Abu-Abu

Abu-Abu
Kepergian Kakek Tito


__ADS_3

Dari atap gedung utama sekolah, sesosok makhluk menyeramkan berjubah merah dengan sayapnya yang seperti kepulan awan hitam tengah memperhatikan dari kejauhan. Menyiratkan kekesalan dan amarah. Dibalik topeng dari tulang tengkorak manusia yang menutupi sebagian wajahnya, sosok itu tidak melepaskan tatapannya dari dua sosok lainnya diatap gedung seberang bangunan tempat ia memperhatikan. Seakan sudah terkunci dibenaknya akan kedua sosok  yang ditatapnya itu. Sosok menyeramkan itu terus saja memperhatikan dan menatap dengan penuh kemarahan.


“ Ini! ” Aksara menyerahkan sebuah buku tua bersampul hitam yang pernah diberikannya kepada sang gadis beberapa minggu yang lalu. “ Kemarin kamu meninggalkannya dikelas. ”


“ Kemarin??? ” tanya Laras meyakinkan diri.


“ Ya! ”


“ Nggg… ”Laras memandang buku ditangan Aksara dengan sedikit bingung. Seingatnya, buku tua bersampul hitam itu selalu ada didalam tasnya dan dirinya pun tidak pernah mengeluarkan buku itu selama berada disekolah.


Sosok Aksara langsung membelakangi Laras yang berdiri menghadap kearah depannya. Hal itu cukup terlihat aneh dimata Laras. Dimana Aksara sama sekali tidak mengenakan seragam sekolah seperti yang lainnya. Melainkan mengenakan pakaian serba hitamnya. Dan bahkan jas hitam itu juga bukan jas Osis sekolah. Itu adalah sebuah jas hitam dengan model dan bahan yang cukup terbilang mahal.


“ Bawalah buku itu kapanpun dan kemanapun kamu pergi. ” Aksara menatap Laras yang kini berdiri menghadapan kearahnya dengan rambut yang diikat rapi kebelakang. Walau ikatan itu sudah cukup tinggi, tapi rambut panjangnya masih terlihat sangat panjang. Mata bulat besar itu melihat dengan seksama genggaman buku tua bersampul hitam yang dibawa oleh Aksara.


“ Kenapa??? ”


Diiringi dengan senyum simpul, Aksara menjawab dengan tatapan yang benar-benar jauh dari dirinya.


“ Buku itu memang milikmu! ”


“ Kenapa harus gue?? Kenapa bukan orang lain saja? ” Laras meyakinkan begitu Aksara menyodorkan buku itu ke tangannya.


“ Bukankah kamu sudah melihatnya sendiri? ” jawabnya. Aksara menatap dan melanjutkan kalimatnya. “  Jumlah buku ini didunia tidaklah begitu banyak, tapi juga tidak bisa dibilang sedikit. Yang mempunyai buku seperti inipun bisa disebut orang-orang biasa tapi juga tidak bisa disebut dengan orang-orang yang beruntung. ”


Dengan sedikit rasa ragu, Laras perlahan mengambil buku itu dari tangan si pemuda dihadapannya. Sebelum membuka halaman depan buku itu untuk memastikan ucapan Aksara benar adanya, Laras menatap sosok si pemudadengan sayapnya yang hanya tinggal tulang belulang. Sayap itu terlihat sedikit mengepak dari terakhir kali Laras melihatnya.


“ Siapa loe sebenarnya? ” tanya Laras tanpa peduli lagi akan ramah tamah untuk menjaga privasi seseorang menyadari kalau mereka kini hanya berdua saja diatap gedung tersebut.


“ Aku yang harusnya perlu tahu... Kamu itu apa?? ” menatap pasti, Aksara membalik badannya dan tengadah ke langit.


Perlahan dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Bersamaan dengan itu, angin semilir memenuhi atap gedung sekolah tempat mereka berdiri. Suasana menjadi cukup berbeda. Atap sekolah yang beratapkan beton berubah menjadi tempat yang berbeda.


