Abu-Abu

Abu-Abu
Ingatan yang tersisa!


__ADS_3

Malam yang begitu panjang bagi Laras menjadi malam dimana ia terlahir menjadi sosok manusia yang baru. Sosok manusia yang membawa takdir hidup penuh keterikatan. Malam dimana ia melupakan sosok penjaga yang menemani 16 tahun perjalanan hidupnya. Sosok penjaga yang melekat dan terikat pada takdir dirinya.


Ingatan itu membuat Laras yang kini sedang menjalani sidang ingatan mulai menitihkan air mata. Dia ingat betul bagaimana 3 malam yang dia lewatinya kala itu. Semua bayangan itu sempat mengacaukan semua ingatan yang ia telah lupakan. Sebagian dari dirinya seakan tertinggal dimasa itu, dan sisanya lagi seakan pasrah dengan serangan ingatan lain yang menghantui Laras.


Itu adalah bayang ingatannya saat bertemu dengan Eren, Aksara, dan juga saat dirinya mengenali mereka sebagai bukan sosok seorang manusia. Di tambah sosok Zara yang ternyata juga bukan sosok manusia.


Bayangan demi bayangan yang terlintas membuat Laras kehilangan kesadarannya secara perlahan. Tubuhnya terlempar ke sisi lembah curam dan melayang begitu saja. Kesadarannya hilang bersamaan dengan semua bayang ingatannya akan beberapa waktu.


Tapi sisi Laras yang lain seakan memaksa untuk tetap bisa mengingat satu dari semua bayang ingatan yang ada. Dan itu adalah hari pertama dimana ia bertemu dengan sosok Eren di halaman parkir sekolah. Dimana bayang ingatan satu hari itu Laras simpan dalam-dalam dan membungkus ingatan itu pada selaput ingatannya yang terdalam.


Laras semakin merasa tubuhnya terjatuh dan terhempas cepat ke bagian bawahnya. Sudah tidak ada harapan apapun untuk dirinya bisa meraih sedikit cahaya yang sudah sangat jauh dari jangkauannya. Matanya kembali terpejam. Membiarkan semuanya terjadi tanpa mengharapkan hal apapun lagi.


Sementara sosok Laras terjatuh dalam dunia ingatannya, sosok penjaga berjubah abu compang camping mendapatkan kembali bentuk sejatinya. Bentuk yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun yang mengetahui sosoknya baik sebagai sosok sang penjaga lembah abu-abu atau sosok bersuara parau berjubah merah maroon yang selalu menjadi bayangan sosok sejatinya. Dari semua hal yang telah kembali ke sosok sejatinya, hanya bagian sayap itu yang masih sama. Sayap yang berupa kepulan asap hitam pekat yang membentuk sayap serupa sayap kelelawar.


Di kepakan perlahan sayap itu. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali, sampai dia benar-benar berhasil mengendalikan sayap itu. Sosok sejati sang penjaga berjubah abu compang camping itu terjun ke dalam lembah kehampaan yang ada disampingnya. Dengan segera sosoknya menyusul tubuh Laras yang terus terjatuh ke dalam curamnya sisi lembah.


Sosok tubuh gadis itu nampak seperti sebuah kertas hitam yang terbakar. Terkikis sedikit demi sedikit lalu melayang menjadi abu. Beberapa abu itu berhasil melewati sosok sejati yang penjaga yang semakin menukik untuk bisa cepat meraih sosok Laras yang sudah terkikis helai demi helai bagian dari sosoknya.


Rambut itu tergerai ketika ikat rambut itu lenyap terkikis bara api yang membakar benda apapun yang melekat pada tubuh Laras. Dan dari ikat rambut yang sudah terbakar itu, hanya menyisakan bagian lonceng perak yang mengeluarkan suara gemerincing yang terdengar samar-samar oleh Laras. Suara gemerincing yang lebih mirip suara gemericik tetesan air jatuh. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

__ADS_1


Laras tersengal dan membuka. matanya. Dia melihat bagaimana sosok manusia berjubah merah maroon bersayap tengah meraih kearahnya. Sosok pemuda dengan sayap berupa kepulan asap hitam pekat itu tengah mengulurkan tangan dan berusaha meraih ke arah dirinya.


Suara lonceng perak itu kembali terdengar. Memperlambat waktu pada sisi Laras. Membuat tubuh Laras melayang-layang dengan luka sayatan yang sedikit menggores tangan dan pipinya.


Laras mengatur nafasnya, berusaha meraih sosok yang tengah berusaha meraih kearah dirinya. Dia mengangkat tangannya, meraih tangan yang sudah semakin dekat dari jangkauannya.


Beberapa kali kedua tangan itu berusaha saling meraih. Saling menggapai dan saling berusaha menyentuh dari ujung jari terdekat. Dalam keadaan yang kembali melayang dengan tidak menentu, helai benang merah dari jubah sosok pemuda bersayap kepulan asap hitam pekat itu lepas helai demi helai. Menghiasi bagaimana mereka jatuh dan saling meraih untuk bisa saling berpegangan.


