
Benang takdir berkilau ungu keemasan. Memercikan bayang kegelapan yang beradu dengan warna api kemerahan.
“Kapan aku memiliki benang takdir ini? Dan kenapa aku bisa memilikinya?”
Laras menyentil benang takdir dipergelangan tangannya itu, dan kemudian benang itu menghilang dari pandangannya. Di dalam kamarnya yang sedikit remang-remang tiba-tiba Laras melihat sosok bayang Arashi jatuh tepat dari atas posisinya merebahkan diri. Reflek dengan hal yang dilihatnya, Laras berguling ke bagian samping hingga kepalanya membentur tembok. Laras kaget, bukan hanya karena kepalanya terbentur, namun karena sebuah guncangan hebat disebelahnya juga membuat sosok Laras menegang. Pelan-pelan, Laras membalikan badan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Hal yang tidak terduga didapati Laras, sosok Arashi tengah tidak sadarkan diri disamping kasurnya dan sosok dihadapannya saat ini baru saja telah jatuh dari atas langit-langit kamarnya. Dalam waktu yang sedikit lebih lama, Laras benar-benar memastikan kalau memang ada tubuh Arashi yang terbaring disampingnya.
“Hei!” ucap Laras menunjuk-nunjuk dahi Arashi yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. “Kamu tidak mati, bukan?”
Lama tidak ada jawaban dari sosok itu, Laras memilih untuk turun dengan sangat berhati-hati dari posisinya kini yang terpojokkan di tempat tidurnya sendiri. Memandang sosok tubuh Arashi diatas tempat tidurnya, Laras mencoba melihat baik-baik bayangan yang ia lihat pagi ini didepan ketika berhadapan langsung dengan ketiga orang-orang satu kostnya. Tapi hal yang paling menyita perhatian Laras adalah pandangannya akan benang takdir berwarna ungu keemasan yang ada di pergelangan tangan pemuda dihadapannya itu. Hanya sesaat, bayangan benang ungu keemasan itu kemudian sirna dengan sendirinya.
“Benang takdir???” Gumam Laras.
“Ouch…” keluhan itu keluar dari Arashi yang sontak membuat Laras menjaga jarak dengan sikap siaganya. Dari gerak-geriknya, Arashi cukup merasa kesakitan dengan hal yang mungkin telah ia alami. Dia menggosok-gosok bagian belakang kepalanya sebelum akhirnya dia benar-benar membuka mata dan mendapati sosok Laras tengah bersiaga dengan memegang sebuah buku tua bersampul hitam yang berusia hampir ratusan juta tahun. Melihat sosok itu, Eren sebagai Arashi tersenyum senang dari sadarnya.
“Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku?” racau Arashi lalu duduk dengan merasakan kesakitan di seluruh bagian tubuhnya. Arashi baru akan meregangkan kedua tangannya sampai menyadari konsep kamar yang dia tempati bukanlah konsep kamarnya sendiri.
“Jadi…. Kenapa aku disini?” tanya Arashi pada sosok Laras yang siap memukulnya dengan buku yang dipegang oleh gadis itu.
“Siapa dirimu sebenarnya?” ketegangan dari wajah Laras tidak menurun sama sekali. Bahkan ketegangannya kali ini ditambah dengan raut wajah serius yang membuat Eren sebagai sosok Arashi kebingungan karena dalam ingatan terakhirnya dia jatuh melayang ke dasar lembah kehampaan.
“Apa ada hal yang aku lewatkan?” Arashi berdiri dan menghampiri Laras yang mundur dengan perlahan namun teratur. Gadis itu menabrak kursi dibelakangnya, membuat Arashi langsung menarik tangan Laras sehingga membuat Laras menindih tubuh pemuda itu.
Satu ingatan Eren tentang dirinya dimasa lalu bersama Laras muncul. Membuat Arashi mengulangi sekali lagi reka adegan dalam ingatannya itu. Arashi tetap membiarkan matanya terpejam. Yang ada di bayangannya kini adalah bagaimana ekspresi yang Laras tunjukan dimasa itu.
