Abu-Abu

Abu-Abu
Jalan yang berbeda.


__ADS_3

Langkah Laras terhenti tepat disisi sebuah tebing yang tinggi dan curam. Beberapa jalanan penuh batu kerikil membuat langkah Laras tidak berimbang untuk menjauh dari sosok tinggi besar dibalik kabut gelap yang terus saja mendekat ke arahnya berdiri. Satu langkah keliru, Laras terpeleset dan terjatuh ke bagian bawah tebing.


"Kyaaaaa!!" Laras terperanjat dari tempat tidurnya. Gadis itu langsung mengatur nafasnya, menata alur pengelihatannya dalam gelap, dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru dialaminya hanyalah sebuah mimpi buruk. "Mimpi yang sama lagi..." gumam Laras membalikan badannya menghadap luar jendela.


Betapa kagetnya Laras, bayang sosok yang ia mimpikan seakan melayang dibalik jendela kamar itu. Laras langsung menarik selimutnya. Menutupi semua wajahnya dan berharap apa yang ada diluar jendelanya kini hanyalah sebuah bayangan tidak berarti.


"Apakah kau takut?" suara parau itu mengalun pelan ditelinga Laras.


"Apa kau tidak mengenali lagi sosokku?" dan lagi. Suara parau itu mengalun di telinga Laras.


Suara lain mengikuti. Itu adalah decitan suara jendela kamarnya yang terbuka secara perlahan. Laras mengatur nafasnya lagi. Menghapus keringat yang mengucur pada keningnya lalu membuka selimut yang menutupi bagian wajahnya dengan sedikit kesal.


Laras melirik ke arah jendela kamar yang sedikit terbuka dan melihat sosok lain Eren berdiri membelakangi cahaya bulan yang masuk. Sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping itu dikibaskan angin dan membawa hawa menyesakkan untuk malam yang terasa sedikit dingin dihari itu.


Laras bangkit dari tidurnya. Dia memilih duduk disamping tempat tidurnya lalu menatap ke arah sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping dengan keadaan yang sudah agak tenang.


"Kau datang di waktu yang tidak tepat." jawab Laras. "Aku baru saja bermimpi buruk dengan sosok bermata merah yang kita jumpai tempo hari..." tambahnya lagi. "Karena itu.... "


Laras tidak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih memperhatikan baik-baik sosok lain Eren berjubah abu compang camping itu tengah menunjukan lagi luka pada bagian tubuhnya. Beberapa luka yang sama dan tambahan satu dua luka baru.


"Apa yang sudah terjadi?" Laras langsung menghampiri dan melihat lagi detail luka baru pada bagian tubuh sosok lain Eren berjubah abu compang camping itu. Ada tambahan satu luka pada tangan kanannya. Dan luka itu lebih mirip sayatan bekas terbakarnya kertas yang tidak menjalar tapi terus menunjukan nyala apinya yang kecil namun melukai.


Laras hendak memegang luka itu namun ditepis oleh sosok lain Eren yang berjubah abu compang camping. Dia menjauhkan tangannya itu dari jangkauan Laras. Memberikan seburat senyum simpul lalu sosok itu kembali bersikap santai seperti biasanya.


"Aku hanya ingin melihatmu sebentar." jawab suara parau itu.


"Apa ada yang sakit?"


"Tidak!" jawabnya. "Aku hanya tidak mau kau melihat hal yang tidak pantas!"


"Luka itu...." Laras menggantungkan kalimatnya. Lagi, dia menatap sosok lain Eren lalu menggeleng pelan. "Apa ada yang bisa aku bantu?"


Sosok lain Eren langsung menarik tubuh mungil Laras dan membawa tubuh gadis itu dalam pelukannya.


"Berapa lama waktu yang kau perlukan? Aku menunggu..." suara parau yang keluar itu membawa Laras pada ingatan dimana sayap dari sosok Eren dimasa lalu lenyap tersapu lembah kesengsaraan. Sayap yang berterbangan lalu terbakar menjadi abu berwarna api merah keemasan yang kemudian menghilang termakan gelapnya lembah kesengsaraan.

__ADS_1


Laras memantapkan pandangannya, dan sosok lain Eren berjubah abu compang camping itu perlahan menghilang bersama cahaya matahari yang mulai menunjukan dirinya dari arah timur. Cahaya matahari yang menyilaukan membuat Laras langsung menundukkan pandangannya. Dia menutup pandangan mata itu dengan bantuan tangan kanannya.


Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, sosok lain Eren sempat tersenyum dengan sangat baik. Senyum yang penuh ketulusan dan senyum yang membuat Laras memikirkan kembali tentang dirinya dan hubungannya yang dengan Eren yang entah akan berjalan berapa lama.


Laras terdiam setelah menyesuaikan pandangannya setelah menghilangnya sosok lain Eren dari hadapannya. Dia membiarkan angin semilir menerpa wajahnya dari balik jendela yang terbuka.


Sraaak!!


Halaman buku tua bersampul hitam itu terbuka. Terbuka dengan buratan cahaya yang memancar sama menyilaukan nya dengan cahaya matahari beberapa saat yang lalu.


Suara teriakan terdengar dari dalam halaman buku tua bersampul hitam yang terbuka. Teriakan yang begitu memilukan. Membuat Laras menitihkan air mata hanya karena mendengarnya. Laras menutup sebentar kedua telinga itu dengan tangannya. Menenangkan diri lalu perlahan mendekati buku tua bersampul hitam itu.


