
Laras terbangun diminggu pagi dengan perasaan yang cukup berat. Perasaan sedih yang dirasakannya dihari kemarin masih sangat membekas bagi Laras. Terlebih setelah hari kemarin, Aksara maupun sosok lain Eren tidak muncul lagi disekolah sampai pelajaran sekolah usai.
Laras masih mampu mengingat pembicaraan yang terjadi antara dirinya dengan sosok lain Eren sesaat sebelum Aksara datang dan menarik tubuhnya menjauhi sosok lain Eren. Hanya kejadian setelah itu benar-benar tidak mampu Laras ingat dengan pasti. Dia hanya merasa mendengar suara gemerincing bunga lonceng lily lembah yang sangat kacau dan suara gemuruh yang mengglegar mengiringi.
“ Apa yang sudah terjadi sebenarnya? ” Laras mengusap belakang lehernya. Dia masih terduduk diatas ranjang tidurnya. Dengan kaos putih oblong dan training biru seragam olahraga sekolahnya. Dia mengacak-acak rambutnya sebelum akhirnya beranjak dari kasur untuk membuka jendela kamarnya yang menghadap kearah seberang jurang tempatnya tinggal. “ Masih terlalu pagi ya? ” ditutup kembali jendela itu.
Segera Laras mengambil hoodie hitam dan mengenakannya. Menggunakan kaos kaki yang cukup tebal dan keluar dari kamarnya setelah mengenakan topi hitamnya. Dari lorong kamarnya, dia berjalan pelan-pelan supaya tidak mengganggu tidur sang nenek yang menemani kakeknya dikamar sebelahnya. Segera ia menuju penghangat yang ada diruang tamu dan mengambil satu karton susu yang siap dia antarkan kepada para pelanggannya. Sebelum mengangkat karton susu itu, Laras melirik lagi jam dinding ditembok yang membatasi kamarnya dengan kamar sang nenek.
04.35 pagi.
Kayuhan sepeda itu cukup ringan untuk Laras. Dia tidak perlu terlalu mengejar waktu untuk mengantarkan susu dan beberapa buah Koran berhubung ini hari minggu. Hanya ada sekitar sepuluh pelanggan dengan pesanan Koran dihari minggu. Untungnya loper Koran langganan Laras selalu mengantarkan korannya pada Laras dijam 4 pagi. Meletakkan jumlah pesanan koran sesuai dengan harinya disudut pagar rumah Laras. Jadi pagi inipun sama sempurnanya seperti pagi-paginya yang biasa saat harus bekerja mengantar susu dan beberapa Koran pada para
langganannya.
Pertama dia harus menyeberang jembatan kecil dekat lingkungan rumahnya untuk mengantar 10 karton susu dan 3 gulung Koran di tujuh rumah pelanggannya. Setelah itu kembali menyeberangi jembatan yang sama dan melewati rumahnya kembali untuk melanjutkan pekerjaannya mengantar susu dan Koran pada pelanggan lainnya.
Sepanjang kayuhan sepedanya ia bersenandung. Entah kenapa dari begitu banyaknya lagu, lagu anak-anak berjudul Pemandangan ciptaan Alm. Bpk. AT Mahmud selalu jadi pilihan lagu untuk ia senandungkan setiap pagi. Lagu yang baginya terdengar sangat ceria dan menyenangkan. Lagu yang selalu membuatnya merasa baik-baik saja ditengah semua pengalaman hidupnya yang harus berurusan dengan beberapa hal-hal diluar nalar manusia.
“ Apa gue memang manusia yang aneh? ” keluhnya meletakkan 2 kotak susu dan segulung Koran diteras sebuah rumah yang dominan berwarna putih. Dengan gaya bangunan kuno ala-ala belanda, rumah itu terlihat cukup tua untuk remaja seusia Laras.
Diperhatikan rumah itu seharusnya cukup menyeramkan bagi siapapun. Tidak begitu untuk Laras. Dia hanya merasa rumah itu terlalu sepi. Saking sepinya, suara kayuhan sepeda itupun terdengar dengan sangat jelas ketika sepeda dan pemiliknya menjauhi halaman rumah itu. Kembali Laras menoleh kebelakang sebelum akhirnya benar-benar bermaksud mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa untuk mengantarkan sisa Koran dan 4 kotak susu terakhirnya diminggu pagi ini.
