
Disamping Rein yang tidak sadarkan diri, Laras harap-harap cemas akan diagnosa yang diberikan Dokter Randy, tetangganya. Yang kebetulan juga tengah berada di jalur belakang taksi yang ditumpangi Laras.
Laras bersama dokter Randy dan supir taksi yang ditumpanginya, membantu mengangkat tubuh Rein dan pemuda disebelah Rein kedalam mobil milik dokter Randy.
Membawa keduanya ke arah rumah karena lebih dekat dan dokter Randy bisa lebih cepat memberikan pertolongan karena rumahnya bersebelahan dengan kedua gadis yang kini sama-sama berada dalam mobilnya, meski kondisi keduanya berbeda jauh.
"Laras. Tolong bersihkan sedikit bagian luka pada dahi Rein dengan alkohol yang berada dalam kotak di sampingmu." ujar dokter Randy yang mengemudi dengan ketenangan yang biasa ditunjukannya dalam keadaan dan kondisi seburuk apapun.
"Ba, baik! dengan cekatan Laras mengambil kapas dan menumpahkan sedikit isi alkohol pembersih luka itu lada permukaan kapas.
Di usap-usapnya pelan kapas setengah basah itu ke dahi Rein, sahabatnya. Setiap kali Laras mengusapkan kapas dengan alkohol itu, Rein dalam keadaan tidak sadarkan diri terlihat seperti merintih kesakitan. Sementara pemuda yang disandarkan pada kursi depan disamping dokter Randy, masih tidak sadarkan diri.
"Kamu tahu apa yang terjadi sebenarnya?" tanya dokter Randy dalam perjalanan menuju arah rumah mereka.
Laras menggeleng pelan. Dia memperhatikan luka dan wajah pucat yang pertama kali Laras melihatnya dari Rein.
"Tadi pagi kami masih berangkat kuliah bersama dan saat jam pulang, saya tidak menemukan Rein di manapun." jawab Laras lalu terdiam mengingat kejadian diakhir jam perkuliahannya yang begitu mencekam dan menyeramkan untuk diingatnya.
Laras menggelengkan pelan kepalanya untuk mengusir ingatan yang menutupi sebagian besar pandangan Laras akan hal yang harusnya dia ingat disaat itu.
"Rein sepertinya shock akan sesuatu." ujar dokter Randy setelah memeriksa keadaan Rein untuk pertama kalinya. "Dia berkeringat dingin dan sesekali mengigau tadi di mobil." tambahnya lagi.
"Aku akan memberikan obat yang ada di rumahku untuk Rein minum. Juga obat untuk pemuda ini." ujarnya kembali setelah memeriksa keadaan pemuda yang dari awal meninggalkan kesan mendalam dibenak Laras.
Namun setiap kali seperti teringat akan sesuatu, mata Laras seperti tertutupi oleh kabut asap yang membuyarkan semua konsentrasinya.
"Kamu tidak apa-apa menjaga mereka sendirian?"
"Tidak dok." jawab Laras. "Aku hanya perlu memindahkan Rein ke kamarnya dan membiarkan pemuda ini beristirahat disini."
"Jadi kamu tidak mengenalinya?" dokter Randy menutup peralatan dokter yang dibawanya dalam bagasi mobil.
Laras menggeleng pelan tapi terlihat meragukan. Dia mengingat tidak pernah melihat pemuda itu, namun hatinya merasakan hal yang sangat dekat dengan sosoknya yang terus menyita pandangan Laras.
"Biarkan dulu dia istirahat disini. Sepertinya dia pemuda yang baik." ujar dokter Randy bersiap untuk pamit ke rumahnya di sebelah.
__ADS_1
"Baik dokter!" jawab Laras ramah mengikuti dokter itu sampai depan pintu. "Bagaimana dengan obatnya dokter?"
Sang dokter berbalik cepat sembari memukul bagian keningnya. "Oh, iya! Mari ambil ke rumah." jawabnya terkekeh kecil.
Laras mengikuti langkah dokter Randy yang berjalan didepannya. Setiap langkah Laras menghitungnya. Sampai ia melewati Lampu jalan yang berada antara rumahnya dan rumah dokter itu, Laras menghentikan langkahnya. Melihat bayangannya sendiri di trotoar jalan itu.
Masih ingat Laras bagaimana gelapnya bayangan yang menampakan diri dihadapan Laras. Sebuah bayangan yang terbangun dari bayangan dirinya sendiri didalam.
Laras menggeleng pelan.
"Ini Obatnya. Berikan sesuai tulisan ini yah!" ujar dokter Randy saat melihat Laras melangkah dengan terpaku dan pikiran yang sedang tidak berada pada tubuhnya.
"Terima kasih, dok!'
"Tidak perlu sungkan." jawabnya.
Laras kembali pulang dan mendapati sosok pemuda didalam ruang tamunya sudah sadarkan diri dan duduk termenung sembari mengatur dan memikirkan sesuatu hal.
