
Didalam kelas, sosok lain Eren terus memperhatikan setiap pergerakan gadis disebelah bangkunya. Dia menatap lalu melihat dengan jelas ketika Laras melirik kearahnya lalu menunduk. Tangan Laras gelagapan saat kembali sosok lain Eren itu memperhatikannya. Dan teriakan itu mengundang seisi kelas untuk menoleh kearah Laras.
Sosok lain Eren bingung dengan sikap yang Laras tunjukan pada sosoknya. Terlebih saat tangan tua pucat dan keriput itu hendak menahan buku yang terjatuh dari kolong meja sekolahnya atas sikap gradag grudug yang Laras tunjukan ketika sosoknya tengah memperhatikan.
Hal itu tidak luput dari perhatian Aksara dan Zara yang memang penasaran dengan sikap yang Laras tunjukan pagi ini dihalaman parkir sekolah.
"Ada apa?" Eren menatap heran. Tatapan yang sama yang diberikan sosok lain dirinya pada gadis disampingnya.
"Tidak apa-apa!" jawabnya sembari menundukkan kepala.
"Apa yang kamu teriakan, Larasathi?!" tegur Bu Ira, guru Sastra Indonesia pengganti Pak Dirto yang meninggal karena serangan jantung tahun ajaran yang lalu.
"Tidak ada, bu Ira. Maafkan saya." Laras kembali menunduk dan memasukan kembali beberapa buku lainnya kedalam kolong mejanya.
"Hari ini kau nampak aneh?!" bisik Eren dengan gelagap Laras begitu Eren menunjukan sosok dirinya sebagai sang penjaga.
"Aku tidak aneh! Kalian yang aneh!" jawab Laras menenangkan dirinya dengan perubahan sosok pemuda disampingnya itu.
"Kalian?!" tanya Eren kembali coba meyakinkan hal apa yang terjadi pada Laras. "Aku dan dua teman di depanmu maksudnya?!" Eren menjatuhkan tatapannya pada Aksara dan Zara ketika menekankan kata di depanmu pada gadis disampingnya itu.
"Siapa lagi?" gumam Laras menjawab pernyataan Eren itu.
Laras yang sudah tenang akhirnya dengan berani menatap ke arah depannya dimana bu Ira sedang menjelaskan sedikit tentang apa yang akan dipelajari dan dikerjakan dalam pelajarannya yang sedang berlangsung.
Mendengar jawaban sang gadis, sosok sang penjaga langsung kembali ke sosok sejatinya, pemuda bernama Eren yang menjadi teman pertama Laras diawal dia masuk kesekolah ini diawal semester genap satu tahun lalu.
Eren menatap Aksara dan Zara dengan cara yang berbeda. Walau masih penuh dengan pertentangan, tapi menurut Eren pribadi, kedua mahkluk dihadapannya itu juga harus menyadari keanehan yang Laras tunjukan. Bahkan mereka harus menyadari kalau Laras sedang menganggap mereka bukan lagi manusia ataupun teman yang pernah menemani dimasa sulitnya.
Eren membiarkan satu hari itu berlalu begitu saja. Mengantarkan Laras kembali ke rumahnya setelah sekolah usai, Eren menghentikan Laras yang hendak turun dari mobilnya secepat yang ia bisa seperti dihalaman parkir sekolah pagi tadi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" Eren menahan tangan Laras. Gadis itu mulai nampak gusar dan menunjukan ketidak nyamanan pada tindakan Eren. Terlebih Eren menunjukan sisi dirinya yang lain saat ini.
"Apa kau takut dengan sosokku ini?" pertanyaan yang terlontar membuat Laras tiba-tiba menatap kearah sosok lain Eren itu dengan rasa tidak percaya. Ada kedekatan yang dirasakan Laras pada pertanyaan sosok lain Eren tersebut. Kalimat yang menggema berulang ditelinga Laras tapi dengan dimensi waktu yang berbeda, sosok yang sama dan tempat yang berbeda pula.
"Aku tidak takut..." jawab Laras dengan menerawang. Perasaannya kuat dan pasti dengan apa yang dia ucapkan. "Siapa kau sebenarnya?"
"Lupakan siapa aku,..." sosok sang penjaga melepas pegangan tangannya pada Laras. "Kau masih bisa mengingat rumahmu bukan?!" Sosok sang penjaga sedikit kecewa dengan respon dan pertanyaan Laras pada dirinya.
"Ya!" jawab Laras mengangguk pelan. Laras bersiap turun begitu sekali lagi tangan sosok penjaga itu menahan dirinya. Sosok penjaga itu kembali menunjukan sosok sejatinya sebagai Eren.
"Sebaiknya kau tidak pulang hari ini!" cegah sosok yang kembali menunjukan dirinya sebagai si pemuda yang menolongnya pada Laras. "Tinggal lah di rumahku untuk sementara waktu..." pintanya dengan mempertimbangkan kemungkinan Laras melupakan tentang kematian kakek dan neneknya.
"Kakek dan nenekku akan khawatir kalau aku tidak pulang."
