Abu-Abu

Abu-Abu
Tugas yang berat


__ADS_3

Laras baru saja terbangun dari tidurnya. Tubuh itu terasa amat lelah. Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat. Sesekali ia terhuyun sampai akhirnya tubuhnya terperosok jatuh tepat setelah ia berhasil membuka pintu kamarnya.


"Sakiiit.." keluh Laras sambil memegangi dadanya. Rasanya amat sesak untuk Laras dimalam itu. Itu adalah malam yang sangat panjang untuk Laras. Malam setelah ia berhasil pulang dengan diantar oleh dua malaikat kematian.


//


"Aku pikir, aku telah benar-benar mati..." ujar Laras lirih. Seluruh tubuhnya gemetar dan ia merasa sedikit menggigil.


"Aku bisa mengabulkannya kapan saja." ujar suara parau sosok sang penjaga.


"Selesaikan tugasmu. Baru pilih mana yang menjadi jalanmu!" Aksara mencegah sosok sang penjaga untuk menarik jiwa Laras dari tubuhnya. Walau bukan itu tujuan tindakan sosok sang penjaga yang sebenarnya.


"Kalian benar,,," Laras membalik badannya dan mulai berjalan masuk kedalam lorong kamarnya. "...Aku masih punya pilihan."


Laras melambaikan tangannya. Mengucapkan sampai jumpa dan mengusir halus kedua makhluk yang mengancam jiwa setiap penghuni rumah yang mereka kunjungi.


//


"Aku benar-benar memikirkan sebuah kematian saat ini.." nafasnya berat. Laras berusaha bangkit dari jatuhnya dengan kedua tangan menopang pada lantai dibawahnya. Rasanya benar-benar kehilangan semua tenaga. Bahkan untuk bangun sekalipun, Laras merasa tidak sanggup.


Hentakan langkah kaki membuat Laras terdiam. Dia sudah pasrah akan keadaannya. Apalagi samar-samar dari ujung lorong kamarnya, Laras melihat sosok sang penjaga bersayap hitam berjalan perlahan kearahnya. Dimata Laras langkah itu nampak slowmotion seperti adegan-adegan dimana sang pemeran utama cerita akan berhadapan dengan sesuatu yang bisa saja itu mendebarkan atau pun menegangkan. Dan dipikiran Laras kali ini, pastilah ini adegan dimana sang pemeran utama cerita dijemput oleh kematian dalam damai.


"Aku sudah banyak melihat kematian tapi tidak bisa melakukan apapun, sekarangpun semuanya sama..." Laras mendongak ke hadapannya tepat saat sosok lain sang penjaga berlutut dihadapannya. Gaya sosok lain sang penjaga nampak seperti mafia yang siap menembakan pistolnya pada korbannya yang sudah tersungkur ketanah. Seperti itulah posisi yang kini Laras rasakan.


"Kau demam." ujar sosok lain sang penjaga yang tidak lain adalah Eren. Iya! Eren. Sosok yang ingin sekali ditemui Laras saat ini.


"Aku lebih suka sosok ini yang menjemput ku..." gumam Laras lalu menjatuhkan bagian kepalanya pada tangan Eren yang baru saja selesai mengukur suhu pada dahi Laras.


Tangan Eren menjaga bagian wajah itu agar tidak terjatuh. Menahan dan kemudian membopong tubuh Laras yang lunglai kembali masuk kedalam kamarnya.


"Kalau kau seperti ini, bagaimana aku harus menjemput mereka..." gumam Eren menempatkan tubuh Laras keatas tempat tidurnya.


"Aku tidak punya kuasa untuk menjemputmu, tapi nyawa mereka sudah seharusnya kembali ke lembah abu-abu..." Eren memperhatikan sebuah foto berbingkai kayu yang berada dekat dengan meja lampu kamar Laras. Itu adalah foto Laras bersama kakek dan neneknya.

__ADS_1


"Kalian sudah mendapat hak terlalu lama... Kalian sudah menghindari kematian berulang kali hanya untuk sosoknya yang sekarang..."


"Nggg..." Laras mulai mengigau. Keringat mengucur dari dahinya. Dia nampak gelisah dalam keadaannya kini.


"Apakah ini efek dari apa yang terjadi sore tadi?!" Eren melepas sosoknya dan kembali ke wujud sang penjaga. Berusaha untuk menenangkan Laras dalam ketidaksadarannya, sang penjaga mengusap wajah Laras lalu terdiam setelah melihat ketenangan pada wajah itu.


Dalam keheningan, sekelebat bayang mengusik kewaspadaan sang penjaga. Dia kembali menjadi sosok lain dirinya. Eren. Mengikuti sebuah hembusan bayang yang begitu dikenalnya, Eren menghentikan langkah Aksara begitu Aksara berdiam diri didepan pintu kamar kakek dan nenek Laras.


"Apa yang bisa kita lakukan?"


"Mereka masuk dalam daftar lembah!"


"Jiwa yang berhasil menghindari kematian berkali-kali demi mempertahankan hidupnya sendiri sangat layak untuk pergi ketempat yang baik... tapi mereka..."