“Hei! Kamu nggak pingsan lagi bukan?!” Laras berusaha bangkit dari atas tubuh Arashi yang ditindihnya tanpa sengaja itu.
“Sepertinya masih.” Jawab Arashi menggoda Laras sembari membawa tubuh gadis itu kembali ke posisi awalnya.
Laras kaget dengan hal yang terjadi. Merasa dipermainkan oleh Arashi, Laras hendak bangkit dengan kekesalan yang memuncak. Namun hal yang terjadi malah membalik posisi keduanya. Kini giliran Arashi yang berada tepat diatas tubuh gadis itu.
__ADS_1
“Tidak berubah sama sekali.” Ujar Arashi menyentil dahi Laras. Setelah puas menggoda gadis itu, Arashi bangkit dari posisinya. Dengan elegannya dia berdiri, dan sambutan pukulan buku tua bersampul Laras mengacaukan setiap gaya yang Arashi lakukan.
“Keluar dari kamarku sekarang.”
Dengan menahan serangan pukulan dari Laras yang bertubi-tubi, Arashi keluar dari kamar itu dengan kehebohan yang dilihat langsung oleh Aksara dan Mari.
“Malam-malam begini?” ujar Aksara menaikan kacamatanya. Matanya memicing tajam penuh dengan segala pemikiran nakalnya akan perbuatan yang mungkin Arashi lakukan sampai Laras memukulnya sebrutal itu.
Sementara Mari menatap dengan penuh kebencian. Seakan apa yang terjadi telah menyinggung dirinya. Marry menutup pintu kamarnya dengan kesal. Membanting pintu itu sampai membuat Laras menghentikan aksinya. Dalam posisi Arashi yang masih membentuk pertahanannya dan Laras dengan buku tua bersampul hitamnya, sekelebat bayangan kegelapan menyeruak diantara keduanya. Membuat Laras langsung menghindari hal tersebut namun Arashi malah menerima sekelebat bayangan kegelapan itu tanpa melakukan perlawanan apapun.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, apakah kamu bersedia ikut denganku?”
Kini sosok sang penjaga tertinggi lembah kelam bernama lembah abu-abu mengambil alih tubuh Arashi. Memperlihatkan sosok yang nampak begitu menyeramkan bagi manusia yang menyukai cahaya, tapi terasa begitu menggetarkan bagi manusia yang sedang ditarik ke dalamnya. Namun bagi Laras yang juga merupakan sosok penjaga lembah, sosok didepannya bukanlah mahkluk yang perlu untuk ia takuti tetapi patut untuk ia waspadai karena dalam secuil ingatan Laras, sosok ini berkali-kali coba menyerangnya di kehidupan mereka sebelumnya.
“Kemana?”
“Menemukan sedikit ingatanmu!”
“Ingatanmu yang berkaitan dengan semua benda kutukan yang kau miliki.”
“Setiap benda kutukan di bawah penjagaanku adalah hasil dari pilihan takdir setiap mahkluk alam semesta. Aku
tidak memiliki benda kutukan apapun dalam takdirku.”
Sosok penjaga tertinggi lembah kematian itu tersenyum simpul. “Bagaimana kamu menjelaskan tentang cincin itu?!”
Pertanyaan itu langsung menurunkan kesiagaan Laras. Dia mengelus cincin yang sampai saat ini masih terpasang cantik pada jari manisnya.
“Apa kau tidak penasaran kenapa selalu ada benda kutukan yang tercipta atas dirimu sendiri?”
Untuk waktu yang lama, Laras termenung sambil menatap sosok dihadapannya dengan gamang. Alasan kenapa cincin kutukan batu senja ini muncul memang karena dirinya. Dan untuk benda kutukan lain, ia masih ada 9 benda kutukan lain yang tercipta atas dirinya sendiri. Tiga diantaranya sudah tersegel karena telah melewati lintang kehidupan bersama si pemilik kutukan dan orang yang terkena kutukan itu sendiri.
