Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Penghalang!


__ADS_3

Sejak hari keluarnya Laras dari rumah sakit, semua hal berjalan dengan baik. Tidak ada hal janggal apapun yang mengusik ataupun menganggu keseharian Laras, baik saat bersama Rein ataupun dalam kesendiriannya mengikuti kegiatan perkuliahan yang berbeda dengan Rein.


Didalam kelas, di kursi perkuliahannya, Laras termenung dengan berpangku dagu. Tubuhnya ditempat itu tapi pikirannya jauh entah kemana. Laras dalam pandangannya menatap santai kepada gelang yang melingkar ditangan kanannya. Gelang bertali warna hitam yg membentuk kepangan rambut dengan satu lonceng kecil berwarna perak menghiasi gelang itu.


Laras menggerakkan sedikit tangannya suara gemerincing yang nyaring terdengar jelas dari lonceng kecil itu.


Bayang jalanan setapak batu bata merah kembali melintas dibenaknya. Membuat Laras merasakan rindu pada jalanan itu. Ada beberapa bayang ingatan yang mengganggu Laras ketika sepintas ada sekelebat bayangan berwarna abu-abu bergerak cepat dan menutupi seluruh ingatan Laras.


Laras menggelengkan kepala cepat. Bayangan itu langsung mengaburkan pandangan Laras di dalam kelas. Membuat Laras sejenak kehilangan konsentrasinya. Jantungnya langsung berdetak kencang. Semakin kencang dan mulai terasa perih dan sakit.


"Kenapa lagi dengan tubuh ini!" Laras menunduk dan meremas kuat kemeja bagian kirinya.


Dia kembali menggelengkan pelan kepala saking nyerinya. Sekelebat bayang berwarna abu-abu terus menjalar pada pengelihatan Laras. Terus menutupi beberapa hal dalam ingatan gadis itu. Menerobos ke setiap relung ingatan, membekukannya dan memberikan perasaan yang begitu kosong dan hampa.


Laras tersengal, begitu sebuah tangan menepuk pundaknya.


"Jangan berakting di depanku!" ujar suara itu terdengar dingin.


Akting apanya! batin Laras nampak jengkel dengan tuduhan yang diterimanya. Dia melirik kearah pemilik tangan itu. Namun tidak bisa menjangkau pandangan sampai wajah si pemilik suara.


"Kalau begitu, bersikaplah dengan biasa!" bahu itu ditepuk sekali lagi.


Memaksa Laras membangkitkan dirinya dari semua rasa sakit yang menyerangnya secara bersamaan. Rasa jengkel semakin membuat Laras merasa pening dan kehilangan konsentrasinya untuk berbalik dan membentak si pemilik suara yang melangkah membelakanginya.


Laras mengatur nafasnya, kemudian memaksakan diri untuk tetap mengikuti perkuliahan yang semakin lama waktu berjalan, semakin sakit dan semakin berat kepala itu dirasakan Laras.


"Sial!" gumam Laras ketika pandangan itu terasa semakin kabur dan semakin jauh di jam terakhir pembelajaran.


"Bertahanlah sedikit lagi." Suara itu terdengar parau dan berbisik.

__ADS_1


Laras terperanjat kaget dengan suara yang didengarnya. Dengan air mata yang sedikit menggenang, Laras menoleh kearah samping dan tidak mendapati siapapun berada dalam ruang kelas itu.


Laras mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Kelas benar-benar sudah sepi. Tanpa penghuni hanya dalam sekejap mata.


"Apa-apaan ini?!" keluh Laras.


Tapi berkat hal yang terjadi, berkat kekosongan kelas yang terjadi secara tiba-tiba, Laras bisa merasa leluasa mengeluarkan semua rasa sakit yang ia tahan sedari tadi.


Hawa gelap menyeruak di seluruh bagian tubuh itu. Laras sudah terduduk dilantai kelas dengan keadaan yang lemah dan tidak berdaya dengan keadaan yang diterimanya. Laras memperhatikan tangannya yang mengeluarkan bayang asap berwarna hitam pekat.


Tangan itu masih tangan yang sama, hanya asap hitam yang menyeruak dari tangannya bukanlah sekedar asap biasa. Sesosok bayang lain menampakan senyumnya yang menyeramkan pada bayangan Laras dilantai kelas. Bayangan yang hanya menunjukan dua bola mata berwarna putih dan sebuah senyum lebar. Dan jika senyum terus diperhatikan, senyum itu seakan melebar dan siap memangsa siapapun yang berada disekitar bayangan itu.