"Kamu sudah sadar?" Laras mendekati pelan sosok pemuda yang duduk di sofa panjang ruang tamunya itu. Selangkah demi selangkah, Laras merasakan dekat yang teramat sangat.
"Apa kamu baik-baik saja?!" tanya Laras lagi begitu berjarak satu langkah dari si pemuda.
"Apa urusannya aku baik-baik saja atau tidak?!" kalimat yang diucapkan begitu akrab dan tidak canggung terhadap Laras yang masih termenung dengan detak jantung yang tidak terkendali ketika beradu tatap dengan si pemuda.
Pemuda itu menaikan kakinya dan duduk bersila tanpa peduli dengan respon yang Laras tunjukan. Obat itu masih Laras pegang erat untuk dia berikan pada Rein, tapi Laras sejenak seperti melupakan hal penting yang harus dia lakukan.
Sementara itu dibalik dinding ujung tangga lantai dua, Rein yang tersadar dari pingsannya sudah terduduk disudut tangga sembari melihat keakraban sahabatnya itu dengan pemuda yang seharusnya menjadi orang asing bagi Laras. Pemuda yang disukai oleh Rein sejak tatapan pertama mereka.
Rein memilih bersembunyi dibalik pembatas tangga dan mencuri dengar percakapan lainnya antara Laras dan pemuda itu. Sebuah percakapan yang membuat Rein merasakan sakit pada bagian dadanya.
"Kau tau, berapa lama aku menunggumu?" tatapan pemuda tajam kepada Laras. Tatapan tajam yang bukan menusuk, tapi tatapan tajam yang memberi Laras begitu banyak rasa rindu kepada sosok pemuda didepannya itu.
"Aku ingin kesana....Ingin menemuinya..." gumam Laras dengan air mata berlinang dan jatuh di sisi bawahnya.
Tetesan air mata itu jatuh. Menimbulkan suara riak air yang terdengar sangat jelas di sebuah tempat gelap yang tidak berujung.
__ADS_1
Bayangan sepintas itu muncul, hanya menyisakan suara dan pandangan mata disebuah tempat yang sangat gelap.
"Siapa?" gumam Laras. Pikirannya langsung berputar cepat dan Laras menjatuhkan obat yang dibawanya.
Tangannya gemetar dan tubuhnya langsung terperosok cepat secepat tangan si pemuda menahan tubuh Laras terjatuh kelantai.
"Ada apa?" si pemuda nampak khawatir. Dia melihat sosok Laras baik-baik dan merasakan janggal yang tidak mampu ia mengerti.
Laras menggeleng pelan. Dia balas menggenggam tangan si pemuda yang sedari tadi menahan tubuhnya itu agar tidak jatuh.
Si pemuda membantunya berdiri, membantu Laras duduk di sofa disamping pemuda itu, dan memungut obat yang jatuh dari dekapan Laras.
"Apa kau baik-baik saja?" giliran pemuda itu bertanya pada Laras.
Laras memperhatikan. Ada rindu tidak tertahankan, namun ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Itu adalah bayangan lain yang tampak di belakang pundak si pemuda.
Sesosok bayangan dengan pancaran mata berwarna merah menyala dibalik tudung kerucut ke bagian atas yang menutupi sebagian besar wajahnya. Jubah itu berwarna abu-abu dengan beberapa bola api sebesar bola tenis menyala yang membentuk perisai dibelakang mahkluk yang nampak familiar untuk Laras.
"Apa itu benar kau?!" tanya Laras menerawang dengan bayangan sosok mahkluk itu terpancar jelas pada bola mata Laras.
Si pemuda menatap bayangan itu pada bola mata Laras.
"Ya! Itu aku!" jawab si pemuda.
Rein terhenyak kecewa.
Setelah sore menjelang malam yang panjang, Rein belum juga mampu memejamkan matanya. Masih sangat jelas apa yang dilihat dan didengar Rein antara Laras dan pemuda yang disukainya sejak pertama kali mereka saling menatap.
Air mata menetes dari pipinya. Rein mengusapnya sembarang dan menyisakan rasa sakit bukan hanya pada bagian matanya, tetapi juga pada bagian dadanya. Dia mulai terisak dan membenamkan wajahnya pada bantal didepannya.
"Sakit!" isak Rein.
Perban kepala itu terbuka dan memperlihatkan bayang dirinya didalam cermin dengan cahaya yang tamaram. Melihat bayangan dirinya dalam cermin diseberang tempat tidurnya, Rein terdiam sejenak.
Air mata yang menetes itu diusap perlahan. Rein terus menatap bayangan dirinya sembari bangkit dari kasurnya. Memposisikan dirinya terduduk diatas kasur dengan memeluk bantal guling yang sedari tadi dia peluk.
__ADS_1
Matanya yang tadinya sedih mulai menampakan wajah yang dingin dan kaku. Rein bangun dari duduknya dan mengusap luka itu didepan cermin. Jantungnya berdebar kencang. Rein mematikan lampu kamar, kemudian pergi untuk tidur.
...***...