
1.000 tahun kemudian.
Dia tenggelam dari atas perahu kecil yang digunakannya untuk menyeberangi danau. Tangannya melambai-lambai meminta pertolongan namun tak satupun orang yang berada disekitar tempat itu untuk dapat menolongnya.
Gerak tubuhnya didalam air yang tadinya begitu kuat mulai melemah. Perlahan-lahan lambaian tangan itu mulai tenggelam dan membawa tubuh sang pemuda masuk lebih dalam dan tertelan tenangnya air danau.
Sementara si pemuda mulai tenggelam perlahan ke dasar danau, sosok lain muncul diatas sampan si pemuda. Sosok gadis dengan menggunakan dress hitam selutut, berdiri dengan gamang akan pemandangan yang dilihatnya.
Rasa sakit langsung menyambar relung hatinya secara perlahan. Membuatnya tiba-tiba harus memegangi dada sebelah kirinya untuk menghentikan menjalarnya sebuah rasa sakit yang lain ke dalam tubuhnya.
"Ada apa lagi ini!!" desis sang gadis.
Aku bukan lagi manusia yang sedang menjalani kutukan semesta! Tapi kenapa aku masih merasakan rasa sakit seperti ini!
Sosok gadis yang juga mengenakan jubah merah maroon itu, perlahan membuka tudung yang menutupi kepalanya. Mengatur nafas untuk kembali menangkan dirinya yang kesakitan entah karena hal apa.
Setelah beberapa saat yang terasa begitu menyiksa baginya, sosok gadis itu menunduk untuk melihat kearah kedalaman danau dimana tubuh sang pemuda sudah mulai tenggelam jatuh ke dasar danau tersebut. Derat bayang yang berbeda melintas sejenak dari ingatannya. Dimana tubuhnya sendiri juga ikut terombang-ambing di dasar perairan sebuah danau yang nampak begitu menenangkan.
“Menyedihkan.” gumam sang gadis mulai berdiri perlahan. Dia segera mengenyahkan ingatan sepintas nya lalu dengan santai sosok gadis itu menyambut sosok jiwa sang pemuda diatas sampan kecilnya itu.
“Hai. Kita bertemu lagi…” sapa si pemuda santai. Seolah-olah dia memang menyadari kematiannya dan semua yang hal yang terjadi di hidupnya.
"Ya! Kita bertemu lagi!" jawab sang gadis tersenyum simpul.
“Kapan hukumanku akan berakhir??” keluh si pemuda nampak sudah sangat familiar dengan sosok gadis dihadapannya.
Dimata sang gadis, sosok pemuda ini selalu memberinya kesan yang aneh. Selain seperti mengerti dan tahu kapan kematiannya akan datang, dia juga selalu tersenyum pada sang gadis tiga hari sebelum hari kematiannya itu tiba.
Sebagai seorang penjemput dan pengantar, sudah menjadi tugasnya untuk mengunjungi calon korbannya tiga hari sebelum hari penjemputan.
__ADS_1
“Entahlah.” jawab sang gadis santai.
“Aku bosan berakhir ditempat yang sama.”
“Siapa suruh kamu menerjangnya begitu saja.” sang gadis menjawab jutek. Jawaban itu keluar dengan entengnya seolah dia mengetahui alasan dibalik kata 'hukuman' yang dikatakan oleh pemuda dihadapannya.
Benar-benar kesal mendengar keluhan si pemuda yang kini wajahnya nampak sedikit nelangsa mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya, sang gadis mengibaskan jubahnya lalu merubah tempat mereka berdiri kini.
Harusnya sebagai pengantar, sang gadis akan mengantarkan jiwa yang dijemputnya ke jalanan sesuai catatan buku kematian si pemuda. Namun untuk pemuda dihadapannya ini, buku kematian itu seakan tidak berfungsi. Mereka seakan pergi ketempat yang terus membuat sang gadis merasakan sesuatu yang janggal dalam perjalanannya.
Yang tadinya mereka berdiri diatas sampan kecil milik si pemuda, kini mereka sudah berpindah tempat dengan berdiri diatas dermaga tua di tengah-tengah danau dengan airnya yang terlihat sedikit keruh.
Melihat ke sekitar air danau, sang gadis kembali merasakan kesakitan yang menjalar didalam tubuhnya. Mengalihkan pandangannya ke bagian ke dalaman hujan di ujung dermaga, sosoknya kembali mendapati jalanan yang dulu pernah ia lalui bersama jiwa dari sosok tua yang dia hantarkan.
Jalanan setapak yang terhubung ke sebuah gerbang kematian yang begitu kelam. Gerbang itu nampak tua dan terbuat dari kayu yang berusia ribuan tahun. Gagang pintu berwarna kehitaman yang sudah mulai copot. Namun yang menjadikan tempat itu semakin menyeramkan adalah apa yang berada di baliknya.
