
Eren dan Laras terombang-ambing dalam pusaran air bernuansa kehijauan yang entah dimana. Terus membawa kedua tubuh yang tidak sadarkan diri itu jatuh ke dasar perairan yang paling dalam. Cahaya yang menyentuh permukaan perairan sampai ke bagian dasar dimana kedua tubuh itu tengah terombang-ambing pada dasarnya.
Dasar perairan yang menampilkan pemandangan yang tidak manusiawi pada setiap sudutnya. Banyak tubuh manusia yang terlilit oleh tanaman yang menyerupai ganggang laut, ada pula tubuh manusia yang terikat rantai yang nampak mengkarat, atau pun tali tambang berlumut yang seakan melayang dengan tidak sadarkan diri. Tubuh-tubuh itu ikut terombang-ambing mengikuti riak air yang sangat tenang.
Setiap pandangan mata dari tubuh-tubuh itu menyisakan kekosongan. Bahkan beberapa diantaranya tidak memiliki bola mata sama sekali. Hanya terdapat rongga mata yang terlihat begitu memilukan. Seperti bagian jiwanya telah ditarik paksa untuk keluar dari tubuh-tubuh itu.
Tubuh lainnya menampakan keputusasaan yang berakhir pada kepasrahan. Tatapan mata sayu dengan ekspresi yang lesu. Tubuh lain lagi nampak tidak mempercayai pengelihatannya. Semua ekspresi nampak tidak begitu mengenakan untuk terus dipandang. Seperti ladang pembantaian secara tidak manusiawi, semua hal yang ada diperairan itu menyisakan kesunyian dengan dengungan lambat laun dari riak air yang terhempaskan angin dipermukaan perairan.
Kedua tubuh tadi terjatuh mencapai dasarnya. Dasar yang benar-benar. Dasar dari perairan bernuansa kehijauan yang kini benar-benar nampak tenang setelah dua tubuh asing mencapai dasarnya.
Sementara di balik pintu batu lembah kelam bernama lembah abu-abu, Aksara dan Zara melakukan hal yang bisa mereka usahakan untuk membuka kembali pintu lembah tersebut. Terlebih ketika mereka menyadari ada hawa tubuh manusia yang baru saja terpental di balik pintu batu tersebut.
"Kita tidak akan berhasil!"
"Tidak kalau kita terus membuang-buang waktu!"
Zara mengabaikan sikap yang ditunjukan Aksara padanya. Pemuda itu memilih terbang menjauhi pintu dengan kecepatan tinggi. Dan dengan kecepatan yang sama pula, Aksara melesat secepat serangan Zara yang menyatu dengan angin. Menggedor pintu batu itu dengan kecepatan yang tidak diperhitungkan sama sekali. Satu kali tindakan Aksara itu membuat seisi lembah berguncang. Menumbangkan beberapa pohon dan membuka jalan air masuk kembali ke sisi lembah tersebut.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!" teriak Zara yang heran dengan kelakuan Aksara yang tidak terduga.
Aksara mengusap pipinya yang kotor setelah berbenturan dengan kerasnya pintu batu yang dihadapinya.
"Hanya menggunakan kemampuan tanpa otak!" jawab Aksara terkekeh.
"Dasar!" keluh Zara yang kembali melihat tingkah santai Aksara setelah bertindak begitu spontan.
"Tunggu saja!" jawab Aksara.
Dia memandang ke arah pintu batu dan memperhatikan satu dua kepulan asap yang menyerupai asap dupa keluar dari sela-sela pintu.
"Apa yang kau pikirkan!"
__ADS_1
Zara menarik kembali serangan yang ingin ia lancarkan pada celah pintu yang diperuntukan untuk membuka pintu lembah. Tapi pintu lembah yang ia ingin buka adalah pintu batu terlarang. Pintu batu yang telah disegel dan telah kehilangan jiwa dari penjaganya. Pintu yang akhirnya dikenal dengan nama Pintu Lembah Terkutuk.
"Kalau tidak salah ingat, disana lembah danau pelangi bukan!"
Aksara nelangsa. Dia memilih duduk terpaku pada dataran lembah dengan menghadap ke arah pintu batu. Satu kakinya terlentang, dan satu lagi ia tekuk untuk sandaran dagunya. Matanya menatap dengan tidak biasa.
"Lantas?" Zara menatap Aksara dengan heran.
"Kau pernah menjadi penjaganya bukan?" Aksara terus memandangi pintu batu tersebut. "Dibaliknya adalah lembah pelangi. Lembah yang kau jaga sebelum lembah itu menghilang dari penjagaanmu..." Aksara menjelaskan.
"Jadi maksudmu??" Zara menghampiri Aksara dengan semua kemungkinan yang telah dipikirkannya.
"Ya!" jawab Aksara. "Gunakan hak mu sebagai penjaga lembah itu untuk membuka pintu batunya?!"
Aksara merebahkan dirinya. Menghadap ke arah langit diatasnya yang nampak begitu suram. Awan yang bergerak dan langitnya nampak abu-abu. Di sekeliling merekapun perlahan warna putih, hitam, dan abu-abu mengambil alih.
"Buku itu, masih bersamamu bukan?!" tanya Aksara lagi.
Untuk sejenak Zara terdiam cukup lama. Mengeluarkan buku yang bercahaya dengan kuatnya begitu dekat dengan pintu batu dihadapannya. Zara memasukan lagi buku itu kedalam dimensi genggamannya. Menatap dengan rasa tidak percaya.
