Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Menusia


__ADS_3

Hari ini Eren muncul secara mendadak dihadapan Laras berambut pendek. Sosoknya membuat Laras tertegun lalu mengabaikan Eren dengan sengaja. Tingkahnya yang berbeda dari sosok Laras yang dikenalnya membuat Eren mulai mengabaikan sosok itu. Membiarkannya berlalu pada belokan tangga di ujung lorong.


Eren sudah akan pergi begitu merasakan sesuatu yang kuat dengan perasaannya. Sesuatu yang mendekat dengan cara yang tidak biasa. Langkah kaki yang pelan namun pasti. Tatapan mata yang penuh namun tetap fokus. Wajah yang tertutupi kerah jaket yang begitu tinggi, sosoknya berjalan melewati dan menembus Eren dalam sosoknya yang lain. Eren berbalik memandang gadis yang ia ingat pernah ia temui di rumah makan komplek perumahannya dulu.


Baru beberapa hari yang lalu ia melihat gadis itu dalam guyuran hujan dan melewati mobilnya. Lalu makan di waktu yang bersamaan disebuah rumah makan ketika dia bersama Laras. Menggunakan jaket yang sama. Jaket hitam dengan kerahnya yang tinggi menutupi sampai setengah bagian wajah itu. Bagian keningnya tertutupi poni sampai dibawah alis. Membuatnya hanya terlihat bagian matanya saja. Mata yang bulat besar dengan bulu matanya yang lentik.


Sekali lagi, rambut panjang itu terkibaskan angin. Membuat Eren tidak memalingkan pandangannya sama sekali. Melihat bagaimana bagian mata yang sempat meliriknya itu membuang pandangannya dengan cara yang sangat familiar untuk dirinya.


"Eren!" panggilan itu datang dari Laras dengan rambut pendeknya. Merasa jengkel karena Eren juga ikut mengabaikannya, Laras dengan rambut pendek itu berbalik mencari pemuda itu.


Dia mendekap kedua tangannya didepan dada. Menatap dengan marah tapi manja, Laras berambut pendek menunjukan lagi sikap yang bertolak belakang dengan Laras yang dikenalnya.


"Karena aku mengabaikan mu, bukan berarti kau juga boleh mengabaikan ku!" bentaknya dengan nada jengkel. Tidak ada senyum diwajahnya, melainkan sikap jutek yang ditunjukannya.


Sementara Eren merasa semakin asing dengan sosok gadis di hapadannya itu, Laras disisi yang lain masih terdiam didepan pintu kelas. Melirik sebentar kejadian itu, lalu masuk ke dalam kelas untuk memulai kuliahnya.


Mencari bangku paling pojok, Laras mengingat kembali bagaimana hubungan yang dipertontonkan oleh Eren dan Rein di lorong itu.


"Apa hak ku untuk membenci tindakan mereka!" Laras menurunkan resleting jaket pada bagian kerah. Menurunkan sampai bagian leher lalu menatap kearah depannya dengan tatapan kosong.


Selama pelajaran dimulai sampai akhir, Laras hanya termenung dan berkutat dengan pikirannya sendiri.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa ingatanku masih utuh? Dan kenapa aku aku harus memulai semuanya kembali dari titik ini?

__ADS_1


"Yang dipojok, ingin menyampaikan sesuatu?"


Laras yang tertegun hanya membalas dengan gelengan kecil lalu melanjutkan semua hal yang berputar dalam pikirannya. Dia memainkan pulpen yang dipegangnya lalu sesekali mencoret kertas diatas mejanya. Memukulkan berkali-kali pulpen itu pada keningnya lalu menaruh pulpen itu pada mulutnya. Setelah beberapa saat, dia menghela nafas lalu mengerutkan keningnya.


Angin dingin berhembus pelan dari sisi jendela, membuat dia kembali menaikan resleting dan kerah jaket yang dipakainya sampai menutupi setengah bagian wajahnya.


Dan sedari tadi semua hal yang dilakukannya tengah diperhatikan sesosok lain yang kini sudah membaur pada ruang kelas itu. Dia yang dijuluki pangeran baik hati dengan pakaian serba putih dipadupadankan dengan celana panjang berwarna krim dan sepatu kets berwarna biru jeans. Kacamata tipis menghiasi bingkai matanya yang nampak sipit namun bulatan boa mata itu penuh dan belo.


