Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Mimpi dan Kenyataan.


__ADS_3

Pemuda bernama Arashi itu baru saja terbangun dengan kekagetan yang luar biasa. Dia sampai terjungkal dari atas tempat tidurnya dan mendapati dirinya sudah tersungkur dilantai bawah tempat tidurnya.


"Gue benci hari ini!" ujarnya ketika mendengar rintik hujan dibagian luar kamarnya. Hujan disertai guntur yang membuatnya semakin malas untuk bangun.


Tapi lagi-lagi suara ketukan pintu membuatnya mau tidak mau harus bangun dari posisinya. Dengan rada malas dia membuka pintu kamar dan mendapat sambutan yang mengejutkan dari Aksara.


"Malas banget lo bangunnya! Emang lo nggak kerja apa!" ujar Aksara yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar pemuda bernama Arashi itu.


"Heh! Jangan masuk kamar orang seenaknya!" protes si pemilik kamar.


"Helleh! Kemarin juga gue masuk tiba-tiba lo nggak apa-apa!" bantahnya. Dia lalu mengintip keluar jendela kamar ruangan itu. "Hujannya deras!" komentarnya.


"Hujan yang menyebalkan!" sambung Arashi. "Lo ngapain lagi kemari! Apa yang semalam masih kurang yah?!" teriaknya tidak terima.


Teriakannya itu langsung membuat kaget ibu pemilik rumah kontrakan itu bersama beberapa ibu-ibu lainnya yang akan berangkat ke pasar. Para ibu-ibu itu langsung melihat dengan malu-malu tapi juga heran terhadap dirinya dan sosok Aksara yang cueknya tidak ketulungan dengan maksud yang diterima oleh ibu-ibu komplek tersebut.


"Kurang dong!" jawab Aksara santai. "Gue maunya lebih!" tambah Aksara lagi sembari mengedipkan matanya pada ibu-ibu komplek yang langsung mendapat topik gosip baru.


"Sialan lo!" ujar Arashi langsung menutup pintu kamarnya.


Hal itu sontak membuat ibu-ibu komplek makin heboh dan membuat Aksara tertawa puas karena bisa menggoda Arashi dengan jawabannya.


"Lagian! Lo kalo ngomong dipikir dulu! Jangan asal keluar tanpa mikir reaksi orang yang dengar!" jawab Aksara santai sembari menahan tawa.


"Kenapa gue mesti ketemu orang kaya elo sih!" keluhnya yang langsung menggumpal selimutnya ke atas kasur. Bergegas dia berlari ke kamar mandi setelah melirik jam weker yang ditunjukan oleh Aksara kepadanya.


30 menit setelahnya,


Arashi dan Aksara keluar dari kamar itu dengan santai. Aksara masih dengan pakaian serba hitamnya dan Arashi dengan setelan kaos polo berwarna biru langit dengan celana jeans hitam dan sepatu kets putihnya.

__ADS_1


Baru beberapa langkah yang cukup menarik perhatian seluruh penghuni komplek yang lebih mirip rumah susun itu, langkah keduanya terhenti ketika sosok gadis dengan dress hitamnya berdiri menatap kearah keduanya dari ujung tangga.


"Pagi Mari!" sapa Arashi santai.


"Pagi." jawab gadis itu setengah berbisik.


Melihat sosok gadis itu, Aksara langsung merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan. Tatapan benci dan tidak suka, jelas-jelas diperlihatkan oleh gadis itu kepadanya. Terbukti ketika Aksara akan melewatinya, gadis itu langsung menyerobot dan membuat jarak yang jelas baginya dan Arashi.


Namun ketika akan menyalip dari arah kanan sang gadis, Aksara langsung berhenti dan kehilangan ingatannya sesaat. Seperti tengah linglung, Aksara yang setelah beberapa saat tersadar, sudah mendapati jaraknya dengan gadis itu dan Arashi sudah sangat cukup jauh.


Menyusul karena merasa ditinggalkan, Aksara langsung menyetop langkah Arashi dihadapannya.


"Lo mau kemana hari ini?" tanya Aksara.


"Gue..."


"Bekerja!" serobot gadis itu. "Eren mau kerja! Jangan ganggu dia!" jawab gadis yang disapa Mari itu oleh Arashi.


Jawaban itu langsung mendapatkan satu tatapan mata yang cukup langsung membuat Aksara waspada terhadap gadis bernama Mari itu.


Tidak biasanya.... Tumben gue tahu, ada manusia semenakutkan ini! batin Aksara.


"Sudah! Sudah!" sela Arashi. "Gue mau kerja dulu."


Pemuda itu menepuk pundak Aksara dengan santai namun sempat sedikit menekan pegangannya pada pundak itu, yang membuat Aksara langsung memutar balik badannya untuk menjauhi gadis bernama Mari itu.


