
Semesta mengundang kesadaran Laras untuk berdiam diri menatapi sebuah tanaman bunga yang tumbuh di bagian belakang lembah tempat ia menyepi. Tanaman bunga itu bernama bunga lily lembah. Bunga berwarna putih dengan bentuk seperti lonceng kecil. Bunga itu sedang mulai mekar dan mengeluarkan suara gemerincing yang nyaris menyita seluruh pendengaran Laras pada hari itu.
Dia hanya membalikan badannya sebentar untuk melihat sekelebat bayangan yang terasa melintas dibelakangnya, tubuh itu seketika sudah berpindah pada dimensi lain. Dimana ia telah bertemu dengan sosok itu sekali lagi. Sosok yang sudah puluhan kali ia jemput kematiannya. Sosok pemuda yang menatapnya dengan cara yang sama seperti caranya terakhir menatap.
Hitungan detik, pandangan Laras tertuju ke arah lantai dua bangunan diseberang jalan itu. Dimana posisi si pemuda yang jiwanya harus Laras jemput bertalian dengan sesosok berpakaian serba hitam yang sedang bersantai menikmati insiden kecil dibawah pandangannya.
Sebuah benang hitam keemasan terlihat sekilas dari pandangan Laras terhadap sosok pemuda yang mungkin akan dijemputnya dengan sosok berpakaian serba hitam itu. Laras menunduk sejenak, lalu begitu sebuah insiden yang harusnya merenggut nyawa si pemuda tidak berjalan, Laras meninggalkan tempat itu dengan santai. Hal itu juga bertepatan begitu sosok berpakaian serba hitam itu menyadari keberadaannya di seberang tempat kejadian tersebut.
"Jiwa itu ternyata dijaga oleh seorang penjaga!" ujar Laras sembari tersenyum simpul.
Melangkahkan pelan kakinya menuju ke bagian pusat kota, Laras meninggalkan tempat itu beserta hiruk pikuknya. Langkah demi langkah yang ia lalui membuat Laras mengingat banyak hal yang tidak ia ketahui sebelumnya. Sebuah kejadian, dimana ia melihat sosok bayang penjaga kematian tertinggi yang berjubah abu compang-camping. Dibalik tudungnya, wajah itu menunjukan hanya sebagian semburat senyuman yang melengkung dibagian bibirnya. Lalu sebuah tangan tua yang keriput langsung terasa seperti menyergap bahunya saat itu juga.
Laras berbalik, merasakan hawa yang tidak menentu berkisar diseputaran tempatnya berdiri. Dan tahu-tahu, dalam satu kedipan mata, dia sudah berdiri dibelakang sosok pemuda berpakaian serba hitam yang sedang kebingungan mencari sosoknya.
"Bukan jodohnya kita untuk bertarung saat ini!" ujar Laras.
Dengan membalikkan badannya, sosok Laras menghilang begitu saja. Menyisakan hiruk pikuk yang tidak terpengaruh apapun akan keberadaannya yang singkat pada dimensi tersebut.
"Apakah aku harus melawannya?!" gumam Laras begitu langkahnya sudah sampai di tengah-tengah lembah sunyi tempat ia menyepi. "Aku harus menjemput jiwa pemuda itu sesuai dengan waktu yang tertulis di dalam buku, namun penjaga itu juga pasti melakukan bagian yang menjadi tugasnya." celoteh Laras lagi. "Sementara satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan buku takdir ini hanyalah melewati perlindungan sang penjaga..."
Laras bersandar pada dahan pohon disebelahnya. Memikirkan hal yang menurutnya akan ada satu kesempatan lain yang menuntunnya untuk menjemput jiwa si pemuda.
Menggapai secercah cahaya yang berhasil menembus celah pepohonan, membuat Laras merasa sangat nyaman untuk sekedar memejamkan matanya.
Lembah yang nampak menjadi sedikit lebih terang dari biasanya, membawa hawanya tersendiri bagi terlelap nya sosok Laras dengan bersandar pada batang pohon yang ada dibelakangnya.
"Hangat!" ujar Laras sembari memejamkan matanya dengan perlahan setelah mendengar kembali suara gemerincing yang sangat khas. Sura gemerincing yang membuat suasana lembah sunyi menjadi sedikit ramai.
Lembah sunyi bukanlah termasuk pada lembah alam manapun. Lembah sunyi merupakan lembah yang tumbuh dari satu benih pohon kehidupan yang tumbuh ditengah-tengah berjalannya takdir alam semesta. Lembah sunyi tumbuh dari enih pohon kehidupan yang terluntang-lantung hingga ia menyerap energi semesta dan menempel pada serpihan batu meteor yang membuatnya tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Membentuk sebuah dataran dengan pijakan yang merupakan kumpulan dari jutaan pecahan meteor yang menjadi satu.
__ADS_1
Suara gemerincing kembali terdengar disisi belakang lembah dengan satu batang pohon yang kini telah berusia jutaan tahun yang tumbuh dengan dedaunan yang begitu lebatnya.
Suara gemerincing itu terdengar samar-samar namun untuk lembah sunyi, suaranya terdengar begitu jelas di satu waktu. Seperti kali ini, setiap langkah yang Laras ambil setelah lamunan yang begitu lama, suara gemerincing itu kembali terdengar jelas ditelinga Laras. Membuat Laras akhirnya penasaran dan mendekati bunga mungil berwarna putih tersebut.