"..hidup untuk menghidupkan jiwa dia yang terlarang."


"Seperti meminta mereka untuk menyerahkan diri..." Aksara tersenyum kaku.


"Seperti itulah dia terbentu." Aksara menambahkan.


Kedua mahkluk tak kasat mata itu tetap tak bergeming dengan keheningan malam itu. Hanya bisa terpaku didepan pintu sampai mentari mulai menampakan sinarnya. Bayang kedua mahkluk itu perlahan menghilang tanpa melakukan hal apapun yang menjadi tugas mereka dimalam itu.


"Tugas yang membingungkan..." gumam Aksara sebelum benar-benar menghilang dari tempatnya berdiri.


Laras terdiam di teras kamarnya. Dia tidak punya cukup tenaga untuk menegur kedua mahkluk yang sedari tadi berdiri didepan pintu kakek dan neneknya. Laras hanya berharap Aksara ataupun Eren tidak akan menjemput kedua orang tua itu dari rumahnya. Hanya kakek dan nenek yang Laras punya setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sampai pagi menjelang, kedua sosok mahkluk yang dianggapnya teman itu tidak melakukan hal berarti apapun. Hanya sesekali terdengar desisan karena mereka membicarakan sesuatu yang tidak terjangkau oleh pendengaran Laras.


Begitu pintu kamar didepan Laras terbuka, sang nenek langsung berjalan cepat mendapati cucunya bersandar pada tembok teras didepan kamarnya dengan wajah memerah.


"Sejak kapan kamu demam?" tanya sang nenek setelah berhasil mengukur suhu tubuh Laras.


"Hari ini tidak usah sekolah. Istirahatlah dirumah." sang kakek membantu Laras untuk berdiri.


"Aku bisa kek,," ucap Laras lalu bangkit dari sandarannya. _Aku hanya takut kalau ternyata mereka membawa kalian pergi dari sisiku..._

__ADS_1


Laras membaringkan diri lalu terduduk ditempat tidurnya saat mendengar sebuah suara menyapa dihalaman rumahnya. Dia tertegun dengan suara yang didengarnya. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya langsung berkeringat. Ingatannya kini kembali sesaat sebelum dia tersadar dari pingsan di UKS sekolah sore kemarin. Hari padahal menjelang siang.


"Hai mahkluk terlarang!" sapa pertamanya begitu memasuki kamar Laras. Dia Zara. Membawa dua kantung plastik berwarna putih dan diletakkannya diatas meja belajar Laras. "Makanlah agar merasa lebih baik."


"Terima kasih."


"Aksara menceritakannya kemarin padaku..." Zara terdiam. "Kau memang mempunyai sesuatu yang berbeda untuk dilakukan."


Laras menghela nafas. "Bisa-bisanya kamu tidak mempedulikan keadaanku saat ini..."


"Justru kamu harus mengetahuinya, agar lain kali kamu tidak gampang jatuh seperti hari ini."


Laras menatap Zara. Ucapan yang dikeluarkannya tegas dan jelas.


"Kamu harus bisa mengontrol dirimu sendiri. Mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, sampai tugasmu selesai, kamu akan mengalami beberapa hal seperti kemarin. Mungkin lebih ringan. Atau lebih parah lagi dari sebelumnya."


Laras tersenyum. Entah bagaimana perasaannya kini. Seakan dia memang harus melakukan sesuatu untuk hidup orang lain. Laras terdiam.


"Kamu sudah berjalan dijalanan itu beberapa kali dan tidak mengalami hal apapun, kecuali apa yang terjadi kemarin, itu bukan pengecualian. Itu adalah hal apa yang kedepannya harus kamu hadapi."


"Kau terlalu berterus terang." Aksara menyapa dengan menampilkan sosoknya bersayap tulang belulang.


"Dia memang sudah siap. Hanya belum mau terbangun saja." Zara menepikan duduknya. "Ini efek pertama yang diterimanya setelah beberapa kali melakukan pengantaran."


" Kalian..." Laras menatap kedua mahkluk yang kini sedang balik menatapnya. Sementara sosok lain disudut itu hanya terdiam menikmati angin yang berhembus dari sudut jendela kamar itu. "Kenapa kalian datang bersama hari ini?"


Aksara terdiam. Zara hanya tersenyum kecut. Mengetahui maksud dan tujuan pertanyaan Laras, Zara lalu mengambil sebuah jeruk dari kantong plastik yang dibawanya. "Mau makan jeruk?" dengan cekatan Laras mengupas jeruk itu dan membaginya kepada Laras.


"Biarkan aku bersama mereka sedikit lebih lama."


Sosok bayang sang penjaga langsung menghilang dari ruangan yang tetiba sunyi tersebut.


Mendengar kalimat itu keluar dari Laras, Aksara dan Zara sedikit menundukkan kepala. Bukan tidak mau memberikan kesempatan, tapi waktu sedang berjalan dengan sangat cepatnya saat ini. Dan bukan tugas mereka untuk menjemput kakek dan nenek Laras lagi kali ini.

__ADS_1


__ADS_2