Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Pusaran takdir


__ADS_3

"Apa yang sudah terjadi?!"


Zara dan Aksara kaget memperhatikan perubahan yang terjadi disekitar mereka. Rumput yang tadinya hijau jadi menguning. Bunga yang tumbuh dan mekar langsung layu dan menghitam. Tanaman lain disekitar merekapun ikut layu dan mengering. Langit menghitam dengan kilatan petir merah kehitaman menyambar ke semua penjuru. Awan hitam berkumpul pada sisi pintu lembah. Gumpalan awan hitam yang begitu tebal. Terus menggeliat sampai memenuhi setiap ruang langit pada lembah tersebut.


"Laras!" suara parau Eren membuat pundak gadis itu sedikit terangkat.


"Inilah bentuk sejati sisi lembah dibalik pintu batu ini." jawab Laras begitu melepaskan jutaan jiwa bermata kelam yang melayang ke langitnya seperti ribuan kepulan asap rokok yang melayang ke udara. Setiap kepulan asap itu menyentuh bagian langitnya, terdengar suara gemuruh yang yang saling bersahut-sahutan.


"Mana mungkin!" sergah Zara.


"Maaf!" ucap Laras. "Ini mengecewakanmu!"


Terlalu banyak kekelaman yang diterima air danau ini. Air danau pelupa. Setiap jiwa yang masuk ke balik pintu batu akan menemukan dua hal:


Pertama : jiwa yang masuk akan ditunggu oleh sosok kakek tua menggunakan perahu dengan layar usangnya. Mengantarkan jiwa tersebut menuju danau tanpa tepi sampai akhirnya jiwa itu menghilang dengan sendirinya.


Kedua : jiwa yang masuk akan melewati jembatan kayu terapung yang bisa menenggelamkannya kapan saja. Jika berhasil melewati kayu terapung, jiwa itu akan kembali bertemu seorang penjemput. Jika tidak, jiwanya akan terdampar selamanya pada kelamnya air danau pelupa yang disebut dengan lembah danau pelangi.


Lembah danau pelangi adalah sebuah Tempat yang nampak menyeramkan karena mengubur jutaan luka batin, siksaan, perasaan iri, dengki, dan perasaan lain yang bisa membawa setiap jiwa manusia terjerumus ke dalam kegelapan.


"Apa kau selalu mengantar setiap jiwa kesini?!"


"Setiap jiwa yang memilih jalan ini..." jawab Laras melihat jutaan kepulan asap yang menyerupai asap rokok melayang ke langitnya. "Sama seperti Aksara yang mengantarkan setiap jiwa ke perjalanan terkahir dari jiwa yang dijemputnya, seperti itulah setiap jiwa menemui akhir perjalanan hidup mereka."


"Entah itu berakhir untuk terlahir kembali. Menempati tempat yang dinamakan surga atau neraka! Atau bisa juga menjadi bagian dari satu lembah dengan semua ketentuan hukumnya." Eren menambahkan.

__ADS_1


Laras menurunkan pandangannya. Dia melihat pada Eren dan bayangannya yang dijaga oleh Aksara dan Zara. Laras menghampiri bayangannya itu. Perlahan dia melihat wujud asli Rein yang sudah terikat janji dengan bayangannya sendiri.


"Apa yang akan kau lakukan pada bayanganmu ini!"


"Melemparkannya pada lembah kesengsaraan!" mata Laras berwarna biru keemasan. Siap menarik bayangannya dengan kilatan petir ungu kemerahan. Mengarahkan bayangan itu pada sisi lain dari lembah danau pelangi.


"Jangan pikir kau bisa melakukannya!" geram bayangan dihadapannya. Sosok itu langsung menampilkan jiwa dan tubuh Rein yang merasa tersiksa dengan keadaan yang dialaminya.


"Jangan lakukan ini padaku!" isak Rein yang membuat semua yang ada disana terkejut kecuali Laras. "Aku masih ingin hidup! Aku tidak ingin mati!!" tambahnya dengan berderai air mata.


Namun Laras memandangnya dengan acuh tak acuh. Membiarkan sosok itu berdrama untuk beberapa saat sebelum akhirnya, Laras menghempaskan tubuh itu menjauh dari posisi Eren, Aksara, dan Zara.


"Seharusnya dari awal aku tidak membiarkanmu melakukan semua ini!" ujar Laras dingin.


"Laras!! Kau tega menyakitiku!! Kau tega mencelakaiku yang telah menolong mu!" suara Rein terdengar gemetar. Tapi bukan gemetar karena ketakutan, melainkan karena kemarahan. Kemarahan yang memupuk dari semua kebencian yang dia pendam pada Laras.


"Aku tidak mempunyai pilihan lain!" jawab Laras. Sosoknya kembali menjadi diri sejatinya. Sementara bayangan hitam yang menyelimuti Laras berkumpul dibelakang punggungnya dan membentuk sebuah sayap yang sama seperti sayap yang dimiliki sosok lain Eren.


Bayangan didepan Laras semakin geram. Dengan suaranya yang bergema menggunakan tubuh Rein, bayangan itu berteriak dan mengarahkan serangan dari sisa petir berwarna hitam kemerahan ke arah Laras. Meneriakkan lengkingan suara yang memekakkan telinga dan mengguncang seisi lembah.