Sebuah tempat yang tiba-tiba menjadi familiar diingatan Laras. Sebuah tempat dengan jalan setapak batu bata merah ditengah hutan. Dimana ditepian batas batu bata jalan setapak itu terdapat tanaman bunga berwarna putih dengan bentuk lonceng kecil yang menghiasi sepanjang jalanan yang mampu ditangkap oleh pandangan mata.

__ADS_1


“ Jadi… tempat ini bukan sebuah mimpi? ” Laras clingukan. Dia mengingat dan mengingat lagi hal yang luput dari ingatannya beberapa hari yang lalu dan ingatannya dihari kemarin. Dan itu adalah ingatan tentang dirinya, Aksara, dan sosok lain berjubah merah maroon yang bersembunyi dibalik pohon disebrang jalan tempat Aksara menggendong dirinya untuk berteduh.


“ Sudah ku duga! ” Aksara yang muncul dari balik punggungnya membuat Laras sedikit bergidik ngeri. “ Kamu akan bisa langsung mengingat semuanya ketika kembali lagi kesini. ”


Laras terdiam. Sepenggal ingatannya, dia hanya terkesima dengan pemandangan yang tersaji disekelilingnya. Juga dengan sosok Aksara yang begitu berbeda. Dia yang kini sudah berdiri disamping Laras dengan wibawanya yang tinggi. Memperhatikan kembali sosok Aksara yang sangat berkharisma membuat Laras merasa seakan dirinya dan Aksara berasal dari dua dunia yang sangat berbeda.


“ Gue selalu bisa melihat bayang sosok dewa kematian, tapi tidak pernah gue melihat yang seperti elo ini. ” ujar Laras. Rasa penasarannya mengalahkan semua rasa enggannya untuk menjaga privasi diri juga privasi orang lain baginya.


“ Bukalah buku itu. ” ujar Aksara melangkah santai kearah depannya. “ Ada seseorang yang dinanti pria tua didepan sana. ”


Tangan Laras baru saja akan membuka halaman depan dari buku tua bersampul hitam itu ketika matanya melihat kearah depannya.


Diujung sebuah jalan itu, ada sosok lain yang dikenal baik oleh Laras. Sosok tua berkaca mata itu tengah mengenakan pakaian kebanggaannya. Sebuah pakaian yang terbuat dari rajutan benang wol berwarna putih bersih dengan garis biru yang tegas pada bagian lingkaran dadanya. Topi pet  berwarna coklat dan cerutu tua yang selalu dipegangnya dengan sejuta senyum bahagia, dia melihat ke arah Laras yang berdiri dalam diam dan kekakuan.


Air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya tumpah ruah. Laras sesenggukan mengingat bahwa pagi ini dirinya baru saja menghabiskan waktu bersama sosok tua tersebut. Memakan masakan yang dibuat oleh sosok tua itu untuk kepulangan anaknya. Sosok yang selalu menungguinya didepan pagar hanya untuk sebuah Koran yang Laras antarkan dipagi hari.


“ Kakek! ” panggilnya kelu.


Laras benar-benar tidak kuasa mengingat setiap hal yang terjadi. Setiap kenangannya akan sang kakek yang bernama Tito tersebut.


...


rumahnya, sang kakek pun tengah menatap sosok Laras yang memandang kedalam rumahnya. Dia sekali lagi


tersenyum mengingat sosok Laras yang selalu menyapa paginya. Sedikit bercerita dan berteriak lantang karena lupa waktu dan lebih sering berteriak karena keterlambatannya kesekolah.


Baru saja ingat kalau dirinya sedang memanggang kue, sang kakek berbalik senang menuju oven didapur rumahnya. Beberapa langkah menuju ruang dapur, sang kakek merasakan nyeri pada dada bagian kirinya.  Langkahnya mulai tersungkur. Nafasnya tersengal. Dan pandangannya perlahan kabur dan tertuju pada sebuah foto ditengah ruangan. Foto kebersamaan sang kakek dengan istri dan anak-anaknya.