Jantung Laras berdetak sama kencangnya seperti saat dirinya bersama Eren. Hanya bedanya, bersama Eren, detak jantung tidak beraturan yang Laras rasakan adalah karena senang dan sebuah kebahagiaan. Sementara yang ia rasakan kini adalah detak jantung ketakutan. Rasa takut, tekanan emosi, dan hawa buruk yang menyeruak dari halaman buku tua bersampul hitam itu membuat Laras was-was ketika melihat isi halaman itu.


"Kematian yang satu menghidupkan yang lain. Pengorbanan yang lain, menyelematkan yang satu. Itulah perjalanan roda takdir tanpa benang merah."


Tulisan itu berwarna hitam keemasan. Berbingkai ukiran semak berduri berwarna perak. Laras mengusap setiap tulisan yang timbul dan lalu menutup halaman buku itu setelah perasaannya merasa lebih tenang.


//


Laras baru saja sampai di ujung jalan turunan tempat ia biasa melakukan kebiasaan bodohnya. Kebiasaan bodoh yang membuatnya bertemu dengan Eren untuk pertama kalinya. Kali ini, Laras bermaksud mengulangi nya lagi. Dia bersiap dengan merentangkan kedua tangannya lalu menarik nafas dalam.


"Kau hanya boleh berbuat bodoh kalau aku sudah disana dengan mobil ku!" celetuk seorang dibelakang Laras. Wajahnya nampak masam saat Laras membalikan kepalanya untuk melihat si pemilik suara.


"Paa..pagii.." sapa Laras yang berusaha melepas cengkraman tangan Eren pada kerah belakang bajunya.


"Masih mau melanjutkannya?" Eren menatap dengan cara yang tidak biasa. Ada pernyataan yang butuh keyakinan dari jawaban yang akan diberikan Laras untuknya.


"Tidak! Aku tidak akan melanjutkannya!!" Laras segera melepaskan cengkraman tangan Eren yang sudah sedikit dilonggarkan setelah mendengar jawaban pertama Laras.


"Lalu?" Eren bertanya lagi. Kali ini tatapannya sudah biasa saja.


"Mau mengayuhnya dengan normal." Laras nyengir. Perasaannya merasa kurang baik ketika Eren memutuskan memegang stang sepedanya. "Mobil mu mana?" Laras clingukan. Dia berusaha mengalihkan perhatiannya dari tindakan yang akan Eren lakukan.


"Pegangan!" Eren sudah menarik satu tangan Laras dan melingkarkan tangan mungil itu pada pinggangnya. Laras terkejut. Dia sempat hampir terjungkal kebelakang tetapi pegangan Eren sangat kuat dan menahan tubuh mungil Laras agar tidak terjatuh dengan hal yang dia lakukan.

__ADS_1


Satu tangan kanannya masih memegang stang dijalan turunan yang memang terjal itu. Dan satunya lagi masih menahan dengan erat tangan sang gadis yang diboncengnya.


"Bersiap menikung!" teriak Laras melihat ujung jalanan dimana Eren tiba-tiba menoleh kepada dirinya.


Eren tersenyum simpul lalu memalingkan pandangannya untuk kembali fokus mengayuh sepeda itu pada jalurnya.


"Kau memang abadi pada kematian, tapi jangan mengajakku cepat-cepat bersamamu!!"


"Itu pilihanmu!" jawab Eren. "Kematian memang sedang mengintai mu..." suara itu dikeluarkan dengan sedikit berbisik. Membuat Laras harus sedikit berfokus untuk bisa mendengarkannya.


"Kau bilang apa?" Laras meyakinkan maksud dirinya mencondongkan setengah badannya ke arah depannya.


"Lupakan!" Eren berbelok beberapa meter dari gerbang utama sekolah. Menuju jalanan yang biasa Laras lewati untuk sampai di balik semak parkiran sekolah.


"Kenapa lewat jalanan ini?"


"Karena aku penasaran dengan jalan yang kau ambil untuk mengagetkan ku waktu pertama kali bertemu."


Laras mengangguk mengerti.


"Berhenti di ujung sana!" Laras menunjuk sebuah pohon kenanga yang menjadi tempatnya biasa memarkirkan sepeda di balik halaman parkir sekolahnya.


"Disini?!" Eren menghentikan laju sepedanya sedikit lebih jauh dari yang di tunjukan oleh Laras.


Diatas sepeda yang dikendarainya, Eren menatap dengan tak biasa pada balik pohon kenanga di hadapannya. Tatapannya benar-benar tidak bisa dimengerti oleh Laras. Sampai-sampai Laras harus menjentikkan jarinya didepan mata Eren.


"Ada apa?"


"Tidak ada!" jawabnya yang tetap tidak melepaskan tatapannya pada pohon kenanga di hadapannya. " Ayo kita ke kelas."


Eren menggiring Laras untuk menuntunnya melewati jalanan yang biasa Laras lewati untuk sampai di halaman parkir sekolah.


Satu langkah Laras yang lain Eren menghentikan langkahnya. Memperhatikan bagaimana Laras menghilang dari hadapannya dan terbukanya pintu dunia gelap yang menghubungkan tempat itu pada lembah abu-abu.


Kilatan cahaya itu dikenali Eren dengan sangat baik.

__ADS_1


"Jadi sejak saat itu ya?" Eren tersenyum secara misterius.


...***...


__ADS_2