
Buku tua bersampul hitam itu terbuka dan melayang-layang dihadapan Eren dan Aksara. Menampilkan pemandangan yang berhadapan dengan sosok Laras yang juga menatap lekat pada buku tua bersampul hitam kemerahan yang ada dihadapannya.
Pada dimensi yang berbeda satu sama lainnya, baik Eren dan Aksara hanya bisa saling bertukar pandang saat melihat bayang sosok Laras menghempas kasar pada lembah yang tidak mereka kenali. Terlebih hempasan berupa kilatan petir hitam kemerahan itu langsung menyambar keduanya dari balik halaman buku tua bersampul hitam yang terbuka dihadapan keduanya.
"Cih! Apa dia menyegel pandangan kita?!" ujar Eren penuh emosi.
"Aku memang selalu menyukai tindakannya itu!" Aksara tersenyum bangga. Seakan apa yang telah Laras lakukan merupakan didikannya sendiri.
"Apa maksud omongan mu itu?!"
"Bukan apa-apa!" jawab Aksara menggidikan bahunya.
"Pekerjaan kita banyak sekali!"
"Ngajakin?!" Aksara melirik tidak tidak terima. "Itu kan ulah mu sendiri!"
Eren langsung menatap jengkel.
"Harusnya tidak ku hapus kutuk dan segel ingatanmu itu!"
"Masih berani bicara seperti itu?!"
Aksara mengeluarkan api ungu keemasan itu dari tangannya. Menunjukan gejolak api itu pada Eren yang balas menunjukan bara api hitam merah keemasan yang meletup-letup dengan tidak terduga.
"Meningkat!" ucap Aksara.
"Kau memang selalu murni!" ujar Eren memandang kobaran api pada telapak tangan Aksara.
Mendengar ucapan Eren itu, Aksara langsung mengepalkan tangannya. Membuang pandangannya dari Eren lalu memulihkan berapa bagian lembah hukuman yang sempat rusak oleh tindakannya sendiri.
Eren yang melihat tindakan Aksara itu langsung tersenyum kelu. Ada sesuatu yang ia simpan antara dirinya dan Aksara. Meski itu sesuatu yang tidak pernah Eren ceritakan pada siapapun, tapi Aksara menyadarinya dengan sangat baik.
__ADS_1
"Sudah terlalu lama..." ujar Aksara. "Aku sudah terlalu lama tidak melakukan ini!"
"Kau memang selalu membereskan semua kekacauan yang ku buat!"
"Ya!" jawab Aksara. "Namun sekalinya aku membuat masalah, kita berdua harus menanggungnya dengan cara yang tak biasa." tambahnya lagi.
"Itu semua bentuk tanggung jawab atas setiap kekeliruan atas tindakan yang telah dilakukan!" timpal Eren memandangi setiap sudut lembah hukuman yang mulai memperbaiki dirinya secara perlahan. Mengembalikan setiap detail tempat itu menjadi seperti semula. Seperti tempat awal dimana mereka berdua mendapatkan wujud manusianya setelah terjadinya pusaran waktu dan pertentangan alam.
Eren maupun Aksara merupakan perwujudan dari pertikaian alam. Pertemuan dua waktu di dalam pertentangan semesta. Yang mana setiap detailnya memberi kesan tersendiri bagi berlangsungnya proses kehidupan dan takdir alam. Begitu terlahir dengan memiliki wujud manusia, keduanya secara alami memiliki bakat untuk dapat mengatur tatanan alam. Membuat peraturan dan melakukan penghukuman.
Perjalanan mereka dalam melakukan bagiannya sungguh sangat mengesankan bagi keberlangsungan alam ciptaan mereka. Setiap lembah dibawah pimpinan dan bimbingan mereka selalu berjalan dengan baik dan harmonis. Terlebih bagi setiap perjalanan roda kehidupan. Sampai hari itu tiba.
Hari yang tidak terduga bagi keduanya. Ketika mereka harus berurusan dengan sebuah kegelapan yang muncul dari kumpulan jiwa dari lembah tak bertuan. Lembah yang mereka jadikan lembah hukuman atau lembah bayangan bagi jiwa-jiwa pendosa yang enggan menyelesaikan kemurkaannya akan dunia.
"Andai bayangan itu tidak kita remehkan!" ujar Aksara.
Bayangan ingatan akan hari itu tiba. Saat Aksara dan Eren menciptakan lembah hukuman dengan merubah tatanan lembah tak bertuan yang mereka jumpai. Lembah hukuman bukanlah tempat yang buruk bagi setiap jiwa yang terkurung didalamnya. Lembah itu hanya akan memberikan waktu hingga ribuan tahun lamanya untuk satu jiwa bisa menyelesaikan pertikaian dirinya semasa hidup.
Tapi yang tidak disadari oleh Eren ataupun Aksara adalah adanya jiwa kegelapan hang bersemayam di dalamnya. Jiwa kegelapan yang haus akan kekuasaan dan dipenuhi oleh keegoisan. Jiwa itu keluar bagaikan kepulan asap tidak berarti dihadapan Eren.
Merasa kepulan asap jiwa itu tidak berarti sama sekali, dia membiarkan sosok kepulan asap itu pergi begitu saja. Dan masalah dimulai dari kejadian kecil itu.
