Abu-Abu

Abu-Abu
Kutukan Cincin Batu Senja : Sang Jiwa Sejati


__ADS_3

“Laras?” ulangnya sosok Amarilys. “Apa itu nama seseorang yang kamu kenal?”


Eren mengangguk. Lalu menggeleng sambil tertawa kaku.


“Lebih tepatnya, aku ingin mengenalmu dengan nama itu.”


“??”


"Apakah boleh?"


Amarilys mengangguk setuju dan Eren tersenyum senang dengan hal itu.


Hari berganti hari, kedekatan Eren pada Amarilys/ gadis yang dia panggil dengan nama Laras, menjadi perbincangan sebagian besar warga. Tidak banyak yang mengatakan kalau cara Eren memperlakukan Laras sangat baik dan sopan. Hal itu memancing emosi dan rasa cemburu dari Rui. Sosok gadis yang selama ini selalu bersama Laras sejak kedatangan mereka berdua ke desa itu sebagai sosok yang tersesat dan diterima dengan baik oleh warga desa itu.


“Hei!” panggil Rui pada Laras di tengah jalan kembali menuju desa. Keduanya membawa sekeranjang bunga yang siap mereka gunakan untuk menghias bagian tengah desa untuk perayaan festival bunga yang selalu diadakan setelah musim panen buah di desa itu.


“Ya? Kenapa Rui?”


Dengan langkah pelan dan ragu-ragu, Rui mendekati Laras.


“Hmm… Apa kau menyukai Eren?” Hanya ada mereka berdua di jalanan itu. Karenanya, Rui bertanya langsung tanpa basa-basi pada Laras.


Laras mengangguk.


“Oh.” Tanggap Rui. “Jadi kau juga menyukainya…”


“Apa maksud perkataanmu ini?”


“Aku juga menyukainya.” Ujar Rui.


Laras mengangguk lagi. Suka dalam benak Laras kala itu adalah suka sama seperti dirinya suka berada dekat dengan Rui. Tapi Rui menanggapi hal itu berbeda.


“Kalau begitu, aku duluan yah.” Rui mendahului langkah Laras.


Melewati jalanan itu dengan jarak yang semakin lama semakin jauh. Laras menikmati perjalanannya, menikmati setiap jalanan setapak yang ia lewati. Menikmati semilir angin yang berhembus membawa semerbak wangi bunga lily lembah yang tumbuh disepanjang jalan itu. Suara gesekan dahan-dahan pepohonan dan suara kicau burung yang saling bersahutan dengan suara kumbang dan suara-suara lainnya. Langkahnya yang begitu ringan, membuat Eren yang sudah menunggunya di perbatasan desa, jadi sedikit tersenyum bahagia. Senyum yang membuat Rui merasa semakin memiliki rasa marah yang menjadi kebencian yang luar biasa besar terhadap Laras.


“Eren?” sambut Laras begitu melihat pemuda itu berdiri dihadapannya dengan membawa setangkai bunga baby rose berwarna merah muda.


“Selamat datang kembali.” Ujar Eren mengulurkan bunga itu pada Laras.


“Terima kasih.”


“Ayo." ajak Eren sembari menarik tangan Laras. "Semua sudah menunggumu.” Ujar Eren lagi yang lebih memilih berjalan mengiringi langkah Laras untuk masuk menuju desa itu.

__ADS_1


Penduduk desa yang sangat ramah membuat Eren dengan cepat dapat menyesuaikan diri. Terlebih untuk perayaan festival bunga di desa itu. Festival bunga berjalan dengan sangat meriah di desa itu. Memberikan pengalaman yang sangat indah untuk semua orang termasuk Eren.


Namun hal yang indah tidak selalu datang setiap waktu, ada kalanya sesuatu yang tidak di duga terjadi tanpa disadari. Semua itu berawal dari berakhirnya festival bunga satu musim yang lalu. Saat Eren lebih memilih menikmati festival bunga bersama Laras dan dengan sopan menolak ajakan Rui untuk menghabiskan waktu bersama menonton kembang api sebagai penutup acara festival.


Sejak kejadian itu, Rui mulai menjauhi sosok Laras dan lebih memilih untuk terlibat dengan semua kegiatan penduduk desa. Bercerita dan berbagi banyak hal yang ia ketahui tentang dunia tempat tinggalnya dulu. Dia pun menceritakan tentang sosok yang dirinya sukai. Karena hal itu mengacu pada sosok Eren, warga desa jadi mulai membandingkan antara Laras dan Rui. Awalnya hal itu hanya sebatas candaan atau guyonan untuk


menggoda Rui ataupun Laras. Namun Rui yang memiliki perasaan tidak berbalas, membuat guyonan itu menjadi pemantik emosi warga. Sementara Laras yang mulai merasakan sesuatu terhadap sosok Eren, mulai mengalami kebimbangan. Di Satu sisi, ia memiliki perasaan yang tidak biasa yang tumbuh karena setiap kebaikan yang Eren lakukan padanya. Di sisi  lain, Laras baru menyadari makna pernyataan Rui tentang dia yang juga menyukai sosok Eren.


"Apa yang bisa ku lakukan tentang hal itu?!" Laras menghela nafasnya. Lalu sesuatu bergema dan berdengung di telinganya. Sesuatu yang membuat Laras langsung menutup kedua telinganya saking bisingnya dengungan yang ia dengar. "Ada apa?!"


Dari kejauhan, Rui yang melihat keadaan Laras hanya memilih berdiam diri dengan semua emosi yang di milikinya. Membiarkan Laras semakin tertekan oleh setiap rasa sakit yang menghujam dari dengungan yang di dengarnya.


"Waktunya sudah hampir tiba." ujar Rui. Dia lalu berbalik meninggalkan Laras dalam keadaan yang mulai tidak sadarkan diri.


