Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Pilihan


__ADS_3

Sosok itu duduk termenung disisi luar tempat tidurnya. Matanya menatap menerawang. Membawa ingatan tentang sisi lembah yang dilihatnya. Sementara bayangan gelap bermata kelam berputar-putar tidak menentu pada seluruh bagian kamarnya.


"Mereka belum bersama bukan?! Mereka berbeda bukan!!" gumam sosok itu.


Dia Rein yang merasa ketakutan akan keinginan yang dimilikinya. Membayangkan Eren akan menjadi bagian dari sisi lembah bersama sosok seorang yang tidak ia sangka jati dirinya. Sosok yang telah ia selamatkan 3 tahun lalu. Sosok yang menjadi sahabat yang selalu mendapatkan perhatian lebih banyak dari dirinya. Sosok yang selalu membuatnya merasa tersaingi setiap detiknya pada kehidupannya yang serba terpenuhi. Sejak kapan perasaan itu muncul dibenaknya, hanya Rein yang mempunyai jawabannya.


Sementara bayangan gelap bermata kelam itu menyeruak dan memecahkan dirinya. Mengambil wujud berbentuk manusia lalu melihat wajah Rein lekat-lekat.


"Tidak ada salahnya kita menginginkan hal yang memang harusnya untuk kita bukan?" suara itu terdengar mengalun lembut. "Harusnya sesuatu itu bukan hanya menjadi miliknya sendiri!!"


"Benar!" jawab Rein. "Dia mahkluk yang berbeda dengan ku dan Eren. Tidak seharusnya Eren menyukai mahkluk seperti itu. Aku tidak akan membiarkannya!" geramnya.


"Dia sudah mendapatkan terlalu banyak.." tambah suara itu dengan halus. "Dia sudah kembali menjadi penjaga lembah, memang tidak seharusnya dia memiliki sesuatu yang lain sebagai takdirnya!"


Rein mendongak mendengar kalimat jiwa bermata kelam dihadapannya. Dia melihat bayangan dirinya pada cermin. Memastikan kalau bukan wajah ini yang berhasil menyita perhatian Eren, namun wajah dari sosok yang dikenalnya sebagai seorang sahabat sebelumnya. Sahabat yang selalu membuatnya merasa tersaingi.


"Jika Eren menyukai wajah itu, tidak masalah bagiku jika harus tampil sebagai Laras agar Eren tidak jatuh ke dalam pelukannya, bukan!"


"Kau menginginkannya? Jabatlah tanganku dan kau akan mendapatkannya??"


Bayang gelap berwujud manusia itu mengulurkan bayang tangannya yang sama gelapnya dengan tubuh itu. Dan hanya dengan Rein membalas jabat tangan itu, sosoknya telah menyatu bersama tubuh Rein. Menyelimuti jiwa yang sedang dipenuhi keinginan yang begitu besar terhadap sesuatu yang belum tentu adalah takdirnya. Merubah kembali sosok itu menjadi sosok Laras berambut pendek yang selalu lebih di perhatikan semua orang termasuk Eren ketimbang sosoknya sendiri.


Begitulah ketika manusia hanya melihat sesuatu dari sisi dirinya saja. Melihat bahwa orang lain jauh lebih baik padahal dirinya mempunyai banyak hal lain yang sama baiknya dari orang-orang disekitarnya.


Dia menatap bayang dirinya pada cermin. Menyentuh bagian wajahnya dengan perlahan. Menatap kagum pada wajah itu ketika membayangkan dirinya akan lebih diperhatikan oleh Eren ketika wajah itu menjadi miliknya.

__ADS_1


Kini semua kejadian itu kembali terulang. Dimana dia kembali menjabat tangan sosok jiwa gelap bermata kelam dihadapannya. Apapun yang baru saja dilaluinya pada sisi lembah tidak membuatnya untuk mengurungkan niatnya menjalin perjanjian jiwa dengan bayangan gelap bermata kelam. Karena jika dengan menjalin perjanjian dengan bayangan gelap bermata gelap, dirinya bisa dekat dengan pemuda bernama Eren, tidak masalah baginya jika jiwa itu akhirnya termakan oleh kegelapan yang bersamanya.


"Ketika kau menjabat tanganku, kau telah menyerahkan seluruh jiwamu kepadaku." bayangan di cermin membisikan kalimat itu dan kemudian menguap ketika ada sosok lain yang baru saja memasuki bagian rumah itu dengan berhati-hati.


Sosok Rein dengan wajah menyerupai Laras berjalan perlahan dengan menuju anak tangga. Mengintip kesemua tempat yang bisa ia telisik dengan pandangannya. Dia melihat kearah ruang tamu, lalu mendongak dan melihat ke bagian dapur. Namun dia tidak menemukan siapapun kecuali kepulan asap hitam yang menguap ke udara secara perlahan.


Mata itu berkilat kehitaman. Membuat sosok bayang gelap dalam tubuh itu mengambil alih.


