
Sejak kecil, aku selalu memimpikan sesosok gadis yang menatapku dengan begitu bengis. Dimatanya ada begitu banyak kebencian yang mendalam. Entah tatapan itu sebenarnya ditujukan kepada siapa, aku selalu merasa, tatapan itu memang benar-benar tertuju padaku dari jutaan orang yang berlalu lalang disekitar kami.
Seperti malam ini, aku langsung membuka mata ketika sosok bayang gadis dalam mimpiku itu tiba"bergerak dan mendekat padaku. Padahal sebelumnya dia hanya berdiri ditempatnya, lalu menghilang. Tapi malam ini, dia bergerak secepat kilat dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapanku.
Jantungku seperti akan copot oleh mimpiku itu. Rasanya aku seperti akan diajak menemui ajalku detik itu juga.
Tok. Tok.
"Waaa!!" pekiknya kaget.
Suara ketukan diluar pintu, membuat sosoknya terkaget dari posisi bangun tidurnya karena mimpi buruk yang dialaminya. Dia melirik jam disamping tempat tidurnya dan mendapati waktu menunjukan pukul satu dini hari. Bulu kuduknya langsung merinding. Ditambah begitu terdengar suara yang begitu rendah dari balik pintu.
"Eren... apa kamu bermimpi buruk lagi?" suara yang berbisik itu membuat sosok yang dipanggil itu langsung mengelus dadanya untuk menenangkan diri.
"Aku membawakan cemilan untuk dimakan. Bukalah pintunya!" tambah suara berbisik itu lagi dari balik pintu.
Berjalan dengan sedikit sempoyongan, sosok bernama Eren itu membuka sedikit pintu kamarnya.
"Terima kasih Mari! Tapi aku tidak bisa menerimanya. Masih malam, sebaiknya tidur saja!" jawab sosok itu bermaksud tidak menyinggung karena menolak pemberian dari sosok suara berbisik dihadapannya.
Tatapan mata gadis itu nampak begitu kecewa diawal. Sedetik kemudian dia merubah ekspresi wajahnya kembali. Dia menatap sosok yang dipanggilnya Eren itu dengan penuh harap.
"Ayolah Eren!" bujuknya. "Biasanya kamu juga mau aku temenin."
Kali ini kalimatnya terdengar begitu manja. Sehingga membuat sosok yang dipanggilnya Eren itu merasa tidak enak hati.
Tapi begitu sosok yang dipanggil Eren itu, melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, tubuh pemuda itu merasakan berat yang teramat sangat. Seakan tubuhnya seperti membatu.
Sosok pemuda itu clingukan, tapi tidak menemukan hal apapun yang mencegah langkahnya.
"Ada apa?" tanya sosok suara berbisik dihadapannya dengan wajah penasaran. "Ayo bergegas!"
Begitu sosok suara berbisik itu menarik tangan pemuda yang dipanggilnya Eren itu, pintu kamar si pemuda langsung tertutup tepat setelah tangan pemilik suara berbisik itu terlepas begitu saja dari jangkauan tangan si pemuda.
Si pemuda panik dengan hal yang terjadi setelahnya. Tubuhnya terpental kearah tempat tidur, lalu mendapati bayang sesosok berbaju serba hitam yang berdiri dibalik pintu kamarnya. Gayanya cukup menyita perhatian pemuda yang dipanggil Eren barusan. Kacamata tipis yang dipakai sosok berpakaian serba hitam itu, menunjukan kharismanya yang tidak bisa ditolak atau diabaikan siapapun.
__ADS_1
Dengan rambut klimis belah samping, ditambah poni yang sampai batas alis, sosoknya langsung menatap si pemuda dengan jengkel.
"Kenapa gue harus terus terlibat masalah dengan sosok manusia lo sih, Eren!?!" keluhnya dengan menghempaskan tubuh itu ke kursi disamping meja belajar si pemuda yang dipanggil Eren itu.
"Dengar yah!" tegas sosok berpakaian serba hitam itu. Lo itu harusnya sadar, ini tuh jam berapa!" omelnya tanpa menghiraukan kekagetan dan sanggahan yang ingin disampaikan oleh si pemuda. "Lo nggak mikir, jam segini diajak keluar oleh seorang gadis itu bukan hal yang baik!" tambahnya lagi. "Kalo elo yang ngajakin itu wajar! Karena gue yakin lo udah tahu maksud dan tujuan lo ngajakin! Tapi ini, lo yang di ajakin... Ck!"
Sosok pemuda berpakaian serba hitam itu berdecak jengkel. Membuat pemuda di hadapannya langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuh kecuali wajahnya. Terlebih ketika sekali lagi sosok pemuda berpakaian serba hitam itu bangkit dengan gaya tegas dihadapannya, si pemuda langsung memeluk bantal tidurnya lalu menyembunyikan setengah wajahnya.
"Cih!" sosok pemuda berpakaian serba hitam itu meremehkan. "Sosok lo yang manusia penakut bener!"
"Siapa yang nggak ketakutan!" jawab si pemuda takut-takut. "Lo tiba-tiba ada di dalam kamar gue! Emangnya lo mau ngelakuin hal apaan masuk kamar gue tiba-tiba!" sentak si pemuda. "Lagian gue,,, gue juga belum pernah liat lo ada tinggal disekitar sini! Kenal lo juga nggak!"