Sosok gadis itu cukup manis, namun poni yang terus saja menutupi sebagian wajahnya membuat Aksara sedikit merasa terganggu. Dia merasa dibalik poni itu terdapat sorot mata yang berbeda dari sorot tajam mata kirinya. Atau bahkan sesuatu yang lain yang membuat dirinya merasakan tekanan yang begitu besar ketika berhadapan dengan tatapan gadis itu.


Sementara itu, Arashi yang baru saja berhasil menuruni anak tangga tanpa diikuti Mari, langsung terdiam kaku ditempatnya ketika melihat sesosok gadis berambut pendek sebahu dengan dress hitam selutut berdiri diseberang jalan.

__ADS_1


Tatapan mata gadis itu menatap dengan dengan cara tidak biasanya. Tidak seperti tatapan di dalam mimpinya. Tatapan gadis itu malah begitu membuatnya tertarik sehingga tanpa sadar, Arashi melangkah ketengah jalan tanpa memperhatikan lalu lalang kendaraan yang melintas.


Tepat begitu sebuah mobil melaju dengan cepat, sebuah tangan menarik tubuh si pemuda sehingga terjatuh di badan jalan dengan menimpa seorang yang pada akhirnya menamai dirinya sebagai sang penolong. Dan dari tindakannya itu, Arashi berhutang satu kehidupan pada sosok Mari.


Mari yang kini balas menatap tatapan mata gadis berambut pendek dengan dress hitam diseberang jalan. Mari yang langsung merintih kesakitan lalu pingsan dan membuat orang-orang disekitar panik tidak karuan.


Hal itu langsung menjadi perhatian Aksara yang berdiri diujung tangga karena mendengar bisikan Mari yang mengatakan "akan menghentikan satu kematian untuk Eren."


Dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya, Aksara menuruni anak tangga dengan santai ditengah lalu-lalang dan kepanikan orang-orang akan insiden yang terjadi.


Selangkah demi selangkah, Aksara menuruni anak tangga untuk melihat keadaan Arashi. Dan begitu dia berdiri tepat ditempat Arashi menghentikan langkahnya ketika menuruni tangga, Aksara langsung terpaku pada sosok yang menghilang bersamaan dengan buku tua bersampul hitam kemerahan beberapa waktu yang telah berlalu. Sosok gadis berambut pendek sebahu dengan dress hitam selututnya yang sedang berjalan santai menjauhi kerumunan dan kegaduhan yang terjadi.


"Laras!" ujar Aksara.


Tanpa pikir panjang, Aksara langsung lenyap dari pandangan semua orang yang berkerubung untuk membantu Arashi dan Mari, si penolong. Tiga langkah dengan tiga kali kedipan mata, Aksara tetap tidak mampu mengejar langkah gadis yang dia yakini kalau gadis itu adalah Laras.


Laras dan Eren. Dua sosok penjaga lembah kelam bernama lembah abu-abu dan penjaga lembah terkutuk. Dua sosok penjaga yang menjalani pergolakan takdir dan membuat terjadinya banyak perubahan pada roda kehidupan dan takdir manusia yang berjalan. Kedua sosok yang menghilang seribu tahun lamanya dalam penentuan sebagai penjaga segel lembah.


Aksara melihat ke sekeliling di perempatan kota, mencari sosok Laras dan keberadaan sosok Eren sebagai sosok penjaga Lembah tertinggi.


"Sial! Kemana perginya!" desah Aksara tidak terima dengan tindakan nihilnya. Begitu sudah yakin dirinya kehilangan sosok yang ia cari, Aksara kembali menghilang dari sudut itu tanpa disadari oleh siapapun, kecuali dia.


Dia yang sedari tadi menyadari keberadaan Aksara di tempat kejadian perkara. Dimana harusnya Arashi meninggal karena kecelakaan mobil saat menyeberang jalan dengan tidak hati-hati.


Dia yang sedari awal menyadari hal ganjil yang terjadi. Dia yang menyadari bahwa Mari sengaja melakukan semuanya untuk dirinya sendiri. Dia yang sengaja pergi dan menghindari pertikaian dua pengantar kematian hanya untuk satu jiwa yang pada akhirnya tidak menjalani takdir hidupnya.


Dia gadis berambut pendek sebahu dengan dress hitam selututnya. Dia juga gadis yang dikejar Aksara. Gadis yang dipanggil dengan sebuah nama yang tidak asing di telinganya "Laras".


"Apa aku mengenalnya?"

__ADS_1


Sosok gadis itu tersenyum tepat setelah Aksara menghilang dari sudut tempatnya berdiri. Gadis yang sedari tadi berdiri dibelakang Aksara dan memperhatikan sosoknya yang kebingungan mencari dirinya.


...***...


__ADS_2