
Gadis bernama Laras baru akan keluar dari kelasnya begitu dia berhadapan dengan dada bidang seorang pemuda yang masuk ke dalam kelasnya. Sosok itu clingukan tepat didepannya tanpa menyadari gadis itu tengah menatap jengkel.
"Apa aku tidak terlihat olehnya?!" gumam Laras jengkel.
Dia mendongak dan terkesima dengan pandangan matanya. Tatapan mata itu mengikuti arah gerakan si pemuda yang sejenak berdiam diri lalu pergi dari hadapannya begitu saja.
Seperti terhipnotis, Laras terdiam cukup lama memandang punggung si pemuda yang menghilang di ujung tangga.
"Yaaah!!" keluhnya.
Di telengkannya kepala itu ke arah ujung tangga. Berharap sosok pemuda itu kembali karena belum menemukan orang yang dia cari di dalam kelasnya. Laras berbalik ke dalam kelas dan melihat tidak ada seorang pun yang keluar dari kelasnya.
"Anak mana sih?!" ujar Laras penasaran.
Begitu ingin keluar kelas dan menyudahi rasa penasarannya, seorang lainnya mendahului Laras. Rambutnya ikal panjang sama seperti sahabatnya, Rein. Yang berbeda ada pada lekuk tubuhnya. Gadis yang baru saja melewati Laras berpenampilan terlalu berani untuk ukuran mahasiswa baru. Ditambah riasan yang membuatnya nampak jauh terlihat lebih dewasa dari usia seharusnya.
Memilih mengabaikan hal itu, Laras berambut pendek itu keluar dari kelasnya dengan santai. Dia berjalan menuju ujung tangga dan tersenyum dengan senang karena bertemu dengan pemuda yang begitu menyita pikirannya pada pertemuan pertamanya.
"Sepertinya akan terjadi kisah cinta yang indah dalam hidupku!" senyumnya merekah.
Dia berbelok dengan bergembira diujung tangga tanpa menyadari seorang tengah menaiki tangga dan akhirnya mereka bertabrakan dengan cara yang tidak manusiawi.
Seorang yang ditabrak Laras berambut pendek itu terkejut dan terjatuh dari ujung tangga dengan menarik dan mendekap tubuh Laras dalam pelukannya. Jatuh yang membuat dirinya dan tubuh Laras terguling dan membentur tembok pembatas tangga.
Laras yang kaget dan tidak percaya dengan kejadian mendadak itu hanya bisa pasrah ketika tubuhnya di tarik jatuh oleh seorang yang tidak sengaja ia tabrak diujung tangga ini.
Gedubraaakkk!!!!
Suara jatuh keduanya cukup keras. Membuat semua perhatian tertuju pada keduanya di ujung jeda tangga menuju lantai bawahnya.
"Kyaaa!!"
"Hei! Ada yang terjatuh!"
"Ada yang jatuh di tangga!"
Seperti itulah beberapa kalimat yang didengar Laras setelah tubuhnya dan tubuh seorang yang ikut membawanya jatuh membentur dinding pembatas tangga. Suara langkah kaki yang berlari kearahnya sangatlah banyak. Tidak terhitung jumlahnya. Dan dari semua suara langkah kaki itu, ada satu langkah kaki yang membuat Laras terjaga dengan pendengarannya.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja?!"
"Apa ada yang terluka?!"
"Telp ambulance?!
"Bawa ke ruang kesehatan?!"
"Hubungi dekan kampus!"
Begitu banyak kekhawatiran yang Laras dengar. Tapi tubuhnya seperti mati rasa. Matanya terpejam dan yang berfungsi pada kelima panca inderanya hanyalah pendengarannya.
"Apa aku akan mati?!"
"Belum!" jawab sebuah suara yang menenangkan untuk Laras dengarkan. Suara yang begitu tegas namun terdengar halus dan penuh dengan kelembutan.
Tubuh Laras terasa seperti melayang setelah mendengar jawaban itu. Melayang bukan dalam arti kiasan. Tapi melayang yang benar-benar melayang.
Tubuhnya sedang dibopong seorang pemuda. Dengan wajah jengkel, pemuda itu membalas omongan Laras yang merancau tidak jelas dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Disamping pemuda, Rein mengikuti dengan khawatir. Berkali-kali Rein memanggil namanya, namun gadis itu tidak mendengar suaranya sama sekali.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit!" ujar si pemuda pada sahabatnya.
"Ya!" jawab Rein. "Aku menyusul. Aku satu-satunya keluarganya!" dia menambahkan.
Mendengar kata-kata gadis didepannya, pemuda itu terdiam sejenak. Dia melihat kembali ke dalam mobilnya dan menatap sejenak gadis yang akan di bawanya ke rumah sakit tersebut.
