
Dia berjalan perlahan pada jalanan terapung menuju sebuah gasebo bergaya bangunan Italia kuno. Dengan 4 pilar putih sebagai penyangga, pilar itu nampak mencolok ditengah lembah yang sedang menampakan kegelapan. Dimana hawa dingin berhembus bersama kabut tebal yang menyeruak dari cela pepohonan disekitarnya.
Dari bawah tanah terapung yang ia pijak, hawa gelap berkabut berwarna hitam kehijauan menyemburkan suara jeritan yang seakan tertelan oleh dalamnya sisi jurang dibawahnya.
Dia menoleh ke bawah kakinya. Berjongkok lalu mencabut sebuah rumput dengan kuncup bunga berwarna merah cerah. Dari dalam kuncup nampak sesuatu berkedip-kedip seperti cahaya pada kunang-kunang.
"Kau sudah mulai tumbuh ke bagian sini?!"
Dia mendongak lagi keatas. Melihat susunan pepohonan yang menjulang tinggi sampai ke langitnya. Menutupi celah cahaya yang biasanya memasuki sisi lembah, yang biasanya memberi nuansa hangat dan warna pada sisi lembah ini. Namun kini, warna hitam, putih, dan abu-abu telah mendominasi semua bagian lembah yang ia pandang.
Sosoknya menutupi sebagian wajahnya dengan satu tangan. Lalu menampakan sinar mata biru keemasan. Menatap dengan cara tidak biasa lalu mendapati sosok itu tersenyum di balik wajah gadis yang selalu ia lihat dengan cara yang sama.
"Kau sampai membawanya kesini.."
Dia membersihkan beberapa tanah yang menempel pada akar serabut dari rumput berkuncup merah itu. Mulai berdiri dari posisi awalnya, gadis itu tersenyum sembari melanjutkan langkahnya menuju gasebo diseberang nya.
"Jelas aku membawanya! Lagi pula dia juga tidak keberatan dengan itu."
Dia yang berjalan sembari mengandeng tangannya dibelakang dengan membawa rumput berkuncup merah, menyeringai simpul.
"Yaah! Mau bagaimana lagi...."
Dia membalik sedikit badannya. Memperlihatkan senyuman yang benar-benar menggambarkan betapa hampanya perasaan itu saat ini.
"Kau hanya mau berkunjung atau masih menginginkan sesuatu?!" suara itu masih terdengar santai dan datar. Seolah apa yang sudah terjadi sebelumnya di antara mereka bukanlah hal yang begitu berarti untuknya.
"Kau tahu betul apa yang aku inginkan dengan datang kesini!" ujarnya berang. "Kenapa harus kau yang mendapatkannya! Harusnya semua yang kau punya adalah milikku! Milikku!!!" teriakan itu menggema pada seisi lembah. Menciptakan getaran yang mengguncang bagian jalanan terapung yang masih dipijak oleh sosok satunya.
Dia yang masih melangkahkan kakinya pelan pada jalanan terapung itu,mulai menghela nafas. Dengan santainya dia sudah menghentikan langkahnya pada gasebo dihadapannya. Berjongkok lalu mengais tanah dibawah kakinya. Menanam kembali rumput berkuncup merah yang dicabutnya.
"Kau lagi-lagi mengabaikan ku!!" teriakan sosok itu kembali menggema di seluruh lembah. Menyibak beberapa bagian kabut yang menyeruak dari bagian hutan di balik gasebo itu.
"Memang apa yang aku dapatkan dengan peduli pada mu?!"
__ADS_1
Dia menepuk tanah dibagian samping rumput yang baru saja ditanamnya. Membersihkan bagian tangannya, berdiri lalu berjalan pada sisi pohon disamping gasebo itu.
"Harusnya kau berwarna merah muda yang indah..."
Dia memetik sebuah bunga yang meskipun warnanya terlihat abu-abu, namun kelopak bunga itu sudah nampak turun dan layu. Meletakan kelopak bunga itu pada tangannya, lalu meniupnya ke udara.
Sementara sosok lain diseberang jalanan terapung hanya bisa melihat tanpa bisa melangkahkan kakinya pada jalanan itu. Ada halangan bagi sosok yang membawa tubuh seorang manusia untuk melangkah masuk melewati jalanan terapung itu.
"Dulu pun kau melakukan kesalahan yang sama!"
Kini sosok yang berdiri disamping gasebo, menatap kearah seberang. Menatap sosok wujud yang dikenalinya selama 3tahun terakhir. Sosok dia yang berwujud Rein, sahabatnya di dunia manusia. Rein tersenyum dengan wajah yang tidak biasa. Menandakan bayang gelap bermata kelam itu masih menguasai jiwanya.
"Karena kau membuka pintu lembah bagi mereka yang seharusnya tidak diperbolehkan memasuki lembah, semua ini harus terjadi..."
Dia yang memilih duduk didepan gasebo, lalu tengadah keatas langit yang tertutupi pohon yang menjulang tinggi sampai ke bagian langitnya. Menampakan wajah dengan ekspresi kosong yang menyiratkan sebuah kegagalan dan ketidakberdayaan.
"Kau seharusnya sudah mengetahui aturan lembah kematian..." suaranya masih santai dan datar.
"Manusia tidak boleh melewati sisi lembah ini karena mereka masih membawa semua takdirnya yang utuh."
Tatapan mereka kembali bertemu. Dia yang tadinya tengadah ke langit diatasnya, mengalihkan tatapannya yang pasti pada sosok diseberang gasebo.
