
Laras tertegun didepan almari kamarnya. Dia memperhatikan topi berwarna hitam miliknya. Topi hitam dengan list abu pada pinggiran topi dan tulisan berwarna emas yang sama pada bagian depan topi itu.
"Amor!" gumam Laras dihadapan topi itu. "Hanya ada dua buah topi katanya,,hahahaha.. Konyol." Laras membalikan badannya. Tetapi berbalik kembali untuk memperhatikan sekali lagi topi hitam itu.
"Tidak mungkin! Topi seperti ini banyak dipasaran, bukan?!"
Guratan tulisan pada topi itu sama persis. Dengan warna emas yang sama juga. Terlebih topi itu hanya ada dua buah, membuat Laras harus meneliti kembali setiap detail topi yang dimilikinya itu.
"Topi ini aku dapatkan dari mana?!"
Laras memakainya. Melihat dirinya dalam pantulan cermin lalu melepaskan kembali topi itu. Laras mendengus karena tidak bisa mengingat dari mana ia mendapatkan topi hitam bertuliskan amor itu. Dia meletakkan topinya lalu berbalik untuk menuju meja belajarnya.
"Aku yang memberikannya!" suara parau itu berhembus memenuhi sisi ruangan.
Namun terpental dari sisi Laras. Seakan setiap keanehan dan keajaiban telah sirna dari hidup Laras. Laras yang kini hanya manusia biasa. Sosok yang terlempar dari lembah setelah mengunci satu lembah terlarang dari kemusnahan.
Laras membuka beberapa buku. Namun yang menyita perhatian Laras adalah sebuah album kenangan antara dirinya bersama kakek dan neneknya. Dia membuka halaman demi halaman foto yang menampilkan foto kebersamaannya dengan kakek dan neneknya. Juga beberapa foto lain dari masing-masing orang dalam foto bersama. Ada foto penyerahan bingkisan dari pengurus lingkungan, ada foto kegiatan gotong royong kakek dan neneknya bersama warga sekitar, dan ada pula foto ketika mereka bertiga piknik untuk terakhir kalinya. Laras mengusap bagian album foto itu. Hendak menutupnya, Laras penasaran dengan ujung foto yang terlepas di sisi belakang album itu.
Laras menarik foto itu. Ada foto dirinya yang tengah dibonceng sepeda oleh seorang pemuda yang menggunakan topi hitam yang kini tengah menggantung pada pegangan almari pakaiannya. Wajah pemuda itu tertutup oleh topi, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas dalam foto. Foto lainnya menunjukan foto dirinya bersama kakek dan neneknya tapi juga berdiri satu sosok lain disamping Laras. Itu adalah foto piknik terakhir dirinya. Dalam foto berempat itu, foto wajah si pemuda juga tertutup oleh topi yang digunakannya sehingga sulit untuk di kenali.
"Siapa?!" Laras bergumam. Lalu membalikkan setengah bagian badannya untuk bisa menoleh ke arah belakangnya. Melihat lagi pada topi berwarna hitam yang tergantung pada handle almarinya. Di lihat lagi topi si pemuda. Topi yang sama.
Laras bangkit dari duduknya mengenakan topi itu dengan cara yang sama seperti cara si pemuda memakai topinya lalu melihat bayangan dirinya sendiri pada cermin.
"Apa yang sudah aku lupakan sebenarnya?!"
Memandang kembali bayangan pada cermin, tatapan mata Laras menerawang. Sementara bayangan lain yang muncul pada cermin menunjukan gurat mata yang penuh dengan perhatian terhadap sosok dibalik cermin itu. Sebuah bayangan yang memperlihatkan bagaimana bayangan Laras di kawal oleh bayangan hitam sosok lain Eren sebagai Sang penjaga tertinggi.
Bayangan itu kembali memudar ketika angin berhembus pelan dari celah jendela kamar gadis itu. Laras dengan segera menutup bagian jendela kamarnya rapat-rapat. Namun dalam pandangan yang Laras lemparkan keluar, Laras memandangi rumah tertua dengan arsitektur belanda kuno di ujung perumahan ini.
Rumah tua itu menjadi pusat dari areal perumahan ini. Selain tempatnya yang berada dibagian paling tengah, rumah itu juga dibangun pada bagian tanah paling tinggi di perumahan ini. Seakan menunjukan bahwa rumah itu memang menjadi trend center bagi areal perumahan disekitarnya. Arsitektur Belanda kuno melekat erat pada setiap sisi bangunan. Dengan balkon luas yang menghadap ke bagian timur laut. Atau lebih tepatnya mengarah tepat ke sisi bangunan dimana rumah Laras berdiri.
"Hahaha... Mana mungkin seperti itu!!" ujar Laras mengenyahkan pikirannya tentang bangunan yang sedari dulu memang sering ia perhatikan. Bangunan yang sejak awal Laras kira tanpa penghuni, tapi dulu Laras sering mendapatkan orderan segulung koran dan dua kotak susu pada pagi harinya.
