
Perasaan yang begitu kuat dan hangat itu membawa Laras pada perasaan rindu pada sepasang jiwa yang tersenyum lembut dari bawah- salah satu- pohon perindang di hamparan bukit tersebut. Sebelum bayang kedua jiwa itu benar-benar menghilang tersapu angin, Laras sempat menangkap dua sosok berambut putih itu.
"Siapa?!"
Bayang kegelapan langsung menyergap Laras. Mengikat Laras dalam kegelapan yang terus menutupi setiap ingatan yang Laras miliki.
"Sakiiit!" rintih Laras.
Dia tengah terbaring diatas tempat tidurnya. Keringat mengucur dari keningnya. Tangannya menggenggam erat bantal guling yang dipeluknya. Merintih dengan terpaan mimpi buruk, Laras meringkuk dan menggigil kedinginan.
Pemandangan itu menyita perhatian Eren untuk terus menatap dengan tatapan yang membuat Rein sangat iri saat melihatnya. Perhatian dan kasih sayang terpancar dari tatapan mata pemuda itu terhadap Laras sehingga Rein merasa ingin berada di posisi Laras saat ini.
"Dia kenapa?" tanya Rein dengan perasaan cemas dan iri bercampur aduk. "Aku kira dia tidak datang kuliah karena terlambat."
"Dia hanya membutuhkan istirahat." jawab Eren yang memilih melangkah keluar kamar Laras karena merasakan hawa lain yang mengaduk-aduk ketenangan yang ada di ruangan itu.
"Baiklah!" jawab Rein canggung setelah ikut keluar dan mengantar si pemuda menuruni tangga.
"Terima kasih karena sudah bersamanya." Eren berbalik dan tersenyum kepada Rein.
Senyum yang membuat Rein benar-benar tidak bisa melepaskan perasaannya pada pemuda bernama Eren itu. Rasa penasaran yang tinggi terhadap pemuda itu mulai tumbuh di hati Rein. Terutama menyangkut keterikatan pemuda itu kepada sahabatnya, Laras.
"Maaf kalau aku tidak sopan,.."
Rein menghentikan langkah Eren yang berada di dua anak tangga dibawahnya. Dia menyusul Eren dengan melangkah cepat lalu tergelincir dan jatuh menabrak punggung si pemuda.
Si pemuda tidak berbalik, dia merentangkan tangan itu untuk menahan tubuh Rein. Namun Rein melewati itu dan menarik tubuh Eren terjatuh ke tangga bawah. Menimpa tubuh Rein yang cukup mungil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh seorang pria.
Rein terkesiap dan menatap Eren dengan perasaan berdebar yang sangat kuat. Sampai dia tidak menyadari kalau hal dia lakukan ditangkap oleh pengelihatan sosok lain Eren yang mendengus tidak suka.
Eren mencoba berdiri dari posisi jatuhnya yang berhasil menahan posisi tangan untuk menjaga benturan pada bagian belakang kepala Rein dan memposisikan kakinya dengan baik sehingga tidak sampai jatuh dan bersentuhan dengan Rein kecuali tatapan keduanya saja yang saling bertemu.
"Kau baik-baik saja?"
Eren akhirnya duduk tenang setelah membantu Rein untuk membenarkan posisinya karena jatuh tadi. Tangan itu masih tetap menahan kepala Rein lalu melepaskannya perlahan setelah meyakini tidak ada trauma yang dialami Rein saat ini.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Rein.
Rein semakin dibuat terkagum-kagum oleh sifat pembawaan Eren yang tenang dan dewasa. Hal itu membuat Rein memikirkan Eren sepanjang hari. Terlebih ketika Eren membantunya untuk berbaring di kamarnya karena kakinya keseleo akibat dari terjatuhnya itu.
__ADS_1
"Padahal hanya tiga anak tangga..." gumam Rein begitu Eren mecoba memeriksa pergelangan kakinya yang keseleo setelah Rein coba berdiri dari jatuhnya.
"Satu anak tangga pun kalau salah langkah bisa jadi separah ini." Eren menjawab tanpa melepaskan sedikitpun perhatiannya pada kaki Rein yang terlihat memar dan berwarna ungu kebiruan.
Eren mengusapnya pelan.
"Apakah masih sakit?" tanyanya sembari menekan pelan bekas memar itu.
"Ya..." jawab Rein ragu-ragu dengan menahan sedikit rasa sakit.
"Sepertinya keseleo." Eren menatap Rein. "Mau dipanggilkan dokter?"
"Aku akan menelpon dokter Randy yang merawat kita kemarin." jawab Rein. "Tapi aku perlu kembali ke kamarku..."
"Aku akan membantu memapah mu ke dalam kamar,"
Tawaran Eren itu disambut oleh kediaman Laras yang menatapnya dengan tatapan kosong. Sementara Rein menunjukan tatapan senang dengan mengabaikan Laras yang berdiri diujung tangga dengan tatapannya itu.
"Terima kasih untuk sudah membantuku." ucap Rein setelah Eren membaringkannya di atas tempat tidurnya.
"Tidak masalah. Lagi pula ini juga salah ku tidak bisa menahan tubuhmu, sampai akhirnya kamu jatuh."
"Dia memang baik ke semua orang!" Rein berceloteh tanpa menyadari Laras tengah berdiri didepan pintu kamar dengan membawakan satu nampan makan malam.