"Ya!" jawabnya lalu memutar didepan untuk menuju bagian kemudi mobilnya. Menutup pintu mobil dan memasangkan safety belt pada tubuh gadis disebelahnya dan pada dirinya sendiri, pemuda itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Didalam mobil, hp pemuda itu berdering. Dia menjawab telpon itu dengan santai. Lalu menutupnya kembali. Meletakkan hpnya kembali pada dashboard depannya, dia melihat kembali pada sosok gadis disebelahnya yang masih tidak sadarkan diri.
"Kenapa kau selalu muncul dengan cara yang tidak biasa!" geramnya frustasi.
Pemuda itu membanting setirnya pada belokan didepannya. Menyisakan kekagetan bagi pengemudi lain yang sedang bersiap memasuki badan jalan dari arah yang berlawanan.
Memasuki parkiran rumah sakit, dia memelankan laju mobilnya.
__ADS_1
"Apa kau bisa mendengar suara ku?!" tanyanya sebelum memasuki area IGD rumah sakit itu. Begitu sampai, pintu IGD terbuka dan berhamburan keluar 3 orang perawat yang sudah mempersiapkan diri untuk melakukan penangan pada pasien yang memasuki area ruang IGD.
"Apa yang terjadi?!" tanya seorang dengan cekatan memindahkan tubuh gadis itu keatas ranjang rawat.
"Terjatuh dari tangga dan tidak sadarkan diri." jelasnya. "Selebihnya tidak ada bekas luka ataupun memar pada tubuhnya." tambah pemuda itu lagi lalu membiarkan para perawat itu melakukan tugasnya pada sosok gadis yang keberadaannya benar-benar tidak ia duga.
Pemuda itu pergi sejenak memarkirkan mobilnya dan kembali ke ruang IGD untuk mengecek keadaan gadis yang mampu ia kenali hanya dengan sekali melihatnya.
"Bagaimana keadaan Laras?" tanya gadis bernama Rein yang menyusul secepat yang ia bisa ke area rumah sakit terdekat di kota itu.
"Tunggu jawaban dokter saja!" jawab si pemuda santai.
Dia membuka file galery pada hpnya. Dan dari layar yang sempat dilirik oleh gadis bernama Rein itu, dia melihat foto jadul sahabatnya. Foto itu adalah sebuah foto berlatar belakang sebuah bangunan kota yang tidak dikenalinya. Gadis didalam foto itupun mempunyai ciri yang berbeda. Perempuan pada foto itu terlihat memiliki rambut panjang dibalik topi berwarna abu yang dipakainya.
"Oh, baiklah." jawab gadis itu kemudian duduk berjarak satu kursi disebelah si pemuda.
Si pemuda mematikan hp dan menyimpannya kedalam saku celananya. Dia berdiam diri dengan santai memandang kearah tembok didepannya.
"Hmm..terima kasih sudah mengantar temanku kesini!" ujar Rein membuka percakapan.
"Sudah seharusnya." jawab pemuda itu santai.
Rein mengangguk setuju. Dia bersikap salah tingkah ketika berhadapan dengan pemuda didepannya. Itu pertama kalinya bagi Rein merasakan perasaan yang begitu mendebarkan. Padahal baru pertama kali bertemu.
Rein terpaku pada sosok didepannya begitu melihat pemuda itu berbicara dengan dokter yang sudah selesai mengecek keadaan sahabatnya itu.
"Apa kau mau menemani temanmu disini?" tanya si pemuda.
"Ya." jawab Rein yang masih terpesona dengan pemuda dihadapannya itu. "Akh! Maksud ku, iya! Aku pasti menemaninya disini."
"Baiklah! Dia memang temanmu." jawab si pemuda. "Aku duluan. Ada beberapa hal yang harus aku urus."
Pemuda yang tidak memperkenalkan dirinya itu berlalu dari ruang IGD tempat Laras harus menginap selama semalam untuk menstabilkan kondisinya.
"Kenapa aku tidak menanyakan namanya?!" keluh Rein. Dia clingukan didepan IGD karena sudah tidak mendapati sosok pemuda yang dicarinya.
Pemuda itu adalah Eren. Sosok penjaga yang seharusnya tidak melibatkan diri didunia manusia. Tetapi pertemuannya dengan sosok reinkarnasi Laras ditempat yang tidak terduga membuatnya kembali melakukan hal yang sama. Berbaur dengan dunia manusia untuk bisa menemani Laras menjalani kehidupan manusianya.
__ADS_1
Sementara sosok reinkarnasi Laras kini kembali tenggelam dalam mimpi. Dimana dia tengah terbangun dari tidurnya pada sebuah lembah yang hanya ada dirinya, sebuah pohon rindang, dan batu penunjuk waktu didalamnya. Mimpi yang sebenarnya refleksi dari apa yang sedang dialaminya pada dimensi dunia yang berbeda.
...***...