan yang lebat.
Bayang lain lagi menunjukan kegelapan yang perlahan menelan lembah itu. Memperlihatkan percikan darah yang menyebar dan mengubur lembah hijau itu ke dalam kegelapan abadi.
Percikan darah yang menampakan satu kejadian di ingatan Laras. Ingatan yang begitu menyakitkan. Ingatan yang dimana setiap bagian tubuhnya tercabik-cabik dan ditenggelamkan oleh ribuan kebencian yang bertumbuh setiap kali helai bulu emas itu tercabut dari punggungnya.
Kepingan demi kepingan lain memperlihatkan bagian-bagian kecil dari ingatan Laras akan kejadian yang telah terlewat. Dimana sosoknya yang dalam wujud sesosok penjaga tengah kehilangan sayap berbulu emas yang baru saja bertumbuh pada bagian tulang belulang yang membentuk sayap dipunggung belakangnya.
Laras memeluk dirinya sendiri. Menahan sakit pada punggung atasnya, Laras berteriak keras dan tenggelam dalam cahaya api kebiruan yang mengerubungi tubuhnya. Cahaya api biru menenggelamkan Laras dalam tidur panjang yang tidak disadari olehnya.
Membawa tubuh Laras dalam lembah gelap tanpa ujung, kumpulan api kebiruan itu meletup-letup kembali menjadi sosok gelap yang menutupi setiap bagian lembah itu termasuk tubuh Laras yang perlahan termakan ke dalam kegelapan.
//
Pagi menjelang, Laras terbangun dari atas tempat tidurnya. Menyibak rambut yang menutupi bagian wajahnya, Laras berjalan perlahan menuju cermin di sebelahnya. Gadis itu tersenyum simpul pada bayangan yang ditampilkan cermin dihadapannya itu.
"Aku siap!" ucapnya didepan cermin.
__ADS_1
...***...