
“ Apa kau benar menginginkan kematian? ” Dia sosok tua berjubah merah maroon dengan kepulan sayap berupa kabut dibelakang punggungnya. Kaget karena sang pemilik suara parau akhirnya benar-benar menampakan diri, Laras hanya mampu pasrah ketika dirinya sudah berada dibawah tangan dari malaikat penjaga. Sosoknya yang tinggi dan besar seakan menelan tubuh Laras kedalam kegelapan dibalik jubah merah maroon itu.
Suara parau itu langsung mengalihkan tatapan Zara dan Aksara ke arah jendala luar disamping kanan Laras. Menunjukan sinar matanya yang semerah pekat, sosok itu menghembuskan nafasnya dalam.
“ Sang penjaga?!! ” Aksara dan Zara langsung bersiaga.
Ketakutan kembali menyerang hati dan pikiran Laras melihat ekspresi Aksara dan Zara yang benar-benar menegang. Hitungan detik dari dia menatap kedua teman sekelasnya itu, sosok sang penjaga mengibaskan jubah tepat dihadapannya. Membuat pandangan Laras terhalangi dan tergantikan dengan kegelapan beberapa saat sampai Laras merasa terjatuh dari dekapan sang penjaga.
Dirinya kini menyadari berada disebuah tempat yang membuatnya begitu takut pagi ini. Itu adalah sebuah tempat yang sunyi, sepi dan suram dibalik kabut asap yang menyelimuti seluruh tempat tiu. Tempat yang hadir dimimpinya pagi ini.
Seakan mengulangi mimpi buruknya pagi ini, Laras berada posisi yang sama. Terjatuh dan tangannya tengah ditahan oleh sosok menyeramkan berupa tangan tua keriput dari sesosok mahkluk yang menyerupai tengkorak manusia yang mengenakan jubah merah maroon. Dengan mata bersinar warna merah pekat, sosok itu semakin mendekati Laras yang ketakutan akan sosok yang menahan langkahnya itu.
“ Apa maumu??? ” Laras memperkuat pertahanannya dengan menahan kuat langkahnya dari sosok sang penjaga yang perlahan mendekatinya.
“ Membawamu mengalami kematian…”
Laras tertegun. Pandangannya bertemu dengan kilatan merah pekat dari tatapan mata sosok yang dipanggil sang penjaga oleh Aksara dan Zara.
“ Benarkah aku akan mati disini? ”
Pertanyaan itu menghentikan sejenak langkah sang penjaga.
“ Itu pilihamu sendiri. ”
" Benarkah aku mempunyai pilihan lain itu? " Laras kini termenung menatap tangan sang penjaga terulur didepan matanya.
" Lupakan. " jawab sang penjaga meminta Laras menjabat tangan putih tua keriput itu untuk membantunya melangkah ditengah kabut yang berangsur-angsur lenyap. " Perhatikan langkahmu. " sang penjaga menatap tajam begitu Laras tanpa sengaja mengaduh karena tergores pecahan batu nisan yang berada dibawah kakinya.
" Maaf. " Laras melangkah berhati-hati mengikuti peringatan dari sang penjaga. Setiap langkahnya, Laras memperhatikan bagian bawah jubah sang penjaga yang terlihat melayang-layang. Sesekali ia menghela nafas, membuat sang penjaga melirik kearahnya hanya untuk memastikan keluhan dari sosok terlarang yang kini langkahnya ia tuntun untuk melewati tempat yang disebut dengan lembah kematian.
Tangan tua keriput itu sempat menarik diri dari genggaman tangannya terhadap Laras, tapi sosok Laras malah menahan dan menggegam tangan itu dengan semakin erat.
" Aku tidak mau tersesat. " ujar Laras yang mulai sedikit santai dengan keadaannya bersama sang penjaga. Apalagi tangan tua pucat yang keriput itu bukanya terasa sedingin es, malahan terasa begitu hangat. Saking hangatnya, Laras merasa dia sedang bergandengan tangan dengan sosok pria yang ia harap bisa ia temui kali ini. Bukannya sosok lain dari sang pria yaitu sang penjaga. " Dimana Eren? " bisiknya dibalik punggung sang penjaga. " Aku berharap dia yang datang..."