"Kau datang?!" sapa nya dengan wajah sedikit terkejut.


Bayang kepulan asap itu kembali mengaup. Menampilkan wujudnya sebagai Eren yang biasa.


"Tadi kau menghilang kemana?"


Eren langsung bertanya tanpa menghiraukan tatapan gadis yang kini sudah berdiri di ujung bawah tangga tepat beberapa meter dihadapannya.


"Apa kau mencari ku?"


pertanyaan itu keluar dari jiwa Rein yang senang dengan kemunculan Eren dirumahnya. Sosok yang begitu inginnya ia miliki untuk saat ini. Dia tidak menginginkan hal apapun lagi selain untuk bisa bersama dengan pemuda itu. Pemuda yang membawa takdirnya sendiri dengan keterikatannya pada sisi lembah kelam dari lembah abu-abu yang tadi di kunjungi nya.


"Tentu saja aku mencari mu." jawabnya. "Aku mengkhawatirkan keberadaanmu."


Dia mendekati gadis itu dan menepuk kepalanya dengan lembut.


"Syukurlah kau kembali dengan selamat!" Eren tersenyum lega lalu membawa gadis itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Pemandangan yang begitu menyesakkan kembali harus disaksikan oleh sosok Laras yang sebenarnya. Laras dengan rambut panjang berponi yang bergaun hitam selutut dan bola mata berwarna biru keemasan. Matanya menatap murni ke dalam ruangan itu. Dimana didalam ruangan tersaji pemandangan dimana Eren tengah membawa Rein ke dalam pelukannya. Mendekap gadis itu dengan penuh rasa khawatir.


"Kenapa hati begitu mudah untuk berpindah!" gumamnya dari seberang ruangan.


Dia membalikan badannya. Mengabaikan semua hal yang telah dilihatnya, namun langkah itu terhenti pada langkahnya yang kesekian. Menunduk kemudian mengambil bulu emas yang terjatuh pada halaman rumah itu.


Lepasnya satu bulu emas bagi sosok penjaga bersayap adalah pertanda jiwanya telah terguncang. Ada keinginan yang harus dia abaikan demi tetap mampu menjaga keseimbangan jiwanya dalam menjaga lembah. Satu bulu emas dengan kilatan berwarna merah muda yang menandakan bahwa pemiliknya telah mengabaikan perasaannya terhadap rasa cinta yang dia miliki.


"Apa kau juga jatuh cinta padanya lalu terluka dengan apa yang kau lihat?" Laras menatap ke langit dan beberapa saat setelahnya, sosok itu menghilang.


Dan di dalam rumah, dekapan itu langsung di balas oleh sang gadis. Memeluk pemuda itu erat-erat dengan perasaan yang sangat senang. Rasa senang menjalar di sekujur tubuhnya. Membuat perasaan yang ia punya untuk pemuda itu tumbuh dengan semakin besar. Terlebih ketika dia berinisiatif untuk memberikan sebuah ciuman pada pemuda itu, namun Eren merasakan hal yang janggal tepat saat sosok Laras diseberang ruangan telah menghilang entah kemana.


Dia melihat Laras yang kini memejamkan mata dan siap untuk menerima ciuman darinya. Walau wajah itu memperlihatkan wajah dari Laras yang entah sejak kapan ia telah jatuh cinta pada gadis itu, namun kini ada hal yang membuatnya merasa ada hal yang tidak benar telah terjadi.


Eren menjitak pelan kening Laras dihadapannya. Menampilkan senyum dengan tingkah sang gadis yang tidak seperti biasanya. Membuat gadis itu membuka mata dan menatap jengkel seperti anak kecil manja yang tidak terima dengan balasan yang di dapatkannya.


"Apa-apaan itu!" ujarnya ketus. Hal yang diimpikannya sirna hanya karena tindakan tidak biasa yang Eren yang lakukan padanya.


"Kau terlalu bersemangat!" ucapnya lalu mundur selangkah. "Boleh aku minta minum?"


"Ambil saja sendiri! Kau sudah merusak mood ku!" jawabnya lagi. Laras berangsur duduk di sofa dengan memeluk bantal yang ada didekatnya. Dia menunjukan wajah manyun yang tidak biasa. Lalu membuang pandangan ketika Eren melihatnya kembali.


Eren lalu berjalan santai menuju dapur. Menuang air kedalam gelas dan melihat bayangannya sendiri ke dalam sisi pantulan air didalamnya. Mata itu bersinar kemerahan. Dan dari tubuhnya muncul hawa api berwarna kebiruan yang langsung menyusup masuk kembali ke dalam tubuhnya begitu air itu tumpah ruah dari dalam gelas yang dia tuangi air.


"Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal!" gumam Eren setelah menguapkan air yang jatuh ke lantai dan membasahi sedikit bagian meja dihadapannya.

__ADS_1


Berlalu.


...***...


__ADS_2