__ADS_1
Kini baik Laras maupun sosok penjaga tertinggi lembah kelam bernama lembah abu-abu itu tengah berada di sebuah dimensi yang mana pada dimensi itu, keduanya berada diambang batas yang tidak hitam juga tidak putih. Keduanya berada diambang batas abu-abu. Yang menyerap warna dari kedua dimensi dan memvisualisasikannya dalam ambang dimensi tempat mereka berdiri kini.
“Waktunya tidak banyak, ambilan sepotong bilah ingatan dari setiap benda kutukan yang kamu lihat.”
“Berapa kali aku bisa kembali ke dimensi ini??”
“Kamu hanya memiliki tiga kali kesempatan datang ke dimensi ini. Dan ini adalah kunjungan pertamamu.”
Tanpa membantah apa yang dikatakan oleh sosok penjaga tertinggi lembah kelam yang bernama lembah abu-abu itu, Laras segera menyerap satu ingatan dari benda berbentuk kendi arak yang nampak mengeluarkan cahaya walau hanya menunjukan kilatan abu-abu yang lebih muda dari bentukan kendi tersebut.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam tubuhnya, sosok penjaga tertinggi lembah kelam yang bernama lembah abu-abu itu mengingatkan Laras akan resiko dari setiap bilah ingatan yang ia ambil. Bahwa setiap bagian ingatan yang diambil akan melemahkan satu ingatan lainnya.
“Harus ada hal besar yang harus kamu korbankan untuk tiga keping bilah ingatan yang akan kau ambil pada dimensi ini.”
“Hal besar?”
Sosok penjaga tertinggi lembah kelam yang bernama lembah abu-abu mengibaskan sisi jubahnya, membawa kedua sosok tubuh itu menghilang dari dimensi abu-abu yang mereka kunjungi. Laras seperti masuk ke dalam dunia mimpi, dimana ia melihat dirinya sendiri dari kejauhan ketika menjalankan tugasnya dalam menyegel benda larangan.
Laras ketika itu sedang berada disisi lembah tanpa ujung untuk memetik sebuah tanaman bunga larangan. Tanaman bunga larangan yang muncul karena angkara murka seorang berjiwa sejati terhadap ketulusan perasaan cinta yang ia miliki. Bunga larangan yang begitu sensitive, sehingga Laras harus memetiknya dengan sangat berhati-hati. Karena itu termasuk bunga larangan yang tidak boleh sampai mengenai dirinya.
Sebenarnya setiap benda kutukan tidaklah selalu berbahaya, tapi keberadaan benda kutukan/ larangan itu terkadang bisa membawa petaka besar bagi energy alam semesta. Bisa menciptakan perubahan takdir yang begitu besar dan bahkan bisa menciptakan kegelapan yang begitu kelam dalam waktu jutaan cahaya.
“Siapapun yang terkena bubuk kutukan mu, akan langsung jatuh cinta pada sosok yang pertama kali dia lihat.” Gumam Laras setelah berhasil memasukan setengah bagian bunga itu ke dalam wadah yang lebih mirip botol kaca. “Sebenarnya bukan hal yang pahit, malah akan sangat manis. Tapi sayangnya kutukanmu itu bisa merusak jika yang terkena kutukan sedang menjalani perjalanan takdirnya sebagai jiwa sejati.”
Laras baru saja tersenyum lega saat memasukan sebagian bunga larangan itu ke dalam botol kaca yang telah memiliki mantra penyegel untuk bunga larangan tersebut. Namun sesuatu terjadi. Guncangan hebat terjadi, bubuk bunga berpendar dan memapari wajah Laras tanpa dia sadari. Membuat tubuhnya terhuyun sesaat sampai seseorang menahan tubuh Laras supaya tidak jatuh dalam pelukannya. Pandangan keduanya bertemu. Hanya mata bertemu mata. Lalu kegelapan menyapu pengelihatan Laras.
Gadis itu terperanjat bangun dari tidurnya.
“Mimpi?”
***
__ADS_1