Abu-Abu

Abu-Abu
Pecahan tentang Eren


__ADS_3

"Apa yang sudah aku lakukan?!" sosok lain Eren terbaring pada ranjang tidurnya dengan sedikit frustasi.


Untuk pertama kalinya dia benar-benar gusar setelah mengetahui kebenaran yang tidak ia sangka-sangka sama sekali. Dimana pada bayang ingatan Laras yang tertinggal adalah pertemuan sosok dirinya dihari pertama ia memilih berbaur dengan manusia.


Bukan suatu kebetulan dia harus bertemu Laras dengan semua kebodohan yang Laras tampilkan didepannya. Bukan suatu kebetulan juga kenapa Laras bisa melihat sosoknya semenjak awal mereka saling bertemu tatap. Semua itu mempunyai keterikatan dan pertalian dengan takdir siapapun penjaga lembah kelam bernama lembah abu-abu.


Eren berguling diatas kasurnya. Begitu berbalik menghadap kebagian dimana Laras sempat terbaring dengan lelapnya, Eren menghentikan semua rasa gusarnya. Dia bisa kembali melihat bayangan bagaimana Laras tengah terlelap disampingnya. Membiarkan bayangan itu terus menemani hati dan pikirannya yang perlahan mulai memejamkan mata dengan rasa yang menenangkan.


"Cukup kau merasakan tenang saat bersamaku..." senyum itu merekah. Hanya menampilkan sebuah bibir kecil yang berucap dengan senang lalu tersenyum dengan manisnya.


"Siapa?!" Eren terperanjat dari tidurnya.


Jam weker dimeja sampingnya menunjukan pukul 03.00. Masih terlalu dini untuk manusia bangun dan beraktivitas pada jam seperti itu. Jadi Eren memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya dengan terlentang menghadap langit-langit kamarnya yang bergambarkan abstrak bayang dua pasang manusia yang tengah tertidur dengan indahnya persis seperti saat dirinya tidur di ranjang yang sama dengan Laras.


"Bodoh!" Eren mengusap wajahnya. Menutup wajah itu dengan telapak tangannya lalu tersenyum dibaliknya.


//


Ditempat lain, dikamar sang gadis. Laras baru saja terbangun karena memimpikan dirinya terjatuh kedalam jurang yang sangat gelap dan curam. Saat terjatuh itu dia bisa melihat beberapa helai benang merah yang ikut terjatuh bersama dirinya dan disusul oleh sebuah tangan yang berusaha meraih dan menarik tubuh gadis itu.


Laras mengusap belakang lehernya. Sudah seminggu ini Laras memimpikan hal-hal yang aneh. Termasuk saat Laras merasa bahwa dirinya telah dibawa pergi ke dunia kematian oleh sosok lain Eren. Namun ternyata hal itu hanyalah mimpi yang menghantui dirinya.


Walau begitu, Laras masih dibuat penasaran dengan hal apa yang terjadi pada dirinya saat dia berakhir ditempat tidur yang sama dengan sosok Eren.


"Tidaaaaak!" Laras membenamkan kepalanya pada bantal didepannya. Pikirannya campur aduk. Ada kalanya dia berpikiran positif dan jernih. Tetapi sesekali pikiran buruk terlintas dibenaknya.


"Aku tidak akan melakukan hal seperti yang ada di pikiranmu!"


Kalimat Eren itu kembali terngiang ditelinga Laras. Membuat wajah gadis itu bersemu merah. Semakin memikirkan dan mengingat bagaimana wajah Eren saat mengatakan hal itu pada dirinya, membuat Laras bereaksi tidak menentu. Dia sampai menepuk-tepuk kedua pipinya dengan cukup Keras.

__ADS_1


"Sadarlah Laras!" ucap Laras sembari menepuk-tepuk pipinya sekali lagi. "Dia tidak sama seperti mu! Dia...."


Laras menggantungkan kalimatnya. Saat menepuk pipinya dengan cukup keras disaat terakhir, Laras mengingat bayangan bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan pemuda itu. Jalan turunan yang menjadi satu-satunya jalan didekat rumah kakek Tito yang langsung menuju jalanan utama menuju ke sekolahnya. Pertigaan tempat dia melihat sosok Eren yang menegur tindakannya. Sosok penjaga berjubah yang cukup menyeramkan dibalik punggung si pemuda. Lalu sebuah ciuman yang Laras dapatkan dari pemuda bernama Eren itu dipertigaan jalan yang sama.


Mata Laras terbelalak. Degup jantungnya melaju cepat. Dia merasakan sesuatu yang aneh tengah menjalar ke seluruh tubuhnya dengan bayang ingatannya itu.


"Apa semua itu pernah terjadi?" gumam Laras tidak percaya tapi dapat merasakan sesuatu yang menyenangkan sampai membuat perutnya sedikit melilit sakit.


"Hal apa yang membuatmu begitu berubah-ubah dalam sekejap?!"


