Abu-Abu

Abu-Abu
Sosok yang Ambigu.


__ADS_3

“ Tugas ini akan menjadi cukup merepotkan. ” Aksara berjongkok didepan Laras yang masih pingsan. Dia membuka telapak tangannya menghadap keatas. Serta merta hal itu membuat jam pasir dan kedua buku tua bersampul hitam yang dibawanya langsung menghilang dari tangannya.


 


Berusaha menyikap rambut Laras yang terurai karena ikat rambutnya yang lepas, Aksara berpikir, betapa beratnya beban yang mungkin sudah dan akan dia pikul selama ini. Dibalik rambut panjang Laras, Aksara menemukan sebuah lonceng perak kecil dengan suara gemerincing yang sangat merdu. Suara gemerincing yang dihasilkan bahkan mengalahkan ribuan suara lonceng bunga lilly lembah yang tumbuh subur ditepian sepanjang jalan setapak batu bata merah tempatnya terdiam kini.


 


Lonceng perak kecil yang menjadi penghias ikat rambut Laras itu menjadi satu-satunya lonceng perak yang tiba-tiba membuat kacau cuaca disekitarnya. Awan gelap bergumpal seketika. Hembusan angin menjadi sangat kencang. Guguran daun-daun berhembus cepat dan menyayat sayap tulang dibelakang punggung Aksara. Suara gemerincing bunga lily lembah tertelan seketika oleh dentuman kilat dan petirpun datang secara tiba-tiba bersama derasnya hujan yang turun.


 


“ Apa-apaan semua ini??? ” Aksara bergegas menarik tubuh Laras dan membawanya dalam gendongan. Memilih berteduh dibawah dahan pohon yang cukup rindang, Aksara tetap menggendong Laras untuk beberapa saat. Tidak lupa sebelumnya, dimasukannya lonceng perak kecil itu kedalam sakunya celananya.


“ Kenapa bisa tiba-tiba begini?! ” Dia melihat rintik hujan yang turun dengan derasnya. Sejenak ia pun melihat pada beberapa luka sayatan dibagian sayapnya yang berupa tulang belulang. Luka yang tidak mengeluarkan darah, hanya saja sepertinya luka itu akan sembuh dalam waktu yang cukup lama.


Dibawah dahan pohon itu Aksara memalingkan pandangannya, melihat Laras yang masih belum sadarkan diri dalam gendongannya


“ Hey!! Kamu belum mati kan?! ” serunya sedikit menguncang tubuh Laras. Menghela nafas, Aksara tetap menggendong Laras tanpa berpikir untuk menyandarkannya dibawah pohon tempat mereka berteduh. Tempat itu terlihat begitu lembab dan basah.  Bhatinnya. “ Tentunya masih hidup kan? Suara nafasmu masih terdengar dengan sangat jelas. ”


Aksara tersenyum lega. Dia kembali menatapi rintik hujan yang turun dengan derasnya. Matanya kini nampak menerawang.

__ADS_1


“ Mungkin akan ada banyak hal yang ingin ku ketahui tentangmu… ”


“ Ngg… ” Laras mengusap wajahnya pada bahu Aksara. Entah itu disengaja atau karena Laras mengingau, Aksara memilih tetap diam dengan semua hal itu.


 


Sementara jauh diujung dahan pohon diseberang tempat mereka berteduh, sesosok lain dengan jubah merah maroon dengan kepulan sayap awan hitamnya melihat dari kejauhan. Dia yang sedari awal menunggu hari ini terjadi kembali. Dia yang memastikan sosok yang selama ini telah lama ia cari-cari. Dan menyaksikan setiap detail kejadian yang tidak akan pernah bisa untuk ia lewatkan.


“ Itulah sebabnya, kematianmu memang ditakdirkan seperti itu. ” sesosok lain itu berbalik dan tersenyum kecewa dibalik jubah yang menutupi sebagian wajahnya yang berhiaskan topeng dari tengkorak manusia.


Ditengah derasnya hujan yang turun, kepak sayap yang berupa kepulan awan berwarna hitam itu terbuka sempurna sebelum akhirnya sosok itu menghilang diujung jalan yang berseberangan dengan tempat Aksara berada kini.


***


Terbangun dengan melupakan kejadian dihari kemarin bersama Aksara, Laras merasakan hal buruk akan segera terjadi. Dimana sebuah kematian akan dilihatnya tanpa mampu ia menahan ataupun tanpa mampu ia mencegahnya untuk tidak terjadi.


Bayangan sebuah kejadian dan suara nyanyian anak-anak yang dengan riangnya menikmati perjalanan tamasya menghiasi ingatan pagi Laras. Air mata itu menetes tanpa henti dengan nyanyian anak-anak yang mengalun lembut ditelinga.


 “ Aku berangkat sekolah, nek! ” ujar Laras melewati dapur tua yang jauh dari bangunan utama rumah dihalaman yang kurang lebih seluas 2 are itu.


“ Tidak sarapan? ” tanya sang nenek yang sama sekali tidak membalik badannya dari tungku perapian didepannya. Mengerti akan sang nenek yang sudah berumur cukup tua, dimata Laras beliau mungkin enggan berbalik karena hal itu akan menghabiskan cukup banyak tenaga diusia sang nenek yang memasuki usia 80 tahunan.

__ADS_1


“ Ngg..mmm. ” Laras menggeleng.


Dari bayangan yang terpantul dilantai dapur itu, sang nenek melihat jawaban dari cucu perempuan yang diasuhnya selama 15 tahun terakhir ini. “ Laras sudah makan dirumah kakek Tito, nek. Hari ini anaknya kek Tito akan pulang, jadi kakek membeli banyak makanan dan sedikit membaginya pada Laras. ”


Sang nenek hanya manggut-manggut. Perlahan sang nenek bangkit dari duduknya, dia berbalik dan tersenyum dengan gembira.


“ Nenek senang karena Tito sangat baik padamu. ” ujar sang nenek.


Hanya mengangguk kecil, Laras membiarkan sang nenek memegang kedua bahunya dan menatap kedua bola mata yang sangat bening itu.


“ Laras, rajin-rajinlah kamu bersekolah. Kalaupun nanti kamu hanya bisa sekolah sampai lulus SMA saja, tetaplah belajar untuk hidupmu. Belajarlah selama kamu masih diberikan kehidupan. ”


“ Iya, nek!! ” senyum Laras cukup sumbringah mengetahui kalau tidak ada bayangan kematian apapun yang mengikuti sang nenek. Ia cukup bernafas lega dengan keanehan yang ia miliki karena mampu melihat bayang kematian sebelum seorang meninggal atau sebelum seorang dijemput oleh kematian itu sendiri. “ Kalau begitu salam untuk kakek! Laras berangkat dulu ya? ”


Sang nenek mengangguk gembira. Sesenang senyuman yang diukir sang cucu untuknya.


“ Lihatlah! Dia tumbuh dengan sangat baik kan, Aji. ” ujar sang nenek. Kembali sang nenek melanjutkan kegiatannya didapur. Memasak nasi dan menggoreng telur dan memasak daun singkong yang menjadi makanan kesukaannya.


 


***

__ADS_1


__ADS_2