Tepat didetik yang sama saat Laras melihat Aksara masuk kedalam rumah sang kakek, beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


 Berjalan menuju oven pemanggangnya, jiwa sang kakek terpaku melihat sosok Aksara menyapanya.


...

__ADS_1


“ Nak! ” sang kakek mengelus lembut rambut Laras. Rambutnya lagi-lagi terurai dan lonceng perak kecil itu menjadi penghias manis pada rambut panjang yang terurai itu.


“ Kakek benar-benar senang karena setiap pagi bisa disapa olehmu. Setelah kematian almarhumah istri, tidak ada siapapun yang bisa kakek ajak bicara. Masa tua selalu kakek isi dengan kesendirian. Tapi tujuh tahun terakhir bagi kakek, jadi sangat berharga karena kamu selalu menyapa kakek. Selalu tersenyum dan menyempatkan diri berbagi banyak cerita pada kakek. Terima kasih. ”


Laras masih sesenggukan. Dia tetap tidak kuasa menahan tangisannya. Kesedihan melimpah ruah didalam dirinya. Ada rasa yang bergejolak begitu besar. Rasanya ingin sekali memutar waktu dan mengulang pagi ini bersama sosok Kakek Tito yang walaupun terlihat galak tapi sebenarnya beliau sangatlah ramah.


“ Kakek senang. Karena sebelum kakek sampai diujung perjalanan, kakek masih bisa melihat kamu. ”


Laras terngadah. Dia menatap lekat-lekat sosok tua berkaca mata itu.


“ Antarkanlah kakek dengan tersenyum. Itu jauh lebih berarti dari pada sebuah tangisan seperti sekarang ini. ”


Laras terdiam. Air mata itu sudah tidak menetes lagi tapi tetap masih membendung dipelupuk matanya.


“ Lakukanlah sesuatu yang tidak akan pernah kamu sesali setelah ini. ” Aksara menepuk pundak Laras. Dia melirik sebuah lonceng perak yang menempel manis pada rambut bagian kanan Laras.


Lonceng itu terlihat bergetar. Dan dari suara gemerincing yang keluar, jiwa seorang wanita paruh baya dengan rambut hitamnya tersenyum didepan sosok kakek Tito. Wanita paruh baya yang mengenakan atasan warna putih dan celana cream panjang itu meraih tubuh kakek Tito dengan haru.


“ Bapak! ” ujarnya. Ada air mata yang mengalir. Ada kerinduan yang sangat dalam dari sosok wanita paruh baya itu terhadap sang kakek yang langsung menyambut hangat sosok sang wanita paruh baya yang merupakan alm.istri dari sang kakek.


“ Maafkan ibuk! Ibuk pergi mendahului bapak. ” ucapnya.


Kakek Tito tidak banyak bicara. Yang dilakukan sang kakek hanya memeluk sang istri yang sangat dirindukannya selama 15 tahun terakhir ini.


“ Bapak kangen ibuk! Bapak bersyukur kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama. ”


Dalam suasana haru yang sempat terjadi, Aksara dan Laras tersenyum dengan sangat baik mengantar dua sejoli yang dipertemukan lagi dalam perjalanan terakhirnya.


“ Kemana mereka akan pergi??? ”


“ Ketempat yang sangat baik. ” jawab Aksara melihat kilauan cahaya jingga keemasan diujung jalan tersebut.


Suara gemerincing lonceng dari bunga-bunga yang disebut dengan nama lilly lembah menjadi pertanda ada kebahagiaan bagi pasangan sang kakek dengan istrinya yang telah terpisah 15 tahun lamanya.

__ADS_1


“ Kenapa gue?? ” kalimat itu bergema diseluruh jalanan itu berbarengan dengan gemerincing dari bunga lily lembah yang terbang berguguran mengitari mereka.


***


__ADS_2