"Tubuh manusia yang terbawa sampai ke sisi lembah ini akan menjadi penghuni abadi pintu batu kegelapan. Itukah yang kau inginkan?"
Sosok diseberang itu tidak bergeming. Menyadari betul kalau itu memang tindakan yang dulu dilakukannya. Baik dia dan sosoknya yang terduduk pada bagian tangga gasebo itu mengingat apa yang sudah terjadi. Sementara jiwa dari tubuh Rein yang kini berdiri diseberang jalanan terapung mulai sedikit terguncang. Satu kakinya melangkah mundur dengan gerakan kecil.
"Apa yang kau tahu tentang apa yang menjadi tujuanku membawa manusia ini kesini?!" sosok Rein menatap berang, namun juga terlihat ekspresi lain dibaliknya. Itu adalah ketakutan yang ditampakkan oleh pemilik asli tubuh itu.
"Kau masih mempunyai keinginan yang tidak murni!" jawab dia yang duduk pada tangga gasebo. "Hanya karena menginginkan sesuatu yang tidak pernah bisa kau miliki, kau membuka pintu lembah bagi mereka yang dalam bencana dan ketakutan."
Dia berdiri. Kemudian melangkahkan kakinya menuju jalanan terapung di depannya. Menghentikan langkah tepat di seberang batu apung dan menjadikan batu apung itu sebagai jarak diantara keduanya.
"Aku tidak menyadari itu sebelumnya, tapi apa yang terjadi pada lembah dibalik pintu batu sudah memperjelas semuanya. Mereka yang berada didalam masih menguapkan begitu banyak keinginan. Masih ada takdir hidup yang harusnya mereka jalani. Bagaimana kau bisa mempertanggung jawabkan semua itu?!"
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya padaku? Itu adalah tugasmu sebagai sosok penjaga lembah!" matanya menatap nanar. Tidak menyadari semua yang dilakukannya telah disadari oleh penjaga yang telah kembali ke sisi lembah yang menjadi suram.
"Sekarang kau datang membawa tubuh manusia beserta jiwa lainnya kedalam lembah, apa kau ingin mengulangi kembali kesalahan yang dulu kau lakukan?!"
"Aku tidak melakukan hal apapun! Kau sebagai penjaga harusnya menyadari keberadaan para manusia yang masuk ke dalam lembah! Kenapa menyalahkan ku?!"
"Benarkah itu niatmu?! Bukan berniat untuk hal lainnya?!"
"Aku tidak pernah mempunyai niatan lainnya!" jawabnya dengan kekesalan yang tinggi.
Sosok itu merasa diserang oleh hasil dari tindakan yang dulu pernah ia lakukan. Tindakan yang seharusnya tidak diketahui oleh siapapun.
Tindakan yang tidak ia sadari telah membuat sisi lembah menjadi terbagi menjadi dua sisi. Sisi lembah terluar yang adalah sisi lembah abu-abu. Dan sisi lembah terdalam yang tersembunyi di balik hutan lebat dibalik satu-satunya pohon berdaun emas pada sisi lembah abu-abu. Itu adalah lembah yang kini mereka pijak.
"Benarkah?!" Dia yang berdiri dibagian dataran dengan Gasebo, menyilangkan kedua tangannya ke belakang. "Kau sampai mengabaikan peraturan lembah! Membawa manusia dengan legenda bulu emas yang ketakutan dalam bencana untuk memasuki sisi lembah...membuat mereka mengambil jalan itu untuk bisa kembali ke dunia tempat mereka seharusnya!"
Dia yang diseberang tidak menjawab apapun setelah itu. Seperti itulah pemikirannya kala itu. Mengajak para manusia yang sedang dalam bencana ke dalam lembah hanya untuk mengacaukan keadaan lembah. Sehingga sosoknya bisa menggantikan posisi sang penjaga yang lalai pada jiwa yang melewati sisi lembah. Menyediakan jalan bagi para manusia untuk menemukan sayap berbulu emas yang menjadi legenda pada dunianya. Dengan kelalaian yang tercipta, maka sang penjaga akan terlempar pada lembah kesengsaraan dan menjalani hukuman. Dengan begitu sosoknya akan menjadi pengganti sebagai penjaga lembah.
"Siapa yang berniat tidak murni akan menerima hasil dari tindakannya sendiri. Dan siapa yang membuat kesalahan akan menerima hukumannya. Seperti itulah perjalanan yang kita lalui sampai saat ini."
"Apa maksudmu dengan bicara seperti itu?!" dia yang diseberang dengan wajah kerasnya, kembali menyeringai dengan tidak biasa. "Hanya kau yang seharusnya menjalani hukuman mu! Aku bukan bagian dari kelalaian mu!"
"Jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama!" tegasnya yang berdiri disisi gasebo. "Kau tidak akan bisa menanggungnya lagi jika mengulangi tindakanmu ini!"
Dia yang berdiri diseberang gasebo hanya menatap kesal kemudian menghilang dari sisi lembah. Menyisakan bayangan semu menyerupai wujud manusia yang sedikit gelap.
Dia menghela nafas.
"Masih banyak ternyata..." gumamnya. "Yang hanya demi memenuhi keinginannya, rela membagi dirinya ke dalam kegelapan."
Sosok itu ikut menghilang dari sisi lembah yang dipijaknya.
...***...
__ADS_1