“ Huwaaaaah!! Selesai! ” Laras merebahkan dirinya dihamparan padang rumput dibukit belakang sekolahnya. Menikmati suasana pagi yang begitu menyejukan, Laras melepaskan segala penatnya. “ Rasanya akan menyegarkan jika aku masih punya sekotak susu. ” Laras mengingat kembali antaran terakhirnya. Sebenarnya masih tersisa 1 kotak susu dari jumlah susu yang harus diantarkannya. Dan Laras bermaksud menyimpan itu untuk dirinya sendiri. Untuk ia minum sambil menikmati segarnya udara pagi dipadang rumput ini.
Dia menghela nafas ketika menengok jauh kearah belakangnya. Dia melihat seekor anak anjing yang mungkin sengaja dibuang tanpa makan dan minum diperbukitan ini. Kotak susu terakhir itupun ia berikan pada anak anjing itu secara percuma. Dan yang tersisa untuknya hanya perasaan lega karena tidak membiarkan anak anjing itu kelaparan ditengah minggu yang mulai menampakan kecerahan cahaya paginya.
__ADS_1
“ Minumlah! ” sekotak susu menyambut pandangan mata Laras saat dia memperhatikan anak anjing diseberang tempatnya berdiri. “ Berbagi itu jauh lebih baik bukan? ” si pemilik suara langsung duduk disebelah Laras yang masih terbaring dan cukup heran dengan kemunculan si pemilik suara.
“ Eren… ” Laras mengedipkan matanya berkali-kali. Meyakinkan diri kalau sosok yang kini duduk disampingnya memang benar Eren. Sosok yang seminggu ini menghilang dari sekolah. Sosok yang ia cari-cari keberadaannya. Sosok yang membuatnya inginmenanyakan begitu banyak hal dihidupnya.
“ Ambilah! ” tangan itu masih menawarkan sekotak susu yang sempat ia antarkan beberapa saat lalu. “ Terimakasih sudah mengantarkanya cukup pagi hari ini. ” ucapnya lagi.
“ Maksud loe? ” Laras terperanjat dari posisinya tapi tangannya tetap reflek mengambil sekotak susu yang disodorkan Eren padanya.
Membuka kotak susu itu, Eren menegaknya dan memilih tidak menjawab pertanyaan yangLaras ajukan padanya. “Tempat yang bagus… ” Gumamnya. “ Gue sering kesini…Gueselalu berada disini sepanjang waktu. ”
“ Ya?? ” Laras jadi semakin bingung dengan keadaan tak terduga yang dialaminya. Lebih lagi soal kemunculan Eren ditempat dimana ia biasa menyendiri. “ Jadi… selama seminggu ini, loe disini? ”
Eren menggeleng.
“ Bukan urusan loe. ” jawabnya santai. “ Mau jalan-jalan? Aku akan memboncengmu dengan sepada itu. ” Eren menunjuk sepeda yang biasa Laras gunakan untuk mengantar susu, Koran dan juga sepeda yang mengantarkan sosok sang gadis kesekolah.
“ Kemana? ”
Tidak langsung menjawab, Eren tersenyum dan menarik tangan Laras dengan santai. Membawanya untuk berboncengan dengan sepeda miliknya sendiri. Sepeda dengan model tua berwarna abu-abu dengan gandengan bagian belakang dan didepannya terdapat gandengan lain tempat Laras meletakkan keranjang susu dan gulungan Koran antarannya. Untuk dudukannya sendiri berwarna coklat tua yang senada dengan warna keranjang depannya.
“ Pegangan. ” hanya dengan satu patah kata itu, Laras tanpa ragu memegang bagian punggung Eren yang kini tengah membonceng dirinya dengan santai menuruni jalanan perbukitan yang masih sepi karena cuaca pagi itu. Menikmati angin berhembus dengan kencang dibalik punggung Eren, Laras berteriak girang.
“ Senang rasanya dibonceng orang! ” ujarnya tertawa dengan sangat lepas. Tanpa sadar, topi itu terlepas dan diterbangkan angin menuju arah jurang diseberang padang rumput. “Topi! Topi gue terbang!! ” Laras panik mencoba meraih arah terbang topi itu.
Seketika itu juga Eren menghentikan laju sepedanya dan berusaha mengejar topi hitam itu bersama pemiliknya. Sampai diujung pengejarannya, Eren menghentikan langkah itu ketika melihat topi hitam itu sudah tidak mampu lagi ia gapai dengan tangannya. Nafasnya terengah-engah saat dia menyadari Laras benar-benar tidak memperhatikan pijakan kakinya saat berhenti.
