Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Kilas Kisah


__ADS_3

Satu serangan yang dilakukan Laras langsung mengaktifkan perlindungan yang di miliki oleh sosok Eren sebagai penjaga tertinggi lembah kematian. Sementara Aksara terlindungi oleh sayapnya yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Dengan sama-sama memiliki hawa kegelapan dibagian tubuhnya, serangan Laras langsung diserap begitu saja oleh keduanya.


"Dia tidak membuang waktu sama sekali." ujar Aksara begitu pandangannya sudah tidak lagi tertutupi kabut hitam.


Sementara Eren langsung tersenyum begitu menyadari sosok Laras sudah tidak lagi ada dihadapan mereka.


"Apakah dia kabur?" Eren menunjukan sedikit rasa kecewanya. "Padahal baru saja bertemu!"


"Laras kabur?!" tanya Aksara. "Dasar perempuan!" ujarnya yang langsung mendapat lirikan tajam dari Eren.


Sementara di lembah Sunyi.


Tubuh Laras terpental dan terguling sampai akhirnya tubuh itu menabrak bagian batang pohon. Laras merintih kesakitan dengan keadaan yang dialaminya. Pandangannya menjadi kabur ketika sekelebat bayang hitam berdiri dengan cukup mendominasi di hadapannya.


Laras terengah-engah seakan tercekik saat sedikit demi sedikit bayangan hitam itu merasuk masuk ke dalam tubuhnya. Berkali-kali menahan dan berusaha menolak bayangan hitam itu, tubuh Laras langsung merasa kesakitan. Seluruh tulangnya seakan remuk dan hancur. Denyut nadi itu perlahan melemah. Desir darah dalam tubuhnya langsung menyusut.


Laras mulai termakan oleh bayangan hitam yang menguasai tubuh dan perlahan mulai masuk ke dalam kesadaran jiwanya. Tubuh itu meringkuk kedinginan juga mengucurkan banyak keringat dingin di seluruh tubuhnya. Nafasnya memburu. Mata itu nampak sayu dengan wajah yang memucat.


Dalam siksaan yang sekali lagi Laras rasakan, ia melihat buku takdir bersampul hitam kemerahan dihadapannya terbuka dan mengeluarkan cahaya keemasan. Cahaya yang perlahan menyebar dan menyusutkan setiap kegelapan yang mengitari sisi lembah sunyi.


Cahaya hitam kemerahan menghiasi seluruh lembah setelahnya. Menelan dan menutup setiap serpihan bintang yang datang melintas. Entah sudah letupan yang ke berapa, semua cahaya meredup tergantikan oleh bias cahaya putih yang menyilaukan mata. Disaat yang bersamaan pandangan Laras perlahan tertutup dan tertelan dalam kegelapan yang semakin sunyi.


Tidak terdengar suara apapun untuk beberapa saat yang lama. Sampai sebuah tetesan air jatuh mengusik pendengarannya. Laras tersengal dan sadarkan diri dalam keadaan tangan terikat rantai berwarna hitam keemasan. Sementara disekelilingnya hanya ada kegelapan tanpa ujung. Lantai tempat ia terduduk seperti genangan air.


Diantara semua kegelapan yang ada disekitarnya, hanya sosoknya yang nampak begitu mencolok. Dia tidak lagi menggunakan dress hitam selututnya, namun kini berganti dengan dress berwarna merah hati. Dress itu masih sama panjangnya dengan dress sebelumnya, namun tidak semewah dress yang kini ia kenakan.


Dari semua detail yang ada pada dirinya, hanya bagian rantai ditangannya yang menganggu untuk Laras saat ini. Dia masih berusaha menarik paksa rantai hitam keemasan yang merantai kedua sisi tangannya. Entah dimana ujung rantai itu, Laras tidak mampu melihatnya. Hanya kegelapan dan satu suara tetesan air yang jatuh yang mampu ia dengar di kejauhan.


"Tempat apa ini?!" suara Laras bergema. Seakan membangkitkan sesuatu yang berada disekitarnya, sekelebat bayangan berwarna hitam, putih, dan abu-abu langsung melesat dan melayang-layang dengan cepat di sekitar Laras.


"Semua ini karena mu!


"Penghianat!"

__ADS_1


"Karena mu, kami harus menderita!"


"Kau harus membayarnya!"


"Kau akan binasa kali ini!"


"Kau harus binasa!"


"Kau tak pantas ada di dunia!"


"Penghianat!"


"Karena mu kami mati!


"Kau harus mati!"


"Kau tak pantas mendapatkan hidup yang kau jalani saat ini!!"


"Siapa kalian!" tanya Laras mengabaikan semua suara bergetar yang memenuhi pendengarannya.


Bagaikan tawon yang sarangnya telah di usik, semua bayangan itu menyerang kearah Laras tanpa henti. Beberapa dari bayangan itu bahkan melukai Laras yang masih berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikat kedua sisi tangannya. Bahkan setiap goresan melukai setiap jengkal tubuhnya. Menimbulkan bekas sayatan pada dress yang digunakannya.


"Kalian terlalu berani!" erang Laras dalam kemarahannya. Sekali lagi dia berusaha melepaskan diri dari rantai yang mengikat kedua tangannya. Namun luka sayatan yang ditimbulkan oleh bayangan yang menyerangnya dan juga sengatan petir yang langsung menghujam tubuhnya, membuat Laras bertekuk lutut.


