Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Memastikan rasa


__ADS_3

Bayangan Laras yang tertawa bahagia bersama Eren membuat sosok Aksara menjadi sedikit uring-uringan setelah pertemuan nya dengan sosok perempuan tua dijalanan setapak batu bata merah.


Hal yang selama ini tidak terpikirkan olehnya tiba-tiba mengusik hari-harinya yang berjalan setelah pembicaraannya dengan sesosok jiwa perempuan tua.


Kemunculan jiwa perempuan tua dijalanan setapak batu bata merah merupakan pertemuan tak terduga bagi Aksara. Ketika ingin menjauh dari Laras dan Eren yang sedang melepas rindu, Aksara melihat dari atas ada sesosok jiwa yang berjalan dengan sangat santai menggunakan tongkat coklat tua nya.


Saat tengah memperhatikan, sosok wanita tua itu melambaikan tangannya pada Aksara. Setelah yakin sosok jiwa wanita tua itu memang tengah memanggil dirinya, Aksara dengan perlahan turun lalu menghampiri sang wanita tua setelah menutup kepakan sayapnya.


"Antarkan saya cepat!" pintanya tegas namun tidak mengurangi rasa sopan santun yang ditunjukannya pada saat meminta Aksara untuk mengantarkannya.


"Bagaimana anda bisa sampai disini?"


Aksara berusaha mencari tahu tentang kemunculan jiwa wanita tua itu pada jalanan yang menjadi daerah kekuasaannya. Karena seharusnya, setiap jiwa yang melewati jalanan setapak batu bata merah akan memberinya isyarat jalan. Tapi jiwa perempuan tua itu tidak ada isyarat jalan dan bukan merupakan jiwa yang harus diantarkannya.


"Kenapa bisa terjadi hal semacam itu?" gumam Aksara ditepian lembah jalanan setapak batu bata merah.


Dia tengah menyandarkan dirinya pada satu-satunya pohon tertua di bagian sisi lembah jalanan setapak batu bata merah itu. Pohon yang selalu nampak tenang dan tidak memiliki hal apapun selalu membuat Aksara begitu nyaman untuk terus bersandar dan menghabiskan waktunya di tempat itu.


"Aku melihatmu, sepertinya sedang jatuh cinta?!" / "Bukankah kau sempat terbayang gadis itu?"


Aksara tengadah ke langit mengingat semua ucapan wanita tua itu. Memperhatikan setiap laju awan yang terkadang bergerak cepat, terkadang juga bergerak lambat.


Dia kembali mengulangi kebiasaannya. Membuka lebar tangannya ke atas langit seperti tengah meraih sesuatu yang berharga kemudian menggenggamnya erat. Yang terbayang saat itu adalah pertemuan pertama antara dirinya dan Laras pada semak-semak disisi halaman parkir sebuah sekolah yang bernama SMA Kenanga.


Aksara tersenyum sejenak, kemudian kehilangan senyumnya dan terganti dengan hal membingungkan untuk perjalan yang dia lakukan berikutnya pada jalanan setapak batu bata merah.


"Aku terlalu memikirkan ocehan wanita tua itu..." gumam Aksara tersenyum simpul lalu perlahan menutup matanya guna melanjutkan ketenangan yang tidak pernah dia rasakan beberapa hari terakhir.


Bayang kebingungan dan senyuman Laras menghiasi ingatannya ketika mata itu terpejam setelah beberapa saat.


"Akh! Sial!" matanya terbuka lebar. Pandangannya menelisik setiap sisi lembah yang sunyi senyap.


Aksara langsung menutupi wajahnya dengan tangannya yang lebar. Membiarkan setiap ruas jari memiliki jarak yang cukup untuknya tetap melihat bebas dengan mata yang sudah terbelalak lebar.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?!"


Aksara semakin gusar. Tidak biasanya dia menjadi begitu memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dia pikirkan. Terlebih itu tentang sosok ambigu yang menjadi begitu terlarang untuk dipikirkan.


Aksara merenung lama. Semilir angin menerpa wajahnya dan kemudian sosoknya menghilang dengan raut wajah yang cukup serius dibalik kediaman yang ditunjukannya.


//


Di dalam kelas, Laras termenung memandangi dosen dalam menjelaskan materi pembelajaran mata kuliahnya hari ini. Tubuh dan seluruh indra nya memang berada dalam kelas, tetapi tidak dengan pikirannya.


Masih terbayang dalam benak Laras bagaimana ia dihari kemarin. Betapa membahagiakannya perasaan Laras ketika mampu mengingat kembali sosok Eren yang ia rindukan.


"Terlalu dini untuk tersenyum seperti orang bodoh seperti itu!" tegur sosok Aksara yang tiba-tiba sudah duduk santai disamping Laras.


Gayanya santai mengenakan sweater bergaris putih biru, celana kain berwarna krim, dan kacamata tipis menghiasi wajah yang biasanya nampak tegas tersebut.


Laras mengerutkan dahinya. Membuang pandangan kearah sampingnya, dia dikagetkan dengan sosok Eren yang terpaku kearah depannya dengan pandangan yang santai namun fokus. Laras sempat terkesima sebelum akhirnya menyadari itu benar-benar sosok Eren yang baru saja menyita seluruh pikirannya.


