
Setiap malamnya setelah mendapat 1 keping ingatannya, Laras selalu di hantui oleh hal-hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Mulai dari dirinya yang terkena bubuk sari bunga larangan, pertemuannya dengan sosok yang dia tidak dapat di ingatnya sama sekali, serta merasakan sakit dan amarah disaat yang bersamaan ketika sebuah keping ingatan menyeruak dengan paksa.
Seperti kali ini, Laras tiba-tiba memekik kesakitan sembari memegang keningnya yang terasa sangat amat sakit.
"Lo nggak apa-apa?!" tanya Arashi yang langsung memapah Laras untuk duduk di bangku yang dekat dengan bangunan utama kampusnya.
Tidak memberikan jawaban apapun, Laras kembali merasakan tekanan yang begitu hebat pada kepalanya.
"Pegang lah tanganku?" Sebuah tangan berwarna hitam kelam terulur di bawah pandangan Laras. Tangan itu terulur tanpa ada siapapun yang memilikinya.
"Siapa?" tanya Laras dalam keadaan yang dia tidak tahu harus merespon seperti apa saking sakitnya hal yang dia rasakan.
"Gue Arashi..." jawab pemuda itu santai tanpa menyadari ada sosok lain yang berada disana selain mereka berdua.
"Aku bisa mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan saat ini. Pegang saja tanganku."
Tanpa peduli lagi akan hal apapun, Laras meletakkan satu tangannya diatas telapak tangan hitam kelam itu. Sementara satu tangannya lagi tengah digenggam oleh Arashi untuk membantu Laras memijit sedikit bagian depan kepalanya.
Sedikit energi yang Arashi salurkan sebagai sosok Eren langsung menyatu dengan bagian kekuatan yang keluar dari balik telapak tangan hitam kelam tersebut. Tidak ada yang menyadari hal tersebut, namun Laras lah yang merasakan efek dari pertemuan kedua kekuatan yang bertolak belakang namun saling melengkapi tersebut.
Untuk beberapa saat yang di isi dengan keheningan, Laras akhirnya tertidur dengan bersandar di pundak sosok Eren. Sosok sang hakim tertinggi lembah kematian yang membawa tubuh beserta jiwa gadis itu ke dalam dimensi yang lain. Menikmati serpihan abu meteor dan taburan bintang yang melintasi keduanya tanpa permisi.
"Aku sangat ingin kau bisa mengingatku. Tapi disaat yang bersamaan, jika dengan mengingatku juga membangkitkan rasa sakit dalam dirimu, ada baiknya hal itu kamu lupakan."
Tidak beberapa lama setelahnya, tubuh itu baru saja dibaringkan di atas tempat tidurnya, Laras lalu membuka matanya perlahan. Dia melihat gamang ke semua sudut kamar itu. Mengabaikan sosok Arashi yang hanya terdiam kaku, Laras kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya.
Dalam tidurnya, Laras kembali terseret oleh benang ingatan yang keluar dari kendi arak yang dia pilih ketika mengunjungi dimensi abu-abu.
Dalam benang ingatan itu, sosok bayang bersayap mengusap pandangan Laras dan menyandarkan tubuh itu pada lempengan batu didekatnya. Dimana sesaat sebelumnya Laras baru saja mencabut satu bunga larangan dari celah batu itu.
Begitu memperhatikan sosok yang terbang di sampingnya kini, Laras mengenali sosok itu sebagai Sang Hakim tertinggi lembah kematian. Sosok yang dalam benaknya pernah memberikan dia kutukan karena hal yang tidak ia ketahui apa alasannya sama sekali.
Sosok itu melintasi Laras. Laras yang baru saja memandangi sosok dirinya sendiri yang disandarkan pada sebuah lempengan batu jauh di bawah kakinya.
__ADS_1
Laras yang tersadar masuk ke dalam benang ingatan, langsung menatap arah terbangnya Sang hakim tertinggi. Sementara sosok itu yang menyadari adanya sosok Laras yang mengikutinya langsung bergerak waspada. Secepat yang ia bisa, ia melesat ke alam baka.
Melanjutkan peperangan nya dengan semua kekacauan yang ditimbulkan oleh guncangan alam karena lahirnya sosok-sosok jiwa baru ke dunia.
Jiwa-jiwa lama yang merasakan tarikan hebat langsung menggeliat dan menerobos alam danau kematian untuk bisa mencuri satu jiwa baru untuk mereka gantikan terlahir sebagai manusia.
"Terlempar kemana?" tanya seorang lain yang sedang membuka formasi biru membentuk lingkaran untuk menghalau dan mengunci jiwa-jiwa liar yang termakan oleh kegelapan.
"Ketemu takdir." jawab sosok Sang Hakim tertinggi lembah kematian. Dia sempat menaikan lirikannya ke pojok kirinya. Dimana sosok Laras terlihat tengah mengawasi dari kejauhan.
