Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah : Dua dimensi satu jiwa


__ADS_3

Dalam tidurnya didunia manusia, Laras didalam lembah terbangun dan kembali mengitari sisi lembah untuk mencari jalan keluar. Dirinya sudah terkurung berhari-hari di lembah tersebut. Namun sedikitpun dia tidak menemukan cara untuk keluar dari lembah itu.


Dia sudah memutar batu penunjuk waktu, namun tidak ada hal apapun yang terjadi. Juga sudah berusaha berjalan menyeberangi danau. Namun saat dirinya merasa sudah melangkah sangat jauh dari sisi lembah, pada kenyataannya, Laras seperti tidak melakukan pergerakan apapun. Bahkan dia seperti tetap berada ditempatnya memulai untuk melangkah.


"Sangat aneh!" gumam Laras yang sudah mencoba itu beberapa kali dari semua arah mata angin.


Laras memutar pandangannya ke sekeliling dengan kesal.


"Tidak bisakah aku keluar dari lembah tidak bernama ini!!" teriak Laras sembari menghentakkan tangannya pada air danau yang menampakan ketenangannya.


Riak suara air danau yang di hentakkan Laras membawa gema yang mengalun ke setiap sisi lembah. Menaiki pembatas lembah namun suara itu lenyap begitu saja tanpa ada pengingat atau apapun yang menjadi penandanya.


"Aaakh!" teriak Laras frustasi.


Dia lalu membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam air danau. Membenamkan tubuh itu beberapa saat, lalu muncul ke permukaan dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Hal itu dilakukan Laras berkali-kali sampai dia menemukan kepuasan hatinya dalam memberontak pada apa yang menghadangnya untuk menemukan pintu keluar dari lembah tidak berpenghuni itu.


Setelah masih tetap tidak mendapatkan hasil apapun, Laras kembali ke dataran dan merebahkan dirinya dibawah dahan pohon yang sedang bergoyang seperti tengah mengejek semua usaha dirinya.


"Apa kau senang bisa mengurung ku seperti ini?!" protes Laras pada pohon tua yang kini mulai menggugurkan beberapa helai daunnya dibantu oleh hembusan angin sepoi-sepoi.


"Baiklah!" ujar Laras. " Aku akan menunggu kembali dengan berteduh dibawah dahan mu." Laras kembali memejamkan matanya. Menghirup udara dengan perlahan lalu tertidur disisi lembah dengan tenangnya.


//


"Hei! Apa lo sedang bercanda?!" Rein mencoel pipi Laras yang kini lebih kelihatan seperti seorang yang tengah tertidur dari pada seorang yang tengah mengalami trauma akibat terjatuh dengan cara yang tidak biasa dihari pertama perkuliahannya.


"Kenapa lobharus mengalami hal seperti ini di hari pertama kuliah mu, hah?!" keluh Rein lagi sembari menopang kan wajahnya pada kedua telapak tangannya.


Dia membayangkan sosok pemuda itu dengan semua khayalannya tentang dunia percintaan yang romantis dan mendebarkan di bangku perkuliahan.


"Apa akan sama mendebarkannya seperti masa SMA ku?!" Rein tersipu malu.


Hal itu menjadi tontonan tersendiri bagi Laras yang beberapa saat setelah Rein mencoel pipinya, Laras terbangun dengan kekagetan yang seharusnya disadari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Apa?!" tanya Laras begitu Rein menatapnya dengan mata yang membelalak lebar.


"Lo sudah sadar?!" teriaknya histeris.


Hal itu mengundang pandangan sinis beberapa pasien disamping tempat Laras dirawat. Juga mengundang kepanikan beberapa perawat karena mengira terjadi sesuatu yang urgent pada pasien bernama Laras itu.


"Maafkan kami! Maaf!!!" dengan cepat Laras berusaha duduk dari tidurnya dan menunduk meminta maaf atas kegaduhan yang dibuat oleh sahabatnya itu.


"Maaf! Maafkan saya!" tambah Rein yang menyadari akan kegaduhan yang ditimbulkannya pada ruang IGD.


"Apa-apaan lo, Rein!" Laras menepuk lengan sahabatnya itu dengan cukup keras. "Perhatikan sekelilingmu kalau mau membuat keributan!" tambah Laras kembali menjitak kening sahabatnya yang tersenyum lebar dengan wajah merona merah.


"Lo tau Laras, tadi gue bertemu pangeran!" ujarnya yang tidak mampu menyembunyikan perasaan senangnya.


"Siapa?" tanya Laras dengan ekspresi yang cukup cuek.


Bukan kali pertama bagi Laras mendengar Rein menyampaikan hal yang senada dan Laras juga cukup tau bagaimana akhir dari apa yang dikatakan sahabatnya itu ketika menemukan hal yang tidak disukainya dari pemuda yang disukainya itu.


"Orang yang nolongin lo lah!" nata Rein berbinar-binar akan ingatannya.


Berbeda dengan Laras. Gadis itu langsung memukul dahinya keras-keras lalu memekik kesakitan setelahnya.


"Bodoh! Lo ngapain mukul luka sendiri sih?!" Rein mengambil buku dari dalam tasnya lalu mengipasi luka dibagian kening Laras itu.