Laras langsung membenamkan wajahnya diantara tumpukan buku yang ada dihadapannya. Pikiran dan hatinya bergejolak tidak menentu dengan keadaan yang tiba-tiba dihadapinya.


Kedua pemuda tersenyum penuh makna dengan reaksi yang diberikan Laras. Mereka membantu menutupi tingkah Laras dengan membuka halaman buku dan meletakkannya dihadapan Laras untuk menghalangi pandangan dosen kearah gadis itu.


Namun, Eren membalik posisi bukunya dengan tujuan agar Laras menjadi pusat perhatian pada pembelajaran siang itu. Seperti bagaimana pertemuan awal mereka di masa SMA, Eren sangat suka melihat Laras yang salah tingkah dengan kelakuannya.


Benar saja, hal yang dilakukan Eren mengundang perhatian dosen karena begitu Eren meletakkan bukunya, dia sengaja menghentakkan buku itu dengan cukup keras.


"Siapa yang disana?! Dilarang tidur pada mata kuliah saya!!"


Laras langsung memicing menatap Eren. Tatapan jengkel karena gadis itu langsung merasa bahwa dirinya yang sedang di bicarakan oleh dosen tersebut begitu mendengar hentakan buku yang Eren lakukan.


"Maaf pak! Saya salah membuka halaman buku.." jawab Laras sekenannya. Kemudian kembali fokus ke materi yang dijelaskan.


Tidak dengan Eren, dia merasa sikap Aksara sedikit berbeda dari biasanya kepada Laras. Atau memang dirinya kurang memperhatikan hal itu, Eren mengabaikan hal itu begitu melihat Aksara hanya fokus kearah depannya sama seperti Laras.

__ADS_1


"Apa kalian berdua kekurangan kerjaan?" tanya Laras begitu ketiganya keluar dari kelas setelah jam mata kuliah telah usai dilaksanakan.


Kedua pemuda itu hanya mengangkat bahu mereka karena enggan menjawab pertanyaan Laras yang terkesan basa basi itu. Daripada ingin memberi jawaban pada Laras, sikap keduanya lebih kepada mencari perhatian dari seluruh warga kampus.


"Tidak seharusnya aku berjalan bersama kalian!" Laras segera mempercepat langkahnya menjauhi kedua pemuda begitu dirinya menjadi pusat perhatian karena berjalan bersama dua pangeran kampus.


Belum sempat melangkah jauh, tiba-tiba satu dari dua pemuda itu menarik tangan Laras tanpa segan. Menghentikan Laras dengan kehebohan yang tidak akan bisa ditahan oleh siapapun untuk tidak mengomentarinya selama beberapa waktu.


Laras yang kaget langsung reflek mendorong tubuh Aksara menjauh dari dirinya. Gadis itu langsung menatap kaget. Ada rasa tidak percaya ketika bau sitrus itu tercium kuat dari tubuh pemuda itu.


Namun Eren yang berdiri disamping Aksara menunjukan senyum penuh kepuasan terhadap sikap yang Laras tunjukan untuk tindakan itu. Entah apapun itu yang menjadi tujuan Aksara melakukan itu, Eren tidak peduli.


Dia melirik pada Aksara, yang dimana Aksara baru saja menarik tangan itu ketika Laras mendorong jauh tubuhnya itu dari tindakan yang dilakukannya.


Tubuh Laras sedikit singkuh dan mengkeret. Dia menatap sejenak ke arah depannya, namun riuh suara sorakan beberapa mahasiswa lain membuat gadis itu langsung berpaling dengan pikiran yang sedikit kacau.


"Pantas saja lo bersikap aneh belakangan.." ujar Eren kemudian berlalu dari samping Aksara yang merasakan sesuatu memang sedang terjadi pada dirinya untuk gadis bernama Laras itu.


Disisi lain, meninggalkan Aksara yang mulai menyadari sesuatu, Eren yang acuh tak acuh, dan Laras yang menjauh dari tempat itu dengan sedikit menutupi bagian wajahnya, seorang lainnya yang berdiri mematung diujung tangga. Melihat hal yang terjadi dengan perasaan yang tidak karuan.


"Apa bagusnya dia?!" gumamnya kesal. Dipukulnya bagian sisi tangga dengan cukup keras. Lalu sosok itu berlalu dengan menaiki anak tangga dengan semua kekesalan terhadap pemandangan yang baru saja dilihatnya.


Langkahnya menuju toilet lantai atas. Masuk ke dalam toilet dengan keadaan sepi, sosok itu memandang bayangan dirinya dalam cermin toilet. Kekesalan memuncak dan cermin langsung memunculkan bayangan gelap dari sisi cermin dibaliknya.


Bayangan gelap itu menjulurkan bagian tangannya untuk keluar dari sisi cermin. Membelai sosok lain dihadapannya yang kini menatap dengan tatapan kosong.


"Datanglah kepadaku...Aku akan membantumu mendapatkan sosok itu...."


Suara yang terdengar melengking seperti suara penyihir jahat terdengar dari balik bayangan cermin toilet sekolah. Menampakan segurat senyum dari pemilik bayangan yang berbalik menoleh kearah belakangnya karena merasa diawasi seorang dari balik pintu toilet yang ada disana.


Kedua sosok itu menampakan senyum yang sama kearah belakang punggung si pemilik bayangan. Dan orang lain di dalam bilik toilet mulai tidak sadarkan diri dengan pemandangan yang dilihatnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2