
Laras yang tiba-tiba membunyikan lonceng perak kecil pada gelang yang dipakainya membuat tubuhnya berpindah dimensi ke jalanan setapak batu bata merah. Dimana setiap sudut jalanan itu seakan menyambut kedatangan Laras.
Laras yang mengenakan dress hitam selutut dengan berjubah abu compang camping dibagian bawahnya. Bara api masih menghiasi sisi jubahnya yang berlubang. Rambut panjang sampai dibawah pinggang itu terurai dengan indahnya.
Suara gesekan dahan-dahan ranting pepohonan disekitar, hembusan angin yang membawa alunan melodi yang menenangkan, dan suara gemerincing bunga lily lembah yang tersebar disepanjang tepian jalanan setapak batu bata merah itu, menyita seluruh pendengaran Laras.
Sementara dibagian lain jalanan setapak batu bata merah ini, Aksara yang baru saja selesai mengantarkan satu jiwa ke perjalanan terakhirnya langsung diserang oleh hembusan angin yang tidak biasa. Hembusan angin yang membuat seluruh dedaunan merah keemasan berterbangan di sepanjang jalanan setapak batu bata merah. Awalnya berterbangan tidak menentu arah lalu bergerak cepat menuju bagian lain sisi jalanan setapak itu.
Bunga lily lembah membunyikan suara gemerincing yang tidak biasa. Seluruh dahan pepohonan bergesekan satu sama lain dan mengalunkan melodi yang sudah lama tidak terdengar. Sebuah melodi yang mampu dikenali Aksara sebagai melodi dari sosok yang sudah menghilang beberapa tahun ini dari jalanan setapak batu bata merah.
Aksara mengikuti arah pusaran daun merah keemasan yang berterbangan dan berhembus menuju satu titik. Mendapati dirinya telah merasa dituntun untuk sampai ditempat yang diinginkan, Aksara memperlambat langkahnya begitu melihat sosok yang tengah berselimut kegelapan yang pekat ditengah pusaran daun berwarna merah keemasan itu.
Masih dalam keadaan bersimpuh dan tidak menyadari hal apa yang terjadi, Laras masih bersusah payah untuk bisa memegang lilitan bayangan hitam pada lehernya dan berharap bisa memutus lilitan bayangan hitam itu.
Lama kelamaan, suara-suara yang didengar Laras melemahkan lilitan bayangan hitam itu. Melebarkan lilitan yang menguap bersama cahaya yang menembus celah dahan pepohonan yang membuat tempat itu nampak begitu meneduhkan.
Merasakan lilitan itu telah tidak lagi mengganggunya, Laras segara menghirup udara sebanyak-banyaknya. Membuka matanya yang terpejam secara perlahan, kemudian mengatur nafasnya dengan kaget.
Mata Laras membelalak lebar. Dia melihat sosok Aksara berjongkok di hadapannya dengan kekagetan yang sama luar biasanya seperti yang ia rasakan.
Daripada berkomentar, Laras lebih memilih menatap Aksara dengan sedikit keheranan.
Aksara tidak menyangka kalau sosok yang mengusik jalanan setapak batu bata merah itu adalah Laras, sosok terlarang yang pernah mengusik perjalanan penghuni beberapa lembah kematian beberapa tahun yang lalu.
"Kenapa aku disini?"
Laras menatap mata Aksara lekat-lekat. Dengan bola mata yang bulat besar, Aksara seperti mengulang pertemuan keduanya dengan Laras beberapa tahun silam. Tatapan mata itu benar-benar masih sama. Bola mata yang bulat, besar dan menggantung. Sosok Laras dimasa itu dengan Laras yang sekarang tidak ubahnya seperti reka ulang sebuah adegan.
Bedanya kini dan adegan yang lampau adalah Aksara mengira Laras tidak melihat sosoknya. Namun kini keduanya dalam kesadaran akan rasa kaget yang sama yaitu pertemuan kedua dijalanan setapak batu bata merah.
__ADS_1
Aksara tertawa dengan menutupi sebagian wajahnya. Dia merasa lucu melihat Laras dengan penampilannya yang tidak biasa. Melihat sosok yang tadi pagi masih hanya berupa bayangan kini benar-benar menjelma menjadi sosok sejati dari Laras, sosok terlarang lembah kelam bernama lembah abu-abu.
"Apa aku sudah mati karena lilitan di leherku tadi?"