//


Ditempat lain, Rein tengah mengendap-endap mengikuti sosok yang baru saja keluar dari kelas sahabatnya. Tujuan awal Rein menuju kelas tentu saja untuk menjemput sahabatnya itu. Namun melihat pemuda yang membuatnya berdebar ketika pertama kali bertatap mata, Rein tidak bisa menghentikan langkahnya untuk mengikuti pemuda itu.


Rein terus melangkah, kendati begitu banyak hal mengganjal yang telah ia lewati. Itu adalah makam tanpa ujung yang setiap langkah siapapun yang masuk kedalamnya akan meninggalkan jejak berwarna hijau menyala. Hal itu akan membangunkan beberapa jiwa jahat yang terkurung di setiap batu nisan yang ada di makan itu. Setiap jiwa menggeliat dan mengikuti Rein tanpa ia sadari.


Langkah Rein tiba-tiba terhenti begitu sesuatu menahan langkah kakinya.


Dia. Pemuda yang Rein ikuti baru saja menginjakan kakinya disisi lembah kelam bernama lembah abu-abu. Lembah itu dari luar masih nampak sama. Begitu sunyi dan sepi dengan balutan semak belukar yang mengelilingi sisi lembah sampai ke ujung langitnya.


Lembah itu nampak seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Desir angin yang biasanya terdengar, kini juga sirna tertelan kegelapan. Satu-satunya celah cahaya yang sempat terbuka pun mulai tertutupi oleh tunas bunga berwarna merah yang mekar secara perlahan.


Pemuda yang diikuti Rein itu langsung bersiaga menyadari adanya jiwa jahat yang terbangun dari segelnya.


"!!!!"


"Kyaaaa!" teriakan itu menggema di seluruh lembah makam tanpa ujung. Membangunkan begitu banyak jiwa lain yang melayang-layang dengan kemarahannya.

__ADS_1


Menyerang dengan membabi buta, Rein menatap nanar dengan penuh ketakutan pada sekumpulan jiwa kegelapan bermata merah yang menerjang kearahnya.


Rein terduduk tidak berdaya dengan semua keadaan yang tiba-tiba di alami olehnya. Rasa tidak percaya dan berpikir semua adalah mimpi yang cukup menyeramkan, sempat dibayangkan Rein. Sehingga ketika membuka mata seharusnya gadis itu sudah berada di tempat tidurnya. Tetapi semua yang terjadi adalah sebuah kenyataan.


Dimana semua dimulai dari keinginan Rein mengikuti sosok pemuda yang membuatnya berdebar dari tatapan pertama mereka. Rein sesenggukan. Air matanya menetes saking tidak menyangka bahwa apa yang terjadi padanya adalah hal yang nyata, sampai sebuah jubah merah maroon menutupi seluruh tubuh Rein.


Membawanya dalam ketenangan bau sitrus yang langka. Rein langsung terlelap dibalik jubah itu. Melupakan setiap hal dan kejadian yang terjadi.


Dimana si pemilik jubah tengah berusaha menenangkan seluruh penghuni lembah makam tanpa ujung. Jiwa-jiwa penuh kebencian itu menyerang secara bertubi-tubi. Secara berkelompok kecil lalu berkelompok dengan jumlah besar. Begitu dibenamkan satu dua jiwa, bangkit lagi sepuluh jiwa lain dari dalam batu nisan berkabut hitam pekat dgn nuansa kehijauan.


"Kalau seperti ini terus, tidak akan ada habisnya." pemuda itu mendekati tubuh Rein yang tertutupi sisi jubahnya. Dengan segera menggendong tubuh gadis itu dalam pelukannya dan membawanya keluar dari sisi lembah dengan terengah-engah.


Setelah berhasil membawa keluar gadis itu dari lembah makam tanpa ujung, si pemuda yang kehabisan tenaga, tanpa sadar melepaskan gendongannya pada Rein. Membuat gadis itu terluka dibagian kepala dan si pemuda langsung kehilangan kesadarannya disamping tubuh Rein.


Keduanya tergeletak tidak sadarkan diri di perempatan jalan yang biasa Laras dan Rein lewati untuk pulang.


Pemandangan yang tersaji dihadapannya, membuat Laras langsung menghentikan taksi yang ia tumpangi.


Langkahnya berat untuk turun dari taksi yang ditumpanginya. Namun Laras memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan bahwa telah terjadi sesuatu yang menghadang jalannya.


Laras bersama sopir taksi langsung berinisiatif membantu dua orang yang tergeletak tidak sadarkan diri itu. Pemandangan itu langsung membuat Laras merasakan sedih yang mendalam.


"Rein!"


Teriak Laras sembari berlari menghampiri sosok yang dikenalinya tengah tergeletak tidak sadarkan diri ditengah jalan bersama seorang pemuda yang membuatnya terpaku dan merasakan sakit dibagian dadanya.


...***...


__ADS_1


__ADS_2