__ADS_1
“ Bodoh! ” Eren bergegas menarik tangan Laras dan membawanya jatuh kedalam pelukannya seperti dihari pertama dirinya menganggu Laras dengan buku tua bersampul hitamnya.
Tubuh Laras lagi-lagi menindih Eren yang nampak begitu nyamannya dengan hal yang terjadi tiba-tiba itu. Dirinya bahkan sengaja merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Laras bangkit sendiri dari atas tubuhnya secara reflek.
“ Maaf! Maaf! ” Laras panik dan sedikit sempoyongan karena kaget.
Sebelum Laras terjatuh untuk kedua kalinya, Eren menarik Laras dan membuat gadis itu terduduk dengan ekspresi bodohnya dihadapan Eren. Nafasnya yang tersengal masih terdengar dengan sangat jelas. Dia melihat Laras dengan cukup jengkel. Tidak bisa dijelaskan kejengkelan itu karena hal apa. Tapi segera Eren mengenyahkan semua hal buruk itu dari pikirannya.
“ Untuk hari ini saja…aku ingin tetap seperti ini bersamanya. ” bhatin Eren.
“ Huumff… Dasar bodoh! ” gumam Eren mengacak-acak rambut Laras yang masih bengong dihadapannya. “ Apa loe selalu punya banyak mimic aneh untuk ditunjukan? Hahahahahah… ” tawanya benar-benar alami.
Laras menggeleng. Sekilas dalam kediamannya, Laras mengira dirinya mungkin akan matipagi ini. Melihat bagaimana sosok lain Eren terlintas menutupi seluruh tubuh Eren dengan kegelapannya. Sisi jubah merah maroon itu nampak begitu lekat namun menggantung dengan pasti. Terlebih tatapan mata dibalik topeng tengkorak manusia itu. Cahayanya begitu terasa menusuk. Seperti siap membawa Laras kesisi tergelap dari dunia ini.
“ Apa loe selalu tertawa segembira itu? ” Laras balik tersenyum.
Menyejukan dan menyenangkan bagi Laras melihat senyum dan tawa itu. Rasanya benar-benar hangat. Perasaan aneh memenuhi ruang hati dan pikiran Laras sepanjang hari itu bersama Eren. Usai mengikhlaskan topi kesayangannya diterbangkan angin menuju jurang diseberang padang rumput, Laras dan Eren melanjutkan perjalanan mereka menyusuri sepanjang jalan dari bukit belakang sekolah menuju kearah kota yang berjarak 15 menit jika ditempuh dengan bersepeda. Sampai ditengah-tengah kota, Eren mengajak Laras menikmati jajanan local khas kota itu. Lalu berkeliling melihat berbagai macam toko yang menjual banyak jenis perhiasan dari manic-manik, tembaga, kuningan, perak dan emas.
Disatu toko diujung jalan, saat Laras terkesima melihat berbagai macam jenis pahatan dan segala aksesoris yang terbuat dari berbagai macam kayu olahan, Eren menyelipkan satu buah topi berwarna abu-abu pekat diatas kepala Laras. Dibagian depan topi bertuliskan “Amor” berwarna gold.
“ Ganti rugi! ” Eren tersenyum santai kemudian melanjutkan langkahnya mendahului Laras yang masih tidak percaya dengan hadiah yang didapatnya. Untuk pertama kalinya Laras mendapatkan hadiah yang benar-benar ia butuhkan. Setidaknya topi yang sekarang dipakainya memang sangat ia butuhkan. Mengingat topi kesayangannya baru saja hilang diterbangkan angin.
“ Tungguuu!! ” Laras berlari mengejar Eren yang tiba-tiba melajukan sepedanya tanpa membonceng Laras dibagian belakang. “ Eren! Tunggu gue! ” dengan kecepatan yang cukup tidak terduga, Laras berhasil mengejar Eren yang tertawa riang dengan kayuhan sepedanya. Dengan nafas yang terengah-engah Laras mencegat Eren yang menatap dirinya dengan cukup santai.
“ Ayo pulang. ” ajak Eren setelah melihat matahari sudah mulai cukup tinggi. “ Huuuuufh! Kenapa bisa sampai lupa waktu begini! ” gumamnya setelah Laras duduk dibagian belakang boncengan.
__ADS_1
“ Terimakasih hari ini. ” ujar Laras girang sembari menikmati genjotan sepeda Eren yang membawa mereka kembali kebukit belakang sekolah.
***