
"Gadis itu..."
Begitu Zara mencoba memperhatikan dengan baik gadis yang kini berdiri bersama Eren, pandangannya langsung terhalang oleh sesuatu yang membuat Zara kehilangan fokusnya. Zara sampai harus mengalihkan tatapannya dan mendapati sosok lain lagi yang kini berjalan kearah dimana Eren tengah bersama gadis yang tidak bisa dikenali olehnya.
"Apa yang dilakukan Eren dengan gadis itu?"
"Apa maksudmu?"
"Apa hubungan mereka memang sedang tidak baik? Atau dari awal memang tidak berjalan dengan baik?"
"Siapa maksudmu?" Aksara kebingungan dengan semua pertanyaan yang Zara ajukan diawal pertemuan mereka setelah beberapa waktu.
"Dia!" tudingan tangan itu mengarah pada Laras.
Laras yang melangkah santai menuju tempat Eren bersama gadis lain yang tidak dikenali oleh Zara. Atau lebih tepatnya, Eren dan gadis yang tidak dikenalnya itu kini sedang bermesraan.
"Apa hubungan mereka memang sedang kacau!?"
"Benar!" jawab Aksara.
Pandangan Aksara menerawang. Antara ingin menghentikan aksi Eren dan Laras berambut pendek tetapi juga tidak ingin melakukannya untuk membiarkan Laras berambut panjang melihat semuanya.
"Setidaknya satu Laras saja sudah cukup untuknya!"
"Apa maksudmu?!" langkah Zara terhenti oleh tangan Aksara yang menahannya.
"Biarkan saja!" ucap Aksara dengan perasaan yang tidak karuan. "Setidaknya, satu Laras saja sudah cukup untuk mengisi hidupnya!"
"Apa maksud omongan mu itu?!" Sergah Zara. "Tidak jelas sama sekali."
__ADS_1
Seiring dengan perbincangan Zara dan Aksara yang tidak menemukan titik terang dari sudut pandang mereka masing-masing, Laras pada lorong itu sudah berbelok dan mendapati Eren tengah berciuman dengan Rein.
Lebih tepatnya lagi hampir berciuman. Karena saat mendengar sebuah langkah kaki terhenti di ujung belokan disampingnya, Eren langsung bertemu tatap dengan Laras berambut panjang yang ingin dihindarinya. pemuda itu langsung mendorong tubuh Rein karena reflek. Detak jantungnya terasa lebih cepat ketika bertemu tatap dengan Laras yang akhirnya memilih berbalik untuk menghindari pemuda itu karena merasa canggung dengan pemikirannya sendiri.
Eren langsung mengalihkan pandangannya pada Laras berambut pendek dan menatapnya dengan penuh kebingungan. Sekali lagi sebelum pergi dari tempatnya, Eren membandingkan kedua Laras yang mana, satunya berdiri dihadapannya dan satunya lagi berbalik pergi meninggalkannya.
Rein atau yang dalam pandangan Eren adalah Laras berambut pendek - sendiri tengah menatap bengis pada kepergian Laras yang membuat Eren juga ikut pergi meninggalkannya. Selain membuat Eren pergi, Laras juga telah menggagalkan rencana Rein untuk memikat Eren dengan penampilannya yang mengkopi penampilan Laras. Mempersiapkan jebakan untuk mencuri sebuah sebuah ciuman dari pemuda itu.
Pemuda yang kini berjalan dalam kegelapan suasana lembah yang di jaganya. Membiarkan kesadarannya kembali dan melepaskan dirinya dari keterikatan pada hawa pemikat yang dipasangkan pada dirinya.
"Hampir saja!" suara parau itu memenuhi pendengaran Eren. Sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi menampakan bayangan dirinya dibelakang punggung Eren.
"Ya! Hampir saja." jawabnya pada dirinya sendiri.
Eren bertumpu tangan pada pohon dihadapannya. Nafasnya terengah-engah seperti telah melakukan pekerjaan yang berat dan menguras tenaga.
"Hawa pemikat yang digunakannya kuat sekali... aku sampai melupakan diriku sesaat karenanya!!"
Eren mengingat lagi hal yang terjadi sebelum dia bisa kembali menenangkan dirinya pada lembah yang dijaganya.
Eren baru saja ingin menghindari Laras ketika dia mendapati dirinya sudah digandeng oleh Sosok lain Laras yang berambut pendek. Dari apa yang dialami Eren sejak awal mengenal Laras, baru kali ini Eren bisa merasakan perbedaan antara kedua Laras yang berada disekitarnya.