Dalam beberapa waktu, banyak penghuni jiwa yang kehilangan kesadarannya dan mengamuk serta menghancurkan lingkungan sekitarnya. Tidak jarang juga beberapa jiwa itu dengan sadar dan sengaja bahkan sampai menghancurkan jiwa lainnya hanya untuk memuaskan keinginannya.
Mengetahui terjadinya begitu banyak masalah tanpa sebab yang jelas, Eren dan Aksara menyelidiki hal tersebut pada setiap sudut lembah. Sampai saat mereka bertemu dengan Alam Larangan beserta penjaganya. Penjaga dengan dress merah hatinya. Penjaga yang sedang membuka segel dari sebuah buku kutukan terlarang.
"Apa kau memikirkan hal yang sama?" ucap Aksara kala itu.
"Kenapa penjaga itu membuka segel dari buku kutukan terlarang itu?"
"Kalau bukan dia pelaku dari semua kejadian di lembah kematian!"
__ADS_1
Saling melirik ketika sudah pergi menjauh dari Alam Larangan, mereka langsung menyerang sang penjaga alam larangan tanpa aba-aba. Namun serangan itu berhasil dihindari oleh sosok penjaga dengan dress merah hatinya itu. Berkali-kali serangan dilakukan, tapi sosok penjaga itu selalu berhasil lolos dari serangan mereka.
"Kami tidak pernah punya aturan dalam bertarung." ujar Eren kala itu. "Kalaupun kau seorang wanita, kami tidak akan pernah mentolelir perbuatan mu pada penghuni lembah manapun!"
"Benarkah?!" desisnya. Sosok itu berbalik dan dibalik tudung jubahnya, sosok itu menunjukan wajahnya yang tertutupi oleh kepulan asap kegelapan yang begitu pekat. Dengan mata berwarna hitam kehijauan, sosok nya menerjang keduanya tanpa henti. Tidak menyisakan sedikitpun celah bagi Eren dan Aksara untuk menyerang balik.
Bahkan ketika sosok penjaga itu mengeluarkan mantra pada buku kutukan yang segelnya sudah dibuka, baik Eren maupun Aksara masih tidak menemukan celah untuk melawan. Sampai keduanya mengeluarkan lagi kekuatan api abadinya masing-masing. Sosok penjaga itu barulah mengendorkan serangannya.
Begitu serangan dari mantra kutukan itu dikeluarkan, Eren yang menyadari inti matra kutukan itu langsung mendorong Aksara dengan sembarangan. Membuat sosok Aksara terpental pada portal lembah kehampaan dan terkurung didalamnya karena kala itu Eren terkena kutukan ingatan.
Kutukan yang menyerang alam bawah sadarnya. Membangkitkan kegelapan yang lama terpendam dalam jiwanya. Pergolakan kegelapan dalam tubuh Eren bergejolak hebat. Serasa membakar seluruh tubuh dan panca inderanya. Menyerang kesadaran dan pemikirannya sehingga lepas kendali dan hampir memporak porandakan Alam Larangan.
Tubuh itu memberontak dan mengeluarkan pusaran api berwarna hitam merah keemasan. Matanya dipenuhi oleh amarah, dan selang beberapa saat, kegelapan itu menelan kesadaran akan jiwanya.
Disaat semuanya lepas kendali, semua benda-benda baik yang hidup ataupun setiap benda mati di Alam Larangan mulai berguncang. Satu persatu segel pada setiap benda, buku-buku, dan mantra-mantra kutukan terlepas dan menyebar ke seluruh penjuru alam semesta.
Menyisakan bayang jiwa dari kepulan asap kegelapan yang tersenyum dengan puas atas apa yang telah terjadi dihadapannya. Menatap dan memandang sosok Eren yang perlahan kehilangan kesadarannya.
Begitu sebuah tangan menyentuh pipi itu, tangan Eren memegang kuat dan tersadar dengan mata penuh ketegangan.
Dalam ingatannya kala itu, sosok yang kini menatapnya dengan heran itu telah menyerangnya menggunakan mantra terlarang dan juga telah menyegel Aksara dan membinasakan jiwanya sehingga menyatu bersama alam. Juga sosok yang telah merusak tatanan jiwa pada setiap lembah yang diciptakannya bersama Aksara.
Sosok wanita menggunakan dress merah hati dengan kulit secerah dan seputih pualam. Mata bulat besar, bulu mata yang kelewat lentik, semua pipi berwarna merah merona, dan bibir semerah buah ceri.
Sosok yang sempat menyembunyikan identitasnya dengan menutupi wajahnya menggunakan mantra kutukan kepulan asap kegelapan dengan mata berwarna kehijauan. Sosok yang menatapnya dengan kebanggaan dan penuh kepuasaan saat menyadari kalau lawan yang ia hadapi telah berhasil ia kalahkan dengan begitu piciknya.
Sosok itu adalah sosok penjaga Alam Larangan yang sedang berjongkok dihadapan Eren untuk memastikan kesadarannya.
Tangan sang penjaga Alam Larangan itu sudah terkunci oleh rantai keemasan alam kematian. Rantai bagi para pendosa alam yang menyerap dan mengunci semua kemampuan dari orang yang dirantai olehnya.
"Kau! Harus membayar semua hasil dari tindakanmu!"
__ADS_1
...***...