
Laras baru akan berdiri dari duduknya begitu mendapati Mari menatapnya dengan tatapan kosong. Gadis itu mulai menghalangi setiap langkah yang dibuat Laras. Berjalan ke kanan atau ke kiri, sosok itu langsung berdiri dengan amarahnya dihadapan Laras.
"Jadi ini sosokmu yang sebenarnya?"
"Kau melupakanku.."
"Kau tidak penting untuk ku ingat!"
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriakan itu menghancurkan penghalang yang menyelubungi keduanya. Membawa baik Laras dan sosok Mari ke dalam sisi kegelapan yang selalu Laras rindukan.
Diruang hampa yang hanya menunjukan dua sisi dunia, Laras tertegun pada sosok bersayap di hadapannya. Sosok bersayap yang dengan lantangnya menghunuskan pedang kearahnya. Sosok Laras di masa lalu.
Itu adalah ingatan pertama Laras akan kutukan bunga larangan. Kutukan yang membuat dia terikat dengan sosok Sang Hakim tertinggi lembah kematian. Setelah kembalinya ingatan Laras terhadap desa kecil tempat dia terdampar bersama sosok yang kini menghujamkan serangan ke arahnya, Laras menyadari pertaliannya berlanjut tanpa memiliki ingatan dirinya pada kejadian yang membawa Laras pada pergolakan semesta. Dimana seorang penjaga lembah larangan memiliki kutukan tersendiri ketika jatuh cinta. Sementara efek cinta dari bubuk sari bunga larangan sangatlah kuat, sekalipun hal itu dipatahkan, namun ketika keduanya bertemu pada saat sosok sejatinya masing-masing, kutukan itu kembali dengan sendirinya.
Laras memandangi setiap serangan yang menghancurkan setiap jengkal bagian tubuhnya. Merobek dan membakar seluruh bagian tubuh Laras. Laras terperosok, tapi tatapan matanya tidak lepas sedikitpun dari hal-hal yang menyerangnya. Termasuk sosok bayangan di balik sayap Sang Hakim tertinggi.
"Aku menangkap mu..." ujar Laras tersenyum.
Dengan mengulurkan kedua tangannya ke arah depan seakan menyambut datangnya sosok Sang Hakim tertinggi dengan hunusan pedangnya, Laras menerima hunusan pedang itu untuk sementara dan lalu menarik tangan Sang Hakim tertinggi untuk membawanya ke dalam pelukannya. Pelukan yang menghancurkan sisi pedang yang menghunus ke area jantung Laras. Pedang itu berpendar dan menghilang sesuai dengan titah yang Sang Hakim tertinggi sempat keluarkan.
"Bahwa pedang tersebut tidak akan melukai Laras sedikitpun dari serangan Sang Hakim tertinggi hanya jika pernyataan Laras terkait bunga Larangan itu benar adanya."
Sang Hakim tertinggi terkejut dengan tindakan yang Laras lakukan. Terlebih lagi terkejut dengan kebenaran sosok perempuan yang kini mendekapnya. Namum tangan gadis itu melepaskan serangan kebelakang kepalanya. Menyesap kilatan kabut kehitaman yang berteriak meminta untuk di lepaskan.
"Kamu terlalu banyak berulah!!!" ujar Laras yang perlahan melepas pelukan itu dari sang Hakim tertinggi.
Laras tertunduk sejenak seakan mati tidak berdaya dengan semua luka yang berasal dari serangan Sang Hakim tertinggi.
"Apa yang terjadi?" Sosok Lain Aksara datang lalu menepuk pundak Sang Hakim tertinggi yang menyadari bagaimana Laras telah memperjuangkan kebenaran akan dirinya sendiri.
Lama ketiganya tertegun. Sang hakim tertinggi tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari sosok Laras yang masih terdiam dengan posisinya. Bersimpuh pasrah dengan kehilangan kesadaran dirinya.
Sementara dalam keadaan yang dia alami, Laras menyelami dunia kelamnya. Melihat lagi bagaimana semua sosok dalam lembah abu-abu yang menghilang satu demi satu.
"Tugasku sudah selesai!" ujar Laras pada para penghuni lembah tersebut. Lalu sebongkah batu kutukan berwarna hitam legam datang dengan membentuk cahaya sebelum akhirnya melingkar di pergelangan tangan milik Laras.
__ADS_1
Terbangun dengan gelang takdir di tangannya, Laras menatap sekitar dan mendapati dirinya tertidur di atas pangkuan Arashi yang tengah tengadah ke arah langit yang begitu cerahnya.
"Sudah sadar?" tanya Arashi begitu Laras berusaha bangun dari posisinya.
Laras hanya mengangguk sembari membenarkan posisi duduknya.
"Hal itu..."
"Hmm..." jawab Arashi. "Salahku yang kurang bijaksana."
"Kamu melihat dari sisimu, itu hal yang benar." jawab Laras.
"Aku memang selalu melihat dari perspektif ku akan semua kuasa alam yang telah terjadi."
"Kamu Sang Hakim tertinggi, tentu kamu memiliki pandanganmu sendiri akan hal itu."
"Aku menghukum mu dengan begitu brutal!"
"Aku gadis lembah Larangan. Aku tidak akan pernah melupakan itu!"
"Bunga Larangan?" tanya Laras sembari menyemburkan semburat senyum tipis. "Kutukan itu sudah terhapus dengan sendirinya." jawab Laras.