Laras kini mengerutkan sedikit keningnya. Ada perasaan takut bahwa ia telah mati diusia muda tanpa pernah menikmati masa-masa muda yang penuh cinta dan kasih sayang. Laras nelangsa. Dia ingin tidak percaya dengan kenyataan yang kini dihadapinya. Dimana dihadapannya tengah berjongkok sesosok bersayap yang indah bak malaikat.
Tawa Aksara semakin menjadi-jadi mendengar semua omongan yang Laras lontarkan. Terlebih melihat ekspresi Laras yang kebingungan dan seperti kehilangan arah dengan hal yang dihadapinya. Dia tertawa sampai terjatuh dari jongkoknya didepan Laras dan akhirnya terduduk dengan posisi kedua kakinya terbuka lebar.
"Kau selalu datang dengan cara tidak biasa...." tawanya masih mengiringi.
Aksara kini mengatur ketenangannya setelah tawanya keluar dengan lepas.
"Apa yang kau lakukan disini? Mau mengantarkan jiwa lain lagi?" Aksara bertanya santai.
Dia bangkit dari duduknya. Membersihkan sisa debu dan dedaunan merah keemasan yang menempel pada pakaian dan ujung sayapnya. Aksara berdiri dengan wibawa yang selalu dipancarkannya.
"Jangan memaksakan dirimu. Biarkan semuanya kembali dengan sendirinya."
Suara parau dan berbisik itu mengembalikan bulatan mata Laras kembali normal. Menyisakan suara nafas yang sedikit terengah-engah karena telah mengalami hal yang begitu berat selama beberapa detik.
Pandangan Laras disambut oleh senyum simpul Eren dengan sosoknya sebagai sang penjaga. Tudung merah maroon itu dibukanya untuk menyetor wajahnya pada gadis yang kini merasa kelelahan.
"Aku tidak ingin tau apa yang terjadi." Aksara mengepakkan sayapnya. Melesat kebagian atas lalu menghilang hanya dalam hitungan detik dari pandangan keduanya.
"Apa dia selalu sesibuk itu?" Laras tersenyum kelu. "Atau dia malah menjadi begitu sombong karena sayap indahnya?"
Mendengar itu, sosok Eren berjubah merah maroon menatap Laras dengan meneliti. Gadis itu berdiri dari posisinya. Membersihkan sisi lututnya, lalu menatap Eren dengan semua kerinduan yang tidak tertahankan.
Laras memeluk Eren yang tidak siap dengan tindakan tidak terduga yang dilakukan gadis itu.
__ADS_1
"Aku merindukanmu...." ucap Laras sembari memeluk Eren yang jatuh ditimpa oleh gadis itu. "Akhirnya aku bertemu lagi denganmu.."
Tatapan gadis itu berbinar-binar membuat sosok lain Eren berjubah merah maroon menatapnya dengan tatapan yang lebih tidak percaya lagi.
Kejadian yang sama terulang kembali. Itu adalah pertemuan Laras dengan Eren yang berhubungan dengan buku bersampul hitam milik Aksara. Posisi jatuh yang sama dengan kejadian awal yang sedikit berbeda. Eren mengingat.
"Kau?!"
"Aku kembali..."
Laras masih dalam posisinya dijalanan setapak batu bata merah itu. Dia bertahan dengan kembali memeluk sosok lain Eren itu sekali lagi.
"Sudah cukup!" ucap Laras.
Laras segera bangkit dari posisinya. Dia membuang pandangannya dengan wajah bersemu merah. Bukan karena malu terhadap apa yang dilakukan kepada Eren, melainkan karena mendapatkan tatapan yang tidak biasa dari sosok bersayap yang sempat menghilang beberapa waktu dari jalanan itu bersama sesosok jiwa perempuan tua dengan kacamata yang menggantung ditengah hidungnya.
"Kalian benar-benar tidak sopan!" kalimat itu keluar dari Aksara dan sosok jiwa tua itu secara bersamaan. Nada keduanya menegur dengan cukup kompak.
Laras langsung menunduk meminta maaf. Tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, Eren terperanjat lalu menghilang dari jalanan setapak batu bata merah itu.
Melihat reaksi yang ditunjukan Laras dan Eren membuat Aksara ataupun jiwa perempuan tua itu tertawa terbahak-bahak. Tawa lepas yang membuat jiwa sang perempuan tua berambut uban itu menghilang diterpa hembusan angin.
"Berbahagialah kalian...."
Aksara dan Laras saling menatap.
Sementara, dari atas dahan pohon diatas keduanya, sosok Eren menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah padam.
...***...
__ADS_1