"Apa kata dokter Randy barusan?" tanya Laras memasuki ruangan itu bersama nampan berisi sepaket nasi, lauk, dan susu rendah lemak untuk Rein makan malam.
"Ini?" Rein menggerakkan ringan kakinya. Sembari merintih kesakitan, Rein menambahkan. "Katanya keseleo!"
"Keseleo kok senyum-senyum?!"
"Biarin!"
Rein mengabaikan Laras yang bermaksud ingin menanyakan sesuatu tapi enggan untuk ia bahas.
"Makan dulu, nanti setelah selesai gue yang bawa turun."
"Makasi, Laras. 😊 " Rein langsung menikmati makan malam itu dari atas tempat tidurnya.
Perasaan Rein benar-benar sedang berbunga-bunga sekarang ini. Sepanjang malam, bayangan Eren menyita pikirannya. Membayangkan hari-hari yang akan dia lewati bersama Eren membuat Rein senang bukan main.
__ADS_1
Disisi lain, Laras malah merasakan hal sebaliknya. Setelah siang dengan sakit kepala yang menyiksa, Laras masih harus terjaga sepanjang malam karena memikirkan keanehan yang Eren tunjukan saat mengajak Laras pulang siang itu.
//
Laras tiba-tiba dikagetkan dengan semilir angin yang mengitari dirinya di perbukitan itu. Setiap hawa yang ada membuat Laras memperhatikan detail setiap sudut tempat. Diujung pandangannya, Laras mendapati sebuah bangunan sekolah yang begitu menyita seluruh perhatiannya. Itu adalah bangunan Sekolahnya dulu. SMA Kenanga.
Lalu suara berbisik lain yang mengalun perlahan membawa pandangan Laras untuk menangkap dua sosok bayangan yang memudar diterpa angin pada sebuah pohon perindang disalah satu sudut perbukitan itu.
Dua sosok bayangan itu menampakan wajah tersenyum yang sangat hangat pada Laras. Membawa rindu yang begitu hebat yang mengakar di hati. Sampai-sampai Laras merasakan perutnya seperti ditonjok dan diremas pada saat yang bersamaan.
Belum selesai dengan perasaan campur aduk yang dirasakannya, Laras tiba-tiba harus berhadapan dengan bayangan kelam yang tiba-tiba menyeruak keluar dari segala penjuru arah angin. Muncul dengan tiba-tiba dan mencoba membawa tubuh Laras dalam kegelapan yang paling gelap.
Laras langsung merasakan lemas di seluruh tubuhnya. Lehernya seperti tercekik dan bagian-bagian tubuhnya seperti ditarik satu persatu dari setiap jengkal tubuhnya.
Laras merintih menahan kesakitan. Dan disaat yang bersamaan, Eren terlihat tanpa ragu berjongkok dihadapan Laras yang sudah bersimpuh lemas namun tidak membiarkan dirinya dikalahkan oleh kegelapan yang mengeroyoknya itu.
Eren mengulurkan tangannya. Tangan yang bukan hanya sekedar tangan. Tangan putih tua keriput yang menunjukan urat-urat nadi kebiruan dibalik kulit putihnya. Tangan yang menjulur dingin namun ternyata memiliki kehangatan yang pernah dirindukan Laras.
Laras menatap dan mendapati si pemuda tengah tersenyum dan kembali memberinya ketenangan. Sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh seorang yang sudah lama mengenal dirinya.
//
"Siapa?" gerutu Laras penasaran dengan semua kegamangan yang bersarang dipikirannya.
Padahal Eren baru saja membopong dirinya siang itu. Membopong dirinya yang sempat sempoyongan karena merasakan sakit kepala yang langsung melemahkan seluruh anggota tubuhnya. Namun begitu membalikan badannya, pemuda itu dan dirinya sudah berada di dalam kamarnya itu. Dia merasa tidak pernah tidak sadarkan diri, waktu Eren berjongkok dihadapannya, dia sadar dengan apa yang terjadi.
Eren mengulurkan tangannya yang berwarna putih pucat. Tangan itu juga nampak tua dan keriput dengan guratan nadi berwarna biru keunguan yang membentuk jalur darahnya.
Mencoba menangkap sosok pemilik tangan tua keriput itu, Laras kembali diserang oleh hawa gelap yang keluar dari dalam tubuhnya. Mengingat dan mencoba menghentikan nafas Laras dengan melilit erat bagian lehernya.
Laras mencoba menyentuh bayangan hitam membentuk tali yang melilit lehernya dengan semakin kuat. Sekali mencoba, bayangan itu pecah. Lalu menyatu kembali dan melilit dengan lebih kuat lagi.
Laras sudah hampir kehilangan nyawanya dengan semakin kuatnya lilitan bayangan hitam itu pada lehernya. Membuat Laras bergerak dengan kasar yang akhirnya membunyikan lonceng perak kecil pada gelang yang dipakainya.
Suara gemerincing gelang itu mengundang gesekan dan suara khas jalanan setapak batu-bata merah mengalun pada pendengaran Laras. Membawa bayangan dimana semua dedaunan berwarna merah keemasan menyeruak naik diterbangkan angin.
Membuat Aksara yang baru selesai mengantarkan satu jiwa diperjalanan itu kebingungan dengan hal apa yang tengah terjadi.
...*** ...
__ADS_1