__ADS_1
" Hentikan bisikanmu itu. Terdengar sangat jelas ditempat ini." geram sang penjaga.
" Baiklah. " jawab Laras. Lalu bergumam lagi dalam hati, bisakah kamu menjadi Eren? Bukan sosok sang penjaga?
" Kenapa menginginkan sosok fana itu? Semenakutkan itukah? "
Laras hanya termenung bertemu tatap dengan mata sang penjaga yang kini berwarna coklat keemasan. Mata itu terlihat begitu hangat. Begitu menenangkan. Begitu menghanyutkan. Dan perlahan terlihat begitu gelap. Sangat gelap dan suram. sesuram tempat yang kini mereka pijaki.
Itu adalah sebuah tempat dibalik sebuah pohon berdaun kelabu. Hanya didominasi warna hitam dan putih. Dibalik pohon itu terdapat jalanan yang begitu gelap. Tidak ada celah cahaya yang masuk sedikitpun diantara lebatnya pepohonan dbalik tempat itu. Yang ada hanya kegelapan dan kabut yang kembali semakin pekat. sedikit cahaya yang terpancar dari balik jubah merah maroon sang penjaga.
Punggung itu nampak begitu tegap. Seperti sosok tubuh yang memang kuat dan terbiasa dengan semua hal yang dilaluinya ditempat suram ini.
Seperti sosok tubuh yang memang kuat dan terbiasa dengan semua hal yang dilaluinya ditempat suram ini. Sesekali langkah itu sempat goyah dibelakang punggung sang penjaga yang entah sedang memikirkan apa. atau sedang melakukan apa. beberapa bayang-bayang hitam dan putih yang aneh tersebar dari hadapannya sang penjaga.
" Apa ini yang disebut jalan menuju kematian? "
" Kenapa kau bertanya? "
" Kau mau melihatnya sendiri? "
" Bukankah hal ini memang harus aku hadapi? "tatapan itu bertemu dengan pasti. Belum pernah sosok Eren melihat tatapan Laras yang seperti itu. Sangat yakin dan terlihat begitu berani. Berbeda dengan sosoknya yang baru saja ia culik dari ruang UKS sekolah. Juga sosok yang nampak begitu pucat saat sampai diperjalanan awal menuju lembah kematian ini.
" Kau memang bukan sekedar manusia yang terlahir untuk menebus dosa-dosa mu... "
" Kau tidak memiliki cahaya, tapi kau begitu terlihat nyata."
" Sosok mu tidak fana, tetapi juga tidak nyata..."
" Dia yang terlarang telah tiba... " Sorak sorai memenuhi tempat yang dipijaknya bersama sang penjaga.
Sang penjaga yang kini sudah berdiri jauh didepannya. Berdiri menghadap kebagian pohon yang nampak begitu tua. Pohon berdaun warna putih, hitam, dan abu-abu. Seperti sketsa sebuah gambaran pensil dari sosok profesional, tempat itupun nampak serupa. Ada hal-hal yang nampak begitu putih bersih. Ada pula yang hitam terlalu pekat. Dan abu-abu yang menunjuk seperti bayang. Seperti dunia hitam putih dengan sekelabat bayang abu-abu
Melihat sekelilingnya, Laras berjalan santai disepanjang jalanan itu.Dia seakan mengabaikan semua suara-suara parau dan bayangan yang terus saja mengitarinya sepanjang jalan. Seperti mengenal dengan baik tempat itu, Laras terdiam begitu menghadap ke sebuah batu besar yang cukup tinggi dengan ujungnya yang meruncing. Pada batu itu terdapat ukiran berbentuk bulatan seperti membentuk pola jam pada jaman batu. Seperti petunjuk waktu, salah satu sudut batu ditengah-tengah pola jam itu bergerak mundur sekali lalu maju dua kali. Persis seperti jarum jam rusak. Hanya bergerak kedua arah berlawanan yang sama.
__ADS_1
" Apa jarum jam ini rusak? " Laras meraih salah satu sudut batu itu untuk memastikan, namun tangan
sang penjaga menariknya menjauhi batu runcing itu.