"Jadi lo nggak tahu siapa gue?" Sosok pemuda berpakaian serba hitam itu mempertegas lagi pertanyaannya pada si pemuda. "Lo nggak ingat siapa diri lo yang sebenarnya?"
"Memangnya lo kenal siapa gue?!" tanya si pemuda balik. "Siapa gue yang sebenarnya, apa urusannya sama lo?!"
"Lo itu Eren, bukan sih?!" tanya balik sosok pemuda berpakaian hitam itu dengan santai.
"Bukan!" jawab si pemuda tegas. "Lo sama anehnya dengan Mari! Yang namanya Eren itu segitu miripnya ya sama gue?! Paling gantengan juga gue kemana-kemana!" tegas si pemuda.
"Bodoh gue berdebat sama lo!" ucapnya merentangkan tangan sembari melepas pegal di seluruh tubuhnya. "Ah! Sial! Itu artinya lo belum bertemu dia yah?!"
"Dia? Dia siapa maksud lo?"
"Laras?!" jawab sosok berpakaian serba hitam itu. "Gadis dengan dress hitam selututnya."
"Lo kenal gadis yang seperti itu?!"
"Kenapa? Lo udah ketemu dia atau belum?!"
Kali ini sosok berpakaian serba hitam itu menatap serius kepada sosok pemuda yang dipanggil Eren itu.
"Nggak!" jawab sosok itu santai. "Di kota segini besar, banyak kali yang berpakaian hitam. Apalagi untuk perempuan!" tambahnya.
"Sudahlah!" jawab sosok berpakaian serba hitam itu. "Aksara!" dia mengulurkan tangan tanda jabat tangan pada sosok pemuda yang kini sudah nampak rileks berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Arashi!" jawabnya menjabat tangan itu. Sementara sosok yang memperkenalkan dirinya sebagai Aksara langsung mengernyitkan dahinya.
"Kalo lo bukan Eren, lalu kenapa lo menanggapi omongan gadis diluar tadi?" tanya sosok Aksara keheranan.
"Gue nggak tahu." jawabnya yang langsung turun dari kasur lalu menyalakan lampu utama kamar itu. "Sejak pindah kesini setahun lalu, dia terus manggil gue dengan nama itu!"
"Sejak setahun lalu??" sosok Aksara memutar kursi yang dia duduki. "Ok! Tidur!"
Aksara menjentikkan jarinya, lalu setiap sudut tempat menjadi begitu gelap bagi pemuda yang menyebut namanya Arashi itu.
Begitu suara jentikkan jari kedua kalinya terdengar, sosok Aksara sudah berada di sebuah pinggiran lembah dengan jalan setapak batu bata merah. Guguran daun berwarna merah keemasan memenuhi setiap sisi jalanan setapak batu merah tersebut. Setiap gesekan rantingnya membuat kesunyian ditempat itu menjadi tersamarkan. Belum lagi suara gemerincing yang berasal dari bunga yang menyerupai lonceng kecil yang bernama lily lembah. Tempat itu menjadi sangat hidup bahkan ketika hanya dirinya yang sedang menyusuri jalanan tersebut.
Langkah demi langkah dia lewati dengan menikmati setiap suara gemerincing yang ada. Sampai terdengar suara langkah lain disampingnya ketika berjalan. Matanya masih terpejam saking menikmati jalanan setapak batu merah yang selalu ia rindukan.
"Menurutmu, hal apa yang mungkin akan mengikuti kesadaran jiwa saat kita terlahir kembali sebagai manusia?"
"Ya?" perempuan dengan rambut pendek itu menatap tidak mengerti kearah Aksara. Menggenakan pakaian berwarna biru langit cerah, gadis itu tersenyum saat Aksara melihat kearahnya.
"Apakah itu hartanya? Kekuasaan? Kemasyuran? Keturunannya?" Aksara masih mempertanyakan ocehannya. "Menurutmu sebagai jiwa yang akan bereinkarnasi?"
Gadis berambut pendek itu tersenyum cerah.
"Cinta!" jawab gadis itu gembira.
Sembari berlari kecil gadis itu melambai riang ke arah Aksara. Dengan langkah ringannya, sang gadis lalu menghilang di tengah jalanan setapak batu bata merah dengan tersapu oleh hembusan angin yang membawa ratusan hingga ribuan dedaunan berwarna merah keemasan yang telah berguguran.
Menyaksikan dan mendengar jawaban gadis itu, Aksara tersenyum manis. Kembali ia melanjutkan langkahnya menyusuri jalanan setapak batu bata merah itu dengan mata terpejam. Setiap langkah yang ia lewati, dia lalui dengan suka cita. Menghindari lubang pada jalanan, batu bata merah yang retak dan menonjol, belokan, dahan pohon yang tumbang, semuanya ia lewati dengan mata tertutup.
"Aku hanya merasa perlu terlibat dengan urusan kalian sekali lagi!" gumam Aksara ketika sampai di ujung perjalanannya.
Dihadapannya tersaji sebuah tempat yang sudah lama tidak memiliki penjaga. Tempat yang menunjukan dua sisi yang bertolak belakang dari sisi tempatnya berdiri kini.
"Aku dulu terlalu malas untuk berjalan sampai dititik ini..."
...***...
__ADS_1