Pernah sekali ia mengantarkan sosok tua itu setelah tiga kehidupan, sosok tua itu masih kembali ke jalanan yang sama. Jalanan yang mereka lalui sebenarnya sangat indah. Sepanjang jalan setapak itu terdapat hutan dengan setiap pohon yang menjulang sampai ke langitnya. Bunga lavender ungu berjejer di sepanjang jalanan setapak seolah-olah memberi tanda arah jalanan yang harus mereka lewati.
Dia diam menatap gerbang yang berada di ujung jalan. Ini sudah yang ketiga kalinya untuk sosok tua itu. Berbeda dengan tampilan sosok tua itu di perjalan pertama dan keduanya, sosok itu kali ini sudah nampak lebih tua dengan rambut putih beruban nya. Kaca mata yang berbingkai coklat dengan tampilan yang masih sama gagahnya.
"Adakah aku menghancurkan tiga generasi dari beberapa keluarga!"
Entah itu jawaban atau pertanyaan, sosok tua itu menghela nafas perlahan. Seakan bersiap menghadapi sesuatu yang sedang menantinya di ujung perjalanan.
Jerit ketakutan dan rintihan kesakitan menggema dari balik gerbang kayu yang mulai terbuka secara perlahan. Hawa yang keluar begitu menyesakkan. Kegelapan dan bau kemenyan santer menghasut hidung sang gadis. Tiga algojo lalu keluar dan menghalangi pandangan sang gadis untuk melihat ke balik gerbang yang telah terbuka dengan lebar.
"Cukup kau antar kan dia sampai disini!" ujar algojo yang paling depan yang menjadi pemimpin dua algojo lainnya. Dari balik tudung coklat dari jubahnya, sosok itu menghempas tubuh sang gadis dengan kasar.
Gadis itu langsung menghindar dengan mengubah sudut pandang dan tubuhnya menghadap sisi yang berbeda.
__ADS_1
Terdiam dengan posisi tersebut, dia hanya bisa melirik sejenak menyaksikan sosok itu masuk ke dalam gerbang dengan di kawal oleh tiga algojo yang nampak begitu besar dan menyeramkan.
Jerit kengerian seketika terngiang ditelinga sang gadis bersamaan dengan menghilangnya sosok tua bersama tiga algojo tersebut. Gerbang tertutup dan menghilang secara perlahan dari pandangnya. Membuat suasana hutan yang sempat menakutkan itu, kembali menjadi hutan yang begitu menenangkan.
“Jalan seperti apa yang mungkin akan ku lalui lagi.” tanya si pemuda menyadarkan sang gadis dari ingatannya akan jalanan yang kini tersaji di ujung dermaga ini.
"Entahlah!" jawab sang gadis menerawang memandangi jalanan setapak batu krikil tersebut.
Menyadari bunga disekitaran jalanan setapak batu krikil itu nampak berbeda dengan bunga yang tumbuh ketika ia mengantarkan sosok tua itu, sang gadis berpaling menatap si pemuda yang juga tengah menatapnya dengan begitu lembut dan dalam.
Mata si pemuda seakan menyiratkan banyak hal. Tatapan mata itu membuat sang gadis lagi-lagi tertelan oleh rasa sakit yang langsung menghujam ulu hatinya berkali-kali. Membuatnya jatuh terperosok dengan nafas yang tersengal. Bayang demi bayangan kehidupan melintas dibenak sang gadis. Membuatnya mempertanyakan banyak hal terkait dengan pemuda yang kini berjongkok dihadapannya.
"Siapa!!" tanya sang gadis meringis.
Tidak langsung menjawab, si pemuda hanya menepuk kepala sang gadis dengan lembut.
"Sesakit itukah jalan yang kamu pilih?" ujarnya.
Hawa gelap lalu meluap dari seluruh tubuh sang gadis. Membuat sosoknya diselimuti kegelapan yang mencekam. Petir merah kehitaman menyambar setiap jengkal kulitnya. Harusnya hal itu terasa menyakitkan, namun perlahan kilatan petir itu mampu menyadarkan sang gadis dari kegelapan yang perlahan mengikis kesadaran jiwanya.
"Aku harap bisa menggantikan mu menerima setiap rasa sakitnya!" si pemuda membiarkan tangannya tersambar petir merah kehitaman itu beberapa kali. Merasakan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh secara mematikan.
Menyadari si pemuda tersambar oleh petir yang keluar dari hawa hitam disekitar tubuhnya, sang gadis mendorong tubuh si pemuda, bangkit dari posisinya lalu menyerap hawa kegelapan disekitar danau untuk menghentikan rasa sakit yang menghantuinya.
Si pemuda yang kaget dengan itu langsung menatap tindakan sang gadis. Melempar sebuah kilatan kecil yang memercik dibawah tangannya lalu membiarkan tubuh sang gadis jatuh melayang ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu yang harus menanggung kutukan itu!"
Dalam suasana yang begitu hening dan tenang setelah semua rasa sakit yang dialami sang gadis dan si pemuda, sosok lain muncul secepat sambaran kilat dihadapan mereka. Mengguncang ketenangan air danau dengan kepakan sayap hitamnya.
__ADS_1
"Kalian?!"
...***...