Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Wajah : Bagian Penjaga Alam Larangan


__ADS_3

Lara baru akan membuka pintu kamarnya ketika lagi-lagi Mary melakukan hal yang sama dengan menunggu Lara di depan pintu dengan senyum sumringahnya. Senyum yang membuat Lara tertegun, antara ingin datang menyapa atau melewati sosoknya seakan seperti tidak mengenal Mary sama sekali.


Pintu kamar itu dibukanya dengan santai. Sedikit menunjukan ekspresi terkejut saat melihat Mary, Lara lalu tersenyum simpul menyambut gadis itu.


"Pagi." sapa Mary.


"Pagi!"


"Hari ini kamu ada kuliah?"


"Ya!"


"Aku juga ada kuliah pagi, kita jalan bersama?" tawar Mary.


"Boleh!" jawab Lara.


Pemandangan bagaimana Mary berjalan bersama Lara menjadi perhatian yang cukup menganggu bagi baik bagi Arashi ataupun Aksara.


"Kenapa rasanya Mary akan melahap Lara hidup-hidup!" gumam Aksara. "Gadis itu bukan polos, tapi cukup licik!"


"Awasi dulu..." ujar Arashi. "Lara juga bukan gadis sembarangan!"


Aksara langsung melirik curiga.


"Lo kayanya udah yakin betul sama Lara ini!"


"Lo sendiri bilang mereka mirip!"


"Lara dengan Laras yang waktu itu memang mirip...." ujar Aksara menerawang. Menyadari sesuatu berdetak tidak wajah dibagian dalam tubuhnya.


"Entah mereka masih orang yang sama atau bukan, kita hanya perlu menunggu waktu saja!"


"Sama seperti kita menunggu si penjaga alam Larangan itu??"


Giliran Arashi yang menatap penuh misteri ke arah Aksara.


"Coba waktu itu gue bisa berpikiran lebih teliti lagi. Gue nggak bakalan bikin lo ngebuat masalah sebesar itu."

__ADS_1


"Lo masih mau mengungkit itu lagi?!"


Aksara mengangkat tangannya sembari melangkah mundur. Lalu tiba-tiba tubuh itu berdetak kencang dengan dentuman keras yang seakan menghujam seluruh tubuhnya. Aksara memegangi bagian dada kirinya. Merasakan sesak serta suara dengungan yang semakin lama semakin memekakkan telinga.


"Apa-apaan ekspresi lo.... itu....." Arashi terdiam ketika menyadari sosok Aksara lenyap dengan kepulan asap hitam yang menyulut didepan matanya.


Dengan wajah berang, Arashi menampakan wujud Eren sebagai sang penjaga lembah tertinggi. Sosok dengan jubah hitam compang-camping yang berhiaskan mahkota api dibagian kepalanya.


"Berani sekali kau menampakan diri dengan cara seperti itu!"


Suara parau itu langsung mengalihkan perhatian sosok Lara yang langsung terdiam ditengah-tengah perempatan jalan. Dia melihat ke sekelilingnya. Mencari arah asal suara yang sangat amat ia kenali itu. Tatapannya terpaku setelah kebingungan beberapa saat yang ia alami.


Bayang sosok Hakim penjaga tertinggi lembah hukuman langsung muncul memenuhi ruang langit kota itu. Lara mengedipkan matanya sekali, dan semuanya berubah gelap dan kelam. Merubah Lara menjadi sosok Laras dengan dress merah hatinya yang tanpa sayap. Rambut panjang itu menjuntai sampai melewati bagian pinggang. Bahunya sedikit lebih tegap dari sosoknya yang sebagai matanya. Begitupun tatapan dan pendengarannya yang langsung siaga saat ia merasakan sesuatu tengah datang pada sosoknya.


Suara teriakan dan tangisan memenuhi ruang pendengarannya. Lara melihat kearah belakangnya. Dimana ada banyak jiwa kelam bermata merah yang melesat kearahnya seperti tengah dikejar oleh sesuatu yang luar biasa.


Kengerian dan ketakutan dapat Laras rasakan seketika itu juga. Ketika semua jiwa kelam itu melewatinya begitu saja. Laras siap menyambut sosok yang datang, namun yang ada dihadapannya hanyalah kegelapan. Kegelapan yang membawa tawa kecil juga angin sunyi pada dimensi itu.


"Kau masih berani muncul dengan sosok itu?!" ujar Laras.


"Aaaaaaaargh!!" erang bayangan itu tidak terima. Laras langsung menghujam ke arah depannya. Menyambut seberkas cahaya yang muncul lalu tangannya bersentuhan dengan tangan lainnya. Sebuah tangan yang langsung menggenggam erat tangannya dan menarik tubuh itu untuk kemudian dijadikan perisai saat jiwa-jiwa bermata kelam menerjang ke arahnya.


Laras berekspresi kesal. Dia balik menarik bahu sosok yang mencoba bersembunyi dibelakangnya itu. Memutar keadaan, kedua mata itu saling bertatapan untuk sementara waktu.