"Apakah dia sosok yang sama dengan gadis waktu itu?"


pemuda yang baru berbaur dalam kelas secara tiba-tiba itu mengingat lagi sosok gadis yang sama miripnya dengan sosok Laras yang ia kenal. Mengingatkannya pada pertemuan Laras dengan sosok yang mirip dengannya dihalaman kampus beberapa minggu lalu. Sosok yang sama identiknya dengan Laras. Hanya terdapat perbedaan warna pakaian dan panjang rambut pada keduanya. Selebihnya, jika kedua gadis berpenampilan sama, tidak akan ada yang mampu mengenali salah satunya dengan baik.


Laras dipojokan kelas langsung melirik pada pemuda itu. Pemuda yang dikenal olehnya dengan sangat baik. Sama baiknya seperti dia mengenal Eren. Laras menunjukan senyum simpulnya lalu kembali fokus pada pemikirannya. Sampai jam pelajaran usai, Laras masih melamunkan hal yang sama.


Sekali kita hidup, kematian akan datang dan terus menerus menguji hidup kita. Entah itu kematian karena usia lanjut, karena sakit, penderitaan, kecelakaan, dibunuh, disakiti. Dari semua jenis kematian yang mungkin dilalui manusia, kematian karena memang sudah waktunya adalah yang terbaik. Karena menandakan tugas kita dalam menjalani takdir sebagai manusia telah usai.


Namun pada kenyataanya, manusia sering berjalan menghindari kematiannya dengan menerima jabat tangan kegelapan. Menghindari takdir kematiannya berkali-kali hanya untuk memperpanjang penderitaan yang terus diciptakannya. Lalu setelah hidupnya terasa begitu menderita dan dibawah titik terendahnya, maka manusia dengan lantang menyalahkan sang Penciptanya karena memberikannya takdir yang begitu menyedihkan.


Menyadari semua itu, Laras tertegun sejenak lalu tersenyum kecil. Sebelum beranjak dari tempatnya kini, pemuda yang dikenalnya. sudah menyapa dengan senang hati.


"Hai!" sapa pertamanya.


Terdengar kaku untuk orang yang saling mengenal. Sebelum sempat protes dengan sapaan itu, Laras langsung mengurungkan niatnya ketika Eren sudah berada didepan mejanya dan duduk santai menyapa pemuda say 'hai' pada Laras.

__ADS_1


"Aksara! Kita perlu bicara?"


Pemuda itu langsung merasa kesal dengan sapaan itu. Sapaan dari seorang yang ingin sekali dihindarinya karena selalu datang bersama dengan biang masalah yang tidak lain adalah sosok Laras berambut pendek yang pada pandangan Laras yang sebenarnya, Laras berambut pendek itu adalah sosok Rein. Rein yang menghilang dari dunia dan Rein yang tidak mereka ketahui keberadaannya.


Dan benar saja. Sosok itu langsung menempel pada lengan Eren. Bergelayut manja yang membuat Eren merasa semakin ingin menjauhi gadis itu.


"Kalian mau bicara? Aku boleh tahu?"


"Ini urusan laki-laki. Kamu boleh tunggu diluar sebentar?" jawab Aksara sopan.


"Kenapa aku saja?" protesnya. "Kenapa dia tidak?"


Tudingan itu mengarah pada sosok Laras yang sedari tadi hanya menyembunyikan wajahnya pada kerah jaket yang diangkatnya semakin tinggi. Sebisa mungkin, Laras ingin membatasi kontak dengan Eren dan Rein karena perasaan yang dimilikinya masih tidak karuan melihat kedekatan keduanya.


Laras mengangkat tangan kanannya sebagai pertanda ia ingin menjawab. Dan jawaban itu keluar berupa tindakan dimana Laras langsung beranjak pergi dari tempat itu.


Baru beberapa langkah, sebuah bayang hitam pekat bermata kelam langsung berdiri beberapa langkah dari Laras yang bermaksud keluar dari dalam kelas. Tatapan mata itu pasti dan terarah kepada bayangan itu. Namun setelah dekat, Laras tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Tubuh Laras menembus sosok bayang hitam bermata kelam itu dan tidak merespon ancaman yang dikeluarkannya kepada sosoknya.


Sementara bayangan hitam bermata kelam itu kebingungan dengan sikap yang ditunjukan Laras, Eren dan Aksara tengah menahan dua sosok lain yang bangkit dari balik punggung keduanya.


Yang satu merupakan sosok tidak biasa Aksara dengan sayap berbulu emas mengenakan setelan serba hitam yang elegant. Satunya lagi adalah sosok lain Eren sebagai sosok penjaga tertinggi berjubah hitam compang-camping dengan lingkaran 7 bola api kebiruan pada bagian belakang atas kepalanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2