Jawaban Laras itu membuat Eren semakin menahan Laras untuk tidak turun dari dalam mobilnya. Sampai suara centong nasi jatuh terdengar oleh Laras dari arah dapur rumahnya yang memang berada dibalik tembok tempat Eren menghentikan mobilnya.
"Nenek!" Laras yang reflek langsung melepas tangan Eren dan turun dari mobil secepat yang ia bisa. Laras langsung membuka gerbang rumahnya yang hanya setinggi dadanya lalu berlari menuju bagian dapur luar dengan panik.
Dibelakangnya menyusul Eren dalam kebisuan. Bersiap melihat tangis Laras pecah atau menyaksikan kebingungan dari sang gadis karena ketiadaan kakek dan neneknya yang telah meninggal delapan bulan yang lalu.
Senyum sang nenek merekah melihat cucunya kembali kerumah setelah semalaman tanpa kabar. Di tambah sang nenek melihat Laras diantar oleh sosok pemuda yang bagi sang nenek telah menyelamatkan cucu satu-satunya yang ia punya.
Eren terdiam. Dia tidak menyangka dengan perubahan yang terjadi hanya dalam satu malam.
Eren lalu melihat disekelilingnya dan mendapati sosok sang kakek tengah beristirahat di teras kamarnya sembari mengipas-kipas dirinya dengan topi yang selalu digunakannya dalam mengantar koran dan mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya di toko dekat jalanan utama.
"Apa kabar nak?" sapa kakek Laras pada Eren yang masih terdiam dengan perubahan yang masih ia reka-reka kemungkinannya.
"Kabar baik, kek.." jawab Eren tersenyum sedikit kaku.
__ADS_1
Sang kakek manggut-manggut.
"Duduklah dulu." pinta sang kakek. "Kakek akan meminta Laras membuatkan minuman." sang kakek melewati Eren yang masih diam dalam kebingungannya tetapi mengikuti apa yang diminta kakeknya Laras itu.
Eren memilih duduk di teras depan kamar Laras. Dia memperhatikan dari kejauhan bagaimana Laras membantu sang nenek membersihkan beberapa nasi yang berserakan dilantai dapur karena sang nenek tidak sengaja menjatuhkan sendok nasinya ketika akan menutup tempat nasi yang ada didepannya.
"Nenek jangan terlalu lelah, nanti nenek sakit bagaimana?"
"Iya, Nak!" jawab sang nenek sambil sedikit menyemburkan tawa khasnya.
Laras tersenyum lega melihat itu. Dia lanjut menyapa kakeknya yang sedang meminta Laras untuk menyiapkan minuman pada sosok Eren yang tengah menikmati kebingungannya di teras depan kamar Laras.
Dari kejauhan itu pula, Laras melihat sosok Eren yang juga menatap kearah dirinya. Kali ini sosok Eren lah yang terlihat kebingungan. Walau tidak terlalu memperlihatkannya, tapi Laras menyadari ada sesuatu yang menganggu pikiran sosok pemuda itu ketika melihat pemandangan keluarga yang ia punya dirumahnya.
"Silahkan!" Laras menyuguhkan segelas susu kedelai pada sosok Eren. Susu itu baru saja ia panaskan kembali dan membiarkan Eren meminumnya tanpa merasakan panas itu sama sekali.
"Hanya mereka yang aku punya!" ucap Laras tiba-tiba. "Kalau kau mengambil mereka dariku, aku belum siap sama sekali!" tambahan kalimat Laras itu membuat Eren memutar kembali pemikirannya tentang Laras yang saat ini sedang duduk dihadapannya.
"Aku tidak punya kendali apapun terhadap jiwa mereka." jawab Eren seadanya sambil kembali menyeruput susu kedelai yang disajikan Laras untuknya.
"Baguslah..." Laras bangkit dari duduknya kemudian menghampiri kakek dan neneknya yang sedang bercengkrama dengan tidak biasa didalam ruangan dapur yang cukup kecil itu.
"Apa kakek dan nenek sudah makan siang?" tanya Laras ceria. Dia melupakan sejenak beberapa mahkluk yang menghadang dan mengganggunya sejak pagi tadi. "Apa kalian mau memakan sesuatu? Aku akan memasaknya untuk kalian?!"
"Tidak usah repot, lebih baik gantilah dulu seragam mu ini dan jangan meninggalkan temanmu begitu saja ketika ia bertamu." jawab sang nenek dan mendorong cucunya itu untuk bergegas melakukan hal yang diberitahukannya pada cucunya itu.
"Iya, nek!" jawab Laras mengerjakan apa yang disampaikan sang nenek padanya.
"Aku ganti baju sebentar dan akan segera kembali." ucapnya pada Eren.
__ADS_1
"Tidak usah. Aku akan pulang sekarang." jawab Eren yang bangkit dari duduknya. Setelah menyampaikan terima kasih pada kakek dan neneknya Laras karena diijinkan bertamu, Eren lalu keluar dari halaman rumah itu dengan hal yang sedikit mengganjal pikirannya.
...***...