"Bukan!"
Dengan tenang Arashi merubah kembali wujudnya menjadi sosok sejatinya, Eren sang penguasa dan Hakim tertinggi Lembah Kematian. Dia menarik Laras ke dalam dekapannya lalu mencuri satu kecupan awal di bibir Laras. Melanjutkan dengan kecupan kedua, ketiga, sampai Laras tidak kuasa untuk menolak dan membiarkan ciuman itu berlanjut dengan semua debar yang ia rasakan di dalam hatinya. Hatinya yang perlahan menghitam lalu kegelapan menyelimuti semua kehidupan Laras.
"Aku mencintaimu...." ujar sosok Eren dengan penuh perasaan. Menahan setiap gerakan yang gadis itu lakukan untuk meloloskan diri dari dirinya. "Aku akan membuatmu keluar dari kutukan itu. Kutukan para penjaga lembah larangan."
Ditatapnya lekat mata Laras. Tatapan yang begitu lembut dan meneduhkan.
Laras terdiam sembari menghela nafas dengan pelan dan lembut, dia menatap balik sosok Eren dengan mata penuh pengertian. Dengan satu gerakan langan yang lembut, Laras menyentuh pipi Eren sembari tersenyum. Satu kecupan Laras berikan sebagai balasan dari ciuman yang dia dapatkan. Membuat sosok Eren sejenak diam tapi juga menikmati tindakan kecil itu.
"Kami lahir dengan kutukan semesta," ucap Laras. "Kami hanya akan lepas dari kutukan ketika kami telah lepas dari tugas kami."
"Karena itu... ikutlah bersamaku..." pinta Eren yang sekali lagi mengecup bibir Laras lagi, lagi, dan lagi. Sampai keduanya terlarut dalam suasana yang begitu menarik perasaan satu sama lain untuk tetap menikmati waktu yang ada.
__ADS_1
//
Pagi menjelang, Laras baru saja membuka matanya ketika sekali lagi hal yang sama terulang dalam hidupnya. Dimana Eren tengah tertidur dengan lelapnya menghadap ke arah dirinya. Ya! Laras dan Eren menghabiskan malam yang indah bersama dan berakhir dengan tertidur bersama di tempat tidur yang sama. Kamar Eren sebagai sosok Arashi.
Setelah menatap sosok Eren yang terlelap dengan begitu lama, sosok itu akhirnya membuka matanya, membalas tatapan Laras yang lembut lalu kembali menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Memeluk Laras dengan begitu lembut lalu menghadiahi Laras dengan ciuman yang hangat.
"Tetaplah di sisiku..." ucap Eren lalu menghujani lagi Laras dengan begitu banyak ciuman yang tidak kuasa Laras tahan untuk tidak membalas ciuman itu. Terlarut kembali untuk beberapa waktu, Laras akhirnya memilih mendorong tubuh Eren dengan kedua tangannya untuk memberikan jarak kepada dirinya dan Eren.
Nafas gadis itu sedikit memburu tetapi masih teratur dan tertata dengan baik iramanya. Dia menatap lagi sosok Eren lalu membelai pipi dari sosok pria dihadapannya itu. Dibalas dengan lembut oleh Eren, tangan itu digenggam erat lalu keduanya saling menatap dan membiarkan lagi waktu berlalu dengan begitu lama.
"Jadi hari ini tidak kuliah?!" tanya sosok Eren. "Ini masih dunia manusia!" dia tersenyum jahil ke arah Laras.
"Aku sepertinya malas..." jawab Laras lalu membenamkan wajah itu ke balik selimut. "Aku sepertinya akan meledak!"
Mendengar itu, wajah Eren bersemu merah. Lucu sekali bagi Eren melihat Laras yang biasanya acuh, kaku, dan terkadang aneh, bertingkah dengan begitu menggemaskannya.
Sekali lagi, Eren menarik tubuh gadis itu. Membuat mau tidak mau untuk gadis itu harus menatap sosoknya yang kini tersenyum dengan kemenangan atas sikap malu-malu Laras.
"Atau kamu masih mau melewati hari ini seperti malam kemarin?!" Dia mendekap lagi tubuh sang gadis. Membuat Laras semakin singkuh lalu membenamkan wajah itu ke dalam pelukan Eren.
"Ada hal yang harus aku lakukan..." jawab Laras. Seketika gadis itu menghilang dari hadapannya. Membuat Eren langsung bernafas pasrah dengan tengadah menghadap langit-langit kamarnya.
"Kamu pergi kemana lagi?!" tanyanya.
"Kerumahnya!" jawab Aksara malas yang langsung mendapat tatapan aneh dari sosok Eren.
"Aku baru berani datang yah!" ujar Aksara. Dia ingat betul bagaimana ia harus bolak-balik dunia lembah Kematian hanya untuk memastikan tidak akan ada lagi pergolakan semesta akibat dari tindakan sahabatnya itu.
"Ada hal yang terjadi?"
"Belum!" jawab Aksara santai.
Setidaknya, sampai jawaban itu di terima oleh Eren. Dunia lembah Kematian memang aman dan tidak mengalami pergolakan apapun. Tapi satu sudut ruang di sebuah lembah kehidupan mulai menunjukan satu pertanda.
"Jangan dimulai lagi...."
__ADS_1
...***...