Laras berjongkok lalu menatap ayunan bunga lily lembah yang diterbangkan oleh angin yang berhembus disekitar. Dari satu helai bunga yang jatuh dan diterbangkan angin, Laras lalu menatap lekat-lekat pohon kehidupan yang setiap dahannya mulai tumbuh tunas-tunas bunga berwarna putih mendekati merah muda.
"Apakah butuh ribuan tahun untuk mu berbunga?" gumam Laras. "Atau memang sedang musimnya?!!"
Angin kembali berhembus pelan. Membawa tubuh Laras kembali berpindah dimensi dimana kali ini sosoknya mendapati si pemuda berada di ujung jurang. Dimana dia hanya tengah terduduk sambil termenung.
Dari kejauhan Laras memperhatikannya. Membuka buku takdir bersampul hitam kemerahan yang ada ditangannya. Melihat tulisan pada buku yang mana menunjukan alasan kematian si pemuda adalah terkejut karena terjatuh.
Sepanjang waktu yang ada, Laras hanya memperhatikan sosok pemuda itu dalam diam dari tempatnya berdiri. Tidak melakukan pergerakan apapun, Laras dibuatnya kebingungan karena akhirnya si pemuda beranjak pergi setelah membuka pesan pada ponselnya.
Laras mengerutkan keningnya. Membuka buku takdir ditangannya lalu membaca lagi tulisan takdir yang perlahan terhapus dari halaman buku tersebut.
"Lagi?" Laras menghembuskan nafasnya jengkel. "Kalau begitu, sia-sia aku menunggu disini."
Sama-sama terkejut dengan hal yang terjadi, Laras terjatuh ke dalam jurang curam yang mengantarkan jiwanya ke dalam ganasnya air laut dibawahnya. Sementara si penjaga yang bermaksud menyapa, langsung membentangkan sayapnya untuk mengejar tubuh Laras yang terjatuh dari atas tebing.
Kedua mata itu saling menatap. Dimana sosok penjaga bersayap yang tidak lain Aksara, sosoknya hanya melihat Laras yang terjatuh menghadap ke arahnya dengan pandangan terkejut.
Sementara dalam pandangan Laras, selain sosok penjaga berpakaian serba hitam dengan sayapnya yang membentang, Laras mendapati sosok lain yang membuatnya mempertanyakan kebenaran si pemuda yang jiwanya harusnya ia jemput.
Begitu sosok si penjaga membentangkan sayapnya, Laras kehilangan fokusnya untuk menghilang karena melihat sosok si pemuda melompat tepat dibelakang sang penjaganya.
Sosok si pemuda yang berakhir dengan wujud sebagai sosok sang penjaga tertinggi lembah kematian. Dengan jubah compang camping dan tangan tua keriputnya, dia melesat dan menggapai tangan Laras secepat kilat.
Menyadari sosok Eren atau Arashi mendahului kecepatannya, Aksara ikut masuk ke dalam dimensi yang dibuka oleh sosok Eren sebagai sang penjaga tertinggi lembah kematian.
__ADS_1
"Ada apa?" Aksara langsung bertanya begitu ketiganya berpijak pada sebuah lembah kosong yang terapung di tengah-tengah lautan batu meteor.
"Entahlah!" jawab Eren. "Aku masih memiliki ingatan sebagai manusia itu!"
"Siapa kalian?" Laras melepas pegangan Eren dan menjaga jarak dari dua sosok dihadapannya.
"Kami?" tanya Aksara meyakinkan.
"Menurutmu?"
Eren bersemu marah. Membentangkan ke agungannya sebagai sosok penjaga tertinggi dunia lembah kematian. Tujuh bola api kebiruan di belakang kepalanya berubah warna menjadi keemasan. Ketujuh bola api itu langsung meruncing dan siap menyerang Laras.
"Apa yang kamu lakukan?!" sentak Aksara melihat api amarah dari tubuh Eren sebagai sosok penjaga tertinggi lembah kematian.
Tidak menjawab pertanyaan Aksara, tatapan mata itu ia tujukan pada Laras. Bahkan ia tidak membiarkan sosok Laras lepas sedikitpun dari tatapannya itu. Tatapan mata setajam elang yang siap menerjang mangsanya tanpa ampun sedikitpun.
Tapi Laras tidak mau kalah. Dia memperhatikan dan bahkan balas menatap sosok Eren dengan pandangan siap bertarung.
Sejak kapan Laras haus akan pertarungan?!
Sejak pertemuan pertama kami setelah terpisah di dasar danau pelangi..
Mendengar jawaban itu dari Eren sebagai sosok tertinggi penjaga lembah kematian, Aksara menundukkan kepalanya sambil mengumpat.
"Jadi seperti inikah acara reunian kita?" Aksara berdiri ditengah-tengah antara sosok Eren dan Laras.
"Jangan coba menghalangi langkahku!" ujar Laras menerjang dengan serangan kilat berwarna merah kehitaman yang menggelegar diantara Aksara dan sosok Eren sebagai sosok penjaga tertinggi lembah kematian.
Kedua pemuda membelalak dengan serangan yang tertuju kearahnya. Tanpa penjagaan dan kewaspadaan serangan itu langsung menyembur ke arah keduanya yang masih terdiam tidak menyangka dengan hal yang terjadi.
__ADS_1
...***...