"Tapi siapa penghuni bangunan tua itu?!"
Laras menatap kembali ke arah bangunan. Mendapati sosok manusia berbulu emas hinggap pada balkon tersebut. Laras mengusap-usap matanya untuk meyakinkan kembali pandangannya. Namun begitu sekali lagi Laras melihat, pada balkon itu berdiri seorang dengan rambutnya yang panjang mencapai bahu. Dari perawakan yang ditampilkannya, sosok itu adalah seorang pria dengan setelan jas abu-abu pekat dengan kaos putih polos di balik setelan jasnya. Laras tertegun, ketika sosok itu melambai.
__ADS_1
Lambaian itu diarahkan memang untuk Laras. Laras yang nampak kebingungan dari kejauhan dibalik jendela kamarnya.
"Apa kau suka menggoda Laras seperti itu?!"
"Dia melihatku turun dengan sayap. Ekspresinya lucu." jawab sosok pria yang tidak lain adalah Aksara.
Sang penjemput yang datang untuk mengunjungi Eren, sang penjaga lembah yang baru saja sembuh dari luka terparahnya.
"Bagaimana luka mu?"
"Kau terlihat tidak terlalu sibuk, sehingga bisa mengurusi mahkluk lain seperti ku?!"
"Sepertinya aku berkunjung pada waktu yang salah." jawabnya. "Sensitivitas mu meningkat semenjak kau menyelami kegelapan."
Aksara memasukan satu tangannya pada saku celana sambil tetap menatap lekat ke arah dimana Laras masih berusaha mengintip dari balik jendela kamarnya. Laras memang menutup gorden jendela kamarnya, tapi dari kejauhan yang sama, Aksara maupun Eren bisa mengetahui, mata gadis itu masih menyembur menatap kearah mereka yang berdiri pada balkon rumah tua tempat tinggal Eren.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi waktu itu?!"
Mengingat kembali apa yang dilihatnya pada kekelaman sosok bayang hitam bermata kelam itu, Eren mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Lembah tanpa nama itu, apa kau menemukannya?"
"Apa?!"
"Semacam kehilangan benda atau sesuatu yang tidak ada pada tempatnya?!"
"Menurutmu apa itu?!"
"Jika dilihat dari tulisan batu yang di coret olehnya menggunakan serpihan batu lainnya, hal itu pastinya segel lembah."
"Atau catatan intisari lembah tanpa nama itu."
"Yang terakhir dalam urutan lembah adalah lembah abu-abu, tapi dua lembah lain dibalik pintu batu lembah abu-abu adalah misteri."
"Kenapa ada lembah abu-abu?"
"Dan kenapa harus dua pintu lembah?"
__ADS_1
Kedua pria termenung dengan saling menatap ke arah yang sama. Jendela kamar Laras yang terbuka.
"Gadis itu tidak berubah meski kehilangan semua kemampuannya!" Aksara tertawa kecil.
"Karena itulah, aku tertarik padanya."
Aksara sejenak diam.
"Ketertarikan mu adalah takdirnya untuk hidup sebagai manusia."
Eren menoleh pada Aksara. Aksara baru saja mengeluarkan sebuah buku tua bersampul hitam yang dikenali Eren sebagai buku tua bersampul hitam milik Laras.
"Bagaimana mungkin?!"
"Buku ini bukan hanya buku kematian, tapi juga buku takdir milik gadis itu."
"Bukankah harusnya buku ini sudah tidak berguna setelah tugasnya sebagai mahkluk terlarang selesai?!"
"Hanya catatan yang tertulis pada buku ini saja yang bisa menjawabnya." jawab Aksara penuh misteri. "Selain itu, Laras yang satunya juga tercatat pada buku ini sebagai Laras."
Kedua pria kembali bertukar pandang. Aksara hanya melempar senyum acuh tak acuh pada Eren. Sementara Eren segera mengambil buku tua bersampul hitam itu untuk membuka halaman buku yang menuliskan tentang dua Laras pada satu kehidupan yang sama.
"Bagaimana mungkin?!"
"Itulah misteri yang harus kita pecahkan!" jawab Aksara. Tidak biasanya Aksara menguasai permainan takdir yang mengikat Laras. Sedangkan Eren seakan terlempar dari tugasnya untuk menjadi penjaga sosok Laras.
"Apa aku menjadi paralel di kehidupan dua Laras ini?!"
"Begitulah?!"
Eren tersenyum puas. Menutup buku tua bersampul hitam itu, lalu menatap yakin pada gadis yang kini jelas-jelas mengintip mereke dengan menggunakan teropong.
"Konyol!" gumam Eren.
"Dia memang selalu konyol!" timpal Aksara sembari menerawang melihat tindakan Laras yang terang-terangan mereka ketahui.
Eren menundukkan kepala sejenak lalu tersenyum simpul sembari mengepalkan kedua tangannya yang berpangku pada sisi balkon.
__ADS_1
...***...