"Terpikirkan cara lain?"
Zara menggeleng pelan. "Atas dasar apa?"
"Ada sosok manusia yang tidak seharusnya berada di lembah kematian..." jawab Aksara. "Kau tahu sendiri betapa banyaknya masalah yang timbul pada sisi lembah kematian ketika manusia dengan tubuh dan jiwanya terombang-ambing pada perjalanan lembah..."
"Bukankah dengan mengambil alih lembah danau pelangi, sama saja dengan membuang mereka ke lembah itu lagi?!"
Zara termenung kembali.
"Bukankah dia pernah berkata, Laras dan dirinya sudah terpental pada lembah itu untuk kedua kalinya.. Jika untuk yang ketiga kalinya, takdir jiwa mereka akan hancur lebur!"
__ADS_1
"Lembah kesengsaraan adalah lembah tanpa tepi yang mengantarkan setiap jiwa paling terkutuk di semesta untuk menjalani hukuman mereka. Banyak jiwa yang hancur lebur begitu memasuki tepi lembah, dan tidak jarang ada tidak pernah kembali sama sekali." ujar Aksara.
"Mengambil alih lembah sama saja dengan memberikan kehancuran pada jiwa dan membuat sosok mereka menjadi abu yang menyatu dengan air, udara, ataupun angin..."
"Sebegitu tragisnya takdir yang mungkin harus mereka jalani..." jawab Aksara dengan tidak mengabaikan kecemasan Zara itu.
"Setelah semua yang kita lewati, bisakah aku mengambil keputusan yang membuat mereka berada diambang kebinasaan?!"
"Kamu hanya harus percaya pada mereka." Aksara menaikan tangannya. Seolah-olah tengah menggapai cahaya yang mulai meredup disekitaran lembah.
"Waktu kita tidaklah banyak."
Aksara menuding kearah pintu batu yang tiba-tiba menyita perhatiannya. Pintu batu pun tak luput dari menghilangnya semua warna pada lembah itu. Membuat celah pada pintu batu merapat perlahan demi perlahan. Menutup akses masuk dan membuatnya memudar dengan terlihat menyatu dengan sisi lembah dibelakangnya.
Melihat pemandangan yang mungkin akan menghancurkan sisi lembah, Zara melepas buku tua bersampul hitam dengan lambang tirai hitam tertutup dari dimensi genggamannya. Mendekatkan buku pada pintu batu dihadapannya. Membiarkan kekuatan dari dalam buku dan pintu batu bersinergi satu sama lainnya.
"Laras... Eren... Maaf!"
Seiring berakhirnya kalimat itu, penjagaan lembah beralih ke tangan Zara. Pintu batu yang sudah setengah membaur dengan tebing lembah dibelakangnya, kembali terbuka. Menyisakan semburat cahaya yang menyilaukan mata. Meredam semua warna pada lembah kelam bernama lembah abu-abu. Membuatnya menghilang dari pandangan Zara ataupun Aksara yang kini tertegun dengan pemandangan lain yang tersaji dihadapan mereka.
Hamparan sungai berwarna hitam pekat dengan letupan gelembung asap berwarna kehijauan memenuhi sebagian sisi lembah. Sebagian lagi hanya tersisa tanah tandus dengan warna tanah serupa warna kopi susu instan. Tidak ada celah kehidupan sama sekali pada lembah itu. Tak satupun jiwa yang bisa mereka temukan. Sangat berbeda dari tempat terakhir kali yang mereka lihat.
Dari kejauhan, sebuah perahu kayu tua berlayar mendekati arah mereka berdiri dengan bingung. Perahu kayu dengan layar usang yang diterangi oleh sebuah lentera berapi kebiruan. Cahaya api yang berkedip bagaikan cahaya kunang-kunang besar.
Perahu kayu tua berlabuh. Menabrak tepian daratan yang sedikit lebih tinggi. Disampingnya langsung tercipta sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu. Memperlihatkan pemandangan yang tidak biasa ketika Zara dan Aksara coba melangkahkan kakinya ke dalam dermaga kayu itu.
Dari atas permukaan air, nampak begitu banyak jiwa yang melayang-layang tanpa bisa melewati permukaan air danau yang keruh. Jiwa-jiwa yang menggeliat dan berteriak penuh kesakitan, tangisan pilu dan kebencian, kemarahan yang tidak ada habisnya. Semua itu teredam oleh gelombang permukaan air yang nampak begitu tenang, tapi memberi kengerian bagi jiwa-jiwa yang terjebak didalamnya.
Sekilas juga nampak beberapa tubuh manusia yang melayang dan seakan terikat sesuatu dari dasar danau. Tubuh manusia dengan tatapan mata kosong yang membuat riak air dibawah kaki keduanya terdengar begitu pilu. Letupan gelembung asap berwarna kehijauan dari air yang begitu keruhnya, menambah buruk kesan pertama Zara dan Aksara akan lembah yang kini mereka pijaki.
Sosok yang mereka harapkan bisa terdampar disekitaran lembah, tidak nampak sama sekali. Bahkan hanya sekedar bayangannya saja, tidak ada melintas sama sekali.
__ADS_1
Sementara didalam perahu kayu tua dihadapan mereka, seonggok tubuh meringkuk dan tertidur dalam lelap kelamnya lembah yang menjebaknya.
"Rein?!" ujar pertama Aksara.