
Dalam pekatnya kabut asap yang mengelilingi sosoknya, Laras tetap melangkahkan kakinya dengan pasti mengikuti kemanapun bayangan bermata merah itu menuju. Seperti dituntun untuk mengikuti sosok bermata merah itu, Laras dihentikan oleh sebuah tangan yang menariknya ke balik sebuah batu diantara kepulan asap hitam yang menyelimuti tempat itu.
"Diam lah!" sosok itu mendesis kesal pada keberanian ataukah kebodohan Laras yang dengan berani mengikuti sosok bermata merah itu.
Sosok yang diikuti Laras adalah penjaga api abadi, dimana penjaga itu mempunyai tugas untuk memusnahkan setiap hal yang berada diluar jalur kehidupan. Dan dalam hal ini, Laras termasuk dalam variabel yang dimaksud.
Sementara sosok Laras sendiri malah terdiam dengan bodohnya menatap sosok yang kini berjongkok didepannya yang tengah memperhatikan bayangan dibalik kepekatan kabut hitam yang mengeliling sosoknya dan juga Laras.
"Kau benar-benar wanita bodoh!" suara parau itu membuat Laras tidak kuasa menahan diri untuk tidak memeluk sosok itu. Dia sempat sesenggukan sehingga membuat awan gelap dan pekat mengunci langkah mereka. Akan tetapi sosok pemuda bersuara parau itu bergegas menyembunyikan Laras di balik jubahnya. Jubah berwarna abu-abu yang sudah compang-camping itu mampu menyembunyikan sosok Laras dibaliknya.
Dari balik jubah sang pemuda bersuara parau tersebut, Laras memperhatikan benar bagaimana sayap berupa tulang belulang itu menempel namun rapuh pada punggung si pemuda bersuara parau. Laras mencoba menyentuh beberapa bagian. Sayap berupa tulang belulang itu bergerak pelan. Namun setiap gerakan yang dikeluarkannya membuat beberapa bagian dari sayap itu keropos dan berjatuhan ke bagian bawah kakinya. Laras memperhatikan bagian-bagian yang terjatuh itu. Bagaimana bagian-bagian yang jatuh itu langsung lenyap terbakar dan hanya menyisakan puing-puing abu yang berserakan dan bercampur dengan hawa pekat disekitar mereka.
"Kenapa sayap mu serapuh ini?" Laras bergumam. Hempasan angin yang besar menyibak sisi jubah itu dan membuat Laras terpental jauh bersama sosok pemuda bersuara parau yang melindungi dirinya.
"Akh!!" pekik Laras begitu terjatuh menyentuh tanah.
Memang tidak semua bagian dirinya yang menyentuh tanah, dikarenakan sosok pemuda bersuara parau itu melindungi dirinya seperti dulu. Hanya beberapa bagian kaki dan sikunya sedikit lecet, sementara pemuda bersuara parau itu nampak tidak sadarkan diri. Terlihat beberapa bagian sayapnya yang berupa tulang belulang telah lepas dan keropos. Membuat beberapa bagian dibalik punggung pemuda bersuara parau itu mengeluarkan hawa hitam pekat.
"Eren! Apa yang terjadi!" pekik Laras yang langsung berusaha melepaskan diri secara perlahan dari dekapan si pemuda. Segera Laras mengecek kondisi pemuda di hadapannya itu. Si pemuda memang tanpa luka, tapi beberapa bagian tubuhnya benar-benar terlihat kacau. Jubahnya yang compang-camping. Beberapa bagian pakaiannya yang robek dan penuh luka seperti gambaran kertas yang terbakar tapi tanpa nyala api. Bedanya nyala api itu tidak melebar, dia hanya membentuk bingkai dari luka gores di bagian lengan, pipi, dan kaki kirinya.
Laras tanpa mempedulikan lagi hal apa yang sebenarnya terjadi langsung memapah sosok Eren menyusuri jalanan setapak batu bata merah. Tempat dimana ia bersama dengan Aksara dan Zara sebelum berpisah karena kabut asap hitam pekat tadi.
Dari kejauhan Laras memperhatikan kalau kabut asap hitam pekat itu kembali menyusuri jalanan yang akan mereka lewati. Maka Laras berusaha memapah Eren ke bagian samping jalanan setapak batu bata merah itu untuk bersembunyi di balik batang pohon yang menjulang dengan begitu tingginya.
"Aku harap disini aman." gumam Laras coba menyenderkan Eren pada dahan pohon disampingnya. Pelan-pelan Laras menurunkan tangan Eren dari pundaknya.
__ADS_1
"Jangan membuat keributan apapun..." ucap Eren terbata-bata.
Laras mengangguk pelan. Dia membantu Eren yang tiba-tiba sadarkan diri, lalu tidak bergerak sedikitpun saat kepulan asap hitam pekat bersama sosok penjaga pintu abadi itu melewati bagian tempat mereka bersembunyi.