"Kenapa gue bisa terluka?!" tanya Laras dengan herannya sembari mengecek luka pada pelipis kirinya. Dia menaikan poninya lalu melihat baik-baik luka yang ditutup plester rumah sakit itu dari cermin kecil yang diambilnya dari tas Rein, sahabatnya.


"Lo kan jatuh tadi, Laras!" ujar Rein menekankan setiap kata yang dikeluarkannya pada pertanyaan bodoh sahabatnya itu.


"Iya Rein! Gue emang jatuh, tapi kenapa gue bisa luka kaya gini?!" tanya Laras lagi menekan pertanyaannya pada Rein.


Mendengar itu, Rein langsung mengukur suhu tubuh Laras dengan tangannya. Dikening Laras tangan Rein berdiam lama.


"Lo nggak lupa ingatan kan?"


"Lupa ingatan gimana?" Laras menepi halus tangan sahabatnya itu lalu memilih untuk merebahkan kembali tubuhnya untuk memikirkan hal yang sempat dialaminya.

__ADS_1


Laras meyakini waktu terjatuh itu, dia ditarik dan didekap oleh seorang pemuda yang ditabrak tanoa sengaja oleh Laras. Seorang itu yang merupakan seorang pemuda seharusnya dan memang benar ikut terjatuh bersama dirinya.


Kalaupun Laras tidak sadarkan diri karena trauma dan guncangan akibat dia terjatuh, hal itu masih merupakan hal yang wajar di benak Laras. Tapi kalau dirinya terluka dibagian yang tidak seharusnya, bukankah hal itu sedikit aneh?!


"Lalu, pemuda yang jatuh barengan sama gue gimana keadaannya sekarang?"


Mendengar Laras kembali melontarkan pertanyaan yang aneh, Rein bangun dari duduknya, berbalik dan berlalu beberapa saat lalu kembali bersama seorang dokter yang mengeluarkan senter kecil dari dalam sakunya.


"Saya periksa sekali lagi ya?" ujarnya sopan.


Laras mengangguk setuju. Begitu sang dokter mengarahkan cahaya senter kecil itu ke matanya, sosok Laras pada dimensi lain merasakan silau yang datang entah dari arah mana. Sosok Laras pada dimensi lain menarik tudung jubahnya. Menutupi semua bagian matanya lalu kembali melanjutkan istirahatnya dibawah dahan pohon disisi lembah tanpa nama tersebut.


Laras kini mengedip-kedipkan matanya setelah sang dokter selesai memeriksa trauma yang mungkin dialami Laras dari hipotesis hasil laporan sahabat pasiennya itu.


"Bagaimana dokter?!" tanya Rein khawatir. Gadis itu memepet dokter yang baru saja selesai memasukan kembali semua peralatan yang digunakannya untuk memeriksa kondisi Laras.


"Keadaannya sudah normal. Mungkin hanya kurang beristirahat beberapa jam ke depan." jawab sang dokter.


"Sebaiknya biarkan temanmu istirahat dahulu, baru kalian bisa cerita banyak setelah dia sudah boleh pulang." tegus dokter lain yang datang untuk melakukan catatan pemeriksaan pasien kepada para dokter magang di rumah sakit itu.


Laras tersenyum kaku dan meminta Rein untuk tetap tinggal karena setelah mendengar sang dokter berkata Laras harus beristirahat, Rein berinisiatif untuk keluar ruang rawat itu dan menunggu sang sahabat dihalaman tunggu pasien.


Laras menahan Rein yang tersenyum kaku pada semua dokter magang yang menatap kedua sahabat dengan geleng kepala kecil. Ada dua yang tersenyum lucu dengan tingkah ke duanya, dan yang lain malah terang-terangan mencibir seolah mereka sudah menjadi seorang dokter senior diantara semua dokter magang itu.


Laras tertawa geli dibelakang pundak Rein menyaksikan hal itu. Dan membiarkan Rein menahan malu akibat dari tindakan Laras yang dengan sengaja menahan tubuh sahabatnya itu akan tidak bisa bergerak dengan .leluasa.


Tapi tawa Laras hanya sesaat. Sebuah langkah kaki yang sedikit kebingungan membuat Laras mau tidak mau harus mencari asal suara langkah kaki itu.


Dia akhirnya celingukan dibalik pundak Rein dan melepaskan pegangannya pada Rein ketika mendapati sesosok pemuda dengan pakaian serba hitam berhiaskan sayap berupa kepulan asap berwarna hitam pekat berdiri membelakanginya.


Laras merasakan dekat yang membuat rasa rindu tumbuh didalam dirinya. Jantungnya berdetak dari yang awalnya teratur, mulai menjadi sedikit mempunyai ritme naik ke satu tingkat dari tangga nada ke tangga nada yang lebih tinggi.


Laras tidak melepaskan pandanganya dari sosok diseberang tempatnya itu. Melihat setiap ketenangan yang tiba-tiba ditunjukan sosok itu ketika sosok lainnya menghampiri dengan gaya yang cukup elegan.


Laras dan sosok Laras pada dimensi lain langsung merasakan sakit yang sama saat dimana Laras melihat sosok itu menggandeng erat tangan sosok lain yang baru saja menghampirinya dengan gaya yang super elegan.

__ADS_1


"Sakiiit!" keluh Laras dan sosok lain Laras pada dimensi lain secara bersamaan.


...***...


__ADS_2