Namun, semuanya tidak berselang lama. Karena saat Laras yang menggandeng tangannya, menjentikkan jari dihadapannya, Eren seperti melangkah sendiri mengikuti kemana bisikan Laras berambut pendek mengarahkannya.
Setengah kesadarannya ingin melawan tindakan yang dilakukan oleh tubuhnya, namun kuasa Eren terhadap tubuhnya tidak bisa lagi menahan pengaruh yang lakukan sosok Laras berambut pendek terhadapnya. Bahkan sosok lain Eren pun tidak luput dari pengaruh yang diberikan oleh sosok Laras berambut pendek itu.
Apa-apaan ini?! batin Eren.
Gerakan tubuhnya semakin kaku saja saat Eren lagi-lagi ingin melepaskan dirinya dari pengaruh yang diberikan. Sampai akhirnya dirinya harus menyerah dan mengikuti permainan yang ingin dilakukan sosok Laras berambut pendek itu kepadanya.
__ADS_1
Langkahnya mengarah ke belakang gedung fakultas seni. Tempat yang tidak terlalu ramai tapi selalu menjadi jalan yang dilalui Laras untuk pulang.
Sosok Laras berambut pendek menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari sudut gedung. Mengambil posisi menghadap dirinya lalu tersenyum dengan senyuman yang sulit dimengerti maksudnya oleh Eren. Senyum itu tulus, tapi juga dipenuhi oleh banyak keinginan. Keinginan yang tidak akan dimengerti orang lain termasuk dirinya sendiri.
Eren mengerutkan keningnya tepat ketika tangan itu mengusap pipinya. Dengan tatapan yang berapi-api, tubuh mungil itu berjinjit untuk mencuri satu ciuman pada dirinya. Dan sekali lagi, semakin melawan dengan tubuhnya, Eren semakin tidak kuasa untuk mengendalikannya. Tubuh itu malah ikut merespon belaian tangan gadis dihadapannya yang untuk pertama kalinya tidak dikenali oleh Eren.
Bibir itu hampir mencium bibirnya, namun satu hentakan langkah kaki membuat Eren mampu mengambil alih kendali dirinya. Jantungnya berdebar saat bertemu tatap dengan pemilik hentakan kaki itu. Dia Laras. Laras yang membuatnya merasakan debaran hebat pada jantungnya. Dia Laras yang sama, Laras yang ingin di hindari oleh Eren karena kejadian di hari kemarin yang cukup memalukan untuknya.
"Maaf!" ucap Laras lalu berbalik pergi dari tempat itu.
Tanpa ada niatan mengejar atau menjelaskan sesuatu pada Laras, Eren reflek mendorong Sosok Laras berambut pendek dihadapannya. Memilih pergi ke arah yang berlawanan, Eren langsung berpindah ke lembah yang dijaganya. Melepaskan diri dari pengaruh kuat yang dilakukan oleh sosok Laras berambut pendek yang tidak dikenalinya.
"Gadis tadi bukan Laras!" tegas Zara. "Jelas-jelas wajahnya berbeda jauh! Mana mungkin dia itu Laras!"
"Kita baru bertemu, kau sudah memulai perdebatan lagi!"
"Mau bagaimana lagi!" sergah Zara. "Kalian para lelaki selalu berpikir untuk melihat gadis lain setelah yang lainnya menghilang tanpa kabar!"
"Apa-apaan ucapan mu itu?!" tukas Aksara tidak terima. "Siapa yang berpikir mencari gadis lain! Dan siapa yang menghilang tanpa kabar!"
"Lalu siapa gadis yang bersama Eren tadi? Dan apa yang sudah terjadi pada Laras?!" geramnya.
"Kedua gadis itu adalah Laras." jawab Aksara coba memberikan jawaban pada temannya yang tiba-tiba memiliki banyak pertanyaan setelah kemunculannya.
"Bukan! Hanya ada satu Laras. Aku akan bertanya langsung padanya." Zara menghilang dari pandangan Aksara.
"Laras yang mana?!" Aksara meratapi kepergian Zara dengan heran. Dia melihat kembali ke arah Laras berambut pendek. Merasa janggal dengan kemana arah perginya Laras berambut pendek, Aksara dibuat semakin kebingungan dengan semua pertanyaan dan pernyataan Zara yang tidak bisa ia mengerti.
"Aku harus menyusul siapa?! Laras yang mana??!" Aksara tengadah ke langit. Dalam waktu sedetik, Aksara pun menghilang dari tempatnya.
__ADS_1
...***...