Dari atas meja belajar Laras, duduklah sosok lain Eren. Sosok lain Eren yang hanya berupa bayangan tembus pandang, sudah tidak mampu menahan keinginannya di pagi itu untuk tidak melihat bagaimana keadaan Laras. Hanya dalam kedipan mata, sosok itu sudah diam-diam memperhatikan bagaimana saat Laras mulai terbangun dari mimpinya. Melihat setiap ekspresi yang ditunjukan sang gadis, lalu menikmati semua itu dalam hening nya pagi.


Laras melirik jam wekernya. Masih ada setengah jam lagi sebelum dia mulai melakukan aktivitasnya di pagi hari. Mengantar susu dan koran pada para pelanggannya dilingkungan komplek perumahannya.


Laras berjalan menuju teras, dan bayangan tembus pandang sosok lain Eren sudah duduk didepan teras dengan santai. Melihat bagaimana Laras mempersiapkan dirinya untuk bersiap mengantarkan koran dan susu di lingkungan komplek perumahannya.


Pandangan bayang tembus pandang sosok lain Eren pun tertuju pada hal yang sama. Penghuni kamar disebelah bangunan kamar milik Laras. Keberadaan kakek dan nenek Laras yang menjadi misterius.


"Mungkin karena usia..."


Gumaman Laras itu membuat bayang tembus pandang sosok lain Eren mengurungkan niatnya mencari tahu kedalam kamar itu. Dia mengalihkan pandangannya dan lebih memilih mengikuti bagaimana Laras memulai paginya sekali lagi.


Membuka pintu pagar dan bersiap mengayuh sepedanya, Laras menuju komplek perumahan Elit terlebih dahulu. Disepanjang jalan ia sesekali membenarkan posisi topinya yang hampir diterbangkan angin karena kecepatan kayuhan sepedanya.


Sudah beberapa rumah yang Laras kunjungi dan ada beberapa rumah yang Laras hanya perlu meletakkan koran dan susu itu pada kotak penerimaan yang sudah disediakan oleh pemilik rumah.


Dan di setiap belokan ataupun di setiap rumah yang Laras kunjungi, bayang tembus pandang sosok lain Eren sudah melayang dan memperhatikan bagaimana gadis itu melakukan kegiatan paginya. Laju sepeda itu pasti, dan bayang tembus pandang sosok lain Eren hafal betul dengan arah dari laju sepeda si gadis. Sosok itu langsung menghilang begitu laras melewati belokan untuk menuju rumah terakhir.


Ckiiiiit!

__ADS_1


Laras mengerem sepedanya dengan kaget. Dia melihat jelas sosok Eren tengah berdiri didepan gerbang dan menyapa Laras dengan santai.


"Tepat waktu." ujar Eren. Dia berjalan dua langkah lalu mengambil sendiri gulungan koran dan dua kotak susu yang memang diperuntukan untuk dirinya.


"Apa kau selalu melakukan hal ini?" Laras menatap jengkel.


Sudah kesekian kalinya Eren membuat Laras kaget dengan tiba-tiba muncul didepan pagar rumahnya.


"Hanya sesekali." Eren menempelkan sekotak susu yang diambilnya pada pipi Laras. "Masih hangat, minumlah. Kali ini, jangan menolaknya." tambah Eren menepuk kepala si gadis dari balik topinya.


Topi pemberiannya sebagai ganti topi Laras yang diterbangkan angin kearah jurang didekat bukit belakang sekolah.


Laras terhenyak. Bayangan bagaimana ia dengan bodohnya mengejar topi hitam miliknya yang terbang ke sisi jurang didekat bukit belakang halaman sekolah, muncul dengan sendirinya. Mengingat bayangan itu, Laras menoleh kearah Eren yang sedang meneguk habis susunya.


Bayang bagian-bagian pemuda yang membonceng dan menolong Laras dari tindakan bodoh mengejar topinya yang jatuh ke jurang, membawa Laras untuk terus tidak melepaskan sedikitpun sosok pemuda yang kini sedang membuka kotak susu yang diberikan pemuda itu pada dirinya.


"Minumlah sebelum menjadi dingin.!" // "Sebagai ganti topi mu yang hilang!"


Kedua suara itu sangat sama persis. Tawaran Eren untuk meminum susu yang dibukanya dan suara pemuda yang memberikannya topi yang ia pakai kini.


Kedua suara itu dari orang yang sama. Batin Laras. Laras semakin memperhatikan pemuda dihadapannya.


Eren yang kini bersandar pada kusen pagar dengan pakaian serba putihnya. Sosoknya langsung menyita pikiran Laras akan bayang ingatan yang muncul satu demi satu akan sosok si pemuda.


"Siapa kamu sebenarnya?!" kata-kata itu keluar dari mulut Laras tanpa ia sadari.


Dan pertanyaan itu membuat Eren mau tidak mau kembali menatapnya dengan dingin.


...***...

__ADS_1


__ADS_2