"Perempuan.." gumam sosok itu. Kemudian tahu-tahu sosok itu sudah terpental keluar dari dimensi yang dipenuhi oleh kegelapan yang semakin mencekam.


Semua teriakan itu terdengar memekik. Mendengung dan memekakkan pendengaran Laras. Untuk beberapa saat yang mencekam, ketakutan yang terus menekan Laras berubah menjadi kekuatan yang membuat Laras bangkit dengan kilatan cahaya kemerahan yang langsung menenggelamkan semua kegelapan yang ada di sekelilingnya.


"Kau masih mencoba menekan ku!!!" Laras yang berang dengan bola mata merah kehitamannya langsung melesat secepat kilat dihadapan bayang kegelapan yang sedari tadi menyerang dan mendominasi serangannya.


"Tak seharusnya kau yang memiliki tubuh itu!!" erang sosok bayangan dihadapannya. "Kau harusnya yang menjadi bayanganku! Bukan sebaliknya!"


Serangan kilat kegelapan dan ribuan jarum hitam beracun langsung menyambar ke arah Laras. Membawa Laras pada tingkat kelengahan yang parah karena tubuhnya yang sebagian dirinya tengah dikuasai oleh amarah.


"Begitu kah?" Laras balik menyerang.


Namun sosok bayang itu menggunakan lampu ingatan terkutuk untuk dijadikan perisai. Salah satu benda Alam Larangan yang telah tersegel ratusan ribu tahun. Di dalamnya terdapat segala ingatan-ingatan dari ajaran-ajaran terlarang seluruh alam. Dimana semua ajaran dari ingatan-ingatan itu bahkan mampu menghancurkan dunia dan isinya.

__ADS_1


Laras yang menyadari hal tersebut, langsung menarik serangannya. Menahan setiap serangan yang datang sembari melihat bagian retak pada lampu ingatan terkutuk itu.


Laras kehabisan waktu dengan setiap serangan yang ada. Melepaskan matra pengikat untuk menutupi retakan pada lampu ingatan terkutuk itu, Laras juga ikut mengunci sebagian ingatannya di dalam kendi itu. Sampai ia mampu membalikan serangan kepada sosok bayang kegelapan yang sudah menghilang dari hadapannya.


Laras terhenyak.


Merasa telah dikelabui oleh sosok kegelapan itu, Laras membuka celah cermin seribu bayang. Menampilkan sebuah portal pintu menuju Alam Larangan.


Disinilah Laras lalu terdiam kaku. Semua kejadian yang baru saja ia alami adalah ingatannya akan sebuah pertemuan singkat yang begitu memporak-porandakan emosinya. Dimana setelah keluar dari portal pintu yang diciptakan oleh cermin seribu bayangan, Laras mendapati sosok bayang kegelapan itu tengah bersama dengan sosok sang Hakim tertinggi.


Sosok hakim tertinggi dunia lembah kematian yang begitu tersadar dari keadaannya langsung berubah berang dan menjatuhkan hukuman pada dirinya. Menciptakan kemarahan yang memunculkan kutukan seribu jiwa pada setiap jiwa yang menghadiri area penghukuman pada hari itu.


Kini Laras melangkahkan kakinya perlahan. Melihat sesosok jiwa dari sang Hakim Tertinggi dunia lembah kematian yang sedang berdiri termenung dihadapan pohon tua berumur jutaan cahaya yang berada di areal pintu masuk Alam Larangan.


Suara langkah kakinya yang tanpa sengaja menginjak sebatang ranting, langsung membuat sosok Eren berbalik dan memandang kearahnya.


"Sudah sangat lama..." ujar sosok Eren.


Laras tersenyum tidak senang. Dia mengingat bagaimana ia kehilangan sayapnya karena kebodohan sosok dihadapannya ini. Tanpa mencari tahu kebenaran dan berdasarkan emosi yang melintas, sosoknya sebagai sang Hakim Tertinggi dengan sangat berani menjatuhkan hukuman yang tidak adil pada dirinya.


"Kau masih berani memperlihatkan sosok mu di alam ini! Tidak tahu malu!"


"Karena kemarahan mu inilah aku datang kesini!"


"Pergilah! Tempat ini, tidak memerlukan sosok sepertimu untuk berkunjung."


"Aku bukan sekedar berkunjung dan mengingat itu. Aku ingin mengembalikan ini!" Sosok Eren memperlihatkan sebuah kuas berbulu merah menyala dengan kayunya berwarna putih tulang, berkalung permata pada bagian tepi kuas, Laras mengenali benda Alam Larangan yang diperlihatkan oleh sosok Eren tersebut.


"Masih ada 6 benda terkutuk lainnya yang harus ditemukan!" ujar Laras yang tanpa basa-basi langsung menarik kuas kesucian alam Larangan itu menggunakan kekuatannya.


Sosok Eren sedikit bereaksi.


"Kasar sekali!" ujarnya.


Tidak mendapatkan tanggapan, sosok Laras memasuki alam Larangan tanpa peduli apa yang Eren lakukan dibelakangnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2