Dengan sisa tenaga yang ia punya, Laras masih mampu menatap bengis kehadapan dimana semua bayangan hitam, putih, dan abu-abu itu berkumpul.


"Kau masih berani menatap seperti itu!" suara parau dibalik semua bayangan itu terdengar begitu menggelegar pada setiap sudut tempat yang hanya menunjukkan sisi kegelapan. "Sadarilah kesalahan yang telah kau lakukan!!"


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!" ucap Laras geram. "Sekalipun aku melanggar peraturan, aku melakukan semua sesuai dengan tugas yang harus ku lakukan!"


"Kau masih berani bicara!" suara itu kembali menggema keras. Menampilkan wujud manusia dari setiap bayangan berwarna hitam, putih, dan abu-abu yang berkumpul di hadapan Laras.


Seketika tempat itu menjadi area penghukuman. Dimana Laras melihat ada seorang dengan sayap abu-abunya tengah dipaksa berlutut oleh dua algojo yang menekan bagian bahunya. Sosok perempuan berambut panjang itu enggan berlutut dan terkesan membangkang dengan perlakuan yang didapatkannya.

__ADS_1


"Kau yang memulai pertikaian ini, dan kau masih berani membela diri!" suara dari sosok penjaga tertinggi lembah kematian yang sebagai hakim tertinggi pengadilan tersebut menampakkan wajah sangarnya dibalik tudung itu.


Laras terhenyak. Sang Penjaga tertinggi lembah kematian adalah sosok yang sempat menerjangnya saat terjatuh di tebing dan juga sosok yang dia serang menggunakan kilatan petir merah kehitaman. Termasuk ke dalam sosok jiwa yang berkali-kali ia jemput kematiannya.


Laras semakin dibuat tidak mempercayai pandangannya. Terdakwa itu adalah dirinya sendiri. Dirinya dalam balutan dress berwarna merah hati dengan sayap berwarna putih keabu-abuan.


Laras masih terdiam dengan rasa heran dan tidak mengerti akan hal yang ia alami saat ini. Dia hanya tahu menatap kearah sosok penjaga tertinggi dengan tatapan kecewa. Tidak sedetikpun Laras melepaskan tatapannya dari sang penjaga tertinggi. Bahkan sampai hukuman berjalan untuknya, Laras masih berdiam diri ditempatnya dengan rantai keemasan yang merantai kedua sisi tangannya.


Kilatan cahaya melesat ke arah belakangnya. Membuat Laras merasakan kesakitan ketika kedua sayap berwarna putih keabu-abuan itu terpotong dibagian punggungnya. Tubuh gadis itu langsung tertunduk dengan semua rasa sakit yang menjalar dalam tubuhnya. Seakan merusak setiap sendi tulangnya, Laras mendongakkan kepalanya untuk kembali menatap sosok hakim tertinggi dengan bengis.


"Kau langsung melakukan ini tanpa menjelaskan dimana kesalahanku!" ujarnya. "Tanpa mencari tahu kebenaran dari permasalah yang sebenarnya telah terjadi... Kau terlalu seenaknya dalam menjatuhkan hukuman mu!"


Seketika bola mata itu bercahaya kemerahan. Menguapkan banyak kegelapan bersamaan dengan warna kemerahan yang menyelimuti semua bagian area peradilan itu. Menghujamkan ribuan jarum pencabut jiwa pada setiap mahkluk yang menyaksikan penghukuman tersebut.


"Kalian!" teriaknya lantang dan menggelegar. "Jiwa-jiwa yang termakan oleh ketamakan! Jiwa-jiwa yang termakan oleh keegoisan! Dan jiwa-jiwa yang termakan oleh kelicikan! Jalanilah hukum semesta bersama dengan kesadaran yang kalian miliki!!"


Aturan ke 9 :


Ketika keadilan tidak berjalan, maka penghukuman berjalan dengan adanya pergolakan semesta.


Tidak banyak hal yang terjadi setelah semua perkataan itu keluar dari mulut Laras yang tanpa sayap. Namun beberapa sosok berubah menjadi bayang-bayang yang kini kembali ke wujud sebelumnya. Wujud yang hanya berupa bayangan tak kasat mata yang berwarna hitam, putih, dan abu-abu.


Sang penjaga tertinggi lembah kematian yang juga sebagai hakim tertinggi peradilan diarea penghukuman juga sudah tidak nampak. Yang ada hanya sekelebat bayangan hitam, putih, dan abu-abu yang terus berputar-putar tidak menentu diluar perlindungan kilatan hitam kemerahan yang membungkus tubuh Laras seperti cangkang telur.


"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi!"


Laras memandangi tangannya sendiri. Melihat bagaimana tangan itu dengan berani telah menunjuk sang hakim tertinggi yang menatapnya dengan kecewa.


"Siapa kamu sebenarnya!!"


Laras membuang pandangan ke sekeliling. Mendapati dirinya baru saja membuka mata dengan posisi masih terbaring disamping batang pohon yang sempat menghentikannya ketika terpental dan terguling begitu saja setelah dengan berani menyerang sosok sang penjaga tertinggi lembah kematian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2