" Mau apa kau? "
" Membenarkan jarum jam itu?! " Laras menuding tepat kearah batu waktu yang entah sejak kapan berada disudut
yang Laras tunjuk kepadanya.
" Sejak kapan itu berada disana? "
Membalikan badan, sosok sang penjaga dan Laras tiba-tiba tertarik oleh poros waktu. membuat mereka merasa berputar sesaat, sebelum menyadari kalau mereka tengah berada ditempat yang sangat berbeda. Sebuah tempat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah jalan persimpangan ditengah jembatan apung yang terlihat tanpa memiliki ujung.
“ Tempat apa ini? ” gumam sang penjaga mewaspadai semilir angin yang berhembus dari arah belakang mereka. Beberapa bayang hitam seperti burung kecil melintas berbarengan dengan semilir angin yang berhembus.
Laras merasa tersengat. Seluruh tubuhnya perlahan tersayat oleh angin yang berhembus semakin kencang.
Melihat apa yang terjadi, dengan cepat sosok sang penjaga membawa Laras masuk kedalam bagian jubahnya. Menyembunyikan gadis itu dari dera angin yang semakin kencang dan besar. Dalam hitungan detik, sobekan-sobekan kecil berupa sayatan tajam memenuhi bagian jubah sang penjaga. Membuatnya sobek-sobek dibeberapa bagian terutama bagian bawahnya. memperlihatkan kepulan asap berwarna hitam yang mengambang dan membuat si pemilik tubuh dibalik jubah itu nampak aman dari terpaan angin kencang itu.
Laras tengadah kebagian atasnya. Ada dagu yang menekan bagian kepalanya sesaat lalu. Dia tertegun dengan pandangannya terhadap wajah dari sosok sang penjaga.
Mereka bukanlah mahkluk yang berbeda seperti yang Laras pikirkan sejak awal. Mereka sama. Mereka satu. Batin Laras begitu melihat Eren yang sebagian wajahnya tertutup oleh tengkorak manusia.
Sosok sang penjaga yang tidak menyadari apa yang tengah Laras lakukan masih terus berusaha menghalau apapun yang menyerang mereka di persimpangan jalan itu. Nampak ada segerombolan kupu-kupu hitam yang terus mengitari dan sesekali seperti menyerang kearah sang penjaga. Menghalau beberapa serangan yang nampak bengis di samping kanannya, sang penjaga dikecoh kan oleh beberapa serangan yang datang dari arah berlawanan. Beberapa berusaha menyerang bagian kiri sang penjaga yang sedikit longgar.
Beberapa kupu-kupu itu masuk ke balik jubah sang penjaga dan disambut oleh pukulan tangan dari Laras yang tengah bersembunyi dibaliknya. Satu pukulan menghempas beberapa kupu-kupu hitam itu keluar dari balik jubah sang penjaga dan beberapa sayatan muncul di telapak tangan Laras sesaat setelahnya.
Merintih kesakitan, sang penjaga kembali memperluas jangkauan jubahnya untuk melindungi Laras dari serangan kupu-kupu hitam yang datang dengan jumlah yang semakin banyak dan tidak terhitung. Menghancurkan ratusan dan muncul kembali berkali-kali lipatnya.
Tubuh sang penjaga terguncang, membuat Laras terhuyun dan lepas dari balik jubah sang penjaga. Tubuhnya yang terhuyun kebagian kiri sang penjaga langsung menarik bagian jubah itu. Membawa mereka terjatuh ke dasar jembatan yang nampak seperti kayu. Kedua jiwa itu terguncang dengan dentuman yang cukup keras dibenak Laras. Sepasang tangan mendekat kepalanya dengan kuat, menahan terhindar dari benturan, sementara tubuh itu sedikit tertindih. Ada bagian lain dari balik jubah sang penjaga yang menyelamatkan mereka. Itu adalah sayap belakang sang penjaga yang berupa kepulan kabut hitam pekat. Dari gumpalan-gumpalan Asap yang ada, Laras melihat sedikit warna berbeda yang terbungkus oleh kepulan kabut berwarna hitam pekat itu.
***
__ADS_1