Tangan Laras sudah meraih. Tangannya memegang sehelai benang merah dari jubah sosok pemuda bersayap itu. Dia dengan segala usaha yang ada berusaha melawan gaya gravitasi dan di usaha kesekian, tangan Laras berhasil meraih tangan sosok pemuda bersayap itu dengan bantuan banyaknya benang merah yang dipegang oleh sosok pemuda bersayap itu.


Kedua tangan itu saling memegang erat satu sama lain. Dari pegangan tangan itu, masing-masing menggenggam begitu banyak benang merah dari sisi jubah dari sosok pemuda bersayap itu.


Dia tidak jatuh sendiri dan tidak akan merasakan sendirian lagi seperti sebelum ia akan terjatuh. Laras memejamkan matanya dan hanya dalam sekejap, dirinya dan sosok pemuda bersayap itu tengah mendarat disebuah jalanan yang bagi Laras cukup menyesakkan. Dimana di tempat itu dia hanya melihat warna hitam, putih dan abu-abu yang menyita seluruh pandangannya. Sampai sebuah tangan membelai wajah itu dan menyadarkan Laras dari hal menakutkan yang ia rasakan.


"Kamu sudah sadar?" kata itulah yang pertama menyambut pendengaran Laras. Suara yang begitu lembut dan menenangkan dari sosok pemuda yang samar-samar mampu untuk ia ingat sosoknya.


Mendengar itu, Laras hanya terdiam. Dia hanya menatap sosok dihadapannya dan berusaha memperjelas bayang ingatan yang ia punya tentang pemuda bersayap asap hitam pekat yang kini menatapnya dengan rasa khawatir.


"Apa kau baik-baik saja?!" kalimat itu masih terdengar jelas untuk Laras sebelum ia kembali kehilangan kesadarannya. Laras kembali terbawa dalam gelapnya bayangan yang ia punya. Kekosongan memenuhi kembali ruang hidup dan ingatannya. Laras memang seperti tengah tertidur, namun hal itu membuat sosok lain Eren mengerutkan dahinya. Memikirkan dan membawa rasa khawatir akan hal apa yang mungkin di alami Laras selama melewati kehidupannya dilembah kesengsaraan.

__ADS_1


"Hal apa yang sudah kau dialami di lembah itu..." Sosok lain Eren membawa tubuh Laras dalam gendongannya. Dia mengabaikan semua sorak sorai para penghuni kelam lembah abu-abu yang berganti wujud secara acak dan tidak teratur. Ada yang melihat dengan penuh kepuasaan akan kondisi Laras, ada yang hanya sekedar melihat, ada yang melihat dengan rasa ibu dan beberapa lainnya menatap sosok Laras dengan kekosongan.


Suara gemerincing lonceng perak ditangan Laras berbunyi kecil dan nyaring. Seakan menyadarkan para penghuni lembah, beberapa sosok itu menggeliat-liat tidak terima.


"Dia yang terlarang tengah mengubah takdirnya..."


"Dia yang terlarang kembali melakukannya!!"


"Dia yang terlarang, terkutuk!"


Jiwa-jiwa hitam yang menggeliat-liat itu memuntahkan semua kemurkaannya karena kembali merasakan jiwanya terkunci oleh hal yang tidak bisa dilihatnya. Semak belukar di sisi pembatas lembah kembali tumbuh dengan lebih lebat dan menunjukan duri-duri hitam yang semakin membuat batasan lembah itu menjadi semakin terasing dari dunia sekitarnya.


"Berapa lama lagi kami akan dihukum disini!!!" suara-suara parau nan berat itu semakin tenggelam dari pendengaran. Dimana langkah kaki sosok lain Eren telah melewati pembatas lembah bersama sosok Laras yang merupakan sosok terlarang pemilik lembah abu-abu.


Dalam gendongan dirinya, sosok Eren kembali menatap Laras yang benar-benar terlihat seperti tengah tertidur lelap. Padahal dirinya baru saja keluar dari lembah curam nan gelap yang tidak lain adalah lembah kesengsaraan.


"Apa yang sudah kau alami sampai membuat seisi lembah kembali muram?!" gumam sosok Eren begitu menyaksikan bagaimana lembah abu-abu itu kembali menjadi tempat awal dimana untuk pertama kalinya sosok Eren menginjakan kakinya didalam lembah tersebut. Tempat gelap tanpa celah cahaya. Yang tersisa dari sisi lembah hanyalah jiwa-jiwa tanpa hasrat yang berwarna senada dengan gelapnya tempat itu. Hitam yang menyamai pekat. Putih yang bagaikan kertas, dan abu yang kadang menjadi jelas dan kadang menjadi tidak ada.


...***...

__ADS_1


__ADS_2