Padahal suasana sedang tidak karuan. Batin Laras yang berdiri jauh disudut area pertarungan.
"Lembah mana?"
"Larangan."
"Ada?" respon sosok satunya.
Sosok yang sangat mirip dengan Aksara yang ia temui pertama kali bersama sosok Arashi. Jujur saja, wajah Arashi dan hakim tertinggi sama persih dalam ingatan Laras. Membuat gadis itu merasakan hal aneh yang tidak dapat ia jelaskan sama sekali.
"Cantik." ujar sosok sang Hakim Tertinggi kembali melanjutkan serangannya untuk menghalau semua jiwa-jiwa yang bangkit dengan brutalnya.
"Hei nona!" teriak seorang yang mirip dengan Aksara. "Kalau bisa, bantu kami menyegel mereka!"
"Tidak. Terima kasih." jawab Laras.
"Terserahlah." jawab sosok sang Hakim Tertinggi.
Sosok sang Hakim Tertinggi mengeluarkan semua kekuatannya yang digabungkan dengan kekuatan sosok mirip Aksara. Membentuk sebuah formasi berbetuk segi enam dengan memiliki fungsi sudut yang berbeda satu sama lainnya.
Tekanan yang keduanya lakukan sudah berhasil membuat setengah lebih dari jiwa-jiwa itu terperangkap dan beberapa masih ada yang mampu meloloskan dirinya.
Disini, Laras yang tidak tahan melihat beberapa jiwa brutal yang menyeruak bebas mulai mengeluarkan kekuatan segel kutukannya pada formasi yang dibuat oleh keduanya. Merapalkan matranya, semua jiwa kelam terkunci dan tersegel didasar sungai kematian.
__ADS_1
Tugas sosok sang Hakim Tertinggi dan sosok yang mirip Aksara di benak Laras kini, telah selesai. Meninggalkan suasana sungai yang begitu pekat namun nampak sangat tenang. Riak ombak kecil yang menghambur disepanjang sisi sungai membuat suasana tempat itu menjadi terasa berada dalam keindahan alam di tengah remang-remang.
"Apa ini pertama kalinya bagimu?"
"Hmm.." jawab Laras atas pertanyaan sosok sang Hakim Tertinggi.
"Kamu terlalu muda untuk memiliki ekspresi wajah seserius itu." sapa sosok satunya.
"Aku tidak peduli." jawab Laras.
"Tapi aku peduli!" balas sosok sang Hakim Tertinggi yang bangkit dari duduknya untuk menghampiri Laras.
Bubuk sari bunga larangan berpendar disekitar sosok sang Hakim Tertinggi. Menyisakan tatapan mata yang begitu meneduhkan untuk sosok sang Hakim Tertinggi terhadap Laras.
"Ini salah!" ujar Laras yang segera menghilang dari hadapan kedua sosok yang pada akhirnya terus saja membayangi dirinya kemana pun dan dimanapun.
Sosok Laras kini kembali kepada sosok dirinya yang disandarkan pada lempengan batu disisi lembah yang lain. Melihat kembali botol kaca yang seharusnya berisikan bunga larangan yang telah tersegel sempurna.
Namun ketika sampai di tempat itu, dia hanya mendapati botol kaca kosong dan ketiadaan dirinya dalam dimensi lembah tersebut.
"Aku harus menemukannya!" Laras terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil sosok lain sebagai penyamarannya untuk menghindari sang Hakim Tertinggi dan temannya yang sedari tadi berusaha mengejarnya.
Disepanjang jalan itu Laras sebagai sosok yang menyamar berjalan menyusuri pedalaman hutan dan melompat dari beberapa dimensi ke dimensi lainnya.
Semakin mencari, sosok Laras semakin menyadari sesuatu yang berjalan dengan tidak menentu di perjalanannya kali ini. Yang harusnya Laras masuk dalam dunia mimpi, namun dalam dunia dimana ia melihat dirinya, dia malah harus ikut terlibat di dalamnya.
Laras menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok bayang keluar dari semak-semak di sisi hutan sebuah lembah dengan hamparan bunga lily of valey hang memenuhi jalanan disepanjang hutan itu.
Laras terdiam kaku untuk sesaat. Bukan takut, tapi harus siaga dengan segala kemungkinan yang akan muncul dari balik semak-semak itu.
Sepasang tangan merangkak keluar, Laras lalu mundur beberapa langkah begitu sosok tubuh dari sepasang tangan itu berangsur merangkak keluar dari semak-semak.
Sosok dari semak-semak itu menatap lelah, dan Laras menatap tidak percaya. Dia melihat sosok dirinya sendiri yang sedang dalam kondisi kacau balau. Banyak helai daun dan sarang laba-laba yang mengotori tubuhnya yang berbalut dress hitam selutut.
__ADS_1
"Aku selamat." ujarnya yang langsung jatuh tidak sadarkan diri dalam dekapan dirinya sendiri.
...***...