Di tengah rasa sakit yang terus menghujam setelah suara dengungan yang memekakkan telinga, Laras harus bertahan untuk tetap sadar dari bisikan-bisikan tidak jelas yang memancing segala emosinya untuk keluar. Rintihan kesakitan, kesedihan yang mendalam, teriakan yang penuh amarah, gema kemarahan, dan berbagai kutukan serta larangan yang membumbungkan kegelapan, semua itu seakan datang silih berganti di hati dan pikiran Laras semalaman itu. Membuatnya harus terjaga sepanjang malam dan menyambut pagi dengan pemikirannya yang berbeda.


Laras membiarkan hal apapun yang mungkin akan terjadi. Membiarkan setiap pilihan yang diambil menjadi jalan yang ia lalui untuk kedepannya. Termasuk untuk perasaan yang telah tumbuh didalam hatinya. Karena kalau menyangkut soal perasaan, semua itu berkaitan dengan perasaan yang bukan hanya tentang rasa yang ia punya saja, tetapi juga rasa yang dimiliki oleh orang lain untuk dirinya dan mungkin juga untuk orang lain.


Semenjak malam yang panjang itu, Laras lebih banyak berdiam diri dan memilih menghabiskan waktunya sendiri. Hal ini tidka luput dari perhatian Eren. Yang setiap kali selalu berusaha memberinya ruang untuk apa yang mungkin sedang Laras pikirkan.


Kali ini, melihat Laras termenung di tepi sungai, mengundang rasa penasaran Eren. Menyadari ada sedikit perubahan sikap pada sosok gadis yang selama ini ia berusaha untuk kenali, Eren akhirnya memilih untuk menemani gadis itu dalam kesendiriannya.


“Ada apa?’


“Belakangan sepertinya memikirkan sesuatu.”


“Ya." jawab Laras. "Memikirkan kamu.”


“Aku?” Eren terdiam sejenak sembari menunjuk dirinya sendiri.


Laras tersenyum kecil sembari mengangguk kecil.


“Apa kamu pernah punya keinginan kembali ke tempat asalmu?”


“Tempat asalku?”


Laras mengangguk lagi.


“Sosokmu begitu cerah dan bersinar, pastinya kamu berasal dari tempat yang istimewa dan berbeda dari tempat ini.”


“Bagaimana denganmu?” tanya Eren balik.


“Aku tidak mengingat apapun.” Jawab Laras. “Dulu saat tersadar, aku sudah tersesat ditengah hutan. Berjalan berhari-hari sampai akhirnya aku bertemu dengan Rui dan kami berdua menemukan desa ini.”

__ADS_1


“Apa kau tidak ingat dari mana asalmu?”


Laras menggeleng.


“Itu tidak penting lagi untukku setelah semua yang ku lalui di desa ini.” Jawab Laras. “Aku sudah menganggap desa ini sebagai tempat asalku.”


“Aku sebenarnya sangat ingin mengenal siapa dirimu.” Ujar Eren. “Semua hal tentangmu. Tempat asalmu, keinginanmu, dan semua yang kamu pikirkan, aku ingin mengetahui semua itu.”


Laras tersenyum.


“Semua tempat di dunia selalu menawarkan sebuah takdir bagi manusianya.” Jawab Laras. “Aku hanya merasa menjadi seorang yang tersesat disini, tanpa ingin mengetahui dari mana aku berasal, apa yang menjadi keinginanku, dan siapa aku yang sebenarnya.”


“Terlalu tidak punya ambisi.” komentar Eren.


“Apakah aku harus memilikinya?”


Giliran Eren yang tersenyum.


“Bukankah hidup dengan ketenangan adalah hal yang terbaik?”


“Mungkin saja.” Jawab Eren.


“Tapi mengenali siapa dirimu yang sejati dan sebenar-benarnya dirimu adalah hal terbaik bagi takdir hidup kita di dunia ini.”


Laras termenung.


"Takdir hidup?" Laras termenung memandang ke seberang sungai.


"Takdir yang membawa setiap manusia bertemu dengan manusia lainnya. Bukankah setiap pertemuan memiliki alasannya tersendiri?"


Mendengar itu, Laras menatap Eren dengan senang hati.


“Terima kasih." Laras tersenyum.


“Aku tidak menerima ucapan terima kasih darimu.” Ujar Eren yang langsung menarik tangan Laras untuk mendekatkan wajah mereka berdua. Tidak ada bayang apapun di mata Laras kecuali sosok dirinya. Dirinya yang merupakan sosok sang Hakim tertinggi lembah kematian. Eren terdiam sejenak dengan bayangan dirinya pada bola mata gadis didepannya ini. Mungkinkah selama ini, dia melihat jiwa sejatiku? Bukan sosokku yang sekarang?!


Dengan kaget Laras mendorong tubuh Eren menjauh darinya. Dari pandangan Laras, dirinya hanya melihat Rui yang menatapnya penuh dengan amarah. Sudah beberapa kali, setiap kali bersama Eren, Rui akan selalu berada disekitar mereka. Memperhatikan dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti apa keinginannya yang sebenarnya.


“Maaf.” Ucap Eren merasa mungkin tindakannya mengejutkan Laras.


Laras menggeleng. Dia lalu beranjak dari tempat itu tanpa mengucapkan satu patah katapun pada Eren. Meninggalkan Eren dengan membawa perasaan yang mulai menguat setiap waktunya.


Lalu pada Festival bunga kedua yang akan mereka lewati, sesuatu terjadi. Lembah kutukan dan lembah larangan tercipta dari sisi lembah lily. Menguburkan setiap warga desa dalam kutukan juga perlindungan disaat yang bersamaan dari dua sosok yang menunjukan jati dirinya tanpa mereka sadari.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2