Dari hal yang terjadi, yang menjadi perhatian Laras adalah setiap luka yang diterima Eren. Entah pertarungan apa yang ia lakukan sampai harus terluka separah itu. Sampai membuat jubahnya tidak seutuh sebelumnya. Bahkan jubah itu kini membuat sosoknya yang dulu terlihat seram tapi rapi, kini malah terlihat benar-benar menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan lagi ketika Laras melihat sebagian wajah Eren berubah menjadi tengkorak manusia. Itu bukan lagi topeng seperti dulu, melainkan sudah menjadi bagian dari wajah Eren sendiri.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
"Kau peduli padaku?" Eren nampak tersenyum dibalik wajah tengkoraknya itu.
Laras mengangguk. "Kenapa kau sampai seperti ini?" air mata itu sudah tidak lagi tertahan namun tetap membendung pada ujung matanya.
"Kau sendiri! Apa yang kau lakukan dengan mengikuti sosok penjaga pintu api abadi itu?" mata Eren mendadak membelalak. Seolah-olah dia tidak menyangka akan kebodohan yang dilakukan Laras didepan matanya.
"Aku hanya mengira sosok itu..." Laras tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terdiam kaku ketika mata itu beradu dengan tatapan sesosok penjaga yang sempat dia kira itulah sosok lain Eren.
"Jangan bergerak!" Laras hanya sekilas melirik Eren lalu kembali menatap kepada kilatan mata merah yang tiba-tiba sudah berada pada jarak kurang dari sejengkal tangan dihadapannya.
Hawa yang dingin menyeruak di sekujur tubuh Laras. Membuat tubuh Laras bukan lagi terasa kaku, tetapi seakan terkunci oleh sosok yang kini bertukar pandang dengannya.
Sementara Eren tetap berusaha diam agar tidak mengundang serangan reflek dari sang penjaga api abadi. Memikirkan sesuatu untuk dilakukan jika seketika sosok penjaga itu menyerang tanpa aba-aba.
"Terlalu banyak jiwa yang bergantung padamu..." gaungan suara itu menggema dengan nyaring ditelinga Laras.
Ketakutan menyerang Laras mendengar suara yang lebih menyeramkan dari suara parau sosok lain Eren. Tubuhnya semakin kaku dan nafasnya terasa tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
"Kau beruntung jiwa mereka ada bersamamu, kalau tidak hari ini adalah hari terkahir hak hidup mu. Terlalu banyak dosa yang akan tercipta jika kau binasa hari ini!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, sosok sang penjaga api abadi berlalu dan melewati Laras dan Eren dengan melintasi mereka. Tubuh Laras di tembus oleh sosok sang penjaga api abadi itu. Hal itu membuat Laras mendengar kalimat lain yang tengah dilontarkan oleh sosok penjaga itu.
" Akan ada waktu dimana kita akan bertemu kembali..."
Tubuh Laras yang terasa kaku langsung seperti telah terlepas dadi ikatan yang membelenggunya. Laras langsung mengambil nafas dalam dengan memburu. Perlahan-lahan ia mengatur nafasnya dan memalingkan tatapannya pada sosok Eren yang menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangannya.
"Ada apa?" Laras berusaha menarik tangan itu dari wajah Eren. "Kenapa dengan wajahmu?"
Alih-alih membiarkan Laras melihat wajahnya, Eren menahan tangan Laras dan menatapnya dengan lebih jengkel lagi.
"Apa yang barusan kalian bicarakan?"
Laras menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat. Wajah tengkorak itu menghilang. Tergantikan dengan sebagaimana sosok Eren di awal pertemuan mereka. Wajah menjengkelkan yang pertama kalinya membentak diri Laras karena kebodohan yang dilakukan dirinya sendiri.
"Bukan apa-apa.." jawab Laras begitu Eren memalingkan wajah itu dari dirinya.
"Sepertinya kau lolos di satu kehidupan yang sekarang?" Eren bangkit dari duduknya. Mengibaskan semua luka yang ia dapatkan sebelumnya. Mengganti pakaiannya hanya dengan mengibaskan naik jubah abu compang-campingnya.
"Sepertinya begitu." Laras melirik wajah Eren yang terus saja disembunyikan pemuda itu darinya. Tapi di benak Laras, kalimat terakhir sang penjaga api abadi tidak bisa ia lupakan sama sekali.
Langkahnya terus mengikuti langkah kaki Eren untuk keluar dari tempat mereka bersembunyi, dan siapa sangka begitu Eren membalikan badannya, Laras malah menabraknya dan membuat tatapan keduanya bertemu. Laras mengedip-ngedipkan matanya. Menatap dalam ke bola mata Eren yang kini nampak kosong dan hampa.
"Apa lagi yang ingin kau ketahui?!" suara parau Eren kembali bersamaan dengan munculnya sosok lain Eren dibelakang punggung sang pemuda. Sementara Eren yang berdiri dihadapannya tersenyum dengan cara yang tidak biasa.
__ADS_1
...***...