Eren dan yang lain segera menyusul ke arah Laras dan bayangannya. Namun Laras sudah memberikan penghalang pada mereka untuk bisa mendekati daerah yang menjadi arena perselisihan mereka.


"Kenapa dia melakukan hal sebodoh ini!!" seru Zara yang merasa hanya bisa menjadi penonton dibalik penghalang yang diciptakannya.


Sementara Eren dan Aksara hanya berdiam diri memperhatikan bagaimana Laras dan bayangannya yang bersama jiwa dan tubuh Rein tengah saling berhadap-hadapan.

__ADS_1


"Ini ranah perempuan!" gumam Aksara.


"Ini adalah bentuk pertarungan dengan diri sendiri!" ujar Eren setelah kembali mendapatkan wujudnya sebagai sosok penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan yang membentuk rantai pada bagian belakang punggungnya. Dengan santai lingkaran bola api berbentuk rantai itu menyusup kedalam penghalang tanpa diketahui oleh siapapun juga. Melihat mungkin ancaman besar bagi Laras untuk menghadapi bayangannya, namun keberadaan tubuh dan jiwa manusia pada sisi lembah ini akan memberikan pengaruh yang besar pada takdir hidup yang sedang berjalan didunia.


Eren segera menyeruak masuk kedalam penghalang, begitu kilatan petir menyambar dengan membabi buta dari arah langitnya. Langit dengan gerakan gumpalan awan yang begitu tebal dan tidak terarah. Sama seperti ketika jiwanya tenggelam ke dalam lembah kesengsaraan untuk pertama kalinya karena perubahan gejolak takdir manusia, keadaan yang sama menyelimuti sisi lembah. Ketika hal semacam itu menyelimuti sisi lembah, entah hal seburuk apa yang mungkin terjadi karena melibatkan sosok ambigu dunia manusia dan lembah kematian.


Pusaran air terbuka dibawah kaki Laras dan bayangan. Menyedot setiap jiwa yang tersegel dalam air tersedot kedalamnya. Menyisakan jerit dan teriakkan ketakutan, kesedihan, dan teriakkan-teriakkan lain yang terdengar amat memilukan. Rambut Laras terkibaskan oleh kencangnya angin yang berhembus.


Sapuan angin tornado memporak porandakan setiap sisi lembah yang terpaksa membuat Laras dan Eren melempar keluar Aksara dan Zara kembali ke balik pintu lembah yang segera akan tertutup.


Laras dan bayangannya tengadah ke langit. Begitupun Eren. Namun tubuh dan jiwa Rein tertarik dengan kuat kearah pusaran air berwarna hitam kehijauan yang begitu pekat. Teriakannya yang menggema berhasil membuat Laras terjun untuk segera menolong sosok tubuh itu. Tubuh yang perlahan terkikis oleh hawa kegelapan yang muncul dari pusaran air danau. Semakin melihat wajah kesakitan di wajah Rein, Laras semakin memperkuat lajunya untuk dapat segera meraih tangan gadis itu. Tanpa memperhatikan apa yang akan menghantamnya jatuh, Laras melakukan manuver tajam.


Angin tornado kencang berhembus, menghempas dan ikut terseret ke dalam pusaran air. Menarik setiap jiwa yang ada disekitarnya termasuk bayangan dirinya dan sosok lain sang penjaga. Laras tidak mampu mengendalikan shock yang timbul dalam dirinya. Tangannya terlepas dari pegangannya terhadap Rein dan membuat tubuh dan jiwa gadis itu juga terhisap kedalam pusaran air itu.


Laras berusaha meraih kembali. Mengabaikan bagaimana keadaan Eren sebagai sosok sang penjaga, Laras berusaha menolong Rein dan tubuh manusianya untuk membawanya keluar dari sisi lembah. Mengerahkan semua penghalang yang ia punya, Laras mengunci tubuh itu ke dalam penghalang. Melemparkannya ke arah pintu lembah yang tertutup, lalu menyusul sosok lain Eren pada ujung pusaran angin. Terus masuk ke dalam pusaran air yang beradu dengan pusaran air dibawahnya. Mencari sosok laun Eren yang telah tertutupi oleh jiwa-jiwa kelam yang ikut terbawa oleh pusaran air danau dengan warna hitam kehijauan yang begitu pekat.


Tangan Laras meraih sisa telapak tangan dari sang penjaga. Berusaha menarik keluar sosok sang penjaga dari gumpalan jiwa-jiwa kegelapan air danau. Beberapa kali tangan itu hampir terlepas, sampai akhirnya Laras menyadari kalau Eren bukannya tidak berusaha. Eren hanya menerima apa yang mungkin akan terjadi setelah pengorbanan dirinya pada pusaran air.


Dengan tidak melepaskan pegangan tangannya pada sosok tangan sang penjaga, Laras membiarkan tubuh itu terombang-ambing dalam pusaran air dan hembusan angin tornado yang tidak jelas. Membiarkan semua warna kelam menyelimuti dirinya. Lalu tergantikan dengan genangan air yang begitu tenang bernuansa kehijauan.


Kedua tubuh itu kini terombang-ambing tidak sadarkan diri pada kedalaman air bernuansa kehijauan yang entah dimana. Banyak tubuh manusia terikat rantai atau pun tali tambang dan seakan melayang di sekitar keduanya. Tubuh-tubuh itu ikut terombang-ambing mengikuti riak air yang sangat tenang.


...***...


__ADS_1


__ADS_2